Miskin Kreativitas Memicu Tindakan Tirani
Ditulis oleh: Juswan Setyawan
 
at:
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/16927


Vincentisme* telah merisaukan beberapa oknum petinggi
di kalangan psikologi di lembaga tertentu. Kerisauan
itu bersumber-pangkal pada diri orangnya, Liong
Vincent Christian,  yang dianggap mempunyai masalah
penyimpangan psikologis, minimal ia telah diberi label
pengidap ADDS. Buktinya, studinya di Aussie dan GMIS
gagal, walaupun kenyataannya kini ia telah menjadi
mahasiswa Fakultas Psikologi Atmajaya.  Bagaimana
mungkin orang yang mempunyai problem kejiwaan seperti
itu diisyukan dapat “menyelewengkan ilmu psikologi”
yang sudah mapan? Itu adalah pertanyaan pertama. 
 
Kedua, dunia psikologi sendiri memiliki demikian
banyak pakar strata dua bahkan tiga sehingga tentunya
pasti mampulah untuk mempertahankan “kemurnian” Ilmu
Psikologi terhadap benturan kecil akibat intrusi
“pikiran abnormal” dari seorang mahasiswa psikologi
cemen dari semester tiga.
 
Pertanyaan ketiga,  jadinya ialah sebenarnya “what to
lose?”  Jangan-jangan ketakutan itu lebih bersifat
phobia, takut “disantet” oleh Vincent Liong yang
mengaku sebagai “doekoen’ modern. Ketakutan ini juga
tak teratasi juga seandainya benar, karena “santet”
sebagai “virus of the mind” type “maccacian influenza”
(Virus MI) menular menurut Hukum Monyet Koshima yang
anomali. Mampukah membentengi diri terhadap serangan
virus MI tsb yang bisa menyusup diam-diam lewat
telepon, tulisan, e-mail, wacana, telepati dsb.?
 
Dari sejak semula vincentisme tidak mau digolongkan ke
dalam substruktur disiplin Ilmu Psikologi, jadi
mengapa justru lembaga Psikologi menjadi ribut
sendiri?  Psikologi itu buta soal mekanisme fisiologis
daripada “kecerdasan intuitif” dan membangun fundasi
ilmunya semata-mata pada “kecerdasan intelektual” otak
kiri.  Psikologi juga buta soal Neurologi otak manusia
beserta fungsi-fungsinya, maka Ilmu Psikiatri lebih
condong kepada Ilmu Kedokteran daripada kepada Ilmu
Psikologi itu sendiri. Lebih mudah bagi seorang Dokter
untuk mempelajari Ilmu Psikologi dibandingkan seorang
Psikolog mempelajari Ilmu Kedokteran. Itu adalah
realitas tak terbantahkan di lapangan dan memang
hampir tidak ada (atau sedikit sekali)  Psikolog yang
meng-up grade diri menjadi seorang Psikiater.
 
Vincentisme juga tidak mau dikelompokkan kepada
kelompok “quasi/pseudo-science” (quackery) karena
kompatiologi membangun kokoh jangkarnya pada Ilmu
Biologi dan Ilmu Neurologi yang tergolong Ilmu
Eksakta. Tetapi kompatiologi juga tidak sepenuhnya
hanya menyerap Ilmu Biologi karena juga bertumpu pada
ilmu-ilmu humaniora lain seperti Ilmu Komunikasi Massa
dan tentunya juga Ilmu Psikologi.
 
Para psikolog yang merasa terganggu “comfort zone” nya
karena munculnya "fenomen vincentisme" itu menunjukkan
gejala paranoid “short of creativity”.  Karena
psikolog suka membuat label bagi orang lain
(psychology for others) maka sebagian kecil kelompok
ini juga dapat diberi label SCD atau “Short Creativity
Syndrome” (psychology for self).  Kreativitas pada
dasarnya adalah bentuk dan output kecerdasan otak
kanan yaitu “creative intelligence.”
 
Apa gejala daripada SCD?  Pikirannya tidak kunjung
inovatif. Tidak mampu membuat terobosan baru di klinis
atau lapangan kecuali riset kepustakaan dan riset
lapangan yang steril. Hanya mampu menyusun
kesimpulan-kesimpulan induktif tetapi kurang mampu
membuat applikasi praxis untuk penanggulangan
eradikatif-kausatif secara nyata di lapangan. 
Misalnya, mampu mencari akar dan sebab-sebab mengapa
banyak orang di Indonesia "mengidap prasangka" tetapi
tidak mampu mencari solusi untuk mengatasinya. Bahkan
tidak mampu atau berani untuk maju sebagai pelopor
utama untuk memberantasnya, sekalipun untuk
memberantasnya di kalangan internal sendiri yang amat
terbatas.
 
Apa gejala lainnya?  Karena pikirannya tidak kreatif
atau inovatif maka kemampuannya hanya terbatas kepada
“pemakaian teknik usang-daur-ulang" seperti
penyalahgunaan kekuasaan, membungkam wacana dengan
aji/mantra “pokoknya tidak boleh"..., restriksi
kehadiran di sekitar kampus, menghembuskan isyu-isyu
yang menyesatkan, atau menebar fitnah murahan,
propaganda disinformatif, penghinaan dan pencemoohan,
menghimbau sejawat untuk memboikot dan praktek-praktek
bermutu rendah seperti itu. Habis mau apa lagi karena
kemampuannya hanya terbatas sampai di situ saja.
Tetapi tentu saja tidak semua akademisi dapat terbius
atau tertipu oleh isyu murahan seperti itu karena
sebagai intelektual mereka sudah terbiasa berpikir
cermat, netral,  dan mampu membedakan antara “fakta”
dengan “isyu’ atau “fitnah”. Mampu membedakan antara
“penemu” dengan “hasil temuan”-nya yang berbeda sama
sekali satu sama lainnya.  Maka, semakin gencar para
pengidap SCD ini melancarkan "amunisi jadulnya" akan
semakin tercoreng arang di muka sendiri sebagai
ilmuwan sejati. Ditepuk air di dulang terpercik muka
sendiri. Sungguh ironis memang. 
 
*Vincentisme ialah aliran pemikiran kompatiologi yang
bersumber dari Vincent Liong.
 
Jakarta, 11 Agustus 2006.
Mang Iyus

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di 
http://psikologi.net
---------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/psikologi_net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke