alternatif kasus Ryan: Dorongan Membunuh, Rasa Keadilan dan Perhitungan Manfaat
e-link diskusi: http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/3874 
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/24569 
note: telah diralat/dikoreksi: 
http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/3873 
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/24568 




Dorongan Membunuh, Rasa Keadilan dan Perhitungan Manfaat
-alternatif pembahasan kasus Ryan / Verry Idam Henyansyah-

Ditulis oleh: Vincent Liong / Liong Vincent Christian
Tempat, Hari & Tanggal: Jakarta, Senin, 11 Agustus 2008



Ketika lahir, seekor singa memiliki dorongan untuk tumbuh dan memperjuangkan 
kelangsungan hidupnya (eros), untuk bisa tetap hidup ia perlu membunuh hewan 
lain (pathos), kegiatan membunuh memiliki konsenkwensi dirinya tetap hidup 
karena masih tercukupi kebutuhan makanannya dengan memakan daging hewan 
tersebut, hewan lain mengalami kematian (tanatos) dan pada akhir hidupnya 
seekor singa tesebut pun akan mengalami kematian. Tiap dorongan baik eros, 
pathos maupun tanatos memiliki klimaks orgasmenya sendiri-sendiri seperti 
kenikmatan dalam hubungan seksual. 

Sebagai makhluk hidup pemakan segala; pemakan daging dan tumbuh-tumbuhan 
manusia juga turut mewarisi insting yang dimiliki oleh hewan pemakan daging. 
Jadi ada tiga macam dorongan yang sifatnya tidak disadari, yang mempengaruhi 
segala tindakan yang dilakukan manusia, yaitu: Eros(dorongan untuk hidup), 
Pathos(dorongan untuk membunuh) dan Tanatos(dorongan untuk mati). 


Di zaman ini banyak sekali penelitian mengenai ranah eros pada manusia, tetapi 
penelitian tentang pathos dan tanatos sangat jarang, karena meneliti dan 
membahas dorongan membunuh dan dorongan kematian dianggap kejam, tidak 
manusiawi dan tidak beradab. 

Banyak usaha dilakukan untuk mengabaikan, meniadakan dan menekan dorongan 
membunuh dan dorongan kematian ini, misalnya dengan pendidikan agama dan nilai 
moral tentang apa yang baik dan tidak baik untuk dilakukan. Dalam pendidikan 
ini diasumsikan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, dan memiliki derajat 
yang lebih tinggi daripada binatang, sehingga diharapkan dapat meniadakan 
prilaku kebinatangan tersebut. Permasalahannya: Apakah dorongan naluriah 
tersebut bisa diabaikan atau ditiadakan? Atau yang terjadi adalah dorongan 
naluriah tersebut hanya ditekan saja? 

Bilamana dorongan membunuh dan dorongan kematian tersebut hanya dapat ditekan, 
tidak dapat dihilangkan atau ditiadakan; maka ada resiko bila tumpukan dorongan 
yang ditahan tersebut telah mencapai tingkat tertentu, maka seperti ember yang 
terus-menerus diisi air lama-lama akan luber tidak terkontrol. 


Orang gila adalah orang yang tidak menyadari kegilaannya, sehingga kegilaan 
tersebut dapat muncul tiba-tiba dengan tidak terkontrol; Kalau seseorang telah 
mampu menyadari kegilaan-kegilaan yang dimilikinya, maka tentunya orang 
tersebut tidak akan kelepasan melampiaskan kegilaannya di tempat yang tidak 
semestinya. Pada tempat-tempat tertentu suatu kegilaan bisa dilampiaskan tanpa 
merugikan pihak lain di luar diri kita. Dan pada tempat yang lain pelampiasan 
kegilaan dapat merugikan pihak lain, yang menimbulkan konsekwensi; orang lain 
tersebut merespon dengan membalas merugikan diri kita. 

“Kesadaran” itu; Seperti tuntutan akan keadilan yang selalu terbatasi oleh 
perhitungan manfaat (untung-rugi); Seperti kebebasan yang semakin bebas maka 
tuntutan tanggungjawab juga semakin besar; Seperti manusia membuat 
sistem-sistem untuk menguntungkan dirinya, pada akhirnya diperbudak oleh 
sisitem-sistem yang diciptakannya sendiri. 


Ketika saya memiliki suatu dendam, karena di masa lalu seseorang pernah 
merugikan saya, bahkan sampai mengancam keselamatan nyawa anggota keluarga 
saya. Dalam hati tentunya saya ingin membalas dendam untuk menuntut keadilan. 
Bila saya tidak memiliki kesadaran, tentunya saya saat ini telah melakukan 
pembalasan dendam karena saya memiliki kemampuan untuk melakukannya. Tetapi 
nyatanya, sampai hari ini saya belum melakukan pembalasan dendam. Mengapa saya 
belum melakukan pembalasan dendam?! Kata Kong Hu Cu; “Manusia melakukan apa 
yang menguntungkan dirinya.” 

Pembalasan dendam belum tentu menguntungkan diri saya. Memang, kalau saya 
membalas dendam maka ada perasaan puas yang saya dapatkan, karena saya merasa 
telah mendapatkan keadilan. Tetapi konsekwensinya, saya bisa saja mendapatkan 
hukuman baik secara fisik (dipenjara), materi (waktu, pikiran dan tenaga 
terbuang ke semangat membalas dendam dan melupakan urusan yang lain), maupun 
moril (bisa terjadi balas berbalas dendam tidak berujung). 

Kalau saya tidak membalas dendam, maka konsekwensinya perasaan puas karena 
keinginan mendapatkan keadilan tidak terpenuhi. 

Atau ada cara lain agar perasaan keadilan tetap terpenuhi dan pembalasan dendam 
tidak perlu dilakukan? Caranya adalah dengan tidak bertindak apa-apa, maka 
secara alami musuh saya (orang yang pernah merugikan saya tersebut) akan 
terpancing untuk terus berusaha mencari kebenaran dan keadilan bagi dirinya, 
tanpa memperhitungkan perhitungan manfaat (untung-rugi) dalam hubungannya 
dengan pihak lain, termasuk diri saya. Akibatnya orang tersebut akan bisa 
merugikan pihak lain (bukan saja diri saya), sehingga makin banyak pihak akan 
menuntut keadilan atas kejahatan orang tersebut. 

Dorongan mengadili pihak lain berkonsekwensi diadili pihak lain. Seperti Iblis 
yang sebelum berkhianat kepada Allah Yang Esa adalah malaikatnya yang setia, 
pada akhirnya berkhianat karena ke-angkuhan-nya untuk merasa berkemampuan 
mengerti kebijaksanaan Allah Yang Esa, yang memacu dirinya berusaha menegakkan 
keadilan yang adalah kebijaksanaan Allah Yang Esa. 


Kesadaran akan membunuh dan mati dibunuh, mengadili dan diadili, kebebasan dan 
tanggungjawab didapatkan ketika seseorang menyadari pengalaman dari dua peran 
yang berbeda, satu peran terhadap peran yang lain. Banyak pemerintahan memiliki 
caranya masing-masing dalam menanggulangi dorongan membunuh dan dorongan 
kematian ini, misalnya dengan pertunjukan gladiator dan berbagai jenis eksekusi 
mati di depan khalayak umum yang telah terjadi dalam sejarah peradaban manusia; 
telah terbukti secara signifikan menurunkan tingkat kriminalitas. Menyadari 
membunuh orang lain dan menyadari dibunuh orang lain ketika berempati menonton 
pertunjukan gladiator dan eksekusi mati di depan publik; menteror masyarakat 
dengan pemenuhan kebutuhan dorongan membunuh dan dorongan kematian, sehingga 
maksyarakat memiliki kesadaran akan rasa keadilan yang selalu berhadapan dengan 
perhitungan manfaat.         

Masing-masing negara yang tidak memiliki pertunjukan gladiator dan berbagai 
jenis eksekusi mati di depan khalayak umum seperti Indonesia, memiliki cara 
berbeda dalam melampiaskan dorongan membunuh dan dorongan kematian; misalnya 
dengan semangat mendukung kesebelasan sepakbola yang disukai, baik di 
pertandingan di dalam dan luar negeri (semangat menang dan semangat kalah). 

Tetapi sayangnya tetap saja ada yang tidak tersadarkan oleh semangat nonton 
sepakbola dan sejenisnya, sehingga akhirnya memilih untuk melampiaskannya, 
dengan cara yang tidak disadari konsekwensi perhitungan manfaat 
(untung-ruginya); misalnya yang baru-baru ini terjadi yaitu tindak kejahatan 
Verry Idam Henyansyah alias Ryan yang membunuh dan memotong-motong korbannya. 
   

Orang gila adalah orang yang tidak menyadari kegilaannya, sehingga kegilaan 
tersebut dapat muncul tiba-tiba dengan tidak terkontrol; Kalau seseorang telah 
mampu menyadari kegilaan-kegilaan yang dimilikinya, maka tentunya orang 
tersebut tidak akan kelepasan melampiaskan kegilaannya di tempat yang tidak 
semestinya. Pada tempat-tempat tertentu suatu kegilaan bisa dilampiaskan tanpa 
merugikan pihak lain di luar diri kita. Dan pada tempat yang lain pelampiasan 
kegilaan dapat merugikan pihak lain, yang menimbulkan konsekwensi; orang lain 
tersebut merespon dengan membalas merugikan diri kita. 



Ttd,
Vincent Liong / Liong Vincent Christian
founder of Kompatiologi
Jakarta, Senin, 11 Agustus 2008 


Download for Free (tidak perlu membership) Update Terbaru
E-Book “Kompatiologi : Logika Komunikasi Empati”
e-link:  http://antonwid.gilaupload.com
* file PDF:  http://antonwid.gilaupload.com/Kompati_LKE.pdf
* file Ms.Word:  http://antonwid.gilaupload.com/Kompati_LKE.rtf
File PDF dan RTF(Ms.Word) bebas virus sehingga aman untuk didownload.

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke