Salam kenal Pak,
setahu saya psikolog mengintrepretasikan psikotes dengan cara melihat hasil
psikotes tertulis dan membandingkan dengan wawancara psikologi, dan setahu
saya juga yang tetap dijadikan patokan adalah hasil psikotes tertulis dan
wawancara psikologi hanya digunakan untuk konfirmasi. Tapi menurut saya
seseorang yang mempunyai kemampuan dasar tertentu (triat) seperti yang
terlihat dari hasil psikotes tertulis tidak selamanya dia akan mempraktekkan
triat tersebut di dunia nyata karena ada pengaruh peningkatan kemampuan
kepribadian seperti membaca buku-buku psikologi populer semacam buku-buku
karangan Dale Carnegie, Steven Covey, gede Prama dan training-training
kepribadian seperti yang sering dilakukan oleh multilevel marketing seperti
Amway, CNI dll. Hasil peningkatan kebribadian tersebut seringkali tidak
terlihat pada saat psikotes tertulis tapi kelihatan di wawancara psikologi
dan bila hasil dari kedua tes tersebut tidak sama maka orang yang tes
tersebut dinyatakan tidak konsisten.
Opini saya terhadap psikotes adalah : Jika ingin tetap terus menggunakan
Psikotes sebaiknya Alat-alat tesnya dibuat lebih relevan sehingga lebih
menggambarkan keadaan yang sesungguhnya, karena setahu saya Alat-alat tes
semacam EPPS, Kreaplin, dan MMPI sudah ketinggalan zaman karena inventory
pertanyaan Alat tes tersebut merupakan adopsi 100% dari negeri asal alat tes
tersebut dibuat sedangkan sangat mungkin kebudayaan negara tersebut sangat
berbeda dengan  Indonesia  dan Soal - soalnya pun kebanyakn dibuat tahun 70
an.

salam
Emil
----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <psikologi_net@yahoogroups.com>; "Idha rahayu" <[EMAIL PROTECTED]>;
"Aditya" <[EMAIL PROTECTED]>; "mira kerinci" <[EMAIL PROTECTED]>;
"zulfiah" <[EMAIL PROTECTED]>; "Dewi_B" <[EMAIL PROTECTED]>;
"febrianto" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, May 02, 2005 8:09 AM
Subject: [psikologi_net] Fw: [psikologi_transformatif] Psikotes, Kebenaran,
Kekuasaan



----- Original Message -----
From: audifax -
To: [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, April 29, 2005 5:36 PM
Subject: [psikologi_transformatif] Psikotes, Kebenaran, Kekuasaan


PSIKOTES: KEBENARAN, KEKUASAAN

DAN HILANGNYA KEMANUSIAWIAN

Oleh:

Audifax§



Sekitar tahun 1985, ketika kelas 1 SMP, saya mengikuti psikotes yang
diwajibkan bagi semua siswa kelas 1. Dalam psikotes itu, ada beberapa
pertanyaan yang saya ingat, antara lain: "Di manakah Brazilia?", "Di Manakah
Buenos Aires?", "Apakah Vatikan itu?". Ketika saya kelas 1 SMA, sekitar
tahun 1988, saya menemui lagi pertanyaan-pertanyaan itu ketika mengikuti
psikotes yang wajib diikuti oleh semua anak kelas 1. Selang beberapa tahun
kemudian, ketika saya masuk Fakultas Psikologi, saya menemukan
pertanyaan-pertanyaan itu pada salah satu tes ketika mengikuti sebuah mata
kuliah yang mengajarkan berbagai tes. Saat ini, di tahun 2005, saya masih
menemukan pertanyaan-pertanyaan itu pada sejumlah tes psikologi yan
dilakukan di sejumlah sekolah maupun institusi lain. Bagi saya, itu sebuah
ironi yang menyedihkan, orang-orang yang menggunakan tes itu seolah
menganggap bahwa sang waktu telah membeku. Lebih menyedihkan lagi
orang -orang yang mengerjakan tes itu, kemanusiawian mereka terpasung oleh
pertanyaan yang dianggap mampu mengukur kemampuan mereka, padahal itu adalah
pertanyaan yang sama dalam kurun waktu 20 tahun.

Fakta ini membawa kita pada sejumlah pertanyaan. Seberapa
pertanyaan-pertanyaan itu masih memiliki valliditas untuk mengukur kemampuan
seseorang? Bagaimana orang-orang yang menggeluti psikologi itu bisa
menafikkan perkembangan dunia?. Siaran langsung pemakaman Paus, Maradona,
bintang-bintang sepakbola dari Brazilia dan Argentina; bahkan telenovela
adalah hal-hal yang jelas-jelas akan merubah validitas pertanyaan-pertanyaan
itu. Lalu, bagaimana pertanggungjawaban hasil dari tes itu?. Padahal kita
tahu bahwa psikotes tak jarang menentukan "nasib" seseorang. Dalam dunia
kerja, seseorang bisa tidak diterima, dimutasi atau bahkan dikeluarkan
akibat hasil psikotes. Seorang siswa bisa dikategorikan bodoh, terbelakang,
dan berbagai label lain, karena hasil psikotes.

Validitas hasil psikotes bisa makin runyam jika kita memperhitungkan telah
begitu banyak diterbitkan buku yang memberi petunjuk cara menjawab psikotes.
Sementara kita juga mulai bisa mempertanyakan validitas alat berbasis
kemampuan menghitung yang terdapat pada tes Pauli, Kraeplin [dan yang secara
parsial juga ada di beberapa tes IQ]; ketika di masyarakat bermunculan
kursus-kursus seperti Sempoa dan Mental Aritmetika. Psikotes sendiri,
sebelum sampai pada semua permasalahan ini, masih menyimpan problem internal
berkaitan dengan adaptasinya pada budaya Indonesia. Sebagian alat-alat yang
digunakan sebagai psikotes, masih menyimpan bias budaya. Alat-alat yang
menggunakan gambar seperti TAT misalnya, sebagian menggunakan latar situasi
(bangunan, pakaian, pemandangan) yang asing untuk Indonesia.

Kebenaran

Ironisnya, psikotes, masih menjadi berhala di sejumlah institusi. Lembaga
pendidikan setara SMP dan SMU selalu melakukan psikotes untuk
"mengkategorikan" kemampuan anak didiknya. Baru-baru ini, saya dengar bahwa
jenjang pendidikan setingkat TK pun melakukan psikotes untuk penerimaan
murid. Kita juga bisa melihat bahwa perusahaan-perusahaan masih menggunakan
psikotes untuk menerima, memutasi atau memberhentikan karyawan.  Bahkan,
ketika saya menulis artikel ini, ada berita bahwa pemilihan Kepala daerah
(Pilkada) juga menggunakan psikotes sebagai salah satu tahapan yang harus
dilalui para calon kepala daerah. Dengan begitu banyak kelemahan dalam hal
validitas, ternyata psikotes masih juga ditempatkan sebagai "kebenaran"
dalam berbagai hal. Sebuah kebenaran yang menjadi acuan bagi keputusan akan
nasib dan penilaian terhadap kemampuan manusia. Lebih jauh, kebenaran ini
dapat pula mentaksonomi manusia, menempatkannya dalam hirarki kualitas yang
akan menentukan nasib dan hidupnya.

Pada suatu titik; psikotes membuat manusia tak lebih dari sekedar angka.
Manusia kehilangan keunikan diri, segala kelebihan yang hanya dimiliki oleh
dirinya sebagai pribadi unik [dan satu-satunya di dunia] akan hilang oleh
kriterium psikotes. Manusia telah dimasukkan dalam penyeragaman yang
membuatnya tak lebih dari kerumunan; bahkan, sampai batas tertentu menjerat
manusia dalam jejaring kekuasaan. Nasibnya, berada di bawah kekuasaan orang
lain yang memiliki modal tertentu. Kemanusiaannya ditentukan oleh
interpretasi psikologis yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang
memiliki lisensi. Saya ulangi lagi, "memiliki lisensi"; artinya tidak sama
dengan memiliki kemampuan. Memiliki lisensi, belum tentu memiliki kemampuan,
tapi dalam "wacana psikotes" antara "memiliki lisensi" dan "memiliki
kemampuan" kerap ditumpangtindihkan. Lebih jauh, kepemilikan akan lisensi
itu sendiri, telah menjadi bagian dari kekuasaan ketika lisensi itu hanya
bisa dikeluarkan oleh aparatus tertentu.

Lisensi untuk menginterpretasi dan menentukan nasib orang ini, hanya bisa
diperoleh ketika seorang sarjana psikologi mengikuti pendidikan profesi yang
diadakan oleh sejumlah fakultas Psikologi. Bagi angkatan 1992 dan
sebelumnya, lisensi ini bisa diperoleh melalui pelatihan diagnostik yang
diadakan oleh organisasi profesi, dalam hal ini Himpsi. Sampai di sini,
program profesi psikologi maupun Himpsi, adalah 'aparatus' yang memiliki
kekuasaan untuk melegitimasi kebenaran psikotes melalui penyelenggaraan
pendidikan yang akan menghasilkan lisensi-lisensi yang dipertukarkan dengan
hak menginterpretasi psikotes. Apapun hasilnya, jika psikotes telah
diinterpretasi mereka yang memegang lisensi, akan ditempatkan sebagai
kebenaran. Akhirnya, dalam wacana psikotes, psikologi menjadi tak lebih dari
ilmu yang sifatnya tekstual ketimbang kontekstual. Pada sisi tertentu,
psikologi telah jaut ke dalam bentuk 'pertukangan' yang hanya mengoperasikan
alat-alat tes.

Inilah yang dijelaskan Pierre Bourdieu sebagai kekuasaan yang beroperasi
melalui modal simbolik. Angka-angka dalam psikotes menjadi modal simbolik.
Lisensi menggunakan alat-alat psikotes adalah modal simbolik. Gelar
psikologi adalah modal simbolik. Keanggotaan Himpsi adalah modal simbolik.
Modal ini berguna untuk mendominasi orang lain, melegitimasi dan memapankan
posisi sendiri. Dalam pembahasan Bourdieu, sebenarnya dicermati kenyataan
bahwa kekuasaan beroperasi dan menyembunyikan diri melalui budaya. Dalam
konteks ini, kita mencermati kekuasaan yang beroperasi dalam "budaya
akademis". Kelompok terdominasi adalah kumpulan individu-individu yang
menerima begitu saja (taken-for-granted) terhadap konstruksi-konstruksi yang
ditawarkan oleh kelompok pendominasi. Agar kelompok yang didominasi menerima
begitu saja, maka kelompok terdominasi harus memiliki modal yang mampu
melegitimasi dominasinya melalui penaklukan moral dan intelektual kelompok
terdominasi. Modal adalah hal-hal yang dalam kebudayaan merupakan suatu yang
diyakini penting.

Dalam psikotes, orang menjadi tak lebih dari angka-angka. Nasib orang dan
bagaimana orang itu digambarkan ditentukan oleh angka yang dimilikinya.
Sedangkan dalam wacana pendidikan, kita menemukan pula bahwa sistem
pendidikan pun meredusir manusia sebatas angka. Angka membuat orang dapat
dikategorikan bodoh, pintar, juara, rangking, cum laude, summa cum laude,
teladan, dll. Banyak orang menerima begitu saja bahwa dirinya bodoh hanya
dengan patokan angka itu. Orang jadi tidak mengenali diri dan segala
keunikan yang dimiliki. Sebaliknya, mereka yang oleh angka-angka itu
dinobatkan sebagai makhluk-makhluk exellent, menerima begitu saja tanpa
pernah merefleksikan kelayakan dirinya. Situasi seperti ini menjadi titik
berangkat beroperasinya kekuasaan.

Psikotes yang diyakini sebagai kebenaran ini persis seperti apa yang
digambarkan oleh Jacques Lacan seperti bayi yang melihat melihat bayangan
dirinya di cermin (image), ia berpikir bahwa itu adalah dirinya. Tetapi
sebenarnya bukan, itu hanya image. Tetapi orang lain (ibu) meyakinkan bahwa
bayangan dalam cermin itu adalah dirinya. Pengidentifikasian diri ini
disebut misrecognition, ketika bayi melihat bayangannya di cermin, ia
berpikir bahwa bayangan (image) itu adalah dirinya. Sehingga Lacan
berpendapat bahwa ego atau self atau "I"dentity merupakan fantasi, karena
proses pengidentifikasian berasal dari eksternal image dan bukan internal.
Seperti ini pula yang terjadi pada orang-orang yang meyakini hasil psikotes.
Pada titik ini, orang justru jatuh ke dalam kolam citraan dan teralienasi
dari dirinya sendiri. Ia mengambil begitu saja citraan yang dilekatkan orang
atas dirinya dan membiarkan dirinya berada di bawah kekuasaan orang lain
yang menentukan "kenormalan" dirinya, kelayakannya untuk dapat diterima
sebagai anggota suatu komunitas.

Kekuasaan

Foucault mengatakan bahwa "kekuasaan yang menormalisir" tidak hanya
dijalankan dalam penjara, tetapi juga beroperasi melalui mekanisme-mekanisme
sosial yang dibangun untuk menjamin kesehatan, pengetahuan, dan
kesejahteraan. Kekuasaan dalam pandangan Foucault disalurkan melalui
hubungan sosial yang memproduksi bentuk-bentuk kategorisasi perilaku sebagai
baik atau buruk, dalam upaya pengendalian perilaku. Relasi sosial itulah
yang memproduksi bentuk pemahaman subjektif atas perilaku dalam kompleksitas
yang  dihadirkan sebagai bentuk restriksi. Dengan demikian, manusia menjadi
layak untuk ditundukkan bukan dengan cara kontrol yang bersifat langsung dan
fisik, tetapi melalui wacana dan mekanisme, prosedur, aturan, tata cara dan
sebagainya.

Foucault menganalisa keterkaitan antara kekuasaan, pengetahuan, dan
diskursus yang berkembang pada kemapanan penjelasan berdasar rasionalitas;
yang hadir secara progresif dan telah diyakini banyak orang; sehingga
memfungsikannya sebagai normalisasi yang menyeragamkan. Kita dapat melihat
ini pada begitu banyaknya orang yang mempercayai begitu saja psikotes. Ini
membuat intrepretasi-interpretasi psikologis diterima begitu saja sebagai
penjelasan atas kemampuan seseorang. Pada titik ini, orang dipaksa untuk
berada pada keseragaman kriterium penilaian yang telah dimapankan sebagai
penjelas kualitas manusia. Kemapanan penjelasan inilah yang kemudian menjadi
kerangka kerja rasional-empiris  yang diletakkan sebagai basis dari segala
kebenaran dan pengetahuan. Hegemoni penjelasan yang diletakkan di atas
rasionalitas dan diinstitusi ini; memarjinalisasi diskursus lain serta
mencipta dan memvalidasi suatu jaringan kekuatan sosial yang sifatnya
normatif dengan mengedepankan disiplin serta pembatasan pemikiran individu
hanya pada ranah mikrolevel.

Hasil psikotes, meminjam istilah Jorge Luis Borges, lebih berfungsi sebagai
peta yang mendahului daerah (peta a teritori) ketimbang daerah yang menjadi
acuan membuat peta (teritori a peta). Orang akan cenderung mengafirmasi dan
memperlakukan orang lain berdasarkan hasil psikotes. Apalagi, hasil
psikotes, kebanyakan justru tidak diketahui oleh pribadi yang menjalani tes.
Hasil-hasil psikotes, kebanyakan dipegang oleh HRD atau guru BP. Dalam cara
pandang Foucault kita menempatkan psikotes dan penggunaannya sebagai wacana;
ini berarti psikotes tak hanya yang memuat serangkaian kata atau proposisi
dalam teks, tetapi juga sesuatu yang memproduksi sesuatu yang lain (sebuah
gagasan, konsep, atau efek). Lebih kontekstual, kita dapat menempatkan
psikotes sebagai wacana yang dapat dideteksi; karena secara sistematis,
suatu ide, opini, konsep, dan pandangan hidup dibentuk dalam suatu konteks
tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak tertentu.
Psikotes, tak lepas dari wacana ilmu sosial; di mana psikologi sebagai salah
satu cabangnya, membentuk suatu konsep yang mentaksonomi manusia dalam
berbagai kategori. Klaim kebenaran yang diatasnamakan sains, membuat
psikotes berubah menjadi alat kekuasaan, terutama ketika orang kerap percaya
begitu saja taksonomi yang muncul dari perangkat ini.

Taksonomi "ke-manusia-an" ini lebih merupakan suatu upaya menguasai manusia.
Dalam nature-nya yang absurd dan terus berubah, manusia adalah entitas yang
sulit untuk dikuasai, namun ketika dia telah masuk dalam suatu pendefinisian
menetap (fixed definition), maka manusia akan lebih mudah dikuasai. Psikotes
adalah salah satu fixed definition yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai
pihak untuk menguasai pihak lain. Keberdayaan psikotes dalam menciptakan
fixed definition tak lepas dari legitimasi ilmu pengetahuan beserta
aparatus-aparatusnya. Psikotes, melalui penyelenggaraan program profesi
psikologi oleh perguruan tinggi, telah ditempatkan sebagai kebenaran mutlak.
Ilmu pengetahuan, pada titik ini telah berubah ke arah dogmatisme, karena
orang menerima begitu saja tanpa memberikan cermatan lebih jauh pada hasil
psikotes. Kesalingterkaitan antara kekuasaan dan pengetahuan ditandai
Foucault dengan garis miring (/) yang ditempatkan di antara Kekuasaan
(power) dan Pengetahuan (knowledge).

Kemanusiawian yang Hilang

Foucault menjelaskan bahwa kita disosialisasi ke dalam seperangkat praktik
diskursif yang berupa struktur pemaknaan. Tetapi ini bukan struktur yang
bersifat menetap atau tak bisa diubah. Manusia adalah agen yang memediasi
struktur ini. Dengan demikian kelanggengan struktur ini sangat tergantung
pada bagaimana penerimaan manusia. Dalam kaitan dengan psikotes, semakin
kita menerima dan menempatkan hasilnya sebagai kebenaran, maka kita akan
semakin terkuasai oleh struktur itu. Lebih jauh, kita akan semakin terasing
dari kemanusiawian kita.

Kemapanan Psikotes sebagai kebenaran, memang tak lepas dari budaya dan
ideologi yang berkembang di masyarakat. Psikotes, bisa jadi telah menjadi
bagian dari budaya populer yang menyimbolkan modernitas. Sebuah ideologi
dalam dunia sumber daya manusia yang dianut oleh orang-orang yang memerlukan
pembenar semu dalam keputusannya. Pada titik ini, saya jadi teringat Antonio
Gramsci yang menjelaskan bahwa budaya dan ideologi menciptakan makna tetapi
makna ini secara konstan diperjuangkan melampaui struktur yang dimediasi
oleh manusia sebagai agen. Ini lebih jauh dijelaskan dalam konsep mengenai
hegemoni, di mana manusia tertaklukkan secara moral dan intelektual karena
berbagai dalil yang tidak dicermati secara kritis. Orang percaya begitu saja
bahwa mereka yang bergelar psikolog atau master dalam psikologi, adalah para
"ahli" yang dapat menginterpretasi secara presisi kemanusiawian orang lain.
Kita mungkin lupa bahwa kemanusiawian kita tak akan pernah bisa
diinterpretasi atau ditaksonomi. Manusia justru bertumbuh dalam
ketidakpastiannya, karena dalam ketidakpastian itulah terbetik harapan.

Jacques Derrida menjelaskan bahwa makna tak pernah menetap, dia secara
konstan berubah. Makna tergantung manusia sebagai agen yang
mengoperasikannya. Demikian pula dengan psikotes, dia bukan sebuah pemaknaan
menetap akan manusia. Pemaknaannya akan sangat tergantung keterkaitannya
dengan berbagai hal lain yang juga terus berubah (sinkronik) dan perubahan
yang terjadi sepanjang rentang waktu (diakronik). Psikotes adalah salah satu
upaya pencarian melalui proses pemaknaan. Sayang, dalam perkembangannya,
orang banyak menetapkan sebagai acuan harga mati atau pemaknaan yang
bersifat menetap. Psikotes bahkan berubah menjadi stigmatisasi ketika
ditemukan interpretasi psikologis yang menyatakan bahwa seseorang
menyimpang.

Manusia adalah entitas yang tak pernah memiliki pemaknaan menetap. Dia hidup
dalam absurditas dan pergerakan pencarian diri, justru dalam absurditas dan
pencarian inilah manusia menemukan kemanusiawiannya. Biarlah manusia tumbuh
dalam absurditasnya, seperti Sisifus yang justru menemukan kebahagiaannya
ketika dia dihukum oleh dewa untuk terus menerus mendorong sebuah batu besar
ke puncak gunung; dan mengulanginya lagi karena setiap sampai ke puncak batu
itu kembali menggelinding ke bawah. Seluruh kebahagiaan bisu Sisifus
terletak pada proses ini, karena dengan demikian nasibnya adalah miliknya.
Batunya adalah bendanya. Begitu pula manusia absurd, ketika ia merenungi
kehidupan dengan segala ketidakpastian serta tanggung jawab hidup atas
talenta yang dianugerahkan semesta padanya, ia berkemampuan untuk membuat
semua [patung] berhala psikotes membisu.

Tulisan ini tak hendak mendiskreditkan psikotes maupun pihak-pihak yang
menggunakan atau mengoperasikannya. Tak pula hendak merendahkan mereka yang
memiliki lisensi menginterpretasi, karena saya tahu sebagian dari mereka
memang handal dan kompeten. Hal esensial yang ingin saya sampaikan adalah
bagaimana kita mencermati hal-hal di balik psikotes dan
implikasi-implikasinya. Bagaimana anda menerima dan sejauh mana anda
mempercayai psikotes, semua tetap merupakan pilihan bebas anda sebagai
manusia.

Bagaimana cermatan anda?





© Audifax - 24 April 2005



NB: Saya mem-posting artikel ini ke milis Psikologi Transformatif, R-Mania
dan Forum Studi Kebudayaan. Administrator Psikologi Transformatif dan
R-Mania mungkin akan mem-forward artikel ini ke sejumlah milis. Biasanya
tanggapan terhadap artikel ini juga akan di-forward ke milis psikologi
transformatif dan R-Mania. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan
menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif, R-Mania dan Forum Studi
Kebudayaan.



----------------------------------------------------------------------------
----

§ Peneliti, Institut Ilmu Sosial Alternatif (IISA) - Surabaya

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com



----------------------------------------------------------------------------
----
Yahoo! Groups Links

  a.. To visit your group on the web, go to:
  http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/

  b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
  [EMAIL PROTECTED]

  c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.




[Non-text portions of this message have been removed]




posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di
http://psikologi.net
----------------------------------------
Yahoo! Groups Links








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/i8TXDC/5WnJAA/HwKMAA/wf.olB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di 
http://psikologi.net
---------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/psikologi_net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke