Refl: Apakah hanya ada agenda hanya untuk membiarkan Papua terkebelakang? 
Bagaimana dengan daerah-daeh lain yang termasuk wilayah termiskin sesuai sensus 
BPS 2010? Bukankah termiskin berakar pada keterkebelakangan? 


http://www.suarapembaruan.com/home/pemerintah-dinilai-punya-agenda-biarkan-papua-terkebelakang/14644
Pemerintah Dinilai Punya Agenda Biarkan Papua Terkebelakang
Jumat, 9 Desember 2011 | 9:59

 Pemerhati masalah Papua yang juga pengacara Jhonson Panjaitan (tengah), 
Paskalis Kossay (kedua dari kiri) dan Sekretaris Eksekutif JPIC OFM Valens 
Dulmin pada diskusi Mendengarkan Papua di Jakarta, Kamis (8/12). (Foto: 
Istimewa) 

[JAKARTA] Pemerintah dinilai gagal meyakinkan orang Papua bahwa mereka adalah 
bagian utuh dari NKRI. Hal ini tampak dari gejala, Indonesia seolah-olah tidak 
butuh orang Papua, tapi hanya butuh kekayaan di Papua. Berbagai masalah di 
Papua pun berlarut-larut karena tidak ada itikad baik dari pemerintah untuk 
mencari solusi. Bahkan Pemerintah dinilai memiliki agenda agar Papua tetap 
terebelakang.

Demikian benang merah dialog bertajuk ”Mendengarkan Papua” yang berlangsung di 
Kantor Justice, Peace and Integrity of Creation-Ordo Fratrum Minorum 
(JPIC-OFM), Galur-Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, Kamis, (8/12 malam.

Pembicara pada dialog yag dibuat dalam rangka memperingati Hari HAM 
Internasional pada 10 Desember tersebut adalah Pemerhati Masalah Papua Jhonson 
Panjaitan, Anggota Komisi I DPR RI Paskalis Kossay, Ketua Ikatan Mahasiswa 
Papua Jakarta Siprianus Bunai, Direktur JPIC-OFM Peter C Aman, dan Guru Besar 
Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Eddy Kristianto, dengan moderator 
Sekertaris Eksekutif JPIC-OFM, Valens Dulmin.

Johnson menegaskan, masalah di Papua mengindikasikan adanya pelanggaran HAM 
berat. Menurutnya, kalau mau mencari solusi bagi masalah di Papua, harus ada 
kesediaan dari semua pihak untuk menghentikan cara-cara kekerasan. 

Semua upaya penyelesaian konflik di tanah Papua harus bergerak di atas kerangka 
perjuangan HAM. Ia juga mengingatkan bahwa pembicaraan tentang Papua tidak 
hanya di Jakarta, tetapi masuk ke dalam masyarakat Papua yang ada di Tahan 
Papua.

”Tdk ada pilihan lain, selain berada bersama mereka. Kita juga tidak bisa 
berjuang sendiri. Perjuangan mesti dilakukan baik di Papua, di Jakarta maupun 
di tingkat internasional,” ujar Johnson.

Sementara menurut Paskalis Kossay, penderitaan memang sudah menjadi kisah yang 
menyertai perjalanan rakyat Papua sejak bergabung dengan NKRI. “Tidak ada 
perubahan paradigma membangun Papua. Rakyat tetap saja sengsara. Pemerintah 
malahan lebih cenderung menggunakan pendekatan represif daripada pendekatan 
kemanusiaan,” imbuhnya.

Lebih lanjut Kossay mengingatkan, selama cara-cara kekerasan dipakai, hal ini 
hanya akan menghidupkan lagi nasionalisme kepapuaan yang sekarang sudah 
berkembang menjadi ideologi masyarakat Papua. Yang dibutuhkan Papua, lanjutnya, 
adalah kehadiran pemerintah yang adil dalam mengelolah sumber daya alam yang 
ada di sana. 

Sementara itu, menurut Siprianus, masalah Papua tidak hanya menyangkut masalah 
ekonomi tetapi juga masalah politik. “Akar persoalan Papua adalah status 
sejarah politik yang menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM sehingga orang 
Papua menjadi takut tinggal di tanah sendiri,” ujarnya. 

Dalam menangani persoalan-persoalan yang terjadi, Sipri mengusulkan perlunya 
dialog antara Papua dan Jakarta dengan melibatkan pihak ketiga yang netral. 

Menanggapi paparan para narasumber, Direktur JPIC-OFM Peter C Aman mengaku 
Papua memang sering ditelantarkan. Buktinya tidak ada perubahan yang signifikan 
dalam kehidupan masayarakat, kendati PT Freeport sebagai perusahan penghasil 
emas terbesar di dunia ada di sana. 

Dosen STF Driyarkara Jakarta Eddy Kristiyanto OFM pun sepakat bahwa persoalan 
di Papua memang tidak pernah ditangani sepenuh hati oleh pemerintah. Eddy 
mensinyalir, seolah-olah ada agenda politik pemerintah untuk mempertahankan 
agar Papua tetap terbelakang. ”Karena kalau mereka menjadi maju, maka semakin 
sulit dijajah dan dikeruk kekayaannya”.

Ke depan, agenda bersama adalah bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan di 
Papua dengan cara-cara damai dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. 
Keberadaan orang Papua perlu dihargai, sehingga mereka masih merasa diri 
sebagai bagan utuh dari NKRI. Bila hal ini diabaikan, maka isu tentang Papua 
Merdeka akan tetap hidup dalam diri masyarakat Papua dan nasionalisme mereka 
dengan Indonesia akan makin luntur. [A-21


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke