Komentar Tentang;
“Pelatihan Sehari (Informal) Logika & Komunikasi
Empati”
e-link:
<http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/15219>

Ditulis oleh: Drs. Juswan Setyawan <[EMAIL PROTECTED]>


        Demikian judul undangan yang disebarkan
Vincent melalui milis VCL dan beberapa milis lain
untuk memancing para calon peminat dan pemerhati
masalah-masalah fenomenologis. Judul tersebut tampak
(berusaha) bersifat netral tetapi dari perincian
hal-hal yang akan diperkenalkan dan media yang akan
dipakai mengindikasikan aroma metafisis yang kuat.


        Sejak semula dikotomi antara “logical
intelligence” dan “intuitive intelligence” masih
dipegang teguh oleh beberapa peserta seminar
seakan-akan kedua hal tersebut memiliki domain yang
terpisah dan antara keduanya seakan-akan terdapat
sekat-sekat yang tak dapat ditembus. Masing-masing
kuat berpegang dengan norma-norma kerjanya sendiri
sendiri.

Padahal otak kiri manusia yang (konon) diterima
sebagai mewakili kawasan logika dan otak kanan manusia
yang mewakili intuisi manusia sesungguhnya keduanya
bekerja secara vektoral dan alternating. Untuk
mudahnya kita dapat membayangkannya bekerja seperti
pada suatu perangkat musik stereo. Kita berada di
tengah-tengah medan antara dua loudspeaker yang
mengeluarkan nada yang berbeda, namun kita
mendengarkan keutuhannya sebagai suatu harmoni.


        Demikian pula pernah ada penelitian yang
menemukan bahwa pada “kesan pertama” (first
impression) orang hampir selalu melihat secara
“gestalt” dan baru kemudian orang turun kepada detail.
Otak kanan secara cepat dan sekilas melihat
keseluruhan kemudian beralih giliran otak kiri
mengambil alih untuk menganalisis detail secara
kritis. Contoh yang pernah saya baca ialah suatu pola
gestalt yang berbentuk “cangkir berkuping” tetapi
setelah diteliti ternyata merupakan suatu paduan
gambar rekayasa di mana detail seluruhnya terdiri dari
angka-angka saja dan bukan gambar.  Sama halnya, kalau
kita masih ingat atau pernah melihat, gambar Monalisa
yang dibuat lewat hasil ketikan mesin ketik kuno pakai
pita yang memakai seluruh ikon-ikon alfa-numerik yang
tersedia.

Secara empirik kita juga mengalami kalau melihat suatu
film yang sama berkali-kali. Saat menonton untuk kedua
(atau kesekian) kalinya kita mulai mencari figur
sentral dan antagonis sejak pertama kalinya mereka
muncul. Kita mencari apa saja yang dilakukannya secara
sekuential di mana pada saat pertama kali menonton
kita bahkan tidak tahu eksistensi dan peran
figur-figur antagonis yang masih tersamar tersebut.
       

        Maka tidak heran kalau pertanyaan utama dan
pertama yang diajukan ialah bagaimana mungkin
menjelaskan sesuatu bila terlebih dahulu tidak (dapat)
dijabarkan metodiknya. Itu tampaknya sama sekali
“tidak logis”. Karena dalam pola berpikir berdasarkan
“logical intelligence” metodik mendahului deskripsi
sebagai hal yang perlu untuk terpenuhi syarat akan
adanya suatu “logical sequence”.


        Empati dan komunikasi empatik “bukan
pertama-tama soal logika” walaupun memiliki corak
logikanya sendiri. Bila kita melihat seseorang dan
langsung merasa antipati kepadanya lalu pertanyaannya
apakah dasar logikanya perasaan tersebut? Kita belum
pernah berjumpa dengan orang itu sebelumnya sehingga
tidak mengenalnya apalagi berhadapan langsung dengan
sikap dan perilakunya. Namun, wajah seseorang
memperlihatkan seribu - mungkin selaksa - ikon yang
diterima (belum lagi tetapi termasuk auranya) secara
gestalt oleh otak kanan kita dan dalam bilangan
nano-detik menyampaikan kesimpulan-antipatik kepada
kita melalui otak kiri. Sementara itu otak kiri kita
masih akan terus-menerus bertanya detail “Apa”-nya
lagi dan “Mengapa”-nya serta menuntut bukti-bukti
untuk verifikasi kesimpulan tadi. Padahal olah-detail
“telah lama rampung” dan disampaikan oleh otak kanan
kepada otak kiri dengan hasil final tadi, yaitu bahwa
orang tersebut “tidak simpatik” dan karena itu kitapun
langsung “merasa” (tanpa alasan logis) antipati
kepadanya. Proses vektoral itu terjadi demikian
cepatnya dalam bilangan nano-detik sehingga kalau
dipakai proses dialektik yang biasa dengan analisis
“logical intelligence” biasanya akan memakan waktu
yang demikian lama dan itupun dengan hasil yang belum
tentu memuaskan. Otak manusia itu ibarat dan
sungguh-sungguh semacam “psycho-cybernetic aparatus”
atau super-komputer-alami yang mampu mengolah
milyaran-bit informasi dalam bilangan nano-detik.


        Umpamanya saja kita ingin menerima seorang CEO
untuk perusahaan kita dan kita mengundangnya untuk
suatu dinner. Mana mungkin kita “berani” menyuruh
beliau pergi ke suatu Lembaga Psikologi tertentu untuk
menjalani serangkaian test psikologis? Kemungkinan
besar dia akan merasa tersinggung dan tidak bersedia
karena merasa diragukan atau tidak dihargai sebagai
kandidat yang potensial. Dalam hal ini peranan
“intuitive intelligence” menjadi sangat penting.
Selama dinner berlangsung maka kita harus mampu
“mengamat-amati” dan menarik kesimpulan apakah
kandidat ini memang tepat untuk menduduki posisi yang
demikian penting untuk perusahaan kita. Nasib
perusahaan kita akan sangat tergantung kepada
performance dia kelak. Oleh karena kita tidak dapat
main tebak-tebakan untuk mengisi jabatan yang demikian
vital, apalagi cara-cara biasa dengan serangkaian
test-test psikologis konvensional menjadi sama sekali
tidak efektif bahkan tidak mungkin dapat dilakukan
sedangkan cara-cara intuitif juga sama berisiko
tinggi. Itulah sebabnya maka kapasitas komunikasi
empati harus dapat dikembangkan seoptimal mungkin.


        Pada seminar (amburadul) ini orientasinya
lebih kepada praktek dan bukan kepada teori; kepada
“result-orientation” dan bukan terutama pada
“reasoning-orientation”. Segala sesuatu fenomen pasti
ada reasoningnya walaupun tidak (belum; tidak dapat)
terungkapkan. Bila seminar ini dibuat konvensional
maka fokus peserta akan tertuju kepada “konsep dan
teori” yang berada pada domain “logical intelligence”
maka dapat dipastikan akan berbuah kegagalan total.
Bila praktek berhasil, maka soal teori adalah soal
gampang dan masing-masing peserta dapat membuat
konstruksi teorinya sendiri berdasarkan latar belakang
dan kekayaan bank data yang dimilikinya.


        Namun demikian hal yang dipraktekkan tidaklah
dapat begitu saja dikatakan “tanpa konsep atau
metodik” sama sekali.  Misalnya, pelatihan selalu
mulai dengan “asumsi dasar” dan dengan
variabel-variabel yang dicari dan disetujui bersama.
Dan berdiri di atas variabel-variabel tersebut (atau
varian-varian lainnya) barulah percobaan-percobaan
dilakukan.

Ada yang berhasil dengan menakjubkan dan ada yang
totally wrong (biasanya mereka yang terlalu terbiasa
berpikir logis dan yang kukuh mencari pola).

Bagaimana mungkin orang dapat membuat reading tentang
suatu buku yang tertutup rapat bahwa isinya mengenai
topik tertentu, dengan pesan moral tertentu, ditulis
dengan cara sequential atau tematik, teoretical atau
practical, ditulis oleh gender tertentu, berbahasa
tertentu, dan berasal dari negara tertentu dengan
tingkat akurasi yang hampir total?  Atau membuat
reading seorang pemilik HP tertentu bahwa ia kurang
tidur karena memiliki hobby menonton sepak bola? Apa
hubungan logisnya - coba - antara HP anonim dan hobby
sepak bola? Tidak ada bukan? Tidak ada kalau... !
Yaitu kalau dianalisis menurut pola pikir “logical
intelligence” bukan?


        Apakah ini hanya suatu “lucky guess”
semata-mata ataukah terdapat semacam “rationale” di
balik semuanya itu? Demikian pula bila kita membahas
teori peramalan kepada seseorang maka diperlukan masa
pelatihan yang berbulan-bulan atau mungkin
bertahun-tahun. Tetapi bagaimana mungkin dalam seminar
sesingkat ini seorang dapat meramalkan seseorang
secara instant hanya melalui media memotong-motong
sebuah oyong atau beruru? Setiap mengerat seiris oyong
ia mulai berbicara, mengerat lagi untuk menjawab
pertanyaan berikutnya, begitu seterusnya, dan semuanya
itu dengan tingkat akurasi yang menakjubkan?

Media apapun yang dipakai sebenarnya tidaklah penting
karena dengan kartu ceki pun dapat dibuat reading yang
sama. “A medium is just a medium” dan hanya merupakan
prasyarat suatu “trigger” untuk mengacaukan (fuzzy
logic) suatu “medan ignorance’ (yang tanpa pola) yang
ada.   


        Kalau anda dihadapkan dengan masalah orang
lain dan diminta petunjuk untuk mencari solusi bagi
masalahnya, bukankah sebenarnya anda “tidak tahu
apa-apa” (ignorant) tentang orang itu apalagi
masalahnya? Maka “medan ignorance” itu harus
dipecahkan terlebih dahulu, antara lain dengan
memancing “memory” orang itu dengan “ngomong seadanya”
untuk mendapatkan “afirmasi” ataupun “negasi” orang
tersebut. Negasi dan afirmasi orang tersebut dijadikan
sekeping potongan orisinil “jigsaw puzzle” yang dari
padanya kemudian dapat direkrut seluruh gambaran
gestalt permasalahan dan solusinya.


        Saya pikir salah satu asumsi dasar di sini
antara lain ialah bahwa semua manusia (peserta)
sama-sama memiliki “intuitive intelligence” yang
mungkin belum pernah diolah dan dipakai “secara
sengaja” karena yang namanya intuisi biasanya dianggap
hal yang tidak disengaja. Mereka yang terbiasa dengan
“disiplin ilmu” atau “logical intelligence” akan
merasa shock berat menghadapi kenyataan bahwa sesuatu
yang tampaknya tanpa disiplin ilmiah, tanpa metodik
yang jelas, tanpa pemaparan teoretical panjang lebar,
terbukti secara empirik dapat mendatangkan hasil yang
di luar dugaan dengan cara yang demikian sederhana.
Pertanyaan yang mungkin terus mengiang di benak mereka
ialah: “ Kok bisa sih? Kok bisa hanya dengan cara yang
begitu saja?”  Hal ini akan terus berlanjut sampai ia
mampu “berdamai” (reconcile) dengan dirinya sendiri
bahwa “logical intelligence” bukanlah “the whole
truth” di dunia ini.  Dan bahwa “the logical
intelligence” itu barulah merupakan “the tip of the
iceberg” di mana gunung es yang sesungguhnya itu (dan
luar biasa besar massanya) adalah justru “alam bawah
sadar” kita yang tidak mungkin diakses melalui
“logical intelligence” kita.  Mengapa kok sampai tidak
bisa? Jelas sekali karena tingkat kesadaran kita
(level of awareness)  pada saat mengolah “logical
intelleigence” ialah pada “beta
awareness/consciousness” di mana otak kita
mengeluarkan gelombang-gelombang dengan “pola beta”
yang berfrekuensi tinggi (> 20cps). Sedangkan
“intuitive intelligence” bekerja pada level gelombang
yang lebih rendah seperti pada “pola alpha” (< 12cps)
dan lebih-lebih lagi pada “pola theta” (< 8cps). Namun
bagi orang-orang (yang dilabel) indigo – seperti
Vincent – mereka  memiliki pola yang integrated, yaitu
semua jenis gelombang itu hadir dalam otak mereka
secara serempak.

Pada TM course – Transcendental Meditation – yang
dilatih itu terutama “pola alpha” yang kemudian pada
TM-Sidhi yang dilatih ialah “pola theta” tetapi tidak
pernah dijabarkan secara langsung, jelas dan sengaja.
Pada “Silva Mind Control” lebih jelas, terstruktur dan
langsung namun juga tetap sama saja karena tidak
menjamin hasil yang terukur dan kontinyu.


        Saya sendiri setelah mengikuti seminar ini
merasakan suatu simptom “pusing kepala” yang aneh.
Menurut Vincent hampir semua peserta pasti akan
mengalami pusing kepala semacam ini karena memang dia
sengaja melakukan “pineal reprogramming” terhadap para
peserta dengan cara membuat “dekonstruksi” semua
memori yang lama dan membuat “konstruksi” (install)
corak-memori yang baru. Hasilnya akan mulai bekerja
setelah “pusing kepala’ itu sendiri menghilang.
Kemudian masing-masing akan mulai mencoba membuat
konstruksi teoretikal dari pada yang dialami dan
diperoleh melalui seminar amburadul tersebut. Saya
yakin semua peserta akan ingin mengikuti seminar
lanjutan yang akan membahas masalah “proses” yang
terjadi dan kemudian diikuti masalah “teknik memainkan
variabel-variabel” yang akan membebaskan orang dari
kebiasaan “copy-paste” pendapat-pendapat ahli lain
sebagai dasar untuk sintesis pendapat sendiri tanpa
kemampuan untuk membuat konstruksi sendiri yang
benar-benar genuine, yang dalam dunia metafisis
disebut “ilmu laduni”.


        Pikiran bisnis saya mulai bekerja. Bagaimana
kalau para alumni seminar ini bersama-sama mendirikan
semacam Biro Konsultasi segala bidang, termasuk caucus
untuk memilih Presiden periode 2009 – 2014 dan
kandidat Menteri untuk negeri tercinta ini sehingga
tidak terus menerus amburadul seperti sekarang ini. Ha
ha ha ... ada ada saja.


        Mang Iyus
(Drs. Juswan Setyawan)
Jakarta, Senin, 24 April 2006




Bilamana anda / teman anda berminat mengikuti acara
sejenis di masa mendatang atau ingin mengundang
Vincent Liong untuk mengadakan acara sejenis di tempat
yang anda sediakan, silahkan langsung menghubungi
Vincent Liong. Biaya (untuk menyewa Vincent Liong)
akomodasi, dan lain-lain dapat dinegosiasikan
sebelumnya dengan Vincent Liong sendiri.

CDMA :  021-7000-6775
Phone&Fax :  021-5482193, 5348567, 5348546
Address :  Jl. Ametis IV G/22 Permata Hijau, Jakarta
Selatan 12210 - Indonesia.
e-mail: <[EMAIL PROTECTED]>
(Note: Mengirim email, harap mengisi bagian subject
email agar tidak masuk ke bulk mail.)

Anda diundang untuk bergabung dalam diskusi di;
Maillist VCL / Vincent Liong :
<[EMAIL PROTECTED]>
Maillist Psikologi Transformatif :
<[EMAIL PROTECTED]>
Messages Link:
<http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/messages/>
Messages Link:
<http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/messages/>


Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com


posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di http://psikologi.net
----------------------------------------




SPONSORED LINKS
Bali indonesia Indonesia hotel


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke