Power game. Politik ngga bisa bersih 100%. Bermainlah yg cantik. Papua 
terlanjur dicekokin uang, bukan pendidikan. Bahkan politik "harus papua asli" 
yg diberlakukan pemda papua untuk setiap jabatan disemua strata posisi pemda 
papua justru menghambat kemajuan papua sendiri. Spirit papua raya yg digembar 
gemborkan sekelompok orang disana seperti orang "demam" tanpa dukungan SDM yang 
memadai. Belum seberapa pintar sudah mendiskriminasi. Orang Papua punya hak 
bicara, dan berpendapat, namun mereka juga terlibat dalam power game dimana 
semuanya akan menggunakan segala taktik dan sumber daya yg ada untuk berkuasa. 
Tapi yg memprihatinkan, dari setiap permainan kekuasaan ini seringkali 
menimbulkan tragedi kemanusiaan. 
-----Original Message-----
From: "Sunny" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 27 Nov 2011 12:50:13 
To: <Undisclosed-Recipient>
Reply-To: [email protected]
Subject: [proletar] Dialog Jakarta - Papua Harus di Tempat Netral

Refl: Di mana ada otsus berhasil untuk kepentingan perbaikan kehidupan rakyat 
setempat? Di Aceh? Di Kalimantan? Di Maluku? Prinsip dialog di tempat neutral 
adalah tepat dan lazim dipraktekan oleh masyarakat internasional untuk 
menyelesaikan konflik regional. Dialog antara Indonesia dengan Timor Leste 
diadakan di Singapura, Jenewa etc.Penyelesaian perang antara USA dan Vietnam di 
lakukan di Paris. 

Dapat diperkirakan bahwa terdapat dua strategi dalam dialog ini, yaitu 
pemerintah NKRI mengingingkan Papua hargamati tetap menjadi wilayah NKRI, 
karena Papua mempunyai kekayaan alam yang berlimpah-limpah, sedangkan delegasi 
Papua berkehendak Papua lepas bebas merdeka dari NKRI. Kemungkinan akan diambil 
jalan tengah yaitu referendum, tetapi mengingat dalam pemilu-pemilu yang 
dilakukan di NKRI terdapat banyak kecurangan, maka bisa diperkirakan bila 
referendum diadakan hasilnya akan berat sebelah untuk keuntungan pihak NKRI.

http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=4310
Jum'at, 25 November 2011 , 18:38:00
SDFGHIOPÅ

Dialog Jakarta - Papua Harus di Tempat Netral

 
JAYAPURA - Sejumlah isu penting tentang persoalan yang terjadi di Tanah Papua 
terungkap dalam diskusi yang dilaksanakan oleh Aliansi Jurnalis Independen 
(AJI) Kota Jayapura dan Forum Jurnalis Papua, yang berlangsung di Lantai 11 
Hotel Aston Jayapura, Kamis (24/11).

Salah satu isu yang menonjol untuk menyelesaikan persoalan di tanah Papua ini 
adalah harus digelar dialog Jakarta – Papua di tempat yang netral.
Dalam diskusi tersebut hadir penjabat Gubernur Papua Dr. Syamsul Arief 
Rivai,MS, Sekertaris Daerah dr.h.Costant Karma, Ketua DPRP Drs. Jhon Ibo,MM, 
Ketua MRP Timotius Murib dan juga aktivis garis keras Papua misalnya Buktar 
Tabuni selaku Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB) serta pengurus 
intinya lainnya, termasuk diikuti pula perwakilan pemuda, LSM, tokoh adat, 
agama, dan wartawan lokal maupun nasional.

Penjabat Gubernur Papua Dr. Syamsul Arief Rivai,MS mengakui jika diskusi 
seperti ini sangat baik untuk menampung aspirasi dari masyarakat, terutama 
tentang desakan akan adanya dialog Papua dan Jakarta. Hanya saja dirinya 
berharap agar semua komponen di Papua harus satu suara tidak boleh 
masing-masing dengan presepsinya sendiri-sendiri, sebab jika demikian maka 
sangat sulit jika nantinya ada dialog.
“Dari diskusi ini saja, saya menilai belum ada kekompakan, sehingga ke depan 
saya harapkan harus bersatu, jika ingin persoalan ini sampai ke Jakarta,” kata 
Gubernur.

Sementara itu Petrus Latumahina dari Komonitas Kayu Bakar mengatakan bahwa 
dialog Jakarta dan Papua harus diwujudkan, sebab sampai saat ini pelaksanaan 
Otsus terutama tindakan affirmative action belum sepenuhnya terlihat dalam 
menyentuh hak-hak dasar orang asli Papua, misalnya pengusaha Papua yang masih 
dikuasai oleh pendatang. Begitu juga dengan masih banyaknya pelanggaran HAM di 
Papua.
“Saya juga sa2ngat sayangkan seharusnya dana Otsus dimakan juga oleh OPM, sebab 
mereka yang buat sampai Otsus ada di Papua, tapi kenyataannya lain, malah 
dimakan oleh orang yang tak pernah menjadi korban dari hadirnya Otsus di 
Papua,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP), Timotius Murib menolak 
pembentukan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang 
menjadi solusi pemerintah Jakarta untuk menyelesaikan masalah Papua. "Mestinya 
harus ada evaluasi secara menyeluruh terhadap pelaksanaan UU Otsus Papua selama 
sepuluh tahun, bukan mendatangkan lagi program baru," katanya.
Untuk itu, kata Timotius, pihaknya menyarankan pemerintah pusat di Jakarta 
sebaiknya melakukan evaluasi pelaksanaan Otsus dan juga kinerja pemerintah 
Provinsi Papua di era Otsus Papua saat ini.
“Pemerintah pusat harus punya komitmen untuk bangun Papua. Selama ini kan 
seperti memberikan kewenangan, namun tetap memegang ekor. Buktinya Papua Barat 
dan MRP Papua Barat bisa hadir. Itu kan campur tangan pemerintah,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Buchtar Tabuni berpendapat bahwa UP4B hadir di Papua malah 
akan membuat masyarakat Papua menjadi korban kebijakan.
“UP4B sedang mempersiapkan berapa lahan untuk menguburkan orang Papua? Sejak 
Otsus, lahan di Papua ini penuh dengan darah. Orang Papua meminta harga dirinya 
dihargai," katanya.
Bahkan dirinya pun dengan tegas meminta agar dilaksanakan referendum untuk 
menghargai hak politik orang asli Papua. “Jangan lagi dengan program-program 
yang akan membuat Papua menjadi kacau,” tegasnya.
Viktor Mambor, selaku pelaksana kegiatan dari AJI Kota Jayapura menjelaskan 
bahwa hasil dari diskusi ini akan dirangkum dalam suatu laporan tertulis yang 
nantinya akan diserahkan ke pihak-pihak berkepentingan.
Dikatakannya, dari diskusi ini sudah terlihat dengan jelas bahwa semua elemen 
meminta adanya dialog Papua dan Jakarta di tempat netral, sehingga pihaknya 
akan bersama-sama dengan elemen masyarakat Papua yang lainnya untuk mendesak 
agar persoalan di Papua harus diselesaikan secara bermartabat.

“Kita tidak bisa tinggal santai, harus ada tindakan, baik pusat, provinsi dan 
masyarakat Papua, serta korban HAM maupun OPM,” tambahnya. 
Viktor mengaku sempat kecewa dengan jalannya diskusi yang sempat memanas ketika 
penjabat gubernur dan rombongan hendak keluar dari ruangan. Di mana saat itu 
peserta diskusi malah menahan penjabat gubernur. “Ini suatu sikap yang kurang 
dewasa,” tukasnya.(cak/fud)

[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke