Main Sandiwara Di Dunia Maya

Ditulis oleh: Juswan Setyawan 


Penulis di dunia maya kerap kali menyembunyikan
identitas dirinya dan memakai nama surogat yang
aneh-aneh: tempe bongkrek; mayat hidup; kerang ijo,
dll. Namun, kata orang eskimo “you are what you write”
dan ISF merasa dapat membaca karakter pentolan
kompatiolog lewat tulisan-tulisannya. Kemampuannya
“membaca pikiran” (mind reading) yang “di/terkunci”
pada kata-kata termasuk kemampuan komunikasi empati,
maka Leo berani mengatakan bahwa ISF telah menjadi
seorang komunikator empati “by accident” (mungkin
malah “by nature” atau inborn) dan bukan diperoleh “by
learning.”

 

Bukti bahwa orang dapat khilaf ialah saat “real time
and space” yaitu dalam “temu darat” orang sering
terkecoh melihat kenyataan bahwa “realitas di dunia
nyata” yang kerap kali sangat jauh berbeda dengan
“realitas di dunia maya”. Para sahabat anak-anaknya
mengira Mang Iyus itu masih sangat muda karena banyak
memakai jargon ABG (yang dipelajarinya dari
putri-putrinya tentunya) menjadi terpana saat
dikenalkan kepada seorang gaek yang sudah “fully grey
haired” dengan panca aneka nuansa: hitam, abu-abu,
coklat (semiran), putih dan bahkan perak metalik.

 

Maka banyak pula yang sempat terkecoh karena gaya
penulisan yang disengaja (by design) pada
posting-posting di milis. Anda dapat membentuk
karakter anda sendiri di milis dengan membuat
tulisan-tulisan yang sesuai. Misalnya, tulisan yang
selalu bergaya romantis, puitis, atau gaya emosional
meledak-ledak, gaya filosofis yang tenang mendalam,
gaya agamis yang radikal, atau apa saja yang
diinginkan asal cukup konsekuen. Kalau tidak hati-hati
maka dalam jangka panjang akan terbongkar juga
karakter aslinya.

 

Nah, sasaran paling empuk ialah pada kalangan
psikologi. Mengapa? Karena titik berangkatnya
stereotypical sekali dan terbawa-bawa terus ke dunia
maya sekalipun. I’m OK, you aren’t OK. Psychology is
for you, because you aren’t OK while I’m always OK...
hey hey hey.  Psikologi cenderung “mengobyekkan”
manusia dan bukan “mensubyekkan” orang lain. “Ora
ngewongke liyan” (tidak memanusiakan orang lain)
menurut bahasa eskimonya.

 

Mang Iyus terkesan sangat nyinyir dalam milis bahkan
sampai taraf ‘sok teu’ dan ‘pseudo-scientist’ (ngaku
nggak ngerti pseudo science juga dipercaya bulat-bulat
... mau ngakak nggak sih?) padahal dalam realitas
kehidupan MI sangat pendiam, introvert, timid (naik
busway apalagi bus umum saja tidak berani) dan
reserved. Tetapi ada pula nilai yang tidak mampu
disembunyikan, misalnya open minded, bahkan radha
‘openbaar’, kesungguhan, fokus, simple life style dan
tidak neko-neko.

 

Sama halnya dengan VCL. “Anak norak” itu memang peran
yang disengaja dilakoninya – karena pers pernah
memberi cap indigo kepadanya  komplit dengan ADDS nya
- supaya selalu dapat dipakai sebagai semacam
‘excuse’. Ia mau makan eskrim di pasca Psi UI biar
dikatakan norak. Ia mau tiduran saat di ruang kuliah
dan main SMS/HP biar dikatakan norak. Ia mau menyapa
dosen dengan kata ‘gue’ dan ‘elo’ biar beliau marah,
kesal, benci, dongkol sehingga emosinya (negative
emotional tie) dapat dijadikan variabel ulur tarik di
mana ia yang jadi determinatornya dan bukan dosennya.
Nanti juga naluri dosennya sebagai psikolog akan
muncul dan menganggap dia memiliki “behavior
aberration” yang dapat dijadikan obyek penelitian atau
pasiennya. Tapi otaknya tidak norak lho cuma ia malas
saja kepada angka-angka dan statistik (andalan otak
kiri). Ia mengaku bodoh dan tidak bisa menulis dan
kata-kata asing sengaja dia bikin keliru misalnya
‘standard’ menjadi ‘standart’ atau ‘profesi’ menjadi
‘provesi’, ‘aktif’ menjadi ‘aktive’ dan ‘nggak’
menjadi ‘ngak’. Padahal sejak bangku SLP ia sudah
menjadi penulis cermat, bahkan sewaktu SLA mampu
mengritik tulisan Pramoedya Ananta Toer yang menjadi
idolanya dan tulisannya itu malah sudah diterbitkan
oleh Gramedia.

 

Jadi betapa mudahnya orang bermain multi karakter pada
dunia maya dan betapa mudahnya pula orang terkecoh.
Kalau sampai yang terkecoh itu para psikolog maka
betapa menyedihkan serta ironisnya karena justru
mereka itu diharapkan untuk paling mampu memahami
karakter manusia... di dunia nyata (the real world)
tentunya... sehingga ilmu mereka tiba-tiba menjadi
lumpuh tak berdaya di dunia maya (the unreal world)
... ha ha ha. Psikolog tidak mampu melakukan diagnosa
terhadap pasien maya yang menghadapi problem
penyimpangan psikologis yang maya pula. Mana ada sih
“sakit jiwa maya” pada “calon pasien maya”?  Hanya
komunikator empatis yang mampu, bahkan tanpa media
apapun kecuali namanya saja mampu membaca hal ikhwal
kliennya. Dan ISF serta Leo termasuk mereka yang
langka tersebut. Mang Iyus bagaimana? Ah, dia cuma
bisa “omong doang” tuh dan ‘sok teu’ seakan-akan mampu
menjelaskannya kompatiologi secara
biologis-neurologis... emangnya ia pernah nyasar ke
fakultas kedokteran apa? Ada ada saja... dan celakanya
banyak yang mau percaya pula... ah menyedihkan tragedi
dunia maya ini ! Sungguh!

 

Jakarta, 23 Agustus 2006.

Mang Iyus

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di 
http://psikologi.net
---------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/psikologi_net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke