KOMPATIOLOGI vs UI
at:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/9164
Ditulis oleh:  FX Ridwan Handoyo HRD Director Lowe
Indonesia

Dear all,
Urun rembug dikit. Marilah kita bersama-sama dengan
kepala dingin mencari jalan keluar yang saling
menguntungkan semua pihak. Hati-hati dengan
"fakta"....karena akan selalu ada "fakta di balik
fakta". Saya berprinsip bahwa adalah hak setiap
individu untuk mengembangkan dirinya, termasuk bila ia
mampu mengembangkan suatu ilmu baru yang berguna bagi
umat manusia. Bila benar ada tindakan penekanan
terhadap Kompatiologi, anggap saja itu sebagai suatu
"hadiah" bahwa Kompatiologi diperhatikan banyak orang.
Ada pepatah: Nabi tidak pernah dihargai di negerinya
sendiri. Bila memang Kompatiologi harus berkembang di
luar Psikologi, buat saya tidak masalah sama sekali
walaupun alangkah indahnya bila Psikologi (dan juga
ilmu-ilmu lainnya) mampu merangkulnya.

Pendapat saya di atas terlepas dari "pengakuan" apakah
Kompatiologi itu sudah pantas dianggap sebagai suatu
ilmu ataukah belum. Saya tidak ingin masuk ke ranah
itu karena saya merasa bukan ahlinya untuk menilai
sesuatu itu pantas disebut sebagai ilmu atau tidak.
Saya sekedar menggunakan istilah itu sekedar karena
istilah itulah yang disebut-sebut di milist.

Pada akhirnya buat saya pribadi, apapun juga namanya
dan apakah itu ilmu atau bukan, yang penting adalah
bagaimana sesuatu itu dapat menunjukkan manfaatnya
bagi umat manusia. Bila memang tidak bermanfaat, ia
akan mati sendiri kok...gak perlu ditekan-tekan
apalagi sampai harus ada fatwa :-)

Masih banyak masalah di dunia ini yang belum dapat
dijelaskan dengan ilmu-ilmu yang ada sehingga setiap
usaha menyibak misteri dunia dan kehidupan manusia
seharusnya dihargai dengan selayaknya. Minggu lalu
saya menonton di TV Swasta tayangan mengenai
kesurupan, lalu di channel lain menanyangkan mengenai
clairvoyance/cenayang. Apakah Psikologi dapat
menguraikan kejadian-kejadian tersebut dengan sangat
ilmiah? Kok setahu saya belum yah...malah masih kuat
kecenderungan kaum akademisi yang "alergi" dengan
ranah itu dan menaruhnya dalam satu penjara tanpa
pintu dan jendela berlabel "paranormal/parapsikologi".
"Para" artinya "beyond"....jadi paranormal = beyond
normal. Bahkan Kamus Merriam Webster menjabarkannya
sebagai: "not scientifically explainable". Apakah
istilah ini sendiri bukannya menunjukkan posisi lemah
Psikologi sebagai ilmu? Hal ini seperti menyatakan
bahwa: wah kalau sudah 'beyond normal' ya itu tidak
bisa kita jelaskan lagi secara ilmiah'. Jadi psikologi
hanya untuk membahas hal-hal yang 'normal' hanya
karena secara statistik katanya 'normal' selalu lebih
banyak kuantitasnya daripada yang tidak normal dan
paling banter masuk ke ranah "abnormal" (yang
terjemahan bebasnya berarti 'menyimpang dari normal').
Padahal gejala-gejala paranormal itu adalah
gejala-gejala yang ada di sekitar kita...dan dilakukan
oleh manusia-manusia yang juga bernafas, berdarah,
makan dan minum seperti manusia lainnya. Lalu bila ada
klaim bahwa Kompatiologi bisa menjelaskan
gejala-gejala tersebut lalu otomatis Kompatiologi
dikotakkan sebagai "ilmu dukun"? Apa tidak terbalik
yah cara analisanya?

Seringkali, suatu sudut pandang baru diperlukan bahkan
untuk dapat menjawab suatu gejala yang tampaknya
secara sepintas "sederhana". Saya baru saja mulai
membaca buku Freakonomics karya Steven D. Levitt dan
Stephen J. Dubner (edisi bahasa Indonesia terbitan
Gramedia). Menurut saya, buku ini bukan buku
ekonomi....buku ini lebih banyak mengajarkan mengenai
bagaimana kita melihat sesuatu dengan sisi pandang
yang berbeda dengan mengolah fakta-fakta yang ada.
Salah satu contoh yang menarik dari buku itu adalah
bagaimana si pengarang (tokoh sentralnya adalah Steven
D. Levitt) dapat mengungkapkan penurunan tingkat
kriminalitas di USA.

Pada tahun 1995 ada ramalan dari ahli hukum dan
kriminolog yang mengkuatirkan bahwa tingkat
kriminalitas di USA akan terus meningkat dengan
drastis. Ternyata dalam waktu 5 tahun ke depan,
kriminalitas menurun drastis. Para ahli bingung dan
lalu buru-buru mencari alasannya yang sepintas sangat
normal dan logis; seperti: meningkatnya
gaji/kesejahteraan polisi, makin kerasnya/tegasnya
hukum, meningkatnya kesejahteraan masyarakat dsb. Tapi
Steven menemukan bahwa dasar penurunan itu harus
ditarik pada 20 tahun sebelumnya; yaitu tahun 1970-an
dimana saat itulah kasus legalisasi aborsi meledak di
USA. Steven dengan sangat sederhana menjelaskan bahwa
legalisasi aborsi di beberapa negara bagian Amerika
telah mengakibatkan "calon-calon penjahat" tidak
dilahirkan. Dari sudut pandang psikologis, akan
sangatlah mudah dipahami bahwa anak-anak yang lahir di
luar kehendak orang-tuanya akan cenderung mengalami
masa kanak-kanak yang sulit dan berpotensi lebih besar
menjadi deliquent children; apalagi dalam lingkungan
rural dan urban-rural (semi urban/rural). Dengan makin
kurangnya kesempatan orang tua mendapatkan anak-anak
yang tidak dikehendakinya, maka anak-anak yang lahir
mendapatkan perhatian yang lebih layak dan 'sisanya'
sudah hilang karena aborsi. Inilah contoh "fakta di
balik fakta".

Semoga manusia terus menjalani safarinya mencari
fakta-fakta lebih jauh lagi dan tidak terjebak dalam
comfort-zone....apalagi bila lalu comfort-zone itu di
beri label ilmu, pakem, universitas, jabatan dan
aturan-aturan yang notabene di buat oleh manusia juga.
Seperti salah satu kutipan yang saya coba plesetkan
disini: berterimakasihlah pada orang yang membenci
kamu karena dari dia kamu akan memahami artinya
cinta.....berterimakasihlah pada orang yang melanggar
aturan/pakem karena dari merekalah kita dapat belajar
mengembangkan ilmu-ilmu/pendekatan-pendekatan baru.

Viva Psychology!


Jakarta, Senin, 7 Agustus 2006

FX Ridwan Handoyo
HRD Director
Lowe Indonesia




Re: [psikologi_transformatif] KOMPATIOLOGI vs UI
at:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/9194
Ditulis oleh: David Marpaung salah satu ilmuwan sosial
yang juga mencari nafkah di UI


Salam Kasih.......

Kalau tidak keberatan, perbolehkan saya ikut
berdiskusi mengenai perdebatan kompatiologi. Sebagai
salah satu ilmuwan sosial yang juga mencari nafkah di
UI, saya tidak akan menyalahkan salah satu pihak.
Namun sangatlah mustahil apabila dikatakan tidak
berpihak.

Setelah membaca tulisan Pak Ridwan Handoyo, saya
sangat tersentuh kalau seorang profesional pun
'menyempatkan' diri berdiskusi di ruang ini. Pada
dasarnya ilmu sosial  pasti berubah dan akan menemukan
sesuatu yang baru, sesuai dengan konteks dan kemajuan
peradaban manusia. Saudara Vincent menemukan
pendekatan yang baru untuk membangun cara berpikir
manusia. Dapat dikatakan ilmuwan muda ini menemukan
suatu cara di luar mainstream yang selama ini
berkembang.

Kehadiran sesuatu yang baru, mau tidak mau kan
berpengaruh terhadap sesuatau yang telah ada atau
eksis sebelumnya. Mungkin cara pandang mainstream akan
mendukung atau menolak kompatiologi, akan tetapi pasti
akan ada feedback yang diberikan.  Disini feedback
yang diberikan hendaknya tidak berdasarkan suatu
kepentingan seperti materi, nama besar, kehormatan
atau yang lainnya. Umpan balik dalam wahana mana pun,
saya harapkan murni bertujuan membangun ilmu sosial,
khususnya psikologi.

Saya hanya ingin mengingatkan rekan-rekan di Fakultas
Psiko, bahwa dalam ilmu itu tidak ada kata fatwa atau
dogma. Bukankah teori yang baru itu juga lahir dari
pembaharuan dan revisi teori-teori sebelumnya. Ilmu
sosialjuga  merupakan suatu kebenaran relatif (adakah
yang dapat menyatakan kebalikannya?),. Bila demikian,
mengapa harus ada klaim dan salah. Bukankah validasi
suatu pendekatan atau sudut pandang dapat kita runut
dari metode, serta keseuaian hasil dengan fakta. Dan
apababila ilmu yang baru ini dapat dikatakan 'ngawur',
bukankah akhirnya ia hanya akan ditinggalkan oleh yang
laiinya karena tidak berguna.

Jangan sampai dalam kajian ilmu sosial ada ketetapan
bidah, haram atau aliran sesat. Lingkungan ilmu sosial
harus terbuka bagi siapa saja yang ingin berkembang
dan mau terus belajar.

Untuk Mas Vincent, saya pun pernah dan terus mengalami
hal yang sama dengan anda. Setelah belajar dari
rekan-rekan paradigma kritis (critical theory),
permata yang saya gali juga banyak ditentang para
senior yang kebanyakan sudah berumur matang. Hal itu
cukup dimaklumi karena kebanyakan orang pasti sudah
nyaman dan matang pada usia tertentu. Sehingga sulit
untuk menerima mereka. Pahamilah mereka.......tetapi
jangan menyerah dengan terus gali permata anda.

Teriring salam untuk semua anggota di komunitas ini.


David Marpaung


Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di 
http://psikologi.net
---------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/psikologi_net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke