KEBENARAN PSIKOLOGI/PSIKOLOGI KEBENARAN

 

OLEH:

AUDIFAX

 

 

BTW, ketika mulai berkembang aliran transformatif,
yang sering jadi pertanyaan dalam diri saya, apakah
hal ini merupakan perkembangan progresif dari
psikologi atau justru kemunduran (kembali ke alam
filsafat)? Ataukah hal ini karena imbas dari
berkembangnya aliran new age akhir-akhir ini?[1]

Kutipan di atas diposting oleh Nur Agustinus member di
“milis psikologi” ([EMAIL PROTECTED]). Sayang,
beliau hanya memposting pertanyaan tersebut di “milis
psikologi”, meski ada pertanyaan beliau mengenai apa
yang disebutnya sebagai “aliran transformatif”. Tetapi
tak apa, ada sesuatu yang saya rasa bisa diangkat
sebagai pembelajaran bagi kita semua di milis ini.

Kalimat Sdr. Nur Agustinus itu, memperkuat tesis yang
saya kemukakan pada esei berjudul: ‘Psikologi Positif:
Sebuah Kegenitan Baru?; yaitu:

Dalam pendidikan psikologi Indonesia, pelajaran
filsafat hampir di semua perguruan tinggi Cuma sebagai
tempelan. Para mahasiswanya pun mungkin banyak yang
tidak tahu apa hubungan dan kegunaan pelajaran
filsafat[2].

Pada arus mainstream psikologi di Indonesia, bisa jadi
pelaku-pelakunya cuma memelajari secara parsial atau
yang pada beberapa diskusi saya istilahkan sebagai
bergenit-genit saja. Ungkapan Nur Agustinus itu
mungkin salah satu contoh yang parah ketika mengatakan
bahwa dengan memelajari filsafat, berarti mundur ke
masa lampau. Dalam ungkapannya itu terkandung makna
yang menurut saya menjadi chauvinisme psikologi, bahwa
seakan psikologi adalah ilmu masa kini dan filsafat
ilmu masa lampau yang bisa juga diimplikasikan
psikologi sudah lebih maju dari filsafat.

Saya rasa orang-orang filsafat akan menertawakan
ungkapan Nur Agustinus itu. Apalagi jika ternyata
mereka tahu bahwa aliran-aliran Neo-psikoanalisa
justru lebih dikuasai oleh orang-orang di Fakultas
Filsafat ketimbang orang-orang Fakultas Psikologi.
(Mungkin akan lebih lucu lagi kalau beliaunya ternyata
tak menguasai filsafat, ilmu yang menurutnya kalah
maju dari psikologi). Saya sendiri sebagai seorang
yang belajar psikologi merasa sungguh ironis
pernyataan itu karena menandakan yang mengucapkan tak
menguasai sama sekali keterkaitan antara filsafat dan
psikologi. Padahal, Filsafat justru adalah ilmu yang
paling dekat dengan psikologi serta memberi kontribusi
besar bagi pemahaman akan psikologi itu sendiri.

Sayang, psikologi justru cenderung memahami ilmunya
secara parsial dan tak melihat keterkaitannya dengan
filsafat. Bahkan sebagian tak tahu bahwa
pemikiran-pemikiran psikologi tak hanya berkembang
dari pemikiran filsafat, tapi juga hingga saat ini
berkembang bersama pemikiran filsafat. Tokoh-tokoh
psikoanalisa, humanistik, hingga psikologi
transpersonal banyak yang tak bisa dibadakan lagi
dengan filsafat. Ironisnya, biasanya orang-orang
psikologi lantas mencari gampangnya dengan mengatakan
itu filsafat sebagai pembenaran ketakmampuan mereka
mengikuti rumitnya pemikiran-pemikiran baru itu.
Psikologi lantas hanya bergenit-genit dengan trend,
misalnya Hypnosis yang begitu menjadi kegenitan
setelah Romy Rafael (yang bukan psikolog) menunjukkan
kepiawaiannya bermain-main dengan psike di depan
hidung para psikolog. Sebelum ini ada NLP. Dan bila
ditelusuri lagi ada sejumlah kegenitan lain yang terus
menerus muncul tapi tak pernah dipahami hingga
mendalam. Mirip dengan kegenitan-kegenitan ABG yang
mengucapkan berbagai kata-kata baru yang sebenarnya
tak ada artinya, seperti: “Kacian dech loe”, So What
gitu Loh”; yang sebenarnya tak ada artinya tapi
membuat keranjingan mengucapkan. 

Ketika dihadapkan pada argumen seperti ini,
orang-orang psikologi ini biasanya bersembunyi di
balik premis “kebebasan memilih”. Mau bergenit-genit
atau mendalami sampai ke akarnya adalah sebuah pilihan
bebas bagi siapa saja. Tak ada yang melarang,
bebas-bebas saja. Pun bebas-bebas saja mengklaim
psikologi lebih maju dri filsafat. Melarikan ke arah
premis “kebebasan memilih” sebenarnya merupakan
pelarian, karena masalahnya memang bukan perlu
dilarang atau bebas, bukan pula masalah hak-kewajiban.
Hanya orang bodoh (dan tengah lari dari kebodohannya)
yang melarikan pemikiran-pemikiran pada esei ini pada
premis “kebebasan memilih”. Dan itulah Inti
permasalahannya, kualitas sebagai “manusia psikologi”
yang tercermin dari ulahnya. Klaim-klaim atas
psikologi itulah yang akan membuat terlihat seperti
apa kualitas seseorang.

Psikologi seperti tergambar dalam kutipan pernyataan
Nur Agustinus, adalah psikologi yang terjebak dalam
klaim kebenaran yang meletakkan ilmunya lebih baik
dari ilmu lain (setidaknya satu sudah jelas ditemukan,
yaitu menganggap lebih maju dari filsafat). Ini adalah
klaim-klaim yang justru mematikan mereka dalam
kebenaran-kebenaran palsu. Sosok-sosok yang menekuni
psikologi semacam ini, tak lebih dari pesolek-pesolek
yang bergenit-genit dengan berbagai “make-up
psikologi” sembari berdiri di pinggir arus keramaian
dunia industri; menunggu panggilan dari para pelanggan
yang ingin hasratnya akan “kebenaran” dipuaskan oleh
kegenitan-kegenitan yang dipertontonkan sang psikolog.

Padahal kebenaran tak pernah bisa dibuat seseorang.
Kebenaran justru menemukan kesejatiannya dalam
pencarian, dalam upaya pembelajaran plural yang tak
terkotak-kotak. Psikologi membutuhkan perubahan dalam 
“gaya”menginterpretasi kebenaran. Jika dalam psikologi
ada “gaya” dalam menginterpetasi kebenaran, maka gaya
itu semestinya  plural sehingga siapapun yang
diinterpretasi oleh orang psikologi, tak mati dalam
universalitas dan keuniversalan keyakinan yang
mengungkung. Kebenaran yang selalu diletakkan dalam
pencarian dan kerendahatian bahwa manusia, termasuk
ilmuwan psikologi, perlu untuk selalu belajar, karena
keterbatasan dirinya. Kebenaran dalam psikologi, hanya
bisa didapatkan dengan cara memahami Psikologi
Kebenaran.

 

Bagaimana cermatan anda?

 

CATATAN-CATATAN:

[1] Posting tanggal 10 Oktober 2005 pukul  8:13
amOnline Documents:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi/message/23260

[2] Audifax; (2005); Psikologi Positif: Sebuah
kegenitan baru?; Online documents: 
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/1909

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/wf.olB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di 
http://psikologi.net
---------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/psikologi_net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke