Refl : Tentu saja SBY boleh berpura-pura atau main kucing-kucingan, sebab tidak 
ada larangan orang apalagi seorang presiden berkucing-kucingan.


http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=4309

Jum'at, 25 November 2011 , 18:37:00 


Mas Kawin Ibas Untuk Aliya 100 Gram Emas

SBY Pura-Pura Tamu, Hatta Rajasa Tuan Rumah

 
Presiden SBY mengikuti prosesi pernikahan putra bungsunya, Edhie Baskoro 
Yudhoyono, dengan Siti Rubi Aliya, di Istana Cipanas, Jawa Barat, Kamis (24/11).
CIPANAS - Nuansa adat Palembang, Sumatera Selatan, mendominasi seluruh prosesi 
akad nikah Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dengan Siti Ruby Aliya Rajasa di 
istana Kepresidenan Cipanas, Jawa Barat, kemarin (24/11). Ini terlihat dari 
gaya berpakaian yang dipadu dengan kain songket, sampai tari-tarian dan musik 
tradisional yang mengiringi.
Pilihan adat Palembang ini seolah menjadi "penyeimbang" setelah pada Selasa 
lalu, rangkaian acara siraman di kediaman masing-masing mempelai dilakukan 
secara adat Jawa. Menko Perekonomian Hatta Rajasa, ayah dari Aliya, kebetulan 
memang berdarah Palembang.

"Integrasi dan kolaborasi budaya Jawa dan Palembang menunjukkan keanekaragaman 
budaya nusantara yang dapat mereka persatukan lewat cinta," kata Menko Polhukam 
Djoko Suyanto yang didapuk sebagai juru bicara mewakili kedua keluarga 
mempelai. Menurut dia, pernikahan ini merupakan perwujudan dari moto Bhineka 
Tunggal Ika. "Keragaman yang dipersatukan oleh cinta kedua mempelai," imbuh 
Djoko, lantas tersenyum.

Secara formal, istana Cipanas adalah salah satu "rumah dinas" Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY). Namun, dalam prosesi akad nikah itu, SBY diposisikan 
sebagai tamu. Hatta Radjasa yang berperan sebagai tuan rumah. Sesuai tradisi 
dominan di Indonesia, prosesi akad nikah biasanya memang dilakukan di kediaman 
orang tua mempelai perempuan.

Sekitar pukul 09.45, dari arah gedung induk, Ibas yang diapit SBY dan ibunda, 
Ani Yudhoyono berjalan perlahan. Di belakang mereka turut mengiringi putra 
sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono bersama istrinya, Anisa Pohan. Agus 
membawa nampan berisi mahar dari Ibas. Yakni, 100 gram emas dan seperangkat 
alat salat. Sedangkan, Anisa membawa nampan yang diatasnya terdapat mas kawin 
yang diletakkan di semacam tempat kecil berbentuk telur.

Rombongan kecil ini berjalan menuju arah paviliun Yudhistira dengan iringan 
musik tradisional komering tabuh agung . Jalan mereka "dibuka" oleh dua orang 
yang melakukan ngigol atau tarian silat. Di sana, telah menunggu keluarga 
mempelai perempuan.

"Komposisi musik ini mengiringi proses calon pengantin pria ke kediaman calon 
pengantin wanita yang juga tempat berlangsungnya akad nikah," ujar pembawa 
acara Ferdi Hasan. Dia "berduet" dengan Tia Maryadi yang langsung menjelaskan 
kembali dalam bahasa Inggris.

Ferdi menyebut tabuh agung berarti pengiring kedatangan para bangsawan atau 
tamu agung. Alat musik yang digunakan adalah kenong atau canang, gong, ketawak, 
kolintang, dan gendang.
Acara berlanjut dengan proses kandang adat. Ini diawali dengan "adu ilmu" 
penari silat dari masing-masing keluarga mempelai. Kemudian dilanjutkan dengan 
adu pantun, tukar tepak sirih, dan cicip sirih. Perwakilan masing-masing 
mempelai tampak mengambil dan mengunyah sirih yang dibawa sebagai bentuk 
penghormatan.

Setelah itu, Hatta Rajasa bersama ibu Okke Rajasa menghampiri Ibas untuk 
mengenakan kain songket dipundaknya dan dibimbing ke meja akad nikah. Boediono 
bertindak sebagai saksi saksi Ibas dan Amien Rais saksi Aliya. Hadir sebagai 
penghulu Kepala KUA Cipanas Muhtar. Hatta sendiri yang menikahkan Ibas dengan 
putrinya yang masih dipingit di kamar pengantinnya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan ananda dengan anak kandungku bernama Siti Rubi 
Aliya Rajasa dengan mas kawin koin emas seberat 100 gram dan seperangkat alat 
salat dibayar tunai," kata Hatta.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Siti Rubi Aliya Rajasa binti 
Muhammad...Hatta Radjasa dengan mas kawin tersebut, tunai," jawab Ibas yang 
sedikit gerogi saat menyebut nama mertuanya. Tapi, itu tak menjadi persoalan. 
Ijab kabul yang diucapkan Ibas tetap dianggap sah. "Alhamdulillah," kata ibas 
sambil memegang dadanya. Amien Rais secara spontan juga mengangkat kedua 
jempolnya. SBY dan Ani Yudhoyono juga tampak sangat lega.

Dengan senyum manis, tak lama kemudian, Aliya keluar dari kamar pengantin. 
Perempuan kelahiran 26 April 1986 itu diantarkan ke meja akad nikah didampingi 
dua adiknya, Kusuma Anggraini dan Siti Noor Azima Rajasa dengan memegang 
songket jerambah pengantin dipundak Aliya.

Setelah saling berdiri berhadap-hadapan, Ibas menyentuh kening Aliya dengan 
jempol tangannya sambil mengucapkan basmallah, surat Al-Fatehah dan shalawat. 
Ibas kembali kelihatan sedikit grogi saat hendak melakukannya. Sementara Aliya 
terus tersenyum simpul. Setelah itu, gantian Aliya yang mencium tangan Ibas.

Acara kemudian berlanjut dengan prosesi munggah, arak-arakan, tari milur, 
suap-suapan, cacap-cacapan, menuju pelaminan, tarian pagar pengantin, dan sujud 
sembah. Tarian pagar pengantin cukup istimewa. Karena Aliya sendiri yang 
melakukan tarian itu di atas nampan bambu berukuran sedang. Dia dikelilingi 
delapan penari lain yang juga adik dan sepupunya. Ibas berdiri tepat di sebelah 
Aliya yang melakukan tarian itu.
Menurut Reini Sukainah, instruktur tari pagar pengantin, tidak terlalu sulit 
untuk mengajari Aliya tarian tersebut. Proses latihan hanya sekitar lima kali. 
"Dia (Aliya) memang sudah bisa menari. Jadi, kita nggak begitu sulit. Tinggal 
menyesuaikan saja," ujar perempuan asli Palembang yang mengaku sudah berusia di 
atas kepala enam, itu. Tapi, butuh waktu tiga bulan untuk melatik 
saudara-saudara Aliya. "Mereka kami latih dari nol selama tiga bulan, seminggu 
dua kali," kata Reini.

Dalam adat Pelembang, perempuan yang telah menikah tidak boleh lagi menari di 
depan publik. Jadi, tari pagar pengantin bermakna sebagai perpisahan Aliya 
dengan keluarga dan para sahabatnya. "Kalau sudah menikah, sudah enggak boleh 
menari di depan umum. Jadi itu tarian terakhir," ujar pemilik sanggar tari 
Sukainah di Jakarta, itu.

Dipilihnya istana Cipanas sebagai tempat akad nikah bukannya tanpa alasan. Pada 
tahun 2007, untuk pertama kalinya, Ibas dan Aliya bertemu dan langsung 
merasakan getaran cinta. Sedangkan, tanggal 24 November 1980, kemarin, 
bertepatan dengan ulang tahun Ibas yang ke -31.

"Selamat kepada kedua mempelai. Ini tempat kalian pertama kali bertemu. Cinta 
pada pandangan pertama. Dan sekarang ingin mengukir sejarah di tempat ini," 
kata tokoh pendidikan Arief Rachman yang didaulat menyampaikan khutbah nikah. 
"Mudah -mudahan Mas Ibas dan Mbak Aliya mampu bersyukur," kata Arief. 

Akad nikah itu dihadiri tak kurang dari 1.000 undangan. Di antaranya, para 
menteri di Kabinet Indonesia Bersatu dan para duta besar dari negara sahabat. 
Tampak juga Ketua MPR Taufik Kiemas, Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua DPD Irman 
Gusman. Ada juga mantan Wapres Tri Sutrisno dan Hamzah Haz. Kemudian Ketua Umum 
Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie.
"Semoga bahagia sampai kapanpun juga. Dan, kalau ada perbedaan nggak 
cepat-cepat ribut. Kan pasangan muda," kata Ical "panggilan akrab Aburizal 
Bakrie.

Anas Urbaningrum ikut mendoakan Ibas dan Aliya. "Saya melihat aura kebahagiaan 
dan optimisme yang kuat pada proses akad nikah tadi," ujarnya. Dia juga gembira 
Ibas yang juga Sekjen Partai Demokrat itu akhirnya menemukan tambatan hati. 
"Alhamdulillah, sekjen saya tidak lagi jomblo. Pasti akan semakin konsentrasi 
dan produktif mengurus partai, serta semakin moncer sebagai politisi," kata 
Anas.
Sejumlah SD di sekitar istana Cipanas, kemarin, meliburkan diri. Di antaranya, 
SD Sukasarana, SD I Cimacan, dan SD Lokasari. "Tidak ada perintah dari diknas. 
Inisiatif sekolahnya sendiri, karena posisinya dekat dengan jalan utama," kata 
Ade Maemunah, salah seorang warga.

Para tamu undangan mendapat buah tangan tas kecil untuk perempuan yang terbuat 
dari daun pandan dan kombinasi kain batik. Resepsi pernikahan Ibas - Aliya baru 
akan dihelat pada Sabtu (26/11) malam di Jakarta Convention Center (JCC). Tidak 
kurang 3.500 undangan sudah disebar untuk resepsi yang mengkombinasikan budaya 
Jawa dan Palembang, itu. (pri)

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke