Pengenalan Komunikasi Empati
(untuk Fakultas Kedokteran)

Ditulis oleh: Drs. Juswan Setyawan <[EMAIL PROTECTED]>


Pendahuluan

Dua kata terlibat dalam topik kita di sini. Yaitu kata
Komunikasi dan Empati.

Komunikasi ialah penyampaian atau pertukaran pikiran,
pesan, atau informasi seperti melalui pembicaraan,
tulisan ataupun perilaku antara dua atau lebih
manusia.
Komunikasi dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan
atau proses memberikan dan menggali informasi dari
orang lain atau mahluk hidup lain dengan memakai
sinyal-sinyal seperti pembicaraan, gerakan dan isyarat
tubuh atau sinyal-sinyal suara [1].
Atau, komunikasi adalah “suatu tindakan di mana
seseorang memberikan atau menerima dari orang lain
informasi tentang kebutuhan, keinginan, persepsi,
pengetahuan atau kondisi afektif. Komunikasi dapat
bersifat sengaja maupun tidak disengaja, dapat
menyangkut sinyal-sinyal kovensional maupun tidak
konvensional, dan dapat terjadi lewat modus lisan
maupun lain-lainnya”.[2]

Empati adalah “suatu kualitas atau proses memasuki
secara penuh melalui imaginasi ke dalam
perasaan-perasaan atau motif-motif orang lain”. [3]
Istilah empati diperkenalkan pertama kalinya oleh
seorang psikolog Jerman bernama Theodore Lipps,
sekitar tahun 1880-an dalam istilah “einfuhlung” atau
‘in-feeling” yang menjabarkan apresiasi emosional
terhadap perasaan-perasaan orang lain.[4]

Maka Komunikasi Empati ialah pengetahuan tentang
cara-cara untuk memperoleh atau menyerap informasi
dari orang lain tentang kebutuhan, keinginan,
pemahaman, pengetahuan, dan kondisi afektif yang
tersimpan dalam “memori kolektif” dari orang tersebut
baik secara disengaja maupun tidak, baik yang mencakup
simbol-simbol yang telah disepakati maupun belum, baik
dalam bentuk bahasa biasa maupun para-bahasa [5], dan
yang mungkin terjadi melalui sarana wacana vokal
maupun sarana lain-lainnya yang bersifat non-vokal.


Manfaat Komunikasi Empati Dalam Bidang Medis

Apakah Komunikasi Empati mempunyai sesuatu manfaat
bagi dunia kedokteran?
Dalam setiap hubungan interpersonal terjadilah
komunikasi. Ada corak komunikasi yang efektif tetapi
ada pula komunikasi yang sama sekali tidak produktif
apalagi kondusif.

Di masa lampau – atau mungkin sebagian masih berlaku
sampai sekarang juga - ilmu pengobatan allopatik dalam
penanganan suatu kasus penyakit terdapat pola pikir
“Find it and fix it.” Yaitu pada tahap prognosis
mengamati simtom-simtomnya dan kemudian memikirkan
metode penanganannya. Secara keseluruhan  agak mirip
dengan pekerjaan seorang montir elektronik. Padahal
yang dihadapi para dokter ialah manusia yang memiliki
tiga matra dalam jatidirinya yaitu matra fisik,
kejiwaan dan spiritual.

Untuk penanganan penyakit-penyakit yang jelas-jelas
bersifat fisikal tentunya tidak memerlukan Komunikasi
Empati. Kalau kaki pasien patah yang diperlukan
pertama-tama ialah selembar foto rontgen dan kemudian
diperlukan bilah supaya kaki itu dapat disalut gipsum.

Untuk mules-mules saja sudah diperlukan informasi
tambahan tentang kondisi psikologis pasien. Mungkin
saja benar hal itu hanya akibat kontaminasi bakteri E.
Coli biasa atau gejala flatulensi biasa akibat
ekskresi getah lambung berlebihan karena kerap makan
terlambat. Tetapi mungkin saja ada sebab kejiwaan,
misalnya karena stress menghadapi suatu persoalan yang
pelik dan belum lagi terpikirkan bagaimana cara
pemecahannya.

Pernah ada kisah tentang pasien yaitu seorang nenek
tua yang semua jari-jari tangannya selalu dalam
keadaan mencengkeram kaku dan tidak kunjung
tersembuhkan. Lewat konseling yang intensif diketahui
bahwa nenek itu sangat membenci menantunya dan
menganggap dia itu ingin merebut semua hartanya. Ia
sama sekali tidak rela hartanya jatuh ke tangan
menantunya itu. Kebencian itu telah merasuk jauh ke
dalam hatinya. Kemudian nenek itu secara perlahan
dapat diyakinkan tentang pentingnya nilai pengampunan
serta nilai keterbukaan untuk dapat menerima manusia
lain sebagaimana adanya. Juga nilai kepasrahan untuk
menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan sesuai
agama yang diyakininya. Akhirnya, quasi carpal
syndrome itu sembuh dengan sendirinya dan nenek itu
menjadi seorang penderma yang sangat murah hati dan
selanjutnya memiliki muka yang penuh senyum.

Dalam wawancara singkat antara dokter dengan pasien di
ruang praktek tidak mungkin seorang dokter melalui
tanya jawab biasa untuk menemukan akar masalah
kejiwaan dan kerohanian yang mendalam seperti itu yang
menjadi akar masalah penyakitnya.  Justru dalam hal
seperti ini dan dalam waktu sesingkat itulah
Komunikasi Empati dapat sangat bermanfaat bagi para
dokter untuk menggali sedalam-dalamnya semua informasi
yang dibutuhkan dari memori para pasiennya.

Tiga hal yang patut dipertimbangkan ialah:

1. Pemberian pelayanan yang lebih sesuai kepada para
pasien.
2. Mengurangi risiko tuntutan mal-praktek karena
kesalahan diagnose.
3. Meningkatkan kepuasan batin bagi kedua belah pihak.


Pembelajaran Komunikasi Empati

Masalahnya kini ialah apakah ketrampilan – kalau belum
dapat disebut bagian dari pada ilmu pengetahuan resmi
– Komunikasi Empati itu dapat dipelajari secara
klasikal?
Tentu saja ketrampilan Komunikasi Empati ini dapat
dipelajari oleh semua orang karena pada dasarnya semua
orang telah mempraktekkannya secara tidak sadar sejak
masa kecilnya.

Bagaimana seorang bayi dan balita berkomunikasi dengan
ibunya padahal ia belum menguasai bahasa apapun
kecuali bahasa isyarat dan yang terpenting kemampuan
untuk membaca dan menginterpretasi “bahasa air muka
ibunya”. 
Bagaimana pula seorang bayi mampu mendeteksi kehadiran
“orang yang jahat” di sekitarnya yang dapat
membahayakan nyawa diri dan ibunya dan memberikan
“early warning” lewat para-bahasa satu-satunya yang
dikenalnya yaitu dengan cara menangis
sekeras-kerasnya? Bayi memiliki “kecerdasan intuitif”
yang berada pada domain otak hemisfir kanan sementara
kecerdasan analitis dari otak kirinya sama sekali
masih belum berkembang.

Dengan masuknya anak-anak pasca-balita ke dalam sistem
pendidikan formal - yang secara berat sebelah sangat
menekankan pentingnya “kecerdasan intelektual”, maka
kemampuan “kecerdasan intuitif” anak semakin ditekan
dan dianggap “kurang ilmiah” – itupun hanya karena
belum dapat dijelaskan secara memadai oleh dunia ilmu
pengetahuan.  Bersamaan dengan itu terdapat gejala
umum fakta menciutnya kelenjar pineal pada otak anak
sehingga “kecerdasan spiritual”-nya juga secara
bertahap mulai menghilang. Ia tidak dapat lagi
“melihat” kawan-kawannya yang nir-wujud yang selama
ini dapat diajaknya “berbicara dan bermain-main” di
mana oleh dan dalam dunia orang dewasa kemampuan
“indra keenam” yang nyata itu hanya dianggap sebagai
suatu bentuk halusinasi, atau secara umum sebagai daya
khayal  dan imaginasi anak-anak belaka.

Komunikasi Empati melatih kembali orang dewasa untuk
memanfaatkan “kecerdasan intuitive”nya untuk
dimanfaatkan secara optimal bagi kepentingan dalam
berbagai bidang profesinya masing-masing di mana
selalu terdapat kebutuhan akan suatu komunikasi
interpersonal dengan orang lain.


Sukarkah Mempelajari Komunikasi Empati?

Melatih ketrampilan Komunikasi Empati itu dapat
dikatakan mudah tetapi sekaligus dapat juga dikatakan
rumit. Intinya, komunikasi Empati tidak dapat
dipelajari seperti mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan
eksakta atau humaniora lainnya yang menekankan
dominansi fungsi “kecerdasan intelektual”.
Dikatakan mudah karena ketrampilan ini lebih mudah
dipelajari oleh anak-anak karena mereka memiliki
semangat avonturir, spontanitas, sikap relaks, sikap
berani salah dan berani malu, karena di sini tidak
diperlukan ketajaman otak untuk menganalisis dan
mengajukan bermacam-macam pertanyaan yang rumit.
“Mengapa begini?” “Apa dasar metodiknya?” “Bagaimana
validitas jawabannya?” “Bagaimana proses terjadinya?”
“Apakah hasilnya standar dan terukur?” “Apakah
prosesnya repeatable dan hasilnya homogen? Semua
pertanyaan tersebut timbul dari disiplin ilmu yang
mengandalkan “kecerdasan intelektual”.

Selama para peminat tidak mampu melakukan “switching”
dominansi otaknya dari hemisfir kiri ke hemisfir
kanan, maka ia selalu akan gagal mempraktekkan
Komunikasi Empati. Just that simple ! Pertanyaan
selanjutnya kemudian ialah:  Bagaimana caranya
melakukan aktivasi dominansi otak hemisfir kanan
supaya “intuitive intelligence” seseorang dapat mulai
beroperasi? 
Tekniknya tidak akan dibahas dalam session ini namun
pada dasarnya ialah dengan cara melakuklan apa yang
dinamakan “proses de-konsentrasi” secukupnya selama
beberapa menit.


James T. Hardee MD. memberikan beberapa petunjuk untuk
meningkatkan empati dokter kepada para pasien. Dalam
Komunikasi Empati hal-hal itu dapat diperhatikan dan
tentu akan sangat bermanfaat namun bukan merupakan
syarat bagi keberhasilannya.

Langkah-langkah kunci yang disarankannya mencakup
hal-hal seperti:
1.  Mengakui adanya perasaan-perasaan kuat dalam
situasi klinis bagi pasien seperti rasa takut, marah
terpendam, kesedihan, kekecewaan dsb.
2.  Berhenti sejenak dan membayangkan apa yang sedang
diraskan oleh pasien yang bersangkutan.
3. Mengekspresikan persepsi doktervtentang perasaan
pasien tersebut (Misalnya, “Saya dapat membayangkan
bahwa anda...”  atau “sepertinya anda merasa kesal
tentang ...”)
4. Melegitimasi perasaan-perasaan tersebut.
5. Menghargai usaha-usaha pasien untuk bekerjasama
dalam proses pengobatan.
6. Menawarkan suatu dukungan atau kerjasama (Misalnya:
“Saya janji untuk memberikan kerjasama yang
sebaik-baiknya...” atau  ‘Mari kita lihat apa yang
dapat kita lakukan bersama untuk mengatasi hal ini
...”) [6]


Kesimpulan Dan Penutup

Komunikasi Empati dapat menjadi alat yang sangat
bermanfaat, efektif dan efisien serta tidak kentara
sebagai alat komunikasi antara dokter dengan pasien
dalam suatu wawancara medis maupun sepanjang masa
pengobatan.

Komunikasi Empati melampaui semua hal-hal yang mungkin
dijangkau oleh wawancara biasa karena sistem ini dapat
mendalami aspek nilai-nilai, pendapat pribadi,
motivasi, kondisi kejiwaan serta perasaan-perasaan
pasien yang mungkin segan atau tidak mungkin
diungkapkannya secara sadar dan terbuka kepada
dokternya.

Hasil-hasil dan manfaat nyata dari pada Komunikasi
Empati dapat dinikmati secara bersama baik oleh pihak
dokter maupun para pasien mereka. Dan apabila hal
tersebut berlangsung pada suatu Rumah Sakit tertentu
maka akan dapat mendatangkan manfaat sampingan juga
bagi nama baik dan keuntungan nyata bagi Rumah Sakit
yang bersangkutan. 

Dengan demikian pasien bukan lagi hanya sekedar nomor
urut senata-mata, atau suatu obyek ekonomi, melainkan
adalah manusia seutuhnya yang sedang menghadapi
masalah gangguan kesehatan tetapi yang dapat dipahami
secara lebih menyeluruh dan dapat diperlakukan secara
lebih manusiawi.


      Mang Iyus
(Drs. Juswan Setyawan)
Jakarta, Selasa, 18 Juli 2006

(Note: Tulisan ini dibuat untuk dipresentasikan pada
pertemuan awal dengan ahli-ahli dari sebuah fakultas
kedokteran swasta di Jakarta pada hari Jumat, 21 Juli
2006, dengan tujuan memperkenalkan Komunikasi Empati
untuk dipertimbangkan sebagai matakuliah resmi di
kurikulum baru fakultas Kedokteran yang Based Learning
Curicullum yang mulai diberlakukan untuk mahasiswa
baru fakultas Kedokteran, Agustus 2007.)   


Rujukan:

[1] Definition of communication, in Collins Cobuild
English Language Dictionary
[2] Julia Scherba de Valenzuela, Ph.D.
http://www.unm.edu/~devalenz/handouts/defcomm.html
[3] Azriel Winnett, Empathy in Communication,
http://www.selfgrowth.com/articles/winnett2.html
[4] An Overview of Empathy, James T. Hardee, MD; the
University of New Mexico 
The Permanente Journal/ Fall 2003/ Volume 7 No. 4
[5] Parabahasa ialah nada, irama, cengkok dari suara
yang diucapkan dalam penyampaian pesan yang sekaligus
merupakan pelengkap daripada kualitas suara. Cfr.
“Non-verbal Communication”,
http://www.zeromillion.com/business/management/non-verbal-communication.html
[6] An Overview of Empathy, ibid.


====================================================


Undangan Bergabung di maillist
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED] 


Netters,

Telah dibentuk milis baru dengan nama
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED] 
e-link:
<http://groups.google.com/group/komunikasi_empati/about>

<http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati>

Tujuan pembentukannya ialah sebagai wadah untuk
berdiskusi segala aspek yang berhubungan dengan
Komunikasi Empati. Kami yakin bahwa bidang
spesialisasi baru dalam Ilmu Komunikasi ini akan
menjadi ‘trend setter’ untuk masa-masa dekade yang
akan datang karena manusia pada dasarnya ingin
diperlakukan sebagai manusia dan bukan sebagai
pesakitan atau nomor belaka. Segala bidang ilmu
humaniora yang berhubungan dengan manusia akan
dipengaruhi oleh logika dan komunikasi empati ini.
Kami yakin benar akan hal itu.

Milis baru ini adalah milis yang serius dan mengundang
para pemerhati dan peminat yang serius pula untuk
bersama-sama mengamati, mempelajari, mencermati,
mengasuh serta mengembangkan bayi yang namanya
Komunikasi Empati ini. Walaupun milis ini bersifat
unmoderated dan terbuka untuk oublik namun hanya
tulisan-tulisan yang berhubungan dengan bidang
Komunikasi Empati yang akan ditayangkan. Tulisan yang
bersifat ‘out of context’ akan diabaikan. Hal ini
dimaklumkan di muka untuk mencegah salah pengertian
yang tidak perlu yang mungkin dapat timbul di kemudian
hari.

Terima kasih atas perhatian dan tanggapan positif
kawan-kawan. Selamat datang di rumah kita yang baru.

ttd,
Moderator,

Juswan Setyawan




Sekilas Sejarah Komunikasi Empati
 
Dua bulan yang lalu saya sama sekali tidak tahu menahu
seluk beluk apapun tentang Komunikasi Empati.
Segalanya dimulai setelah saya mengikuti Seminar
dengan Vincent Liong sebagai pembicara tunggal tetapi
yang dibantu oleh rekan setianya Leonardo Rimba
berjudul “Logika dan Komunikasi Empati”. Seminar
setengah hari itu diadakan di ruangan kuliah pasca
sarjana Universitas Sahid.
 
Konsep komunikasi saya tahu, Empati saya juga tahu.
Tetapi bila kedua kata itu disambung jadi satu maka
konsep saya mengenai hal baru itu ternyata belum ada.
Kemudian saya diajak – bahkan sedikit ditantang - oleh
Vincent Liong untuk menulis sesuatu tentang Komunikasi
Empati tersebut. Saya bingung juga harus mulai dari
mana dan membahas soal apa? Memori saya tentang
Komunikasi Empati masih vacum – kosong blong - dan
saya harus mulai mengerahkan segenap energi batin saya
untuk memulai proyek idealis ini.
 
Saya berdiskusi dengan Vincent tentang bagaimana harus
mulai. Saya terpikir akan Kitab Kejadian di mana
dikatakan “bumi belum berbentuk dan kosong: gelap
gulita menutupi samudera raya, dan roh Allah
melayang-layang di atas permukaan air...”
Dari situ saya menarik kesimpulan bahwa segala sesuatu
apapun rupanya dimulai dari “kekosongan” yang tanpa
bentuk dan tanpa wujud dan yang chaos. “In principium
erat verbum...” Pada mulanya adalah kata-kata... atau
logos. Semuanya masih gelap gulita artinya tidak ada
petunjuk apapun, tidak ada titik terang sedikitpun
yang dapat dijadikan pedoman. Kegelapan itu sifatnya
tak terbatas, ibaratnya samudera raya yang entah di
mana ujung pesisirnya karena tidak tampak dalam
kegelapan itu. Roh Allah melayang-layang di atas
permukaan air...  yang melayang-layang itu tentunya
adalah “elemen angin”. Anginlah yang akan membawa
kata-kata seperti angin pula yang menerbangkan
daun-daun ke mana-mana.  Maka dari itu kami sepakat
bahwa Komunikasi Empati harus dimulai dengan
menorehkan kata-kata pada Kitab Angin.  Tidak mungkin
kami mulai dengan Kitab Tanah seperti ilmu-ilmu yang
sudah mapan - berikut institusi-institusinya yang
sudah mengkristal dan tidak sedikit yang sudah membatu
bahkan merapuh seperti bangunan kuno; ilmu yang sudah
memiliki fundamen yang kokoh bagi sosok bangunannya
dan bagi perluasan ruangan-ruangannya.
 
Secara berkala kami terus berkomunikasi dan
berdiskusi. Begitu ada ide langsung ditangkap dan
dituangkan dalam tulisan dan dikirimkan ke milis.
Kadang-kadang dalam satu hari dapat ditulis lebih dari
satu artikel sesuai dengan deras lambatnya arus
inspirasi yang masuk. Maka dari itu tulisan-tulisan
tersebut tidak menunjukkan adanya sekuens yang pasti.
Kadang-kadang timbul ide tentang empati dan di lain
waktu tentang dekonstruksi dan sebagainya. Perhatikan
saja tanggal yang tertulis di bawah setiap posting
yang tidak urut dengan sistematika pasal-pasalnya. Ada
tulisan yang sangat belakangan tetapi “terpaksa”
diposisikan pada bagian awal buku tersebut.  Maka
terjadilah semacam “growing e-book’ yang setiap saat
muncul ranting yang baru pada pokoknya entah di
sebelah sisi yang menghadap ke mana.
 
Namun, akhirnya kami merasa apa yang tertulis sudahlah
cukup. Elaborasinya akan dilanjutkan dalam Kitab Tanah
yang lebih berbobot, medalam dan dilengkapi
kepustakaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Lain
halnya dengan Kitab Angin yang berfungsi sebagai semi
entertaining sehingga ditulis secara naratif dalam
bahasa pop. Sementara itu Kitab Api juga sedang
ditulis. Artikel-asrtikelnya bersifat panas membakar.
Melakukan bermacam-macam dekonstruksi. Baik tentang
institusi dan fungsi ilmu psikologi, termasuk perilaku
pakarnya; tentang Oedipus Complex; tentang post-V;
tentang legenda dan mithos Nabi Musa;  terakhir baru
sampai V-Abject...
 
Sesuatu yang terasa sangat ketinggalan ialah Kitab
Air.  Tetapi kita semua sama-sama dapat memakluminya.
Memang sudah sifat “elemen air” untuk “menunggu dengan
sabar” sampai saat yang tepat untuk menimbulkan
“gelombang tsunami” atau “banjir bandang”.
 
Jakarta, 28 Juni 2006.
Mang Iyus


Silahkan bergaung juga pada beberapa maillist kami
yang lain diantaranya:
* [EMAIL PROTECTED], 
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/join 
* [EMAIL PROTECTED], 
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/join
 


Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/wf.olB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di 
http://psikologi.net
---------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/psikologi_net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke