WITH OR WITHOUT YOU

Oleh:

AUDIFAX

 

 

Through the storm we reach the shore

You give it all but I want more

And I'm waiting for You

 

With or without You

With or without You

I can't live

With or without You

 

And You give Yourself away

And You give Yourself away

And You give

And You give

And You give Yourself away

 

(dikutip dari lagu “With or Without You” dari U2)

 

Dewasa ini, begitu banyak orang menyatakan diri
ateisme. Entah memang menganutnya sebagai ideologi
atau sekedar mengambilnya sebagai pembenaran untuk
kemalasan beribadah. Banyak dari mereka,
bergenit-genit dengan menyitir “God is Dead”-nya
Nietzche, meski ironisnya hanya kalimat itu yang
mereka tahu dan diambil secara parsial begitu saja.
Mereka yang seperti ini tak pernah membaca dan
memahami Nietzche kecuali bergenit-genit dengan kata
“God is Dead”. Kemudian lebih parah lagi saya
baru-baru ini baca di salah satu milis ada yang
bergenit-genit dengan kata “kastolik” yang
diartikannya sebagai “bekas Katolik”.

Friedrich Nietzche meski menggiring ke nihilisme,
namun pemikirannya tak bermaksud meniadakan Tuhan.
Nietzche justru mengkritik pengetahuan manusia tentang
“tuhan” yang justru merupakan reduksi terselubung
terhadap Tuhan yang maha besar. Manusia sebenarnya tak
akan pernah mampu berbicara mengenai Tuhan, karena
Tuhan yang Maha itu, mustahil dipahami oleh otak
manusia.

Ini seperti mite Santo Agustinus yang ingin memahami
Tuhan dan kemudian disadarkan oleh pertemuannya dengan
seorang anak kecil di tepi pantai. Anak itu membawa
dengan tangannya air laut dan memasukkan ke dalam
lubang kecil yang digalinya di tepi pantai. Anak itu
berkata bahwa ia ingin memasukkan seluruh air laut ke
dalam lubang itu. Sesuatu yang tak mungkin. Persis
keinginan Agustinus memahami Tuhan. Peristiwa itu
membawa refleksi bagi Agustinus mengenai
ketidakmungkinannya memahami Tuhan.

Dengan kata lain, Tuhan bukanlah yang ada dalam
definisi-definisi di berbagai agama itu. Tuhan yang
Maha agung dan maha besar, jutru harus tertunda terus
kehadiran, manifestasi, serta pemahamannya sehingga
selalu berada dalam kondisi pencarian. Tuhan tak
mungkin didefinisikan manusia, karena pendefinisian
hanya akan membuat Tuhan yang besar itu teredusir dan
mati. Perkataan Nietzche ‘God is dead’ dapat
ditafsirkan dalam kerangka ketidakmungkinan ini.

Lantas bagaimana dengan manusia dan hubungannya dengan
Tuhan?

Manusia sebenarnya adalah entitas yang terlempar dalam
dunia. Ia tak tahu di mana ia berada sebelumnya, juga
tak tahu akan ke mana setelah kehidupan di dunia.
Manusia lahir ke dunia dalam ketakutuhan dan
kesementaraannya, terombang-ambing dalam samudera
pencarian yang tak akan pernah berakhir selama
hidupnya. Namun, hanya dalam pencarian dan pencarian
itulah manusia dapat hidup. Dalam pencarian itulah
lantas manusia menemukan label-label agama, ateis, dan
sebagainya. Termasuk label psikolog, dukun, guru
besar, dosen dan sejenisnya itu. Tetapi, intinya bukan
pada label-label itu tapi pada pencariannya.
Label-label itu sebenarnya tak lebih dari teks-teks
kosong tentang sebuah identitas diri yang tak pernah
mampu membuat seorang manusia merasa purnama.

Dalam setiap pencarian itu, apa yang menjadi kunci
adalah keputusan. Orang bisa “mengambil” atau
“membuat” keputusan, dan di situlah letak otentisitas
dan kualitas manusia. Manusia bisa sekedar
bergenit-genit dengan “mengambil” apa yang sudah ada
tanpa memahami esensinya, namun bisa juga ia “membuat”
sesuatu yang benar-benar mencerminkan orisinalitas dan
kualitas dirinya sebagai manusia. Menjadi ateis, bisa
jadi merupakan sesuatu yang sekedar “mengambil” tapi
bisa juga dengan segala kesadaran akan otentisitas dan
kualitas diri ditempatkan sebagai “Membuat”. Jadi
keputusanlah yang penting dalam hidup dan kelangsungan
hidup manusia.

Manusia, sebenarnya adalah entitas yang tak dapat
hidup tanpa keputusan-keputusan. Jika kuncinya pada
keputusan, maka seperti kata U2 dalam lagu “With or
Without You” yang bagiannya saya kutip sebagai pembuka
esei ini: “With or without You, I can’t live”. Dengan
atau tanpa Tuhan (You), manusia tetap berada dalam
ketakmampuannya untuk hidup. Bukan Tuhan yang menjadi
kunci hidup, melainkan keputusan manusialah kuncinya.
Maka, jelas ngawur berat kalau orang sering ngomong:
“Manusia berusaha, Tuhan menentukan”. Lha kalau sudah
ditentukan buat apa berusaha? Lagipula, ungkapan itu
rawan dijadikan alasan lari dari tanggung jawab
sebagai manusia dalam setiap usaha yang dilakukan.
Kegagalan lantas dilemparkan pada Tuhan.

Yang betul adalah: “Manusia menentukan, Tuhan
mengusahakan”. Manusia memutuskan sesuatu dulu, baru
Tuhan ‘mengusahakan’ jalan bagi berjalannya keputusan
itu, atau justru memberi peringatan akan keputusan
itu. Jika Tuhan menentukan, maka tak ada koruptor,
kemiskinan, kematian, kejahatan, dan sebagainya. Jika
Tuhan menentukan, maka membunuh, memperkosa,
mengkorupsi, dan berbagai perilaku sejenis bukanlah
dosa, karena pada dasarnya itu sudah ditentukan dan
diluar kuasa manusia. Padahal, itu semua adalah
keputusan-keputusan manusia. Keputusan untuk menjadi
apa melalui perilaku, adalah mutlak ada di tangan
manusia. Manusia yang menentukan!. Tuhan, hanya akan
menjadi jalan setelah manusia memiliki keputusan.
Inilah titik pemahaman akan berbagai mite mengenai
penyelamatan, penebusan, jalan kebenaran yang ada pada
agama, yang sayangnya justru seringkali didefinisikan
untuk kepentingan kekuasaan. Tuhan, hanya akan
menyatu, memberikan totalitas diri-Nya dan menjadi
jalan bagi manusia setelah manusia memutuskan. Dalam
konsep Jawa kuno, kita mengenal ini dalam manunggaling
kawulo gusti, di mana Manusia berada di dalam Tuhan,
Tuhan berada di dalam manusia. Tapi itupun terlebih
dulu harus ada keputusan dari manusia. Inilah
pentingnya keputusan dan tanggung jawab atas
keputusan, bukannya bersembunyi dan melemparkan
tanggungjawab pada Tuhan.

Dalam perjalanan hidup manusia yang mengarungi
samudera ketiadaan ini, keputusan manusia adalah yang
utama, baru bisa bicara kehadiran Tuhan dalam
perjalanan itu. Seperti saya sering kutip perkataan
Albus Dumbledore: “It is our choices, that show what
we truly are, far more than our abilities”; dan akan
terasa pas pula jika saya sandingkan dengan lirik
“With or Without You” berikut ini:

And You give Yourself away

And You give Yourself away

And You give

And You give

And You give Yourself away  

 

 

 

© Audifax – 19 Oktober 2005

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/wf.olB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di 
http://psikologi.net
---------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/psikologi_net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke