Refl: Bukan sumpah yang dinyakatan pada tgl 28 Oktober 1928, karena tidak ada 
unsur agama dimasukan, antara lain misalnya dikatakan: “Demi Allah yang maha 
berkuasa atas langit dan bumi, kami bersumpah bahwa kami yang hadir hari ini 
menyatakan dengan rahmatMu, bla bla ...”, melainkan yang dinyatakan adalah 
sebuah pernyataan atau ikrar bersama. Ikrar bukan sumpah! Apa yang lurus harus 
lurus, hendaklah jangan dibengkokan untuk dijadikan lurus.


|http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=35104
SELASA, 24 Oktober 2011 | 


Negeri Sumpah
Sudah 66 tahun lebih masyarakat Nusantara hidup bersama dalam “wadah” Negara 
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Negeri di kawasan Kepulauan Nusantara yang 
luas, dengan keragaman latar belakang suku bangsa, adat istiadat, budaya, 
maupun agama ini, ternyata bisa bersatu.


Dalam perjalanan sejarah yang cukup panjang itu, mereka kemudian bersepakat 
untuk membentuk negara kesatuan. Hidup di atas dasar Bhineka Tunggal Ika, 
beraneka ragam, tapi bersatu.

Tekad untuk mempersatukan wilayah Kepulauan Nusantara sudah diikrarkan Patih 
Gajah Mada jauh sebelum lahirnya NKRI. Sebagai Patih Amangkubumi (1336), Gajah 
Mada bersumpah “Lamun huwus kalah nusantara insun amukti palapa, lamun kalah 
ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, 

Sunda, Palembang, Tumasik, samana insun amukti palapa (Jika telah berhasil 
menundukkan Nusantara, saya baru akan beristirahat. Jika Gurun, Seran, Tanjung 
Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali Sunda, Palembang, Tumasik telah tunduk, saya 
baru akan beristirahat)” (Slamet Muljana, 2005: 249-254).

Hampir enam abad sesudah Sumpah Gajah Mada, yaitu pada 28 Oktober 1928, lahir 
pula Sumpah Pemuda. Peristiwa sejarah ini berlangsung dalam Kongres Pemuda 
Indonesia II, di gedung Indonesich Clubgebouw, di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta.

Kali ini yang mengikrarkan sumpah adalah para pemuda yang tergabung dalam Jong 
Java, Jong Soematra, Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong 
Celebes, Pemuda Kaum Betawi, dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (Ensiklopedi 
Indonesia, 1984). Latar belakang berdirinya bangsa ini ternyata “ditopang” oleh 
“keampuhan” rangkaian sumpah.

Mulai Melemah
Sumpah Pemuda dengan tiga pilarnya membuhul kehidupan berbangsa di persada 
Nusantara. Dalam teks aslinya, bunyi Sumpah Pemuda: Pertama: Kami poetra dan 
poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia; kedua: 
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa 
Indonesia, ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa 
persatoean, bahasa Indonesia (Ensiklopedi 
Indonesia, 1984: 3367).

Setelah 17 tahun kemudian, “tekad” yang dicanangkan para pemuda ini menjelma 
dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sungguh suatu “keajaiban 
sejarah”. Di rentang wilayah yang demikian luas, serta keragaman yang ada, 
masyarakat Nusantara bisa menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Semuanya 
itu tak lepas dari “ruh” Sumpah Pemuda.

Kini Sumpah Pemuda sudah memasuki usianya yang ke-83 tahun. Namun sayang, di 
usia sepuhnya kini, pilar-pilar itu terkesan mulai “merapuh”. Ikrar bertanah 
air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, secara berangsur mulai meretas.

Semakin hari terlihat semakin melemah. Berbagai kasus yang mengidentifikasi 
“konflik” hampir tak pernah reda. Mulai dari tawuran antara pelajar, lalu 
mencuat ke antarkampung. Konflik horizontal yang berbau SARA ini terkesan 
begitu mudah “tersulut”. Tekad “mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa 
Indonesia” terus digoyangkan.

Sejak mengawali kehidupan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, masyarakat 
Indonesia masih ibarat “hidup dalam mimpi”. Cita-cita yang tertuang dalam 
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni “adil dan makmur”, semakin “kabur”.

Upaya untuk mewujudkannya bagaikan jauh panggang dari api. Persatuan dan 
kesatuan yang melandasi kehidupan berbangsa dan bernegara terus “digoyangkan”, 
hingga sulit untuk mengemas program pembangunan yang dicita-citakan semula.

Di tengah-tengah “kegalauan” itu, kelompok yang didera rasa pesimis terpaksa 
mencari jalan sendiri. “Ngacir” ke negeri seberang untuk mengadu untung, 
mencari sesuap nasi demi menyambung hidup. Cinta tanah air yang diperibahasakan 
“biar hujan emas di negeri orang dan hujan batu di negeri sendiri” sudah 
kehilangan magnetnya. Tidak menarik lagi untuk diperbincangkan.

Anak negeri berbondong-bondong meninggalkan tanah kelahirannya. Menadah hujan 
emas di negeri orang, menghindar hujan batu di negeri sendiri. Cinta bangsa 
terpupus. Nasionalisme sudah ibarat slogan yang kehilangan makna.

Karena itu, tak heran bila kemudian muncul adanya kasus pindah kewarganegaraan. 
Penduduk daerah perbatasan “terjinakkan” oleh kenyataan yang mereka alami, 
hingga merasa lebih nyaman “mengabdi” ke bangsa dan negeri tetangga. Tekad 
“bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia” mulai tergerus.

Selanjutnya penggerusan mulai menyerempet ke “bahasa persatoean”. Nasib bahasa 
nasional ini hampir tak jauh beda. Anjloknya perolehan nilai bahasa Indonesia 
dalam ujian nasional (UN) dapat dijadikan salah satu indikator.


Dalam keseharian, anak-anak bangsa sudah dipadati dengan suguhan bahasa dan 
istilah asing. Mulai dari toilet, bathtub, atau shower. Pajangan iklan di 
toko-toko, restoran, maupun merek barang-barang juga diramaikan dengan istilah 
dan kosakata asing. Sampai- sampai telinga para sopir opelet lebih akrab dengan 
stop, ketimbang berhenti. Bahasa Indonesia semakin asing di negeri kelahirannya.
Tak Putus Dirundung Malang

Wilayah Kepulauan Nusantara yang sempat disebut-sebut sebagai “kepingan tanah 
surga di muka bumi” ternyata semakin keropos. Khazanah kekayaan flora dan fauna 
di daratannya, tambang dan mineral di perut buminya, keragaman biota di 
keluasaan lautnya, sama sekali belum dapat mengangkat perikehidupan masyarakat 
bangsa.

Saat keuangan negara sedang “ngos-ngosan” oleh lilitan utang, wabah korupsi 
semakin membiak. Kasus-kasus korupsi seakan masih “diambangkan”. Tak heran bila 
angka indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia tahun 2010 ternyata tidak 
beranjak dari tahun 2009, bertahan mantap di 2,8 atau berada di peringkat 
ke-110 dari 178 negara yang disurvei.

Seiring dengan karut marut kehidupan dan tergerusnya nilai-nilai moral anak 
negeri, alam pun kemudian ikut memerankan lakonnya. Bencana alam mulai 
“menggelontori” wilayah timur Nusantara (Papua) dengan longsor, “mencubit” 
kawasan Barat (Mentawai) dengan tsunami, “merengkuh” pusat Kerajaan Jawa 
(Merapi).

Ibu Kota Negara yang kesulitan menyediakan pasukan air bersih bagi warganya, 
disuplai dengan banjir. Sayang banyak jembatan layang di daratan. Sekali-sekali 
perlu dilalui perahu karet di bawahnya.

Di tengah-tengah “derita berantai” yang dialami rakyat ini, wakil-wakil yang 
pernah mereka pilih “ngeloyor” studi banding, mempelajari situasi dan kondisi 
yang ada di negeri orang. Sementara kondisi dan situasi negeri sendiri 
“dicuekin”. Lalu muncullah tembang “Jawa Barat, Jawa Timur. Rakyat melarat, 
pemimpin makmur”, “Angin bertiup dari Jawa, mau hidup, tarik nyawa”.

Kini “negeri sumpah” sudah berbalik arah. Merujuk ke Kamus Besar Bahasa 
Indonesia (1988), sumpah dimaksud mengacu kepada arti: Pertama, pernyataan yang 
diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang 
dianggap suci untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhan;

kedua, pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan 
kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar. Di 
balik itu ternyata sumpah juga diartikan sebagai kutukan, tulah, kata-kata 
buruk, atau makian.

Di rentang kehidupan berbangsa dan bernegara selama 66 tahun ini, kondisi 
masyarakat bangsa sudah bagaikan “tak putus dirundung malang”. Penderitaan yang 
dialami anak negeri silih berganti. Dari Sumpah Gajah Mada dan Sumpah Pemuda 
yang bersisi tekad, kini menjelma dalam bentuk sumpah baru, yakni “sumpah 
serapah”. Sumpah yang berisi muatan umpatan, saling mencaci antarsesama.

Saling mengumpat antarsesama hampir muncul setiap saat. Ibaratnya, “sumpah 
serapah” sudah menjadi agenda kehidupan bangsa ini dan bisa berlangsung di mana 
saja, di media cetak, media elektronik, forum seminar, ataupun di khalayak 
(demo).

“Sumpah serapah” sudah ibarat “menu harian” dalam kehidupan berbangsa dan 
bernegara saat ini. Apakah ini pertanda kalau kehidupan berbangsa dan bernegara 
sudah melenceng dari relnya dan mulai menelusuri alur “kutukan”? Hanya sejarah 
pula yang bisa menjawabnya.

Namun setidaknya, peringatan Hari Sumpah Pemuda kali ini mampu kita jadikan 
“amsal” untuk membenah diri; kembali menyatukan tekad anak bangsa dalam “ruh” 
Sumpah Pemuda yang sempat terlupakan itu. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke