Untuk ikut diskusi, klik:
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20216
Note: forwarded message attached.


Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 
--- Begin Message ---
Email ini ditujukan untuk menjawab pertanyaan sdr. "anrew_kuruw" yang
diposting di e-link:
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20209

==========


"anrew_kuruw" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Salam kenal vincent. Saya bergabung dgn milis ini karena pertama
tertarik dengan kompatiologi yg katanya bisa membuat orang menjadi
lebih percaya diri dalam kehidupan sosial, setelah melihat Kick Andi.

Vincent Liong answer:

Permasalahan dari usaha pendefinisian adalah para pembuat definisi
sebagai konsumen terbawa pada usaha untuk mengkultuskan pengalaman
individual itu sendiri, sehingga tidak menemukan gambaran utuh tentang
apa yang dibicarakan.

"anrew_kuruw" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Saya seorang mahasiswa jurusan sejarah dan tertarik dengan banyak
disiplin ilmu.
Saya punya pertanyaan dan ingin mengetahui pendapat situ...
Sekulerisme berpendapat bahwa Tuhan tidak menciptakan alam semesta,
terlepas dari apakah Tuhan itu ada atau tidak. Logika saya, kalau
Tuhan sendiri tidak ada yg menciptakan alias memang selalu ada atau
bisa menciptakan dirinya sendiri, maka alam semesta juga sudah ada
sejak dulu dan Tuhan tidak menciptakannya. Bagaimana pendapat anda/bro
sendiri?


Vincent Liong answer:

Dalam email saya: 
Subject: "Gampang, gue bikin banyak orang aneh dan gue jadi bosnya"
e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20190
Vincent Liong wrote:
====================
Kebenaran yang paling mendasar menurut saya adalah bilamana sebuah
ilmu mampu mencapai sistem mekanisnya sendiri yang paling dasar,
karena kontrol-nya akan lebih mendekati 100%, tidak seperti ilmu
berbasis pelabelan dan keyakinan / believe sistem yang terbatas
pilihan penerapannya, terbatas karena kondisi di lapangan tidak pernah
ideal, terbatas untuk memilih satu pilihan yang benar diantara banyak
pilihan lain yang dianggap salah.

Manusia tetap tidak bisa hidup menginggalkan norma…

Tanpa norma, itu seperti kalau kita berjalan dari satu pemposisian
lokasi di sebuah kota ke pemposisian lokasi yang lain dengan menarik
garis lurus dan menabrak semua bangunan yang menghalangi garis lurus
antara lokasi asal ke lokasi tujuan. 

Dengan norma, itu seperti kalau kita berjalan dari satu pemposisian
lokasi di sebuah kota ke pemposisian lokasi yang lain, dengan membuka
peta dan mencari pilihan jalan-jalan yang ditentukan sendiri
pilihannya, yang membutuhkan waktu paling efisien untuk sampai di
lokasi dengan selamat. 

Tetapi norma yang ada saat ini sudah sampai pada suatu penyimpangan.
Yang terjadi adalah orang mendaftar pengalaman seseorang berjalan dari
satu pemposisian lokasi di sebuah kota ke pemposisian lokasi yang
lain, dan mewajibkan orang untuk mempelajari satu versi pilihan jalan
itu saja sebagai norma, dan menihilkan kemungkinan adanya pilihan
jalan-jalan yang lain sebagai suatu yang tidak baik, tidak benar,
dlsb. Tetapi tidak belajar untuk membuka petanya dan memilih jalan
yang paling efisien ala diri sendiri at the present time. Maka dari
itu kuliah membutuhkan waktu bertahun-tahun, karena begitu banyak
pengalaman individual menempuh satu jenis jalan yang harus dihafalkan
satu demi satu. Itu namanya pembodohan, mistik+fikasi atas nama
pendidikan. 

Seperti kata Tao:
"Manusia mengikuti aturan bumi, Bumi mengikuti aturan Langit.
Sementara langit itu mengikuti aturan Tao." Dikutip dari Tao-TE Ching.
====================

Menurut saya secara pribadi; tidak menjadi masalah apakah dalam
kenyataannya kultus bernama Tuhan itu ada atau tidak. Dalam kehidupan
manusia, sistem kultus yang misalnya bernama tuhan itu tetap
dibutuhkan untuk ada.

Seperti kata Tao:
"Manusia mengikuti aturan bumi, Bumi mengikuti aturan Langit.
Sementara langit itu mengikuti aturan Tao." Dikutip dari Tao-TE Ching.

Tao tidak membahas ada atau tidaknya Tuhan. Yang dibahas adalah bahwa
Tuhan atau yang disebut "Aturan Langit" dibutuhkan untuk ada. 

Dalam hirarki "aturan" menurut wilayah cakupan range nya: Manusia
sebagai konsumen berhubungan dengan "Aturan Bumi"(ilmu alam / ilmu
pasti / ilmu eksakta) dan juga berhubungan dengan "Aturan Langit"
(ilmu ketuhanan / ilmu norma sosial). Bilamana manusia ada maka aturan
bumi dan aturan langit ada. Bilamana manusia tidak ada maka baik
aturan bumi maupun aturan langit juga tidak ada.

Tetapi aturan-aturan ini tetap di bawah kekuasaan aturan yang di dalam
tao disebut aturan Tao. Pendiri ajaran Tao sendiri mengatakan bahwa
pendefinisan "aturan Tao" ada, karena dia tidak mampu menjelaskan
dalam kata-kata (yang biasanya lari ke penjelasan yang mengkultuskan
ke penjelasan pengalaman yang terlalu sempit) untuk mewakili hal yang
begitu luas. Hingga akhirnya dia katakan;"Mungkin kalau saya mampu
menyebutkan maka itu saya sebut Tao".

Jadi ada dua pihak di sini: aturan Manusia (psike / kejiwaan / di
dalam diri manusia) berhadapan dengan aturan yang disebut Tao karena
tidak terdefinisikan.

Penjelasan tentang aturan manusia, aturan bumi, aturan langit dan
aturn Tao itu begitu sempit, masalahnya bahasa yang digunakan sebagai
alat pemaknaan itu sendiri amat sangat terbatas jangkauannya. Bilamana
anda mempelajari pendefinisan tentang sesuatu ranah, misalnya suatu
bidang di ranah Psikologi yang modenya dalam satu dekade (10 tahun)
yang sama, maka anda akan menemukan bahwa hampir semuanya itu sama
berdasarkan pendefinisannya.

Contoh sederhananya:

10 tahun terakhir ini (tahun 2007 – 1997) ranah Psikologi sedang
menggunakan mode bahasa "otak/ neuro". Maka penjelasan akan semua ilmu
yang penelitinya masih mengembangkan ilmupengetahuan tsb di dekade
ini, maka akan menyelipkan kata "otak/ neuro" dalam pendefinisiannya.
Ini jadi masalah di pembahasan yang sifatnya sejarah karena
seolah-olah hanya ada satu ilmu saja yang sama semua tetapi beda
namanya. Bilamana anda belajar ilmu misalnya NLP, maka anda akan
menihilkan keberadaan ilmu misalnya Kompatiologi dengan alasan bahwa
ilmunya sama karena sama-sama mode language "otak/ neuro" yang digunakan. 

Beberapa hari yang lalu seseorang bernomor hp: 081315908111 yang
berlatarbelakang psikologi mengirim sms sbb:

"Eureka, jadi ada kemiripan antara metode nlp, prof suryani dan
vincent. Asumsi dasar otak sadar 12 persen sisanya alam bawah sadar.
Caranya masuk ke bawah sadar bisa dengan hipnotis, reiki, kundalini,
atau apapun. Orang yang sudah terhipnotis bisa dibenerin programnya
dengan memaafkan. Hal yang sama berlaku juga untuk kesaktian atau
optimal kemampuan. Yang beda di vincent adalah memanipulasi objeknya
langsung sedangkan yang lain dengan kata-kata terpilih atau sugestif
dan itu yang disebut program. Karena metode vincent bukan program,
maka terserah kita pengembangannya yang penting bagian tsb sudah
aktif. Output juga bergantung pada persepsi orang itu masing-masing.
Kalau reaksi kitakan bergantung pada bawah sadar kita, jadi kalau
metode nlp harus sering-sering ganti program tergantung kebutuhan,
kalau vincent terserah kepada given kita. Gitu lho."

Bilamana si pemilik nomor 081315908111 hanya membaca dari internet,
maka seolah-olah tidak ada perbedaan antara nlp prof suryani dengan
kompatiologinya vincent. 

Pertama soal pengertian otak sadar dan alam bawah sadar:
* Dalam NLP alam bawah sadar itu dianggap ada frekwensi gelombang
otaknya dimana bisa dinaikkan atau diturunkan (alfa, beta, tetha,
dlsb), semakin sadar atau semakin tidak sadar. 
* Dalam Kompatiologi tidak dibahas atau dimainkan tentang sadar atau
tidak sadar. Gelombang otak tidak dinaikkan atau diturunkan. Yang
dipelajari adalah cara membaca jarak antara satu karakteristik dengan
karakteristik yang lain. 

Soal program:
* Dalam NLP program ditujukan untuk membuat manusia yang lebih
sempurna menurut norma tertentu. Maka dari itu masih ada kultus
program yang benar dan yang tidak benar dalam kondisi spesifik
tertentu. Maka ada kesan motivatif, pengarahan ke arah tertentu secara
disengaja / agak dipaksakan/ mendramatisir keadaan. Pengguna NLP
cenderung memposisikan diri sebagai orang yang memiliki norma dan
tatakrama yang baik.
* Dalam Kompatiologi program hanyalah salahsatu program yang bisa
dibuat, diberlakukan dan tidak digunakan lagi secara bebas. Yang
dipelajari adalah melakukan analisa (lepas dari program atau norma
tertentu) lalu data-data tsb digunakan untuk membuat norma (program)
secara instant yang berlaku hanya at the present time saja dengan
tujuan untuk bisa terus beradaptasi. Kompatiologi tidak terikat pada
satu program bahkan tidak mengajarkan satupun program, yang dipelajari
adalah operating sistem yang sifatnya pengaturn lalulintas data saja.
Pengguna Kompatiologi cenderung eksentrik, menjadi dirinya sendiri
yang individual yang memainkan peran spesifiknya dalam suatu
masyarakat. Ikut norma & tatakrama atau tidak, itu pilihan bukan
keharusan. 

Soal given / berbakat:
* Dalam NLP ada norma yang baik dan tidak baik dalam sudutpandang
menjadi manusia yang lebih sempurna, sehingga ada pengkategorian
manusia yang given / berbakat dan ada yang tidak.
* Dalam Kompatiologi tidak ada pembahasan soal norma yang baik dan
tidak baik karena tidak memikirkan untuk menjadi manusia yang
sempurna, melainkan menjadi manusia yang tahu pemposisian dirinya
dalam berbagai macam peran di masyarakat. Jadi tidak dibahas given /
bakat dan tidak.

Dari contoh ini saja,kita bisa lihat bahwa permasalahan dari
pendidikan ilmu yang mengkultuskan pendefinisian adalah kehilangan
gambaran utuh tentang ilmu yang dibahas. Yang didapatkan adalah
keyakinan bahwa semua ilmu adalah sama dan semua ilmu telah tercakupi.
Maka dari itu banyak lulusan fakultas psikologi tidak mampu berhadapan
dengan penerapan di ruang praktikal.  
     

Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Minggu, 1 April 2007




e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20209
--- In [EMAIL PROTECTED], "anrew_kuruw" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Salam kenal vincent. Saya bergabung dgn milis ini karena pertama
> tertarik dengan kompatiologi yg katanya bisa membuat orang menjadi
> lebih percaya diri dalam kehidupan sosial, setelah melihat Kick Andi.
> 
> Saya seorang mahasiswa jurusan sejarah dan tertarik dengan banyak
> disiplin ilmu.
> Saya punya pertanyaan dan ingin mengetahui pendapat situ...
> Sekulerisme berpendapat bahwa Tuhan tidak menciptakan alam semesta,
> terlepas dari apakah Tuhan itu ada atau tidak. Logika saya, kalau
> Tuhan sendiri tidak ada yg menciptakan alias memang selalu ada atau
> bisa menciptakan dirinya sendiri, maka alam semesta juga sudah ada
> sejak dulu dan Tuhan tidak menciptakannya. Bagaimana pendapat anda/bro
> sendiri?
> 
> Kalau hal ini dianggap tabu untuk siungkap di milis silahkan kirim ke
> [EMAIL PROTECTED] Terima kasih waktunya, sukses bwt situ.
> 
> Salam


--- End Message ---

Kirim email ke