Subject: Salah satu alasan kenapa Kompatiologi
berhasil??
From: tinta negatif <[EMAIL PROTECTED]>
DDT: Sat Dec 29, 2007 5:13 am 
e-link:
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/23507
http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/3227
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/37100
tinta negatif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 


Orang yang tidak mampu melihat atau buta masih bisa
bertahan hidup
begitu juga dengan orang yang kurang dalam hal
pendengaran atau istilahnya
tuli. 

tapi bagaimana dengan orang yang tidak memiliki lidah
atau sesuatu yang
digunakan untuk mengunyah, menelan, atau untuk
'merasa'?

salah satu alasan kenapa kompatiologi berhasil..
karena kompatiologi
menitikberatkan pada proses pengindraan melalui
lidah.. yang untuk
merasakan minuman dari rasa manis, pahit, asem dan
lain-lain.

saya berkali-kali ceramah pada orang bahwa kita ini
hidup ini untuk 
menunda mati. Kita makan karena lapar dan kelaparan
salah satu
cara paling mudah untuk mati. begitu juga kita minum
karena kita
haus, oleh karena kehausan dapat menyebabkan orang
mati juga.

setiap hari kita makan. ada yang menunya sama setiap
hari. ada 
yang beda-beda. ada yang hanya makan sehari.. atau ada
juga
makan tiga kali sehari. 

"Hal ini dapat membuktikan bahwa orang bisa saling
membunuh karena
perbedaan pendapat dan keyakinan. Tapi orang tidak
akan membunuh
orang lain karena mengatakan.. bahwa nasi goreng ini
tidak enak.. atau
ketoprak itu enak. Bahwa masakan ini kurang garam..
dimana yang lain
mengatakan keasinan."

"Hal yang paling subjektif adalah apa yang dirasakan
oleh lidah!"

Dalam sesi pertama Dekon Kompatiologi.. adalah menebak
rasa minuman
dan sensasinya.. dimana masing-masing orang wajib
menjelaskan rasa suatu
minuman (yang dibeli di supermaket) dengan gayanya
masing-masing. Dimana
hal-hal yang bersifat suci, pangkat tinggi, terhormat
tidak terhormat, formal tidak
formal, kemapanan atau anti kemapanan.. bukanlah hal
yang menentukan benar
atau salahnya pendapat orang tersebut. Mau setinggi
apa pun derajatnya.. kalau
minuman itu rasanya pahit! dan orang lain mengatakan
hambar atau kurang manis.. itu hanya pendapat-pendapat
saja. Ia hanya mengatakan apa yang dirasakan terhadap
minuman tersebut. Tidak ada benar-salah. Tidak ada
terhormat-tidak hormat. Tidak ada darah biru atau pun
darah coklat. Ketika berhubungan dengan rasa.. setiap
orang punya pendapat.. dan rasanya masing-masing.

Kenapa demikian?

"Karena syarat hidup adalah makan. Dari kecil kita
makan. Dan kita makan
untuk bertahan hidup, dimana kita bertahan.. yaa untuk
menunda mati. Dan makan adalah suatu rutinitas yang
kita lalui setiap hari. Mau kita manjakan lidah kita
berbagai macam makanan yang berbeda setiap hari. atau
makanan yang sama setiap hari (itu semua melihat
kebutuhan dan keuangan). Ada orang yang prinsipnya
kenyang enggak peduli cita rasa. Ada juga yang
prinsipnya cita rasa tinggi.. kenyang hanya efek saja.
Ada juga yang cita rasanya setengah.. kenyangnya juga
setengah. Yaa semua kembali pada setiap manusia
bagaimana memanjakan lidahnya."


nah, disinilah Kompatiologi.. berhasilnya... ketika
semua orang yakin dengan semua rasa yang diminumnya..
atau sensasi yang timbul.. maka setiap orang
pada dasarnya memiliki sistem pengukuran sendiri.
Apalagi dalam hal lidah.. 
yang esensial dan super penting, rutin dan
sehari-hari.

ketika proses dekon terdekon menganalisa.. bahwa dari
hal sederhana saja.. setiap individu memiliki pendapat
dan interpretasi masing-masing.. apalagi sampai hal
yang rumit.. bisa ada penambahan atau pengurangan..
terhadap kesimpulan realita-realita.. mau pun
dogma-dogma yang pernah ia pahami.. dan itu semua
untuk kepentingannya sendiri!

kekuatan karakter dari masing-masing individu terhadap
rasa yang dirasakan.. pada akhirnya akan membuat
terdekon berpikir.. bahwa keberagaman bukanlah
keniscayaan.. dan bahwa keseragaman dan pembentukan
pola pikir melalui cuci otak.. akan mudah
dipatahkan... karena ketika berhubungan dengan rasa..
(yang rutin seperti lidah ketika makan) setiap orang
adalah ahlinya. setiap orang memiliki pengukurannya
masing-masing. mau itu enak atau tidak enak. pas atau
tidak pas.

Kompatiologi berhasil karena menekankan pada indera
yang dimanjakan setiap hari. Indera yang fungsinya
paling vital yaitu untuk makan dan minum. Dimana
kebutuhan paling dasar ketika orang bangun pagi.. atau
terlalu larut begadang..
mereka butuh karbohidrat.. dan butuh tenaga. untuk
mengembalikan kondisi tubuh..

Itulah kenapa Vincent mengatakan bahwa sesi ramal
hanya keren-kerenan.. bukan sesuatu yang wah-wah..
atau dahsyat.. dimana sesi paling penting adalah
ketika sesi pertama atau dekon menebak rasa dan
sensasi dari suatu minuman.. dimana indera lidah (yang
rutin sehari-hari, hukumnya wajib) yang kemudian
diuji, dites, dan di.................. gitu deh.

kalau belum jelas...
yaa sudah
tapi para terdekon sepertinya paham apa yang aku
maksud.

Salah satu alasan kenapa Kompatiologi berhasil??

"Karena bermain di wilayah rasa dari lidah. Dan
sesungguhnya lidah mengirim data-data yang subjektif..
yang terlepas dari benar salah, baik buruk, surga
neraka.."

ha ha ha!


Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke