http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=4244
Selasa, 25 Oktober 2011 , 07:05:00 Mabes Polri Libatkan Pasukan Khusus TNI Usut Penembakan Karyawan Freeport di Timika JAKARTA - Mabes Polri berjanji maksimal mengusut penembakan karyawan Freeport di kawasan Timika, Papua. Serangan yang berulangkali terjadi membuat polisi tak bisa bergerak sendirian. "Kita akan melibatkan teman-teman dari TNI," ujar Kadivhumas Polri Irjen Anton Bachrul Alam di Jakarta kemarin (23/10). TNI mempunyai kemampuan personel dan persenjataan untuk mendukung operasi-operasi pengejaran di daerah pedalaman Papua. "TNI ada Kopassus dan pasukan lain yang selama ini sudah bekerjasama dengan Polri. Kita sinergi,” katanya. Serangan di kawasan Freeport memang terkesan dilakukan oleh kelompok yang terlatih. Mereka menyerang secara spontan dengan senjata laras panjang kaliber 5,56 mm. Setelah itu , kelompok tanpa bentuk ini lari ke dalam hutan. Penembakan terakhir terjadi pada 21 Oktober 2011. Salah satu korbannya adalah Aloysius Margana yang masih kerabat anggota DPR RI Roy Suryo. Sebelumnya, 14 Oktober 2011 juga terjadi penembakan di kawasan yang sama. Pada 7 April 2011 masih di jalur yang sama, kelompok penyerang juga beraksi. Menurut Anton Bachrul Alam, untuk langsung menentukan siapa di balik penyerangan itu perlu waktu. "Polri sedang bekerja, tidak ada libur. Saat ini, Jenderal Imam Sudjarwo masih di Papua pimpin operasi," katanya. Masalah Papua juga dibahas dalam pertemuan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Denpasar, Bali kemarin. Dalam pertemuan selama satu jam itu, Purnomo menyampaikan kondisi terbaru di Papua. Langkah Purnomo ini disesalkan oleh anggota DPR Maruara Sirait. "Kenapa Menhan Indonesia lebih dulu melapor pada Amerika padahal kepada DPR atau rakyatnya sendiri belum,” katanya. Politisi asal PDI Perjuangan itu mengingatkan Purnomo agar tidak memihak kepentingan asing apalagi Amerika Serikat dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di Papua. "Kita akan awasi terus prosesnya, untuk apa Menhan memberi informasi pada Amerika, apa relevansinya untuk rakyat Papua," kecamnya. Sementara itu, kematian Nunu, sapaan keluarga buat Yunus (20), korban penembakan di Mile 40, area PT Freeport Indonesia (PTFI) pada Jumat (21/10) lalu, menjadi peristiwa yang sangat menyedihkan bagi keluarga yang ditinggalkan. Banyak kenangan ditinggalkan Alm. Yunus sebelum meninggal. Almarhum dikenal memiliki pribadi yang santun, rajin dan sering bercanda baik kepada keluarga maupun sahabatnya. Hal tersebut disampaikan kakak ipar korban, Ode Nuriati, saat Radar Timika mendatangi rumah duka yang terletak di Jalan Srikaya, Kampung Timika Jaya (SP 2), Sabtu (22/10) siang. Di rumah duka nampak hadir sejumlah sanak-saudara dan orang-orang terdekatnya. Jenazah Alm. Yunus dibaringkan di dalam peti kayu yang diletakkan di atas meja di ruang tamu sebuah rumah tembok bercat hijau. Meskipun mereka saat itu masih dirundung duka yang mendalam, tetapi suara tangisan dan teriakan tidak lagi banyak terdengar. Berbeda saat jasad Alm. Yunus masih berada di Ruang Jenazah Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika sehari sebelumnya. Beberapa keluarganya menangis histeris melihat jasad Yunus terbaring kaku. Sabtu (22/10) kemarin, pihak keluarga menyatakan telah mengikhlaskan sepenuhnya kepergian Yunus, dan tidak ingin menuntut apapun atas kejadian tersebut. “Keluarga telah mengikhlaskan kepergiannya (Yunus). Segala sesuatunya sudah diatur oleh Allah,” jelas Titi Kisnani yang merupakan tante Yunus.Pihak keluarga saat itu sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulangkan jasad Yunus ke kampung halamannya di Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra). Kakak Yunus, Jafar, dan keponakannya, Novi, akan mengantar pemberangkatan jenasah Yunus sampai tiba di kampung halamannya. Dari Timika, jenazah Yunus diterbangkan dengan pesawat Merpati hari Sabtu (22/10) lalu pukul 15.00 WIT. I nformasi yang diperoleh keluarga Yunus dari pihak maskapai, menyatakan pesawat tersebut akan singgah di Kota Makassar, kemudian hari Minggu (23/10) akan berangkat ke Bau-bau. Sehingga jenazah akan bermalam di Makassar, sebelum dikirim selanjutnya ke Bau-bau. Nuriati mengatakan Yunus datang ke Timika sekitar satu tahun lalu. “Awalnya bekerja sebagai buruh bangunan, sebelum bekerja menjadi penjaga warung (kios) di Mile 40,” kata Nuriati. Kata Nuriati, Yunus bekerja menjaga kios milik Lapa Deu (38) di kali kopi (Mile 40) itu baru delapan hari, sebelum peristiwa tragis itu merenggut nyawanya. Sebelum mendapat kabar tentang kematian Yunus, Nuriati mengatakan dirinya sempat mendapat suatu firasat bahwa akan ada seseorang meninggal. “Sebelumnya saya ada firasat, dua mata saya ini goyang-goyang, kayak mau menangis,” ungkapnya. “Kita terima kabar kalau dia meninggal sekitar jam 12.00 WIT, tetapi waktu jam 09.00 WIT, ponakannya, Rajab (2 tahun), sudah teriak pangil-pangil. Bapak, Nunu datang… Bapak, Nunu datang… sambil nunjuk ke arah jalan depan rumah,” beber Nuriati. Menurut Nuriati, Rajab merupakan keponakan kesayangan Yunus. Semasa tinggal di Kampung Timika Jaya (SP 2), Yunus sering menggendong keponakannya itu. Sementara Nini, kakak sepupu almarhum, yang merupakan ibu Rajab mengatakan, sebelum Yunus pergi ke Mile 40, sempat memperlihatkan tingkah yang tidak seperti biasanya. “Sebelum meninggal, dia (Yunus) sempat bikin repot keluarga. Dia minta handbody sama saya. Katanya, dia mau ke kota (Timika). Dia juga meminta anting-anting sama Novi, ponakannya. Sampai dia meninggal, anting-anting itu tetap dia pakai,” kata Nini. Tidak hanya itu. Nuriati yang merupakan kakak ipar almarhum, mengaku sempat dimintai uang sebesar Rp 30 ribu sebelum Yunus pergi ke Mile 40. “Waktu dia di atas, dia meminta saya mencucikan pakaiannya. Dia juga minta diisikan pulsa. Waktu itu saya juga tidak tau kenapa saya mengiyakan terus permintaannya,” papar Nuriati. Titi Kisnani juga mengungkapkan bahwa sebelum berangkat ke Mile 40, Yunus sempat menyalami tangannya sampai beberapa kali. “Katanya mohon doa restu, semoga dapat rejeki yang banyak di sana,” ungkap Titi. Nini mengungkapkan Yunus pernah mengatakan kepada dirinya bahwa sudah lelah berada di Timika. Dia berencana pulang ke kampung halamannya saat lebaran haji nanti. “Dia bilang ke saya, kenapa sudah satu tahun ini tidak ada hasilnya (kerja). Tidak ada (uang) yang bisa saya kirimkan buat orangtua di kampung. Katanya, dia mau cari uang tiket untuk pulang ke kampung,” papar Nini. Nini mengenang Yunus sebagai peribadi yang rajin bekerja. “Kalau disuruh dia langsung pergi, dia orangnya humoris, dia juga senang dengar musik dan dia rencana mau bawa salonnya (speaker) ke kampung, kalau dia pulang,” ujarnya. Nini berencana membawa speaker itu saat dia pulang ke Bau-bau nanti, untuk memenuhi rencana Yunus sebelum meninggal. Peristiwa penembakan dalam rentang waktu seminggu telah terjadi dua kali yang menyebabkan enam korban meninggal dunia. Hari Jumat (14/10) lalu terjadi di Tanggul Timur, Mile 37 area kerja PTFI, menimbulkan tiga nyawa melayang. Dalam penembakan Jumat (14/10) lalu, selain menewaskan Yunus dan Alex Etok Laitowono, juga menewaskan Aloysius Margana (47), Karyawan PT Kuala Pelabuhan Indonesia (kontraktor PTFI). Jenazah Aloysius Margana hari Jumat lalu telah diterbangkan dengan pesawat Airfast ke Jogjakarta. Sedangkan penembakan dan penganiayaan pada Jumat (14/10) lalu di Mile 37 menewaskan tiga karyawan PT Puri Fajar Mandiri (kontraktor PTFI), yakni Yana Heryana, Iip Abdul Rohman, dan Deden. Setelah disemayamkan dua malam di rumah duka di Jalan Serui Mekar, jasad almarhum Albertus Laitawono (29) alias Etok, dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kamoro Jaya (SP 1), Minggu (23/10) siang. (ken/rdl/iro/fud) ++++ http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=4284 Senin, 31 Oktober 2011 , 17:45:00 Tim Pengejar Terganggu Faktor Alam Polri Optimistis Bisa Tangkap Penembak Kapolsek Puncak Jaya JAKARTA-Kritik bertubi-tubi soal penerimaan dana Freeport untuk polisi tak menyurutkan semangat petugas di lapangan. Bahkan, Polri optimistis segera bias menangkap penembak dan perusuh di Puncak Jaya, Papua. "Tim bekerja terus, siang dan malam, mereka tidak istirahat," ujar Kadivhumas Polri Irjen Saut Usman Nasution kemarin (29/10). Pengejaran ke dalam hutan dilakukan oleh Brimob yang terlatih. Mereka juga dibekali persenjataan canggih untuk bertahan jika kelompok yang dikejar melakukan perlawanan. " Petugas di lapangan fokusnya bekerja sebaik mungkin, ini perintah pimpinan dan tugas negara," katanya. Mantan Kadensus 88 Polri ini mengakui banyak faktor yang mempengaruhi operasi penindakan hukum di Papua. "Misalnya, medan yang berat, cuaca, faktor alam menentukan sekali," katanya. Saut juga tidak bersedia berspekulasi soal siapa sebenarnya kelompok yang menyerang Kapolsek ataupun melakukan penembakan di sekitar Freeport di Timika. "Kalau ada pihak yang mengaku-aku misalnya OPM tentu informasi ini tidak bias ditelan langsung. Harus kroscek. Yang paling valid, jika tersangka sudah tertangkap," katanya. Informasi yang dihimpun koran ini, pengejaran di perbukitan dan hutan-hutan Papua tidak segampang yang dibayangkan. "Kadang ada kabut yang turun mendadak, ada binatang buas menghadang, suasananya tidak bias ditebak," kata seorang perwira lapangan Brimob menuturkan pengalamannya bertugas di Papua di sela-sela latihan anti teror Polri 25/10 lalu. Padahal, para perusuh yang dikejar justru orang-orang yang sangat menguasai medan. "Mereka seperti bias menghilang di hutan, dari sisi itu kita agak kalah, kalau dari senjata dan teknik kita unggul," katanya. Lantas apa solusi tim ? "Biasanya tim menggunakan jasa warga asli, ya semacam tokoh spiritual setempat untuk membantu membuka jalan, ini fakta , Papua bukan medan mudah yang dibayangkan," katanya.(rdl [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
