Menarik juga uraian dibawah ini, hanya aku belum mampu membaca mengenai 
situasi dan kondisi perekonomian China bila memang Amerika dan Europa 
amburadul sehingga jumlah export dari China menurun tajam.

Karena China memiliki program yg terukur dan teratur, semisal bisnis 
property, pada awalnya asing boleh membeli property dilain sisi bila mau 
menjual maka harus dijual ke sesama orang asing ( entah sekarang sudah 
berubah apa belum ).

Kemudian program sejenis repelita yg terus bergerak ber kesinambungan ( 
market makanan di Amerika pun kena sruduk Produksi China ), yg otomatis 
market dalam negeri akan terus bergulir, dilain sisi utk bidang politik, 
China pun secara tidak langsung mengejek negara maju terutama dibidang 
bidang yg dikuasai negara negara maju, sehingga fokus negara maju menjadi 
kelimpungan tanpa arah, karena hampir di semua bidang China bergerak, bukan 
disatu jenis saja.

Bila saat ini sektor pertanian dan perekebunan yg menjadi prioritas, jangan 
kaget dalam waktu dekat masuk ke bidang perikanan, karena seperti yg sudah 
sudah, sekali bergerak bukan lagi dengan coba coba, melainkan langsung 
bergerak. ( coba coba nya di umpetin )

sur ( mohon patromak bagi yg memahami sektor keuangannya yah )
++++++++

Subject: Fw: China lebih rentan krisis dari Indonesia dan India

From:

Senin, 24 Oktober 2011 | 15:45 Roubini: China lebih rentan krisis dari 
Indonesia dan India  JAKARTA. Dalam dunia finansial siapa yang tidak kenal 
Prof. Dr. Nouriel Roubini sang peramal kiamat Lehman Brothers? Warga negara 
Amerika Serikat keturunan Turki-Yahudi itu datang ke Indonesia atas undangan 
BKPM dan ISEI untuk memberikan kuliah terbuka pertamanya di Indonesia. 
Roubini yang juga dijuluki Dr. Doom di aula di Gedung BKPM Jalan Gatot 
Subroto mengungkapkan apa yang sebenarnya sudah ia ungkapkan dalam 
makalah-makalahnya yang telah banyak dikutip oleh media-media asing. 
Misalnya untuk krisis di Amerika Roubini memperkirakan, peluang ekonomi AS 
dan Eurozone (negara-negara maju) terjerumus kembali dalam resesi mencapai 
60%. Berbagai aksi financial engineering (rekayasa keuangan) yang dilakukan 
oleh negara-negara maju tersebut untuk mengatasi krisis barangkali memang 
upaya yang perlu dilakukan. Namun, upaya itu belumlah cukup untuk bisa 
menggerakkan sosial politik sebuah negara . Kunci utama keluar dari krisis 
adalah mendorong pertumbuhan ekonomi. Sayang, Sang Doktor tidak terlalu 
mengelaborasi langkah-langkah yang efektif untuk keluar dari krisis itu. Ia 
hanya bisa menyebutkan perlu upaya jangka panjang untuk bisa benar-benar 
dari krisis ekonomi saat ini. Roubini melihat saat ini sudah mulai terjadi 
pergeseran kekuatan ekonomi dunia, baik dari sisi perdagangan maupun pasar 
finansialnya. Dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, dari ekonomi 
negara-negara maju ke ekonomi negara-negara berkembang. Itulah sebabnya 
muncul emerging market yang banyak memikat orang karena pertumbuhan 
ekonominya, seperti di Brasil, Indonesia, dan Afrika Selatan. Roubini juga 
menggarisbawahi India dan Indonesia, yang mengandalkan konsumsi domestik 
sebesar 50%-60% sebagai faktor pendorong pertumbuhan ekonominya. Dua negara 
ini bisa dibilang lebih kebal terhadap gonjang-ganjing krisis di Eurozone 
dan AS. Indonesia dan India beruntung karena memiliki populasi besar dan 
konsumsi yang terus meningkat. Apalagi, Indonesia saat ini sudah pernah 
belajar dari krisis di tahun 1998 sehingga memiliki sistem finansial dan 
sektor swasta yang kuat. Agar ekonomi terus tumbuh dalam jangka panjang, 
Indonesia punya tantangan besar, yaitu mengembangkan nilai lebih dengan 
menggunakan inovasi teknologi (termasuk teknologi informasi dan teknologi 
untuk energi alternatif), mengembangkan human capital, investasi di natural 
resources dan physical capital investment. Infrastruktur merupakan salah 
satu kunci pertumbuhan ekonomi. Jika persoalan infrastruktur bisa diatasi 
dan proyek-proyek infrastruktur berjalan, ekonomi Indonesia bakal semakin 
cerah. Sementara itu khusus untuk China Roubini memberikan informasi yang 
cukup mengejutkan. Walau China memiliki populasi terbesar di dunia, menurut 
Roubini, China justru memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan India dan 
Indonesia bila dihadapkan dengan perkembangan kondisi global saat ini karena 
konsumsi domestiknya hanya 30% dari GDP. Jadi pada waktu perekonomian 
Amerika dan Eropa melemah, maka penjualan produk-produk China pun akan ikut 
lesu. Selain itu Roubini memperkirakan, public debt China saat ini sudah 
mencapai 80% dari GDP. Ini sangat mengejutkan karena menurut data resmi 
pemerintah China, public debt hanya sekitar 18% dari GDP. Bayangkan jika 
asumsi Roubini benar dan kredit macet masyarakat China makin membengkak. 
Sistem perbankan di China pun akan gonjang-ganjing. Selain itu, Roubini 
melihat China dalam 30 tahun terakhir menggenjot investasi yang berlebihan 
dalam pembangunan fisiknya sehingga kapasitas sektor swasta, termasuk di 
sektor properti sangat berlebih. Itu berarti, produksi China lebih besar 
daripada permintaan sehingga tidak akan terserap oleh pasar domestiknya. 
Roubini melihat ekonomi China terlalu bergantung pada pasar ekspor. Ekspor 
tentu bagus bagi suatu negara, tapi jika ekspor sudah terlalu besar tentu 
membahayakan jika ekonomi negara-negara tujuan ekspor utama, seperti Eropa 
dan AS, sedang bermasalah. China, saat ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi 
kawasan Asia, bahkan dunia. Bayangkan jika ekonomi China juga mulai goyah. 
“Hard landing akan buruk China juga untuk emerging market,” tambah Roubini. 
Powered 



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke