Refl: Hingga kini belum ada sekolah bagi anak-anak orang Rimba adalah juga 
kemajuan yang dicapai oleh rezim NKRI. 

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/orang-rimba-juga-ingin-sikola/
03.11.2011 14:02

Orang Rimba Juga Ingin “Sikola” 
Penulis : Sri Rahayu Ningsih [ 2 Komentar ] 

 Anak Orang Rimba-Kehidupan anak-anak Orang Rimba, yang hidup tak menentu, 
berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.(foto:SH/Sri Rahayu Ningsih)
“Bepak-bepak mika, e jagon duduk bae. Kami e urang Tebo jugo. Umah sikola kami 
idak ado.” Kalimat ini diteriakkan belasan anak tanpa alas kaki, dengan pakaian 
seadanya, di halaman DPRD Kabupaten Tebo Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu.

Mereka menuntut dibuatkan sekolah khusus, sebagai sarana dan prasarana belajar 
di lokasi mereka.

Kondisi ini menggambarkan bahwa anak-anak yang berasal dari Suku Anak Dalam 
(Orang Rimba) pun ingin pintar seperti anak-anak seusia mereka yang sibuk 
dengan berbagai bentuk pelajaran membaca dan menulis. Mereka juga ingin 
mencicipi bangku sekolah, menjadi pintar, bahkan menjadi sarjana, seperti 
anak-anak lainnya di wilayah tersebut. 

Bayangkan, dari sekitar 3.500 Orang Rimba di Jambi, baru 10 persen di antaranya 
yang bisa baca dan tulis. Namun apa daya, kondisi membuat mereka tidak berdaya 
untuk mencapai keinginan tersebut.

Pandangan sebelah mata dan sikap ketakutan masyarakat lainnya di sekitar 
wilayah mereka, membuat mereka enggan ikut bersekolah di sekolah-sekolah 
reguler yang telah dibangun pemerintah di sekitar mereka.

Mereka juga tidak mengerti dan memiliki dana untuk membayar biaya sekolah serta 
membeli buku pelajaran, yang terhitung mahal untuk kantong mereka. 

Menurut Koordinator Program Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Robert 
Aritonang, keinginan sekolah yang cukup tinggi ini disampaikan sendiri oleh 
anak-anak Orang Rimba, yang sejak beberapa tahun lalu, mengikuti kegiatan 
belajar mengajar yang diadakan KKI Warsi di beberapa lokasi tempat tinggal 
Orang Rimba di wilayah Jambi.

“Mereka sama dengan anak-anak lainnya. Bisa dengan cepat menyerap pelajaran 
yang diberikan,” ujar Robert.

Hal yang menjadi kendala, untuk dapat mengikuti sekolah reguler yang telah 
dibangun pemerintah di sekitar mereka, adalah lokasi sekolah yang sangat jauh. 
Selain itu, ketiadaan dana untuk membayar biaya sekolah yang mahal untuk 
mereka. 

Kondisi ini diperparah lagi dengan pandangan masyarakat pedesaan di Jambi, yang 
memarginalkan dan selalu memandang mereka sebagai pengganggu jika mereka berada 
di tengah-tengah masyarakat lainnya. Ironisnya, masyarakat selalu menuduh 
mereka sebagai pencuri jika ada masyarakat desa yang kehilangan ternak atau 
hasil kebun lainnya.

“Mereka bukan pencuri, namun hanya telah terbiasa hidup dari alam. Ketiadaan 
ilmu dan lahan untuk diolah membuat mereka terbiasa hidup dalam situasi 
tersebut,” kata Robert.

Berpindah 

Seperti suku terasing nomaden lainnya di Indonesia, Orang Rimba sejak dahulu 
hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Mereka tidak 
memiliki tempat tinggal untuk menetap. Mereka terbiasa hidup dari hasil alam, 
tumbuhan, buah dan hewan buruan yang mereka tangkap sendiri di hutan.

Jika tidak ada lagi hasil alam yang bisa mereka petik untuk bertahan hidup, 
mereka akan berpindah ke lokasi lainnya, mencari tempat menetap sementara yang 
baru. Hal inilah yang membuat mereka ditakuti dan selalu dituduh mencuri oleh 
warga pedesaan. 

Menurut Robert, pemerintah setempat juga harus memikirkan persoalan pendidikan 
bagi anak-anak rimba tersebut. Di tengah laju modernitas saat ini, 
dikhawatirkan mereka akan terus termarginalkan dan hidup dalan situasi yang 
jauh dari pendidikan. Akibatnya, suku asli Jambi tersebut semakin tergerus 
modernisasi.

Sekolah yang dibutuhkan oleh Orang Rimba adalah berupa sekolah reguler khusus 
yang diperuntukkan anak-anak warga Suku Anak Dalam tersebut. Hal ini dianjurkan 
oleh Robert setelah beberapa tahun melakukan pendampingan.

Menurut Robert, mereka tidak akan dapat belajar dengan tenang jika digabung 
dengan anak-anak masyarakat umum lainnya. Selain itu, pemerintah harus 
mempertimbangkan untuk memperingan atau bahkan menggratiskan biaya sekolah bagi 
Orang Rimba. 

Meski telah ada Orang Rimba yang hidup menetap dan memiliki lahan untuk diolah 
dengan status kepemilikan yang bersertifikat, jumlahnya hanya sedikit. Pada 
umumnya, etnis ini hidup terasing di pedalaman. Jadi jelas, mereka tidak akan 
memiliki biaya untuk membayar biaya sekolah yang cukup mahal.

Salah seorang pemuka warga Suku Anak Dalam yang telah hidup menetap dan modern, 
Temenggung Tarip, mengungkapkan, untuk memberikan pendidikan bagi warga Suku 
Anak Dalam diperlukan guru khusus yang bisa menyatu dengan warga dan sabar. 

Kalau mengharapkan anak-anak dari warga Suku Anak Dalam datang ke sekolah, 
mungkin satu atau dua hari bisa, tetapi lebih dari itu mungkin tidak, karena 
keterbatasan waktu dan jauhnya lokasi tempat tinggal mereka dari sekolah 
reguler yang dibangun pemerintah.

Tercatat, hingga kini, baru satu orang anak Orang Rimba yang bisa menamatkan 
sekolahnya hingga SMP pada 2009, yakni Besudut. Besudut adalah anak rimba dari 
Kelompok Tumenggung Ngukir di kawasan Bukit Duabelas Kabupaten Tebo.

Meski harus berjalan kaki sejauh 10 km (tiga jam perjalanan) dengan kendaraan 
roda dua, Besudut tidak pernah absen mengikuti pelajaran di sekolahnya, SMP 
Terbuka yang berlokasi di SMP Negeri 14 Tebo. 

Besudut lulus dengan mengantongi nilai 25,15, dengan nilai bahasa Indonesia 
6.80, bahasa Inggris 5,60, matematika 6,50, dan IPA 6,25.

Meraih pendidikan yang lebih tinggi adalah cita-cita anak pertama dari tiga 
bersaudara ini sejak lama. 

Besudut mulai mengenal pendidikan sejak ia ikut sekolah alternatif yang digagas 
KKI Warsi di kawasan Makekal Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi pada 1999. 
Saat ini, Besudut telah sekolah di kelas dua SMA Negeri 14 Pintas Tebo, 
dibiayai KKI Warsi.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke