Subject: Re: Renungan: Everybody Have a Weakness
DDT: Wed Jan 2, 2008 2:26 am
From: "Abu" <[EMAIL PROTECTED]>
e-link:
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/23562
 
"Abu" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Saya tidak mengerti dengan ada Vincent, ini kan dunia
Cyber yang sifatnya hanya dialog. Memang dalam
berdialog ada yang nyambung ada yang tidak. Itu wajar.
Tapi nama2 yang sudah anda data, apabila benar membuat
suatu crime maka tindak lanjuti aja lewat yang
berwajib alias aparat. Kalau aparat tidak mau menjalan
tugasnya, maka jalan pintas model FPI boleh dilakukan
sebagai tindak protes bahwa negara ini tidak becus
menangani hal yang demikian.

Abu Ibrahim.




Vincent Liong <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Ketika saya SMP saya sempat menerbitkan buku di
penerbit Grasindo berjudul Berlindung di Bawah Payung,
saat itu tahun 2001. Penerbitan buku saya selain
menggunakan biaya pihak Grasindo juga mendapatkan
sponsor dari beberapa pihak lain koneksi keluarga
saya. Peluncuran bukunya di Aksara Bookstore cukup
meriah lengkap dengan sponsor beberapa botol wine dari
paman saya yang ahli wine William W. Wongso yang
kuliner itu, dengan pembawa acaranya Nono Anwar
Makarim. Saat itu saya mendapat bantuan dari banyak
pihak sehingga di tahun-tahun selanjutnya kepuasan
akan buku pertama saya tidak saya rasakan, karena itu
bukan atas kemampuan saya sendiri sebagai manusia,
melainkan sponsor keluarga dan kenalan saya. 

Maka dari itu penelitian kompatiologi dari awal hingga
sekarang tidak pernah sekalipun saya meminta sponsor
untuk dana penelitian, adapun sponsor yang saya dapat
adalah pemberian pribadi kepada saya bukan sponsor
penelitian; ada seorang sponsor yang menawari saya
jatah beli buku di Amazone.com sebesar 100 sampai 300
US$ per bulan, itupun sangat saya usahakan sedikit
mungkin saya gunakan. Saya bukan tidak bisa meminta
bantuan, bukan saya tidak punya koneksi, tetapi saya
memilih tidak mau.

Setiap nabi besar yang datang entah dengan asosiasi
ketuhanan semacam apapun, dengan bahasanya
masing-masing, datang ke dunia dengan satu tema yang
sama yaitu: ‘Egaliter’ (persamaan derajat, hak,
kemampuan, kepintaran, nilai diri dimata pencipta dan
alam sebagai sesama umat manusia). Sang Budha datang
dengan pertanyaannya tentang kesamaan derajat manusia
sebagai makhluk hidup yang lahir, menjadi dewasa, tua
dan mati yang juga mempertanyakan kembali kebenaran
system kasta yang saat itu berlaku di negerinya. Yesus
Kristus datang dengan tema persamaan derajat bahwa
setiap manusia adalah sama-sama anak-anak Allah dan
memiliki hak dan nilai yang sama di mata Allah sebagai
anak-anaknya. Nabi Mohammad datang dengan tema
persaudaraan sebagai sesama umat beragama Islam.
Seperti persaudaraan yang sama di ritual naik Haji
yang menyamakan derajat berbagai manusia yang memiliki
latarbelakang ras, bangsa, tingkat kekayaan,
pendidikan, dlsb yang berbeda dalam perkemahan dan
perjalanan iman yang sama.

Meskipun saya bukan orang yang secara verbal beragama
dengan baik, hal-hal tema egaliter yang dibawa para
nabi ini sangat melekat pada pemahaman saya. Saya bisa
saja melanggar etika kesopanan, dan etika-etika yang
lain, tetapi saya tidak melanggar etika yang satu ini:
‘egaliter’. 

Musuh-musuh saya tahu bahwa saya tidak akan melanggar
iman saya; untuk tidak membalas teror keluarga dengan
teror keluarga ; kecuali bilamana telah sampai pada
korban fisik entah luka, cacat atau kematian karena
hal ini berkaitan dengan surviveability clan, keluarga
sedarah dan keluarga tidak sedarah (sahabat-sahabat)
saya. Ini yang membuat musuh saya tidak takut
menyerang saya, sayapun percaya bahwa tidak ada
tindakan yang tidak dibayar oleh seorang manusia, maka
dari itu saya hanya bersikap defensive dengan
mengumumkan perkembangan teror kepada khalayak ramai. 
  

Kompatiologi yang saya buat pun sangat berkaitan
dengan budaya egaliter;
Q; Mengapa saya tidak menjanjikan keberhasilan dalam
menjual kompatiologi, melainkan membiarkan murid-murid
saya yang tanpa bimbingan saya menulis bukunya
masing-masing?
@; Ini karena saya tidak mau mengganggu kealamiahan
proses penelitian dengan asumsi-asumsi yang mensugesti
seolah-olah demikian. Pada ilmu pragmatis kebenaran
ilmiah empiris muncul dari pengalaman eksperimen
lapangan bukan kegiatan berfilsafat, berlogika dan
berdiskusi membahas suatu object. Ilmu kompatiologi
adalah ilmu tekhnis jadi asal rumus tekhnikalnya tepat
maka penjelasan bisa dibuat sesuai sudutpandang dan
pengalaman individu masing-masing. Pada akhirnya ilmu
tidak penting, yang penting adalah bagaimana
masing-masing orang memiliki kebebasan mengembangkan
dirinya sendiri, sebagai manusia dengan namanya
sendiri-sendiri. 
Q; Mengapa saya membuat kompatiologi menggunakan
paradigma ilmu pragmatis bukan paradigma ilmu
teoritis?
@; Karena saya ingin memperjuangkan bahwa tidak ada
perbedaan antara yang bersekolah tinggi atau rendah,
guru & murid, pintar & bodo, dlsb ;manusia hanya
diukur sebagai manusia itu sendiri. Dalam ilmu
pragmatis seperti kompatiologi, salahsatu syarat
ilmiah empirisnya mengharuskan produk bisa digunakan
tanpa sugesti pikiran (tanpa ceramah, tanpa ajaran
dogma, dlsb) melainkan menggunakan sampler minuman
saja yang sifatnya tekhnis, dan harus bisa digunakan
oleh banyak orang tanpa batasan status kepintaran (SD,
SLTP, SMU, S1, S2, S3, Profesor, dlsb); makanya di
kompatiologi pertama kali ikut jadi murid, kedua kali
jadi asisten guru dan entah ke berapa kali setelah itu
memberanikan diri independent. Seperti produk
handphone, komputer, dlsb tidak mensyaratkan
penggunanya mampu mengerti, memahami bagaimana merakit
handphone, komputer, dlsb seperti orang elektro. Dalam
kompatiologi moral tidak diajarkan melalui omongan
tetapi melalui rumus-rumus sampling minuman yang
diselipkan di produk dekon-kompatiologi.

Resiko dari keterbukaan adalah mudah dicari
kesalahannya dan dipersalahkan. Meski saya tidak suka
diteror, teror yang saya alami juga adalah konsekwensi
yang harus dibayar karena saya merancang sesuatu yang
paradigmanya berbeda dari yang kebanyakan. 

Bilamana saya membalas mereka dengan cara yang sama
maka saya tidak lebih baik nilainya dibanding mereka
musuh saya. Saya bukan polisi yang menghadapi maling
atau maling yang menghadapi polisi, saya manusia biasa
dengan kelebihan dan kekurangannya. “Everybody Have a
Weakness”…

Note: Baca juga tulisan: 
* Dilema: Pragmatis VS Teoritis ; oleh: Vincent Liong
e-link:
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/23560
http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/3252



Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Rabu, 2 Januari 2007





LAMPIRAN

Everybody Have a Weakness

Ditulis oleh: Vincent Liong
Tempat, Hari & Tanggal: Jakarta, Rabu, 14 November
2007



Everybody Have a Weakness
But itsn’t right 
to find it and publish it all of it ?

Kalau mau saya cari kelemahan pribadi atau yang
berhubungan dengan keluarga, dari setiap anggota
gerakan terror, cacimaki dan ngomong jorok Pabrik_T
(Nuruddin Asyhadie, Dra. Ratih Andjayani Ibrahim MM.
Psi., Maya Notodisurjo, Goenardjoadi Goenawan,
Leonardo Rimba, Audifax, Edy Susanto, Sinaga Harez
Posma, dlsb) tidaklah sulit melakukannya… Tetapi
apakah perlu? 

Semua bisa saja dicari-cari kelemahan pribadinya,
masalah keluarganya, dlsb yang sifatnya ruangan
pribadi seseorang, lalu kemudian mengumumkannya,
menggunakannya sebagai blackmail, terror, cacimaki,
judgement-judmenet kepada anggota keluarga dengan
membawa-bawa kewenangan misalnya sebagai psikolog atau
peramal yang dipercaya masyarakat, motivator hati
nurani, sampai perwakilan kantor berita asing di
Indonesia yang mengurusi masalah muslim-barat. 

Apakah semua kebaikan yang ditanam bertahun-tahun ini
begitu tidak berharganya dibandingkan dengan kejatuhan
seorang Vincent Liong sehingga patut dikorbankan? 

Selama ini saya masih membongkar seperlunya saja;
Seperti anjing yang dipukuli tanpa sebab lalu digiring
ke sudut ruangan, saya selama ini hanya menggigit
untuk mendapat kesempatan lari meloloskan diri, tidak
lebih. Tetapi anda-anda ini mencari hingga ke masalah
yang paling pribadi, ke masalah keluarga, juga tidak
lupa ke masalah hingga yang paling spele atau kalau
perlu membuat-buat bukti palsu dengan tidak tahu malu.
  

Ada dua tipe orang yang sangat menyayangi saya dengan
tanpa pamrih rela berkorban untuk saya: 
Pertama adalah orang-orang yang mendukung segala usaha
saya dengan tulus-ikhlas dengan rela berkorban tanpa
pamrih. 
Kedua adalah mereka yang bersedia berkorban kehilangan
semua kebaikan yang pernah dibangun dalam hidupnya,
untuk sekedar “menjatuhkan” saya dengan segala cara
kotor, itu masih berlangsung sampai sekarang dan
sampaib hari ini saya masih belum mengerti masalahnya
apa hingga rela berkorban untuk sesuatu yang tidak ada
sesuatu hasil yang diperjuangkan dengan jelas.   


Everybody have a right to live 
So they have second chance 
if they choose to use it.

Kondisi saya sekarang adalah pada kondisi sekedar
mempertahankan apa yang masih ada untuk bertahan hidup
saja. Lalu saya melihat anda-anda ini (anggota gerakan
Pabrik_T) sudah memiliki banyak hal yang baik, tetapi
yang ada tidak disayangi malahan mau dikorbankan untuk
sekedar berusaha menjatuhkan saya. Beberapa orang
sudah mulai berusaha membangun kembali kebaikan
hidupnya yang dirusak sendiri demi menjatuhkan saya,
tetapi ego untuk bisa memenangkan kejatuhan seorang
Vincent Liong begitu berharganya. Maka bagunan yang
baru saja dibangun kembali dirusaknya kembali sehingga
harus start kembali dari nol. Lalu ini harus berulang
terus?

Padahal saya tidak memperlakukan anda seperti anda
(anggota gerakan Pabrik_T) memperlakukan saya; Seperti
anjing yang dipukuli tanpa sebab lalu digiring ke
sudut ruangan… Sampai hari ini saya berkali-kali
memberi kesempatan kepada anda-anda ini untuk menjadi
orang tidak bertanggungjawab, cucitangan dan lari.
Tetapi anda-anda menghargai niat baik saya hanya untuk
mengubah strategi serangan yang lama dengan strategi
baru.


A conflict that’s have problems 
can start and can be solve at a lifetime.    
A conflict that don’t have problems 
can’t and can’t be solve at a lifetime.

Kalau sepasang saudara bertengkar berebut harta, maka
ketika pembagian harta telah menjadi jelas, maka
pertengkaran akan menjadi dingin dengan sendirinya.
Tetapi kalau tidak ada materi yang bisa dijadikan
bahan pertengkaran, lalu bertengkar... Maka tidak ada
juga yang bisa memulai atau menyelesaikan suatu
pertengkaran.  


Everybody Have a Weakness
Apakah diri kita itu sudah sungguh bersih, sehingga
usaha penghakiman ke orang lain tanpa materi
pertengkaran yang jelas berhak kita lakukan?

Maka sebab berulang-ulang mereka itu bertanya juga,
tegaklah Ia serta berkata kepada mereka itu, "Siapa di
antara kamu yang tiada berdosa, hendaklah ia dahulu
melempar batu kepada perempuan ini." (Yohanes 8: 7)


Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Rabu, 14 November 2007



Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke