Praksis Kompatiologi Terhadap Problem Kehidupan
Manusia
e-link:
<http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/16618>

Ditulis oleh: Drs. Juswan Setyawan <[EMAIL PROTECTED]>


        Seperti ilmu-ilmu sosial lainnya Kompatiologi
mempelajari manusia dalam hubungannya dengan manusia
yang lain. Kompatiologi memang menyoroti relasi antar
manusia namun tidak menempatkan orang lain sebagai
“obyek penyelidikan” dengan paradigma “I’m OK - You
are not OK”. Kompatiologi tidak mau memilah-milah
manusia dalam posisi biner hitam atau putih, baik atau
buruk, berperilaku menyimpang atau normal dan semacam
itu.
 
        Kompatiologi berpandangan bahwa setiap orang
memang selalu dalam keadaan menghadapi problem hidup –
baik besar atau kecil, rumit atau sederhana - dan
mereka menginginkan agar bagi problemnya itu dapat
diketemukan suatu solusi yang tuntas. Sayangnya, tidak
semua orang mampu mengidentifikasi untuk kemudian
merumuskan apa sebenarnya problem yang sedang
dihadapinya. Bahkan kerap kali orang merasa tidak
mempunyai problem sama sekali karena segala sesuatunya
tampak berjalan seperti biasa biasa saja. Untuk itulah
Kompatiologi menawarkan kemungkinan untuk menyelam dan
menemukan akar dari problem yang mereka hadapi itu
jauh di dalam pikiran, perasaan, maupun bawah sadar
mereka. 
 
        Walaupun demikian tetap saja setiap manusia
memiliki kecemasan-kecemasan tertentu,
ketakutan-ketakutan, harapan-harapan dan
keinginan-keinginan yang belum atau tidak terpenuhi.
Kecemasan seorang ibu tentang bagaimana jodoh bagi
anak gadisnya. Kekuatiran seorang ayah akan masa depan
atau karir anaknya. Atau bahkan kekuatirannya sendiri
tentang hari tuanya sendiri. Kecemasan seorang jomblo
tentang kesepian kesendiriannya yang mencekik perasaan
dan ketidakberdayaannya yang tanpa pendamping dalam
menjalani hari-harinya. Kecemasan seorang pasien yang
harus menghadapi operasi berat sementara belum
mempunyai gambaran sama sekali tentang sumber
pembiayaannya. Kecemasan orang tua akan nasib
anak-anaknya setelah ia meninggalkan dunia ini.
 
        Kecemasan semacam itu bukan hanya terdapat
pada seorang yang tidak beriman. Kerap kali kita
menyaksikan bahwa mereka yang dari luar tampaknya taat
beragamapun juga mengalami kecemasan-kecemasan seperti
itu. Akibatnya, orang bertanya-tanya apakah orang
semacam itu hanya memiliki iman di kepalanya (fides
intelectualis) saja namun sesungguhnya tidak memiliki
iman di dalam hatinya apalagi sampai berbuah (fides in
actu). Pada menjelang akhir hidupnya bukan tidak
mungkin seorang rohaniwanpun mencemaskan nasib pada
pasca kematiannya. Apakah surga itu memang ada atau
hanya sebagai utopia? Bagaimana seandainya surga itu
ternyata memang tidak ada sehingga kehidupannya yang
“keras” sepanjang hidupnya itu hanyalah merupakan
suatu “pengorbanan” yang terasa sia-sia?
 
        Kompatiologi bukan menyoroti perilaku
eksternal manusia dengan paradigma apakah kelakuan itu
sifatnya normal atau menyimpang atau memikirkan
cara-cara untuk mengoreksi penyimpangan tersebut.
Kompatiologi juga tidak menyoroti perilaku internal
manusia tentang motivasi apa yang menyebabkan suatu
peyimpangan perilaku. Kompatiologi menerima setiap
perbuatan sebagaimana apa adanya sekalipun mungkin
dipandang sebagai suatu penyimpangan oleh masyarakat.
Kompatiologi justru menyusup ke dalam bawah sadar
manusia untuk melihat apa yang orang itu sendiri
katakan secara non-vokal apa yang dihadapinya.
Sekaligus mempelajari cara bagaimana orang itu sendiri
ingin agar persoalannya dapat dan mau diatasi menurut
“ipsus genius”-nya sendiri. 
 
        Kompatiologi yakin bahwa setiap manusia pada
umumnya  normal (kecuali yang jelas-jelas gila)
walaupun sebagian terbesar manusia hidup dalam tingkat
“kecerdasan subnormal”.  Bila seorang menderita suatu
penyakit maka kebanyakan pengobatan allopatik hanya
memberikan obat-obat yang “mengoreksi penyimpangan”
yang terjadi secara simptomatik. Memang harus diakui
banyak juga pengobatan yang tidak bersifat mengatasi
simptom melainkan bersifat kausal; seperti pengobatan
dengan antibiotika. Hanya saja karena manusia itu
bersifat kompleks dan trimatra maka kerapkali
genjala-gejala fisikal saja belum memadai dipakai
sebagai dasar untuk therapi yang menyeluruh. Mungkin
saja terdapat sebab-sebab non-fisikal tetapi
psikologis bahkan spiritual. Depresi yang disebabkan
oleh “kekuatiran yang berlebihan” belum tentu
disebabkan oleh tekanan psikologis biasa tetapi
mungkin juga oleh “guilt feeling” karena telah
melakukan suatu perbuatan jahat (dosa) yang terus
disembunyikannya dan yang tidak diketahui oleh seorang
lain manapun; termasuk isteri/suami dan anak-anaknya.
 
        Seorang kompatiolog dapat langsung menyelami
bawah sadar orang itu dan menyatakan bukankah ia telah
menyembunyikan suatu “kesalahan besar” - ini atau itu
- sehingga ia selalu dicekam oleh suatu rasa ketakutan
dan depresi karenanya. Bagi seorang kompatiolog tidak
ada rahasia yang tersembunyi karena ia mampu masuk ke
dalam dan menyerap memori kolektif orang tersebut.
Maka solusi daripada problemnya ialah atau ia akan
menyerahkan diri kepada polisi atau memilih terus saja
hidup dalam ketakutan seumur hidup. Semuanya terserah
kepada dia sendiri karena kompatiolog bukan seorang
reserse kriminal atau detektif rohani melainkan hanya
seorang konselor atau “problem solver”.  Atau kalau
dalam kasus WIL apakah klien mau mengaku kepada
isterinya dan memohon sejuta maaf dari padanya serta
menyerahkan nasib selanjutnya apakah ia masih mau
tetap hidup bersama atau bercerai dengan dia. Tentu
saja kompatiolog dapat serentak menjadi konselor bagi
isterinya tersebut sehingga dapat diketemukan suatu
solusi yang optimal bagi kepentingan bersama.
 
        Kompatiologi tidak mereduksi totalitas
perilaku manusia ke dalam kategori sempit sebagai
perilaku yang menyimpang atau tidak menyimpang, yang
perlu ditanggulangi atau tidak ditanggulangi.
Kompatiologi melakukan approach kepada klien secara
empatik sebagai sesama yang selalu memiliki problema
hidup dan menawarkan solusi-solusi yang sebenarnya
dibaca dan berasal dari pihak klien itu sendiri yang
dia sendiri kurang mampu mengekspresikannya.
 

      Mang Iyus
(Drs. Juswan Setyawan)
Jakarta, Kamis, 27 Juli 2006



Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di 
http://psikologi.net
---------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/psikologi_net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke