Refl: “Dalam diskusi itu juga terungkap bahwa banyak pihak di Republik 
Indonesia yang tidak suka kalau anak-anak Papua menjadi pintar karena "nanti 
Papua makin cepat merdeka dari Indonesia",, apa yang dikatakan ini, bukan hal 
baru dan hanya berlaku terhadap Papua, tetapi juga untuk daerah-daerah lain, 
maka oleh karena itu kelihatan ada yang tertinggal dalam perkembangan baik 
ekonomi, pendidikan dsb.


http://www.sinarharapan.co.id/content/read/anak-anak-papua-yang-membanggakan/
06.12.2011 11:35

Anak-anak Papua yang Membanggakan
Penulis : Kristanto Hartadi 

 (foto:dok/ist)
MASALAH Papua memenuhi benak saya hari-hari ini, karena banyak hal terjadi di 
sana yang membuat saya akhirnya bertanya: apakah Papua akan merdeka, seperti 
yang terjadi di provinsi RI ke-27 Timor Timur?

Seorang rekan diplomat senior dan pernah menjadi duta besar di sejumlah negara 
ketika saya tanyakan hal itu menjawab pasti: merdeka tidak bisa, tapi untuk 
lepas dari Indonesia terbuka peluangnya. 

Artinya, jelasnya, Papua sudah pernah "dimerdekakan" oleh Indonesia ketika 
akhirnya Belanda memilih menyerahkan wilayah terakhir yang didudukinya di 
Hindia Belanda itu pada tahun 1962.

Agar Belanda tidak terlalu hilang muka digelarlah Penentuan Pendapat Rakyat 
(Pepera), dengan metode disesuaikan dengan situasi saat itu di Irian Barat. 
Jadi, kalau sebutannya merdeka lagi itu tak lazim, katanya.

Mengenai hal ini saya akan coba tulis dalam kesempatan lain. Masih terkait 
Papua, Senin (5/12), saya hadir dalam sebuah diskusi terbatas mengenai soal 
pendidikan di Papua. Salah satu narasumber adalah Prof Dr Yohanes Surya, yang 
berhasil membuktikan bahwa anak-anak Papua yang dididiknya jauh dari bodoh, 
bahkan cerdas. 

Dia buktikan itu bahwa anak-anak pedalaman (dari Puncak Jaya, Mulia, Tolikara) 
yang diambil secara acak, karena mereka rata-rata tidak mampu membaca, menulis, 
dan berhitung, dalam tempo beberapa bulan dapat diubah sampai mampu menjadi 
juara Olimpiade Sains.

Pilih Panjat Pohon

Rekan Antie Sulaiman, staf di Pusat Kajian Papua, di Universitas Kristen 
Indonesia, mengeluhkan di rumahnya ada dua anak asuh asal Papua, tetapi mereka 
"nakal-nakal", sulit disuruh belajar, senangnya bermain dan memanjat pohon, 
bahkan ada yang dua kali tidak naik kelas.

Oleh Yohanes Surya dijawab apa yang dihadapinya juga demikian, karena mereka 
menjadi "nakal" tak lain karena takut menghadapi soal yang mereka tidak paham, 
sehingga memilih lari, memanjat pohon, atau bersembunyi di kolong.

Bahkan, tuturnya, ada seorang anak asal Merauke yang kesenangannya bermain 
dengan buaya, namun kalau diberi soal lari tunggang langgang.

"Jadi, pada tahap awal harus diajarkan kepada mereka bahwa matematika itu 
mudah, jangan ajarkan mereka kali-kalian kalau tambah dan kurang belum tuntas, 
misalnya," kata Yohanes. Kini di Surya Institut terdapat 600 anak dari berbagai 
kabupaten di Papua menjalani pendidikan dan tahun depan akan datang lagi 400 
anak.

Berkat keberhasilannya mendidik anak-anak di Papua itu, Yohanes Surya diajak 
bekerja sama oleh PP Muhammadiyah untuk mengajarkan metodenya itu. Ini karena 
ada sekitar 1 juta murid di berbagai lembaga pendidikan dasar Muhammadiyah, 
juga PB NU, memintanya mengajarkan matematika dan fisika untuk jutaan anak di 
pesantren-pesantren mereka. 

Dalam diskusi itu juga terungkap bahwa banyak pihak di Republik Indonesia yang 
tidak suka kalau anak-anak Papua menjadi pintar karena "nanti Papua makin cepat 
merdeka dari Indonesia".

Anggapan itu pasti akan langsung dibantah pemerintah. Kenyataannya, dana 
otonomi khusus yang triliunan rupiah tidak berbuahkan pada didirikannya lebih 
banyak sekolah di kampung, di gunung, di lembah, atau di pantai-pantai Papua. 

Banyak anak Papua tetap terbelakang karena tidak terjangkau pendidikan yang 
layak. Sementara itu, anak-anak dari para pendatang yang tinggal di kota-kota 
besar di Papua lebih merasakan dana otonomi khusus, fasilitas pendidikan mereka 
jauh lebih baik.

UP4B Mau Bikin Apa?

Dalam upaya mengatasi desakan Papua untuk memisahkan diri yang makin kuat itu, 
akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk Unit Percepatan 
Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B). 

Saya menduga UP4B ingin meniru kisah sukes Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi 
Aceh-Nias (BRRN) pimpinan Kuntoro Mangkusubroto, yang pascatsunami 26 Desember 
2004, mengelola dana sekitar Rp 70 triliun untuk merehabilitasi wilayah Aceh 
dan Nias. 

Namun, kritik dan pertanyaan banyak muncul. Wah, Otsus Papua dinilai gagal 
sekarang malah digantikan oleh sebuah "unit"? Sebagai badan "koordinasi", apa 
kewenangan yang dimiliki UP4B? Apakah UP4B tak lebih dari proyek yang lain 
lagi? Tipuan apa lagi yang akan dimainkan di Papua? 

Menjadi tugas UP4B, yang dipimpin Letjen TNI (purn) Bambang Dharmono, untuk 
membuktikan bahwa pesimisme yang muncul itu tidak beralasan, dan tugas 
pertamanya adalah kesejahteraan di Papua membaik, setidaknya dalam dua tahun 
mendatang. 

Namun, meski tidak mengurusi soal keamanan, ketua UP4B wajib mengingatkan 
Presiden Yudhoyono dan rekan-rekannya di jajaran TNI/Polri agar mengakhiri 
gelar militer di Papua. Ingatkan aparat keamanan itu, pelanggaran hak-hak asasi 
manusia yang masih dan eksesif itulah yang berpotensi "memerdekakan Papua".

Mari kita buka catatan sejarah, renungkan lagi apa yang membuat rakyat Timor 
Timur memilih pisah dari Indonesia, meski sudah lebih dua dekade terintegrasi.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke