Kisah Musashi Ditantang Ronin

 Ditulis oleh: Juswan Setyawan 


Sesuai amanat Yang Dipertuan Agong Kim Il Sen mulai
hari ini saya akan cuti untuk menulis soal-soal yang
memeras otak. Atas titah OBL - “Our Beloved Leather”
(leader... monyong !) saya dianugerahkan cuti total
atas biaya negara selama dua pekan dan bisa diperleng
jadi satu bulan. Syukurlah, sebab menurut Ryodoraku
Test (bukan test IQ bo...) meskipun tingkat bioenergi
somatis daku jauh di atas rata-rata yaitu mencapai
76.57 (di mana-mana range minimum/maksimumnya ialah 28
– 59) maka dari pada emosi daku meledak ndak keruan
mendingan daku terima cuti itu dengan hati bersyukur
atas kebijakan dan kemurahan hati sang diktator il
capo da mafioso. Mengapa? Karena SQ daku (Stress
Quotient bo...) sudah melejit 20% di atas ambang
normal dan itu disebabkan oleh overdosis atau
kebanyakan stressors, angka itu kini sudah mencapai
1.323 di mana batas maksimum yang tolerable ialah
1.15.  Waduh... kalo sampai meledak... daku bakal
sinting beneran bo!

Maka dari itu untuk menurunkan SQ daku mau
cerita-cerita dikit buat teman-temin.

 

Konon suatu ketika samurai ichi-ban Musashi Miyamoto
ceritanya dikeroyok ramai-ramai oleh para Ronin. Ronin
itu bukan samurai sejati yang meniti jalan bushido
(the way of warrior) tetapi cuma preman pasar biasa
yang "memahami nilai" bushido dan tidak punya seorang
Daimiyo. Mereka mencari makan dengan mencabut nyawa
orang sesuai order pengupahnya karena mereka itu tak
lebih daripada para mercenaries.

 

Bukannya Musashi takut tetapi ia – biasa seperti lakon
film-film samurai – mulai lari miring
sekencang-kencangnya sehingga hanya tinggal satu orang
ronin muda yang sanggup mengejarnya yang saat itu
Musashi sendiri sudah mulai uzur.

 

Setiba di tepi pantai tiba-tiba Musashi berdiri tegak
– menghunus samurainya dan berdiri menunggu tibanya si
ronin. Lalu terjadilah dialog (imajiner tentunya
bo...) sebagai berikut.

 

M : Siapa namamu anak muda?

R :  Nama saya Sato (bhs eskimonya ‘ternak
peliharaan’). Jangan banyak cakap, mari kita

       bertarung sampai mati.

M : Kok namanya Sato. Itukan nama Marga bukan nama
pribadi? Kenapa kamu malu

       menyebutkan namamu sendiri?

R :  Haishhh, kokehan petingsing. Sato mencabut
samurainya dan membuang sarungnya

       ke laut dan mulai ancang-ancang mau menyabet
putus kepala si Musashi.

M:  Dengan senyum dikulum Musashi menyarungkan kembali
samurainya dan berkata:

      “Anak muda, kamu sudah kalah sebelum memulai
pertempuran.” Lalu mulai

      melangkah untuk ngeloyor pergi.

R:  Musashi apakah kamu takut bertarung dengan daku?
Kenapa dikau mau ngacir pergi

      seperti seorang pengecut?

M: Anak muda mengapa engkau bernafsu sekali memenggal
kepalaku sedangkan aku

      sendiri masih sayang kepada kepalaku? Apa yang
kau cari Palupi... eh keliru... Sato?

R:  Aku mau merebut gelar ichi-ban dari tanganmu
supaya semua orang gentar padaku.

M:  Oh begitu kiranya. Nah, mulai sekarang gelar
ichi-ban itu kuserahkan kepadamu.

      Jaga  baik-baik ya. (Sambil berkata demikian
Musashi membungkuk 90 derajat

      - layaknya kasih hormat gaya Nipon - kepada
Sato).

R:  Tidak bisa begitu dong. Bukankah kita belum
bertarung sama sekali? Mengapa

      engkau mundur seperti seorang pengecut?

M:  Ah, tidak juga. Kalau bisa dibuat gampang mengapa
musti dipersulit? Kau kan

       berambisi mendapat gelar ichi-ban, maka aku
berikan kepadamu secara gratis.

R:   Kenapa bisa begitu?

M : Ya karena aku kagum menyaksikan jurus kamu
membuang sarung pedangmu

       Suatu hal yang aku sendiri tidak mampu
melakukannya dengan lebih baik. Karena itu

       atas nama jurus yang indah itu aku serahkan
gelar ichi ban kepadamu. Sayonara !

 

Catetan kaki:  Bagi Musashi gelar tidak bermakna
apa-apa. Yang lebih penting ialah prestasi. Prestasi
tanpa gelar tidak jadi apa, tetapi gelar tanpa
prestasi sungguh memalukan dan menjijikkan, apalagi di
kalangan elit. Menyembunyikan nama sendiri dengan nama
klan menunjukkan tidak ada rasa percaya diri dan juga
tidak menghormati leluhur. Orang seperti itu tidak
pantas disebut samurai dan hanya pantas disebut ronin.

 

Membuang sarung pedang adalah tanda semiotik
kekalahan. Pedang adalah kebanggaan seorang penempuh
jalan bushido dan bagi samurai pedangnya lebih
berharga dari isterinya sendiri. Ia bisa saja membuang
isterinya tetapi ia tidak pernah akan membuang
pedangnya.  Membuang sarung samurai berarti sarung itu
tidak akan dipakai lagi selanjutnya sehingga tak ada
gunanya lagi selain untuk dibuang. Sato membuang
sarung pedangnya karena bawah sadarnya memberitahukan
dia bahwa ia segera akan tewas oleh pedang Musashi.
Untungnya bagi si Sato bahwa Musashi memang berdada
lapang dan berhati seluas samudra sesuai gelarnya
yaitu ichi-ban. Gelar itu tidak pernah bisa direbut
daripadanya sampai kapanpun menurut biografi Musashi.

 

Jakarta, 24 Agustus 2006.

Mang Iyus (yang lagi ambil cuti)

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di 
http://psikologi.net
---------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/psikologi_net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke