[PsiTransformatifAward] Kebajikan Spiritual Kaum Rudin
oleh: J. Sumardianta

Diposting Pertama Kali oleh penulisnya sendiri di:
From: john sumardianta <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri Apr 21, 2006  4:23 pm
Subject: Kebajikan Spiritual Kaum Rudin
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/6412



Yogyakarta, 21 April 2006
Kepada,
Yth. Dewan Juri Psikologi Transformatif Award
di Surabaya
Dengan hormat.
Saya mengirimkan artikel “Kebajikan Khas Kaum Rudin”.
Pemberitaan media massa tentang orang kecil selalu
berputar-putar dalam masalah kemiskinan, wabah
penyakit, kelaparan, penderitaan, dan kesengsaraan
yang membuat hidup terasa miris dan pesimis. Jarang
ditemukan pemberitaan optimis yang mengobarkan
harapan.
Artikel saya menyajikan analisis perihal kebajikan
khas (signature strength) kaum keserakat. Strategi
hidup dengan memaksimalkan kebajikan khas seperti
solidaritas sosial, keberanian, keuletan, integritas,
kebaikan hati, pengendalian diri, dan rendah hati
rupanya membuat penarik rickshaw Di Kalkuta, India dan
tukang becak di Yogyakarta mampu mentransendensi
kesulitan dan meloloskan diri dari tirani kekejaman
dunia. Hidup mereka pandang sebagai rahmat bukan
melulu sebagai beban.
Transendensi merupakan sinergi kekuatan dari dalam
yang menjangkau keluar sebagai penghubung orang miskin
dengan sesuatu yang permanen dan lebih
akbar---spontanitas, kesadaran diri, terbimbing visi
dan nilai, mental holistik, kepedulian, independen
terhadap lingkungan, mengambil manfaat dari
kemalangan, dan keterpanggilan.
Masyarakat kota besar yang bergelimang kekayaan
material namun busung lapar di gurun spiritual bisa
bercermin dari kehidupan kaum rudin yang sangat
inspirasional guna meraih kehidupan yang bernilai,
bermakna, bermotivasi tinggi, dan mengabdi
tujuan-tujuan mendasar.
Semoga kontribusi saya sejalan dengan editorial
Psikologi Transformatif Award.
Terima kasih atas apresiasinya.
Salam taklim:
10.      Sumardianta
Jl. Laksda Adisucipto 161
Yogyakarta
Phone: 081-2276-5792




Artikel untuk Psikologi Transformatif Award
Kebajikan Spiritual Kaum Rudin
Oleh: J. Sumardianta*
Kuan Tsu, filsuf Cina kono, gemar menyamakan dirinya
dengan kupu-kupu. Menjelang wafat, para murid sepakat
hendak membaringkan Kuan Tsu dalam peti indah agar
jasadnya tidak dimangsa burung gagak. Kuan Tsu
menghardik, “Kalian takut aku dimangsa burung gagak.
Toh dalam peti indah aku tetap dimakan cacing dan
rayap. Jadi sama saja.” Kuan Tsu tidak mau terikat
dengan apapun di dunia yang fana. Ia ingin terbang
lepas bebas seperti kupu-kupu.
Di penghujung musim kemarau, di lereng selatan gunung
Merapi Yogyakarta, kupu-kupu kuning biasanya terbang
dari arah barat menuju utara. Mereka bermigrasi dalam
jumlah besar mengikuti semilir angin bertiup.
Kupu-kupu kuning berbondong-bondong hanya untuk mati
di utara. Kupu-kupu itu menjadi pertanda sebentar lagi
musim hujan akan datang. Serangga ini memberikan
perasaan sunyi yang indah. Kupu-kupu merupakan simbol
pengorbanan hidup supaya hujan segara jatuh membasahi
dan menyuburkan bumi. Pancuran emas sumawur ing jagat
(pancuran emas bertaburan di jagat raya). Begitulah
pranata mangsa (pedoman musim) dalam khasanah budaya
agraria Jawa menggambarkan kupu-kupu itu. Kupu-kupu
identik dengan cinta, kerendahan hati, kebahagiaan,
kebebasan, dan pengorbanan.
Kupu-kupu kuning merupakan ilustrasi bagus buat
menggambarkan ketangguhan dan keteladanan spiritual
Ram Chander dan Hasari Pal---dua tokoh kecingkrangan
(melarat) dalam buku klasik Dominique Lappiere, The
City of Joy (1985). Hasari Pal bersama istri dan
ketiga anaknya adalah petani yang terdampar di
Kalkuta, India akibat bencana kekeringan
berkepanjangan. Hasari bekerja menarik angkong
(ricksaw). Pekerja kasar jenis ini sering diledek
sebagai manusia kuda.
Keserakat Tapi Bermartabat
Kehidupan penarik ricksaw miskin, keras, dan
menderita. Bekerja nyaris tanpa jaminan kesehatan dan
keselamatan. Mereka penghirup polusi udara terburuk di
dunia. Obyek pemerasan polisi kota praja. Biasa
terbunuh di jalanan karena kejeblos lubang drainase
yang menganga tutupnya, karena dicuri orang, di saat
banjir. Menjelang pemilu suara mereka sering
dieksploitasi pengurus partai yang berdalih membela
orang miskin.
Kendati kecingkrangan, kehidupan Hasari sesungguhnya
diliputi kebahagiaan dan dipenuhi perasaan syukur.
Sebelum mati, dipagut tuberkulosis, Hasari menjual
kerangka tubuhnya ke perusahaan alat peraga kedokteran
agar bisa mendapat beaya pesta pernikahan Amrita anak
perempuannya. Penganut Hindu yang saleh ini menerima
nasib sebagai tugas suci yang harus ditunaikan agar
memperoleh kehidupan lebih baik sesudah reinkarnasi.
Bagaimana penarik angkong menyalakan harapan hidup
supaya bisa bertahan dalam kesulitan, tegar dalam
pergulatan, dan tabah menghadapi kekerasan? Ram
Chander, bekas petani yang tidak kunjung bisa
menghapus utang keluarganya di Provinsi Bihar,
bertutur, “Masih terbayang di mata bagaimana istri
saya menggandeng tangan anak saya, berdiri di ambang
pintu gubuk kami seraya mengusap air mata. Kami sering
bicara tentang rencana kepergian dan sekarang saatnya
tiba. Ia menyiapkan sebuah ransel berisi satu longhi,
kemeja, dan handuk. Ia bahkan membuat chapati
(martabak India) dan potongan sayur-sayuran sebagai
bekal perjalanan. Sampai mati akan tetap terkenang.
Ingatan mesra tentang keluarga yang berdiri di depan
gubuk lempung itulah yang membuat saya tetap bertahan
di kota bengis ini”.
Ram Chander bermimpi suatu hari ia akan kembali ke
desanya dan membuka kedai pracangan di sana. “Bisa
duduk di kios itu sepanjang hari, tanpa merendahkan
martabat berlarian di rimba lalu-lintas kalut yang
panas aspalnya melelehkan telapak kaki,” ujar Ram,
membicarakan surga masa depannya. Ia ingin bertahta di
warungnya, dikelilingi karung-karung penuh segala
macam kacang dan beras. Dan, wadah-wadah yang
mengeluarkan aroma rempah, bumbu dapur, dan onggokan
sayur. Di rak tersedia sabun, dupa batangan, biskuit,
rokok, dan makanan kecil. Ram memimpikan satu dunia
damai dan sejahtera dengan dirinya sendiri sebagai
pusatnya.” Ram Chander tidak pernah bisa pulang ke
desanya. Sebagaimana nasib para penarik angkong
umumnya, Ram mati dipagut radang paru-paru.
Hasari Pal dan Ram Chander wujud kearifan India
“segala yang tidak kita berikan akan lenyap sia-sia”.
Mereka alegori perihal penderitaan, kematian, dan
kehancuran yang bergandengan tangan dengan belas
kasih, harapan, dan cinta. Kisah bagaimana manusia
belajar, dalam situasi paling kelam dan kurang
manusiawi, bisa menyalakan semangat hidup.
Kaum paria, seperti Hasari Pal dan Ram Chander,
menjadi manusia luar biasa berkat kemampuan mereka
melampaui kekejaman hidup yang tidak ramah.
Penderitaan tidak melulu diterima sebagai beban karena
mereka mampu mengolah dan mengironikan hidup mereka.
Antropolog James Scott menyebut kemampuan ini sebagai
"Weapon of the Weak (senjata kearifan kaum rudin)".
Bukan lewat protes dengan diam atau revolusi yang
cenderung memangsa orang jelata sendiri. Ironi
melegakan karena memberdayakan kaum rudin untuk bisa
menertawai kenistaaan. Kaum paria, mengutip almarhum
Karl Rahner, teolog masyur Jerman abad ke-20, berkat
ironi sukses menggapai transendensi---pengalaman
dikuatkan sang adikodrati dalam mistisisme konkret
sehari-hari.
Menaklukkan Hipokrisi
Nasib tukang becak di Yogyakarta setali tiga uang
penarik ricksaw di Kalkuta. Mereka tak ubahnya
pelanduk yang menerjunkan diri ke air guna membebaskan
diri dari kejaran binatang buas tapi tukang becak
mendapati diri dikepung gerombolan buaya. Kendati
memelas, bila didekati secara mendalam, dari
warung-warung tempat mereka melepas penat seraya
mengudap makanan, keseharian tukang becak memancarkan
kegembiraan, semangat, dan harapan. Inilah sisi-sisi
terang tukang becak bergelimang ketegaran,
kebersahajaan, cinta, berkah, kepuasan, ketentraman,
perasaan syukur, ikhlas mengalir, keberuntungan, dan
keselarasan.
Becak merupakan pantulan hidup bernilai, bermakna, dan
tujuan hidup mendasar dari wong kabur kanginan: orang
tidak berumah, tidur di jalanan. Transendensi terbaca
dari slebor-slebor becak pribadi mereka. Waton Urip,
artinya, bukan hidup ngawur dan seenaknya sendiri
melainkan berani hidup tanpa memberontak terhadap
kehidupan. Banyu Mili atau Lumintu, memuat keyakinan,
kendati sedikit toh rejeki bakal mengalir terus tiada
henti. Tegar, menyiratkan keuletan penarik becak
bertahan dalam situasi dan kondisi yang senantiasa
tidak ramah. Sri Rahayu, membuktikan kesungguhan
tukang becak dalam membesarkan dan melindungi anak
perempuan.
Kendati berornamen sederhana slebor becak bertuliskan
Ningsih (dicintai setiap orang), Barokah (terberkati),
Prasojo (bersahaja), Marem (kepuasan), Bejo
(beruntung), Sami-Sami (penerimaan dan pemberian diri
tanpa syarat), Gemah Ripah (subur makmur), Prihatin
(bermati raga), dan Raharja (maju) sesungghnya memuat
harapan hidup dan motivasi para tukang becak.
Slebor-slebor becak itu memuat pandangan hidup orang
Jawa manggihaken kabegjan ing sak lebeting kekirangan
(menemukan kebahgiaan dalam kekurangan) dan kabegjan
iku tansah ana kekurangane (kebahagiaan hidup itu
senantiasa tidak sempurna).
Becak, di jaman serba motor, seolah merendahkan
martabat manusia. Penghela mengeksploitasi diri
layaknya kuda beban. Namun, dalam diri Pak Kliwon, Pak
Zaenal, Pak Sukiman, bahkan mBok Ponirah, tukang becak
perempuan, tidak ada fatalisme dan sikap menyerah.
Mereka simbol konsolasi (filsafat kegembiraan) bukan
desolasi (filsafat kemuraman). “Apabila kehidupan
sehari-hari terasa miskin, jangan kau keluhkan, tetapi
sesalilah dirimu karena tidak cukup tabah untuk
menggali kekayaannya”. Alegori penyair masyur dari
Jerman, Rainer Maria Rilke (1872-1926) ini, amat
sesuai buat menggambarkan semangat dan integritas
penarik becak.
Pak Kliwon (60 th), yang sehari-hari mangkal di dekat
Stasiun Lempuyangan, gampang bersyukur karena memiliki
badan ganep. Dengan badan tidak cacat ia bisa
menafkahi keluarga. Pak Sukiman tidak pernah menumpang
bus saat pulang ke desannya. Ia mengayuh becaknya
sampai Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Perjalanan
ditempuh lima jam karena harus berhemat supaya
anak-anak tetap bisa sekolah. Ponirah (55 th), lebih
heroik lagi. Sudah 15 tahun ibu lima anak ini mbecak.
Sepeninggal suaminya karena kanker, Ponirah harus
menanggalkan urat malu. Ia tak mau menyerah pada
perasaan feminisnya. Becak dunia lelaki. Ponirah
pernah ditempeleng sesama tukang becak dan ditendang
polisi demi bisa mencicil utang keluarga yang tak
mungkin bisa dilunasinya.
“Tertawa adalah persepsi terhadap situasi yang
kontradiktif”, kata filsuf Emmanuel Kant. Tawa para
tukang becak yang terpaksa makan teratur sehari sekali
karena penghasilan mereka menyusut semenjak sarana
transportasi melimpah-ruah di Yogyakarta adalah
kegembiraan dalam kesusahan. Tawa politisi yang gemar
mengerahkan tukang becak dalam hajatan Pilkadal adalah
kebahagiaan berlumur kemunafikan. Garuklah tubuh kaum
politisi yang sok membela tukang becak! Darah
kemunafikan akan mengalir deras dari sekujur badan
hipokrit mereka!
Strategi hidup kaum rudin, meminjam paradigma Martin
Seligman, dalam Authentic Happines: Using the New
Positive Psychology to Realize Your Potential for
Lasting Fulfilment (2002), adalah pemaksimalan
kebajikan khas (signatur strength) seperti solidaritas
sosial, keberanian, keuletan, integritas, kebaikan
hati, pengendalian diri, dan rendah hati rupanya
membuat tukang penarik angkong di Kalkuta dan tukang
becak di Yogyakarta mampu mentransendensi kesulitan
dan meloloskan diri dari tirani kekejaman dunia.
Transendensi, menurut Danah Zohar dan Ian Marshal
dalam Spiritual Capital: Wealth We Can Live By Using
Oor rational, Emotional, and Spiritual Intellegence to
Transform Ourselves and Corporate Culture (2004),
merupakan sinergi kekuatan dari dalam yang menjangkau
keluar sebagai penghubung tukang becak dengan sesuatu
yang permanen dan lebih akbar---spontanitas, kesadaran
diri, terbimbing visi dan nilai, mental holistik,
kepedulian, independen terhadap lingkungan, mengambil
manfaat dari kemalangan, dan keterpanggilan.
Wahai politisi ambisius dan para saudagar gelojoh yang
berlumuran kekayaan material namun busung lapar di
gurun spiritual, hentikanlah intrik maupun pat-gulipat
dengan meneladani ketangguhan spiritual tukang becak.
Agar bangsa Indonesia tidak terjun bebas di lembah
ketiadaan karena pemimpinya bermental budak-berjiwa
kerdil.***
*J. Sumardianta, guru SMA Kolese de Britto Yogyakarta.
Alamat: Jl. Laksda Adisucipto 161 Yogyakarta 55281.






PSIKOLOGI TRANSFORMATIF AWARD 2006



PENDAHULUAN

Tak terasa semenjak didirikan sekitar empat tahun lalu
milis Psikologi Transformatif dan R-Mania telah
berkembang pesat. Perkembangan kedua milis ini
termasuk pesat, Milis Psikologi Transformatif dari
anggota yang sampai awal Januari 2005 hanya berjumlah
300-an, saat ini telah mencapai 1100 member. Keaktivan
postingpun tergolong padat, tercatat rata-rata
perbulan 700 message masuk ke e-mail para member
psikologi transformatif. Begitu pula dengan milis
R-Mania, dari sekitar 200-an member di awal januari
2005, kini telah mendekati 700 member dengan kepadatan
posting 300 message dalam sebulan.

Berbagai pembelajaran terkait dengan psikologi dan
riset telah didapat dari interaksi para member melalui
posting-posting di kedua milis. Beberapa member bahkan
begitu rutin mengirimkan tulisan-tulisan karyanya
sendiri, maupun sekedar mem-forward tulisan orang
lain. Berbagai tanggapan, pemikiran bermunculan
menambah wawasan. Tak hanya itu, perkenalan antar
member pun membangun bentuk-bentuk relasi tersendiri
dalam ruang-ruang milis ini.

Sejumlah namapun terkesan akrab, mereka yang tercatat
pernah memposting di antaranya adalah: Audifax,
Leonardo Rimba, Vincent Liong, Mang Ucup, Prof
Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin, Amalia “Lia”
Ramananda, Ellen Kristi, Himawijaya, Rudi Murtomo,
Felix Lengkong, Heru Wiryanto, Kartono Muhammad,
Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy
Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku
Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa Koorag, Budi
‘Bukik’ Setiawan, Nurudin Asyhadie, Cornelia Istiani,
Caecilia Algina, Reza Indragiri Amriel, Pangestu,
Suryaunika, Hendrik Bakrie, Muskitawati, Hasan
Mawardi, Yan Rezky, Ignatius Yudhistira, Merkurius
Adhi dan lain-lain. Jika pembaca mencermati, sebagian
dari nama-nama tersebut bahkan telah memiliki karya
baik buku maupun tulisan yang dimuat di berbagai
media. Ada juga beberapa pengguna nama samaran yang
aktif berbagi pemikiran, di antaranya:gotho loco,
methoz, fankuangtzu dan lain-lain. Ini belum terhitung
anggota pasif dari milis ini, yang banyak juga berasal
dari kalangan akademisi ataupun ilmuwan. Bahkan,
beberapa pembicara dari Simposium Psikologi
Transformatif, masih juga menjadi member di milis ini,
mereka adalah: Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry
Tjahjono, Abdul Malik, Oka Rusmini, Jangkung
Karyantoro.

Fenomena ini, menggambarkan bahwa milis psikologi
Transformatif bisa jadi merupakan milis dengan jumlah
member dan kepadatan posting terbanyak dibanding milis
psikologi Indonesia lain. Plus keanggotaan sejumlah
sosok yang memiliki kualifikasi bagus dalam
menghasilkan pemikiran-pemikiran melalui
tulisan-tulisannya. Begitu pula dengan milis R-Mania,
yang meski jumlah member dan kepadatan posting di
bawah psikologi transformatif, namun banyak pula
pemikiran bagus di dalamnya. Menyimak fenomena ini,
sebenarnya ada sesuatu yang perlu kita sadari di sini,
yaitu betapa kedua milis ini (Psikologi Transformatif
dan R-Mania) menyimpan suatu potensi pengetahuan yang
begitu besar. Kedua milis ini dengan segala
karakterisasinya masing-masing, memiliki potensi besar
untuk berkembang dan berkontribusi dalam ilmu
pengetahuan khususnya psikologi.

Berbicara mengenai pengembangan psikologi, adalah
sulit melepas-kaitkan antara upaya-upaya membangun
scientific atmosphere bagi pengembangan ilmu Psikologi
dengan upaya-upaya penciptaan ruang guna melatih daya
searching mind melalui aktivitas penulisan. Penulisan
bukan saja memungkinkan para pelakunya mengkritisi dan
mengembangkan kajian psikologi yang sudah dan pernah
ada, tapi juga memperluas kesadaran akan realitas
sehingga orang menemukan daerah-daerah cermatan yang
baru. Inilah sumbangan penting milis ini bagi dunia
psikologi Indonesia yang terjebak dalam rubrik-rubrik
konsultasi dan alat tes. Sungguh ironi melihat model
pendidikan psikologi Indonesia yang perkembangannya
hanya tertuju pada “lisensi” untuk mengadakan
konseling atau menggunakan alat tes, sementara di
milis Psikologi Transformatif dan R-Mania, kita
melihat sosok-sosok dengan latar  beragam, baik dari
kalangan psikologi maupun non-psikologi tengah
membicarakan psikologi dalam berbagai tema. Apa yang
terjadi di kedua milis ini semestinya membuka mata
banyak orang dalam dunia pendidikan psikologi bahwa
psikologi dapat dikembangkan seluas-luasnya.

Oleh karena itu, kami para penggagas berdirinya kedua
milis (R-Mania dan Psikologi Transformatif) memiliki
pemikiran untuk mengembangkan apa yang ada di milis
ini melalui ajang ‘PSIKOLOGI TRANSFORMATIF AWARD’.
Sebelumnya, jangan membayangkan ajang ini seperti
Academy Award atau penerimaan Kalpataru. Apa yang bisa
kami berikan dalam sebagai ‘Award’, bisa jadi tak
semegah ajang-ajang award lainnya. Kami hanya mencoba
menawarkan, sedikit penghargaan bagi beberapa member
di milis ini yang dinilai berdasar tulisannya. Seperti
apa penghargaan itu? Silahkan anda baca ketentuan
berikut:



Tentang PSIKOLOGI TRANSFORMATIF AWARD:

Kami membuka kesempatan bagi semua member milis untuk
menulis dengan tema: “Psikologi dan ...”. Pada ...
(titik-titik) anda bisa mengisi sesuai concern anda.
Misalnya: Psikologi dan Seni, Psikologi dan Tarot,
Psikologi dan Kedokteran, Psikologi dan Pineal
Re-Programming, terserah anda. Namun, dalam menyusun
tulisan, dua kriteria berikut harus bisa tercermin
dalam tulisan anda:

* Tulisan-tulisan anda harus mencerminkan suatu
PSIKOLOGI ALTERNATIF yang memang membedakan dan
menawarkan hal lain di luar psikologi yang berkutat di
ruang-ruang konbseling atau pertukangan alat tes.
Dunia psikologi Indonesia menghadapi persoalan besar
dalam hal ini, karena pendidikan psikologi memang
hanya diarahkan pada ruang-ruang konseling dan
penggunaan alat tes. Lulusan S-1 yang kurang lebih
telah kuliah empat tahun, setelah lulus terbatasi oleh
tidak dimilikinya lisensi untuk melakukan konseling
dan menggunakan alat tes jika tidak melanjutkan ke
magister. Ironisnya, magister pun yang lulusannya
bergelar master psikologi, sebenarnya hanya sebatas
memperoleh “mastery” (yang ditandai dengan lisensi)
dalam ruang-ruang konseling dan alat tes. Dengan
kriteria mencerminkan psikologi alternatif, tulisan
yang dimuat dalam antologi Psikologi Transformatif
dapat membantu memperluas wawasan dunia psikologi
dengan hadirnya sejumlah alternatif. (Apalagi jika
yang menulis adalah orang di luar pendidikan
psikologi, akan membuka mata bahwa psikologi itu
kontekstual dalam kehidupan bukan dalam ruang
konseling dan alat tes)

* Tulisan-tulisan anda harus mencerminkan PSIKOLOGI
YANG BISA MENGAKOMODASI KEMAJEMUKAN DALAM KEHIDUPAN
MANUSIA. Mengapa kemajemukan? Penerimaan terhadap
kemajemukan adalah sebuah persoalan yang tak hanya
berimbas pada humanitas, namun juga lebih jauh pada
kesemenaan yang merugikan. Orang seenaknya
mendefinisikan orang lain sebagai “A”, sebagai “B” dan
membuat keputusan semena terhadap orang tersebut atau
menggeneralisasikan pada populasi yang lebih luas
hal-hal yang semestinya hanya kontekstual dengan ciri
populasi tertentu. Dalam konteks kehidupan, kita bisa
melihat persoalan kemajemukan banyak terjadi, tak
hanya di ruang-ruang konseling psikologi atau
penggunaan alat tes, tapi juga pada kehidupan
bermasyarakat, ke-bangsa-an (lihat kasus RUU
Pornografi yang tak bisa mengakomodasi kemajemukan
Nusantara, lihat berbagai pertikaian etnis dan agama,
lihat peraturan yang mempersulit orang menikah antar
agama, lihat cara/sistem pendidikan kita dan banyak
lagi). Dengan demikian tulisan yang dimuat dalam
antologi Psikologi Transformatif turut memberi
sumbangan pemikiran bagi persoalan yang kontekstual
pada bangsa ini.

Lakukan analisis terhadap persoalan yang kontekstual
dengan kehidupan dalam perspektif psikologi yang anda
pahami. Berteorilah dan berargumenlah dengan teori
itu. Seberapa kuat bangunan teori itu, tergantung
sejauh mana teori itu mampu dikontekstualisasikan
dalam realitas. Ingatlah bahwa berteori berbeda dengan
“memajang teori”. Jadi, anda tak perlu harus terpaku
dengan teori-teori yang sudah ada dan hanya memamah
teori-teori itu semata. Sekali lagi, bagaimana anda
berteori dan berargumen itulah yang penting.

Tujuannya dari ajang ini adalah, membuka kesadaran
akan adanya cakrawala yang luas bagi penerapan
psikologi. Pembuktiannya terletak pada seberapa banyak
alternatif yang bisa muncul dari tulisan-tulisan para
member milis. Bahkan pada ajang inipun terbuka sebuah
kemungkinan bahwa orang-orang non-pendidikan
psikologi, bisa jadi justru mampu menyajikan sebuah
kontekstualisasi kehidupan psikologi secara lebih
genuine.

Kami akan menyeleksi dan memilih SETIDAKNYA 3 TULISAN
TERBAIK. Bagi yang terpilih akan mendapat imbalan uang
Rp. 300.000,- dan tulisan tersebut diterbitkan dalam
antologi tulisan Psikologi Transformatif. Sangat
mungkin tulisan yang terpilih lebih dari tiga, jika
memang kami memiliki alternatif untuk itu. Namun,
tetap ada pertimbangan batasan dari kami dalam
menentukan jumlah tulisan yang terpilih, karena
menyangkut keterbatasan anggaran dalam penyediaan
imbalan.



Tatacara mengikuti:

* Member yang ingin mengikuti HARUS MEMPOSTING TULISAN
YANG DIIKUTKAN PSIKOLOGI TRANSFORMATIF AWARDS ke salah
satu, antara Milis Psikologi Transformatif atau Milis
R-Mania. Ini berarti, peserta harus terdaftar sebagai
member di salah satu dari kedua milis tersebut. Bagi
member di luar kedua milis tersebut yang ingin
mengikuti, diharuskan menjadi member Psikologi
Transformatif atau R-Mania terlebih dulu. (Untuk
bergabung klik alamat berikut: Psikologi
Transformatif:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/join
dan R-Mania:
http://groups.yahoo.com/group/R-Mania/join )

* Tulisan yang diposting di milis, harus dalam bentuk
inline text, bukan dalam bentuk attachment. Sehingga,
tulisan itu juga bisa ditanggapi, didiskusikan,
dikritik dan dijadikan pembelajaran bagi anggota milis
lain.

* Selain memposting dalam bentuk inline text ke milis,
peserta juga diharuskan memposting data diri (nama
asli, identitas diri, foto diri, nomor yang bisa
dihubungi, alamat lengkap) beserta attachment tulisan
yang dilombakan dalam file MS Word ke e-mail:
[EMAIL PROTECTED] Tulisan yang hanya
diposting secara inline text ke milis, tanpa
memposting attachment ke [EMAIL PROTECTED],
tidak disertakan dalam award.

* Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan
untuk memperbesar peluang menang. Namun, hanya satu
peserta yang dapat memenangkan award melalui satu
tulisan.

* Tulisan sudah diposting dalam bentuk inline text di
salah satu milis (R-Mania atau Psikologi
transformatif) serta dikirim attachment dalam bentuk
MS Word ke e-mail: [EMAIL PROTECTED]
SELAMBAT-LAMBATNYA PADA TANGGAL 30 APRIL 2006.

* Peserta harus masih tercatat sebagai anggota salah
satu milis ketika pengumuman pemenang. Jika peserta
sudah tidak menjadi anggota dari salah satu milis
(antara R-Mania atau Psikologi Transformatif), maka
hak sebagai pemenang akan dibatalkan.



Kriteria penilaian:

* Kode 1 : Kesesuaian dengan kriteria
* Kode 2 : Orijinalitas Pemikiran
* Kode 3 : Pernyataan/Perumusan Masalah
* Kode 4 : Manfaat
Praktis/Empirik/Saintifik/Kontekstualisasi
* Kode 5 : Kemampuan teoritisasi/konseptualisasi
* Kode 6 : Elaborasi dan Penarikan Kesimpulan
* Kode 7 : Penulisan/Penuangan
* Kode 8 : Prospek pemikiran dari penulis
(Note: aspek yang dinilai diberi skore 40 – 90)



Penilai:

* Dr. Edy Suhardono (Direktur Insitut Ilmu Sosial
Aternatif (IISA), Peneliti, penggagas Simposium
Psikologi Transformatif)

* Audifax (Peneliti di Institut Ilmu Sosial Alternatif
(IISA), Penulis, pengelola milis Psikologi
Transformatif dan R-Mania, Penulis buku “Mite Harry
Potter”)

* Alfathri Adlin (Editor Pelaksana Jalasutra,
Koordinator Forum Studi Kebudayaan (FSK) – ITB,
Kontributor tetap pada suplemen kampus Harian Pikiran
Rakyat, Direktur PICTS)



Ketiga penilai, tidak diperkenankan mengikutsertakan
tulisannya dalam Psikologi Transformatif Award.

Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Detil angka penilaian akan diumumkan sebagai bentuk
masukan terhadap kelebihan dan kekurangan
masing-masing tulisan.




Pesan layanan masyarakat ini disebarluaskan di
berbagai maillist oleh maillist Vincent Liong (
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/join )
sesuai dengan email asli yang ditulis sendiri oleh
pihak panitia PSIKOLOGI TRANSFORMATIF AWARD 2006 di
LINK:
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/14800
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/5868
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/5795
http://groups.yahoo.com/group/R-Mania/message/1945
http://groups.yahoo.com/group/R-Mania/message/1925

Pertanyaan tentang PSIKOLOGI TRANSFORMATIF AWARD 2006
dapat ditanyakan melalui email:
[EMAIL PROTECTED] 

Send instant messages to your online friends
http://au.messenger.yahoo.com

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com


posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di http://psikologi.net
----------------------------------------




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke