--- In [EMAIL PROTECTED], leonardo rimba 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya setuju 100% dengan pendapat Rekan Audifax: untuk
mempraktekkan ilmu jiwa (psikologi), Anda tidak perlu
harus kuliah di jurusan psikologi dan memperoleh S1
dari jurusan itu. Bahkan, dengan S1 dari jurusan
hukum, dan S2 dari jurusan filsafat, bekal Anda sudah
lebih dari cukup untuk memberikan konseling kejiwaan
kepada mereka yang membutuhkan. Cuma perlu logika dan
rasio saja kok... Paling ditambah dengan doa-doa
apabila Anda seorang agamais. Apabila Anda adalah
seorang paska modern yang alergi terhadap agama, Anda
bisa menggunakan meditasi untuk mengumpulkan energi
Alam Semesta bagi penyembuhan kejiwaan clients Anda.

Pengalaman saya adalah memberikan konseling kepada
entah berapa ribu orang, dengan menggunakan kartu
tarot sebagai medium, dan penggunaan energi-energi
Alam Semesta untuk penyembuhan kejiwaan. Background S1
saya adalah ilmu politik, dan S2 saya dari business
administration. Saya memberikan konseling dengan
menggunakan konsep-konsep psikologi yang para psikolog
sendiri tidak PD untuk menggunakannya. Sebagian
clients saya adalah dokter spesialis; dan sebagian
lagi malahan psikolog.

Mungkin yang paling essensial bagi saya dalam
memberikan konseling kepada clients adalah sikap
non-judgemental (tidak menghakimi)... Anda sebagai
seorang konselor kejiwaan bisa seorang agamais, bisa
pula seorang spiritual, atau bahkan seorang ateis. Itu
tidak menjadi masalah selama Anda bisa membantu
clients Anda, dan clients Anda benar-benar terbantu.
Apapun kepercayaan-kepercayaan Anda seyogyanya tidak
mempengaruhi diri Anda sehingga bias dalam membantu
clients. Anda harus bisa menempatkan diri Anda di
peran yang dijalankan oleh clients Anda, termasuk
menganalisa masalah dan memberikan alternatif solusi
berdasarkan sistem kepercayaan clients.

Jadi, contohnya, kalau client saya adalah seorang
Hindu yang taat, saya akan memberikan alternatif
solusi berdasarkan ajaran-ajaran Hindu. Bila Buddha,
ya Buddha. Bila atheis, ya tanpa menyebut nama tuhan
satu kalipun. Begitu pula apabila Kristen dan Islam.
Islam pun harus dilihat dari aliran yang mana, banyak
gradasinya. Bahkan Kristen, Buddha, Hindu juga
memiliki gradasi. Saya akan memberikan solusi
berdasarkan sistem kepercayaan clients, dan bukan
berdasarkan apa yang saya percayai sendiri!

Kenapa saya mengemukakan hal itu dalam ruang yang
begini singkat? Karena itulah kelemahan nomor satu dan
utama dari para psikolog Indonesia. Kebanyakan atau
hampir semua psikolog Indonesia tidak bisa menempatkan
diri di peran yang dimainkan oleh clients. Kebanyakan
hanya bisa melihat dari kacamatanya sendiri saja.
Akibatnya clients menjadi bingung, dan merasa harus
mengikuti sistem kepercayaan yang dianut oleh psikolog
itu supaya bisa sembuh.

Padahal kesembuhan tergantung dari kemauan clients
sendiri dan afirmasi yang diberikan oleh psikolog atau
konselor. Dan sama sekali tidak tergantung dari ikut
atau tidaknya clients ke dalam sistem kepercayaan atau
agama yang dianut oleh konselor. Konselor psikologi
Indonesia masih sangat-sangat-sangat dipengaruhi oleh
sistem agama. Padahal, di era paska modern ini, para
praktisi psikologi haruslah netral. Agama adalah
kreasi para pemuka agama, dan itu bukanlah standard
untuk menyehatkan jiwa orang yang sakit. Malah banyak
orang yang menjadi sakit jiwa karena kebanyakan
dijejali oleh ajaran-ajaran agama yang sudah tidak
relevan lagi. Dan saya menulis ini tanpa sama sekali
merasa takut dikecam oleh kalangan agamais.
Kenyataannya memang begitu, dan lebih baik jujur
daripada berselaput kemunafikan dan tidak bisa
membantu kesembuhan clients.

Terakhir, kalau doa dan meditasi, itu perlunya agar
konselor bisa konek dengan pusat segala kekuatan Alam
Semesta. Walaupun mungkin cara itu tidak ilmiah
apabila dibahas oleh kalangan akademik, tetapi menurut
saya hanya itulah satu-satunya cara kita untuk menarik
energi positif dan memberikannya kepada clients. Kalau
cuma cuap-cuap saja seperti para psikolog agamais,
hasilnya cuma bikin clients bingung saja. Bukan
membantu, malah membikin rancu.

Semoga bisa sedikit membantu. Silahkan ditanyakan
kembali apabila ada points yang belum jelas.

Damai di Bumi,
Leo
HP: 0818-183-615

---
Note: forwarded message attached.


_____________________________________________________________________
___
Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" 
your friends today! Download Messenger Now 
http://uk.messenger.yahoo.com/download/index.html
Ellen,
 
Jika orientasi anda mendapatkan gelar, tentu saja anda harus 
menempuh pendidikan S-1. Setahu saya mata kuliah seperti Pancasila, 
dapat ditransfer nilainya jika memang pernah menempuh di perguruan 
tinggi lain.
 
Namun, jika anda memang termotivasi untuk memberikan konseling, saya 
malah menyarankan untuk anda terjun langsung ketimbang bersusah-
susah mengikuti perkuliahan psikologi. Kenapa, saya melihat tak 
banyak mereka yang lulusan psikologi mampu memberikan konseling 
dengan baik. Masalah teknikalitas, itu bisa anda pelajari jika anda 
cukup membaca dan mau menjalin relasi serta belajar dengan konselor-
konselor yang lebih ahli.
 
Ini karena seperti apa yang anda alami di fakultas hukum, mata 
kuliah di psikologi juga tak mendarat pada realitas. Saya malah 
kuatir jika anda kuliah psikologi, anda justru kehilangan kepekaan 
terhadap permasalahan orang yan selama ini anda miliki dari 
pengalaman memberikan konseling. Anda jadi tak lebih dari psikolog-
psikolog yang menuduh orang ini-itu dengan kegenitan istilah-istilah 
psikologi.
 
Beda ilmuwan psikolog dan psikolog praktek? Kalau berkaitan dengan 
lisensi jelas beda. Mereka yang psikolog praktek membutuhkan lisensi 
dari Himpsi. Tetapi secara kualitas, saya pikir tidak ada perbedaan 
antara ilmuwan psikolog dan psikolog praktek. Tapu perlu saya 
tekankan, mungkin anda akan lebih berkembang sebagai ilmuwan 
psikologi ketimang psikolog praktek. Kebanyakan psikolog praktek 
justru terjebak pada pertukangan alat tes dan interpretasinya. 
Sebaliknya, masih terbuka bagi anda untuk mengembangkan kelimuan 
anda, termasuk mengembangkan nurani anda, jika anda menjadi ilmuwan 
psikologi.
 
Menjadi ilmuwan psikologi, tak perlu mengikuti pendidikan psikologi. 
Saya banyak bertemu dengan orang-orang yang lebih menguasai ilmu 
psikologi dan "lebih psikologi" ketimbang orang-orang yang mengikuti 
pendidikan psikologi dan mengklaim dirinya paling tahu tentang 
manusia. Banyak ajaran-ajaran psikologi yang sebenarnya sangat 
manusiawi tapi tidak diajarkan karena para pengajarnya wegah dan 
menganggap itu filsafat. Pemikiran-pemikiran neo-psikoanalis yang 
brilian seperti Jacques Lacan, Michle Foucault, Jacques Derrida 
tidak diajarkan karena dianggap filosofis (sebenarnya ini cuma dalil 
untuk menutupi ketidakmampuan para dosen itu untuk mengajarkan). 
Pemikiran-pemikiran Sigmund Freud, Carl Jung, Erich Fromm yang 
brilian itu, hanya akan anda dapatkan secara parsial. Banyak orang 
di luar psikologi, justru menguasai itu dengan baik. (mungkin 
termasuk anda yang kuliah S-1 di filsafat). Di psikologi bahkan anda 
tak diajarkan dari mana akar pemikiran Freud, Maslow, sehinggamereka 
juga
 sebenarnya tak bisa memperkirakan efeknya.
 
Pada akhirnya, semua kembali pada orientas anda. jika anda ingin 
gelar dan segala embel-embel lisensi, ambillah pendidikan psikologi 
karena hanya itu yang mereka bisa berikan. Jika anda ingin menjadi 
seorang yang mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu psikologi untuk 
kepentingan sesama, maka belajarlah dari kehidupan, jangan segan 
membaca dan belajar, bertanya pada orang yang lebih tahu.
 
Terima Kasih atas pertanyaan anda. Semoga masukan saya dapat menjadi 
pertimbangan bagi anda.
 
Salam
 
Audifax

Ellen Kristi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Halo ...
Salam kenal buat semuanya!

Maaf ni, datang2 langsung mau tanya2. Soalnya saya
betul2 butuh info dari siapa saja yang punya jawaban.

Ceritanya saya punya kerinduan untuk jadi psikolog.
Karena selama ini saya sering mendampingi sahabat2,
anggota gereja, dan keluarga yang punya masalah, saya
menjawab sebatas pemikiran empati dan logis (lebih
banyak mengacu pada prinsip2 spiritual yang saya
dalami), dengan sedikit sekali pemahaman2 dasar
psikologi. Saya terpikir untuk mempelajari secara
formal ilmu psikologi yang saya yakin berguna untuk
menambah keterampilan memberikan konseling. 

Saat ini saya sudah punya gelar S-1 di bidang hukum
dan S-2 di bidang filsafat. Dari info internet, untuk
jadi psikolog katanya harus punya gelar S-1 psikologi
plus pendidikan profesi. Saya sih nggak keberatan
mengulang lagi pendidikan S-1, tapi terus terang saya
wegah untuk ngulang matakuliah2 yang saya anggap tidak
relevan dengan kebutuhan saya seperti Pancasila,
Kewarganegaraan, dll mata kuliah umum. Selain dulu
waktu S-1 Ilmu Hukum sudah pernah dapat, juga
menghabiskan waktu. Saya juga inginnya mengikuti hanya
matakuliah2 psikologi yang sesuai dengan minat saya.
Soalnya, kurikulum S-1 psikologi yang ada sepertinya
meluas sekali (seperti kurikulum S-1 Hukum, semua
bidang hukum dipelajari, sekedar wacana tapi nggak
relevan waktu praktek). 

Intinya, saya ingin menjalani pendidikan S-1 pada
matakuliah2 yang memang betul2 relevan saja. Tapi
nanti ga bisa dapet gelar S-1 psikologi dan tidak bisa
jadi psikolog praktek ya? Sebetulnya apa sih beda
kewenangan antara ilmuwan psikolog dan psikolog
praktek? 

Semoga teman2 bersedia memberi sumbang saran.

Salam,
Ellen 


            
__________________________________ 
Yahoo! Mail Mobile 
Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone. 
http://mobile.yahoo.com/learn/mail 


---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 


                
---------------------------------
Yahoo! Mail
 Stay connected, organized, and protected. Take the tour
--- End forwarded message ---





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/1gzaND/8WnJAA/HwKMAA/wf.olB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di 
http://psikologi.net
---------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/psikologi_net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke