Manneke Budiman wrote:

Saya masih sedang mencerna sejumlah info tentang
Kompatiologi yang dikirimkan ke saya oleh Sdr. Juswan
maupun Sdr. Vincent,demikian pula beberapa tulisan
dari Suhu Bimo dan Sdr. Leo.

  Ada banyak hal yang menarik, ada yang bikin dahi
berkerenyit, juga ada yang cukup mengusik pikiran.
Tapi jelas bahwa ada keseriusan yang besar di antara
praktisi/ilmuwannya. Buat awam seperti saya, bau
mistiknya masih sangat kental, sementara pada saat
yang sama kadar ilmiahnya agak berlebihan (atau
dilebih-lebihkan?).

Vincent Liong answer:

Sdr. Manneke, perkembangan kompatiologi sebelum sampai
ke kondisi yang sekarang melalui banyak tahap. Tahun
2001 buku karya saya berjudul; “Berlindung di Bawah
Payung” diterbitkan oleh penerbit Grasindo. Saat itu
saya seorang observer yang melaporkan keadaan seperti
pekerjaan jurnalisme tetapi tidak bertindak apa-apa,
tulisannya saya bentuk sebagai kontemplasi karena saat
itu saya seorang observer yang tidak memiliki alat
pembanding selain direnungkan begistu saja. Lalu tahun
2002 saya pindah ke Sydney dan menulis buku Menjadi
Diri Sendiri. Di tahap kehidupan saya tersebut saya
mulai mencoba memberanikan diri untuk berpetualang
bebas ke tempat-tempat dan hal-hal yang belum biasa
bagi saya. Lalu tahun 2003 menulis buku Konsep ‘Saat
Kiamat’ dalam ruang Individu yang ini kembali ke
refleksi tetapi tetap berpetualang. Dari awal hingga
sekarang pencaharian saya selalu berfokus pada
pencaharian tentang ilmu ke-“saya”-an. 

Lalu saya menjadi Indigo karena ‘mereka’ menyebut
Indigo dan saya naik kelas. Karena kehilangan posisi
dalam tulis menulis makan menjadi doekoen dulu dan
mengajar Kundalini hingga akhir tahun 2004. Karena
mentalnya memang mental peneliti bukan minta
disembah-sembah saja maka kembali menjadi peneliti
hingga pertengahan tahun 2005 saya mulai berani
membawa Kompatiologi secara serius meski saat itu
masih suka gonta-ganti nama seenak saya. Kompatiologi
adalah triger awal / starter untuk memulai pencaharian
ke-“saya”-an pada diri mereka yang belajar, saya sudah
tidak puas sekedar mencari ke-“saya”-an untuk diri
saya sendiri tetapi membuat proses standart
pencaharian jati diri untuk digunakan banyak orang.
Nah sekarang saya sudah sampai pada recruiting
orang-orang yang saya anggap punya masa depan untuk
saya jadikan pendidik. Mereka yang saya jadikan
pendidik ini pun saya kategorikan lagi menjadi yang
sedekar mengajar Kompatiologi seperti dengan yang
sekarang saya kembangkan dan tahap berikutnya dimana
saya mulai membimbing seorang suhu/guru yang menemukan
jati diri dan perannya sebagai pendidik jenis apa,
cara dan metode apa, style seperti apa yang semuanya
berpulang pada individu itu sendiri. 

Inilah yang membuat Kompatiologi tampak “…bau
mistiknya masih sangat kental,  sementara pada saat
yang sama kadar ilmiahnya agak berlebihan (atau
dilebih-lebihkan?)”. Mereka yang di bawah
tanggungjawab saya sebagai pendidik memang awalnya
saya didik agar mampu mendidik Kompatiologi yang
standart kwalitas seperti saya. Tetapi tahap
selanjutnya bagi tiap pendidik ini adalah mereka harus
mampu mendidik jenis murid tertentu dengan style
tertentu dan tujuan tertentu, konsumen murid
orang-orang karakter tertentu sesuai dengan jati diri
tiap pendidik yang di bawah asuhan saya. Maka itu ada
yang mau jadi seperti biksu, ada yang mau jadi ilmuan,
ada yang mau jadi tukang ukur, ada yang mau jadi
filsuf dan lain sebagainya… Tidak hanya itu tiap jenis
pun bisa lebih spesifik dan spesifik lagi sesuai
dengan pribadi masing-masing yang tidak harus sejalan,
saling berlawanan pun boleh. Nah mendidik pendidik
model gini yang gampang-gampang ssusah.
  

Manneke Budiman wrote:

  Kompatiologi bisa tampil terhormat dengan warna
spiritualistiknya, atau juga dengan nuansa ilmiahnya,
tanpa harus menjadi overdosis pada kedua segi itu.
Dengan demikian, dia dapat menjadi lebih komunikatif,
dan kepada para pembelajarnya pun (baik awam maupun
ahli) dia juga bisa lebih terbuka untuk diakrabi.
Bukankah ini hakikat empati?

Vincent Liong answer:

Memang pendidik-pendidik bimbingan saya punya jadi
diri, peran dan tujuan hidup yang berbeda-beda.
Namanya orang ketemu mainan baru tentunya sebelum
merasa bosan dan mendalami ke tahap selanjutnya yang
pada awalnya dianggap baru dan ke tahap selanjutnya
lagi maka tentunya menjadi norak. Saya sampai saat ini
puas melihat kenorakan mereka karena artinya mereka
tidak puas begitu saja sampai di tahap yang sekarang.
Mereka bukannya tidak komunikatif tetapi saya selalu
mendidik mereka untuk sadar bagian masing-masing tidak
perlu harus sama bentuk dan sifat-nya atau harus sama
tingkatannya. Bisa saja yang satu maju lebih dahulu
lalu gantian dengan yang lain, seperti jejaring yang
saling berhubungan. Anda salah kalau para praktisi
kami tidak bisa diakrabi, semua nama jelas, alamat dan
no teleponnya, bisa dihubungi dengan mudah. 

Nah dualisme tentang orang baik dan orang tidak baik
itulah borderline untuk dapat masuk sebagai pengguna
Kompatiologi. Anggap saja anda di atas sebuah kapal
dan melihat ke permukaan air laut Masalahnya, kalau
anda mau tahu apa yang ada di bawah permukaan air laut
itu anda harus bersedia terlanjur basah. Nah kalau
anda tetap jadi outsider maka tidak masalah, artinya
belum saatnya anda masuk ke tahap kedewasaan
selanjutnya menjadi insider diantara kami. Kami memang
sengaja merancang semua sandiwara kegilaan ini agar
batas tsb tetap terjaga. Jangan sampai orang yang
belum siap mendapat proses pendewasaan, mendapatkannya
karena akibatnya juga fatal. Ada istilah “When the
student is ready, the teacher will come.” 

Saya tidak datang atau pergi ke mana-mana tetapi anda
tidak akan mampu melihat ‘saya’ bilamana anda belum
saatnya mampu melihat saya. Empati ala normatif
berbeda tingkat kedewasaannya dengan empati ala nilai
dasar, untuk mampu memahami sekitar memang perlu
empati ala normatif tetapi pada tahap kedewasaan
selanjutnya empatinya bukan normatif tetapi semua
diukur berdasarkan nilai dasar.  

Manneke Budiman wrote:

  Namun, saya jujur sangat terusik dengan "guru besar"
Kompatiologi ini, yakni Sdr. Vincent Liong yang, dalam
pengamatan saya atas tulisan-tulisannya (semoga saya
salah), justru sama sekali tidak menampakkan unsur
empati ini. Saya merujuk khususnya pada sejumlah
tulisannya berkenaan dengan "pertempuran melawan
oknum-oknum FPsi UI." Membacanya, cukup membuat saya
jadi merinding, dan saya mulai jadi ragu dengan
validitas Kompatiologi ini.

  Ketidaksukaan FPsi UI kepada Kompatiologi adalah
masalah sangat remeh dan sepele, yang saya yakin
dengan berlalunya waktu, akan reda sendiri. Tak ada
ilmu yang perkembangannya dapat dibendung oleh
siapapun. Tetapi cara Sdr. Vincent bereaksi terhadap
kasus FPsi UI ini seakan-akan berkaitan dengan hidup
matinya Kompatiologi. Apa memang serapuh itukah ilmu
baru yang konon superior dibandingkan psikologi
ortodoks ini?

  Bunyi postingan Sdr. Vincent yang terakhir terkait
dengan perang lawan FPsi UI itu bahkan kedengaran
paranoid dan, meski saya tak mengikuti perkembangan
kasus itu secara dekat atau langsung, juga tak
mengenal pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, kok
rasanya agak mengada-ada dan heboh.


Vincent Liong answer:

Saya seorang guru, jadi tugas saya menjaga murid-murid
saya. Saya tidak takut untuk mendapatkan masalah atau
jatuh sebab saya sudah puas bersenang-senang jadi
nothing to lose. Maka dari itu untuk menjaga agar
jangan sampai murid saya yang kena saya yang mencari
perhatian agar saya yang diserang, kalau perlu main
kekuasaan juga nga masalah. Terus terang saya agak
paranoid soal Universitas Indonesia bukan masalah
saya-nya, melainkan masalah Cornelia Istiani yang
belum 100% keluar dari Universitas Indonesia. Saya
berharap dia cepat keluar saja agar aman karena
permainannya kotor. Hari Jumat 25 Agustus 2006 jam
8.30 pagi ia dipanggil lagi secara resmi oleh pihak
fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ya moga-moga
dengan tekanan saya yang cukup serius mereka
mikir-mikir untuk tidak main api dengan saya lagi.
Kalau mau main api lagi ya pilihan mereka, saya siap
kok.

Nah sebagai guru hal yang saya ajarkan ke murid saya
adalah bahwa bilamana terjadi masalah maka sang guru
yang pertama berkorban baik itu soal nama baik atau
soal tindakan-tindakan lainnya. Memang aliran kami
berbeda dengan aliran ilmupengetahuan baik yang ilmiah
maupun aliran metafisika yang biasanya meninggikan
guru. Guru di Kompatiologi banyak susah dan
berkorbannya dibanding dipuja-pujanya, makanya tidak
sembarangan orang bisa awet jadi guru, harus yang
benar-benar niat jadi pendidik.

Tapi saya senang, ajaran tsb sudah mulai diadaptasi
oleh murid saya Bimo Wikantiyoso dengan memasukkan
hal-hal melayani murid dalam ajaran-ajarannya. Tidak
hanya memakan makanan sisa saya, Bimo bersedia memakan
makanan sisa muridnya untuk mendidik muridnya bilamana
di masa mendatang sudah independent soal cara
bertingkahlaku kepada orang lain. Tidak stop sampai di
situ, dalam ajaran selanjutnya teladan-teladan semacam
itu tetap digunakan untuk mengajarkan muridnya agar di
saat mereka sudah matang ajaran-ajaran tsrsebut mereka
amalkan kepada orang lain di sekitar mereka. Bimo
tidak memaksa murid untuk mengikuti suatu hal, begitu
juga dengan saya, kami memberi teladan tetapi tidak
memaksa sebab ‘buah masak ada saatnya’.

Untuk mendidik saya orangtua saya ketika saya di
Australia pernah membiarkan saya menghabiskan uang
sekitar Rp.200.000.000,- dalam 8 bulan, saya habiskan
berfoya-foya. Ketika pulang ke Jakarta saya rutin
belanja sayur mayur dan buah-buahan di pasar Kebayoran
Lama 1 minggu 1 kali, saya menulis email ini juga baru
pulang dari pasar, berangkat jam 10.30 malam dan
pulang jam 12.30 dini hari. Belajar dari variasi hidup
itu perlu, mendidik tidak selalu hanya membahas dan
tahu yang baik-baik sebab orang yang sukses harus
diberi pengalaman mulai dari yang kurang baik sehingga
makin hari makin mawas diri menjadi lebih baik.

Manneke Budiman wrote:

  Saya sama sekali tak melihat diterapkannya
komunikasi maupun empati dalam cara penanganan atas
kasus tersebut. Kesannya, semua yang diagung-agungkan
oleh Kompatiologi kok jadi omong kosong belaka?

  Kalau boleh saran, dan kalau saya tak keliru tangkap
soal hakikat Kompatiologi, daripada "perang" mendingan
cari titik temu, cari aspek di mana kedua pihak bisa
saling memperkaya ilmu masing-masing. Atau, kalau ini
mustahil, tak usahlah orang-orang FPsi yang
anti-Kompatiologi itu digubris. Istilahnya, cuekin
aja, nanti juga bosen sendiri.

Vincent Liong answer:

Saya tidak tertarik lagi untuk membawa Kompatiologi ke
fakultas Psikologi Universitas Indonesia, capek harus
lindungi orang saya terus. Jadi niat untuk membantu
pengembangan ilmu di fakultas Psikologi Universitas
Indonesia tidak ada, mendingan cari murid yang
baik-baik, seneng kalau banyak yang jadi orang. Soal
mengapa saya menggubrisnya; ya sebagai pendidik kalau
murid saya dikerjain orang ya saya tetap perhitungkan
lha wong itu murid saya, ada apa-apanya tanggungjawab
saya. 

Manneke Budiman wrote:

  Jika dihadapi dengan over-acting, FPsi malah bisa
jadi momok yang menakutkan bagi Kompatiologi sendiri,
dan yang tak bisa tidur nyenyak malah
dedengkot-dedengkot Kompatiologi sendiri. Sementara
orang-orang FPsi malah cengir-cengir aja.

  Sori ya kalau dianggap lancang. Tapi ini saran yang
tulus karena saya punya "empati" pada Kompatiologi.

Vincent Liong answer:

Coba anda lihat praktisi-praktisi kami yang ada dan
tergabung di tim Kompatiologi, tidak ada satupun yang
menganggap serius permainan saya, lha wong namanya
lakon. Aktor yang baik harus mampu melakon dengan baik
pula. 

Anda salah tebak. Asalmula problem ini khan dimulai
gara-gara saya makan Ice Cream di ruang dosen
Pascasarjana. 

Saya tidak menganggap anda lancang Sdr. Manneke
Budiman. Selama anda tidak ngerjain orang saya dengan
permainan jabatan / kekuasaan, mau debat seperti apa
saya layani. Anda bisa lihat sendiri maillist yang
saya kelola misalnya;
[EMAIL PROTECTED] atau
[EMAIL PROTECTED]
dibanding-madillist-maillist yang ada maillist kami
termasuk moderat. Bahkan kadang orang bisa posting
ngomel-ngomel nga sopan tetapi tidak kami Ban.
Peneliti kami juga rajin meneliti tanpa banyak
cingcong. 

Apakah sampai hari ini saya pernah ngomel-ngomel ke
anda Sdr. Manneke Budiman ? Hidup itu pilihan, mau
berteman atau bermusuhan dengan saya itu juga pilihan,
tergantung tindakan yang dipilih untuk dilakukan. Saya
hanya melayani bermain.

ttd,
Vincent Liong





LAMPIRAN
Email asli dari Manneke Budiman

Manneke Budiman wrote:

Saya masih sedang mencerna sejumlah info tentang
Kompatiologi yang dikirimkan ke saya oleh Sdr. Juswan
maupun Sdr. Vincent,demikian pula beberapa tulisan
dari Suhu Bimo dan Sdr. Leo.

  Ada banyak hal yang menarik, ada yang bikin dahi
berkerenyit, juga ada yang cukup mengusik pikiran.
Tapi jelas bahwa ada keseriusan yang besar di antara
praktisi/ilmuwannya. Buat awam seperti saya, bau
mistiknya masih sangat kental, sementara pada saat
yang sama kadar ilmiahnya agak berlebihan (atau
dilebih-lebihkan?).

  Kompatiologi bisa tampil terhormat dengan warna
spiritualistiknya, atau juga dengan nuansa ilmiahnya,
tanpa harus menjadi overdosis pada kedua segi itu.
Dengan demikian, dia dapat menjadi lebih komunikatif,
dan kepada para pembelajarnya pun (baik awam maupun
ahli) dia juga bisa lebih terbuka untuk diakrabi.
Bukankah ini hakikat empati?

  Namun, saya jujur sangat terusik dengan "guru besar"
Kompatiologi ini, yakni Sdr. Vincent Liong yang, dalam
pengamatan saya atas tulisan-tulisannya (semoga saya
salah), justru sama sekali tidak menampakkan unsur
empati ini. Saya merujuk khususnya pada sejumlah
tulisannya berkenaan dengan "pertempuran melawan
oknum-oknum FPsi UI." Membacanya, cukup membuat saya
jadi merinding, dan saya mulai jadi ragu dengan
validitas Kompatiologi ini.

  Ketidaksukaan FPsi UI kepada Kompatiologi adalah
masalah sangat remeh dan sepele, yang saya yakin
dengan berlalunya waktu, akan reda sendiri. Tak ada
ilmu yang perkembangannya dapat dibendung oleh
siapapun. Tetapi cara Sdr. Vincent bereaksi terhadap
kasus FPsi UI ini seakan-akan berkaitan dengan hidup
matinya Kompatiologi. Apa memang serapuh itukah ilmu
baru yang konon superior dibandingkan psikologi
ortodoks ini?

  Bunyi postingan Sdr. Vincent yang terakhir terkait
dengan perang lawan FPsi UI itu bahkan kedengaran
paranoid dan, meski saya tak mengikuti perkembangan
kasus itu secara dekat atau langsung, juga tak
mengenal pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, kok
rasanya agak mengada-ada dan heboh.

  Saya sama sekali tak melihat diterapkannya
komunikasi maupun empati dalam cara penanganan atas
kasus tersebut. Kesannya, semua yang diagung-agungkan
oleh Kompatiologi kok jadi omong kosong belaka?

  Kalau boleh saran, dan kalau saya tak keliru tangkap
soal hakikat Kompatiologi, daripada "perang" mendingan
cari titik temu, cari aspek di mana kedua pihak bisa
saling memperkaya ilmu masing-masing. Atau, kalau ini
mustahil, tak usahlah orang-orang FPsi yang
anti-Kompatiologi itu digubris. Istilahnya, cuekin
aja, nanti juga bosen sendiri.

  Jika dihadapi dengan over-acting, FPsi malah bisa
jadi momok yang menakutkan bagi Kompatiologi sendiri,
dan yang tak bisa tidur nyenyak malah
dedengkot-dedengkot Kompatiologi sendiri. Sementara
orang-orang FPsi malah cengir-cengir aja.

  Sori ya kalau dianggap lancang. Tapi ini saran yang
tulus karena saya punya "empati" pada Kompatiologi.

  manneke 

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


posting : psikologi_net@yahoogroups.com
berhenti menerima email : [EMAIL PROTECTED]
ingin menerima email kembali : [EMAIL PROTECTED]
keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
sharing artikel - kamus - web links-downloads, silakan bergabung di 
http://psikologi.net
---------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/psikologi_net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke