http://epaper.korantempo.com/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/11/15/index.shtml?ArtId=003_017&Search=Y

15 November 2011


Warga Jayapura Berdemo Tuntut Referendum


JAYAPURA: Ribuan orang berunjuk rasa di Jayapura, Papua, menuntut referendum 
kemarin. Mereka berjalan dari Abepura menuju Taman Imbi di Jayapura, yang 
berjarak sekitar 10 kilometer. 
“Perjuangan tak pernah mati. Hanya satu kata, terus lawan,”kata Mako 
Tabuni,Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB), kemarin siang. 

Warga membawa puluhan poster, spanduk bertulisan referendum, bendera 
Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga pamflet bergambar Bintang Kejora. Aksi 
tersebut dikawal anggota kepolisian bersenjata lengkap. “Kita berharap tidak 
anarkis,” kata Kepala Kepolisian Sektor Abepura Komisaris Arie Sirait. 

Akibat unjuk rasa itu, lalu lintas dari Jayapura ke Sentani macet total. 
Puluhan toko dan kios tutup. Pengunjuk rasa juga meneriakkan yel-yel “Papua”, 
disambut kata “merdeka”.“Kami ajak semua bergabung. Kita minta referendum, 
bukan dialog,”kata Koordinator Umum KNPB wilayah Jayapura,Victor Kogoya. 

Setiba di Jayapura sekitar pukul 15.30 WIT, pendemo langsung mengelilingi Taman 
Imbi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Papua. Selain menuntut 
referendum, mereka meminta PT Freeport Indonesia ditutup dan menuntut audit 
menyeluruh atas kejahatan hak asasi dan lingkungan di Papua. 

Kepala Kepolisian Resor Kota Jayapura Ajun Komisaris Besar Alfred Papare 
mengatakan unjuk rasa menuntut referendum itu tidak masuk kategori makar.“Kalau 
makar, pastilah kita tindak,”ujarnya tadi malam. 

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto juga menganggap 
demo itu hal biasa.“Yang enggak boleh kan bakar-bakar toko, anarkis, merusak, 
terus memproklamirkan kemerdekaan dan memisahkan diri.” Sebelumnya, pada 
pertengahan Oktober 2011, ratusan orang juga berdemo di depan kantor Majelis 
Rakyat Papua di Kotaraja, Jayapura, menuntut merdeka. Demo menentang pemerintah 
dan meminta referendum secara besar-besaran juga terjadi pada Juni 2010. 

Forum Akademisi untuk Papua Damai meminta pemerintah segera melakukan dialog 
untuk menyelesaikan konflik di Papua. Dialog dilakukan secara terbuka dengan 
mekanisme yang dapat diterima pemerintah dan masyarakat Papua. “Pemerintah 
harus menunjukkan “willingness”menyelesaikan kasus Papua dengan segera memulai 
mekanisme dialog,” kata ketua forum itu, Otto Syamsuddin Ishak, kepada pers 
kemarin. ● JERRY OMONA | ENI SAENI | IRA GUSLINA 

     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke