Kesadaran dan Kepastian Tidak Ada Hubungannya

Ditulis oleh: Liong Vincent Christian / Vincent Liong dan Anton Widjojo
Tempat, Hari dan Tanggal: Jakarta, Sabtu, 6 September 2008

e-link tempat diskusi: 
http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/3965 
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/24648 balasan harap di cc ke 
alamat email [EMAIL PROTECTED] agar dapat cepat kami baca.

>+==============================+<
note: artikel ini adalah rangkuman hasil kutip-mengkutip dari banyak artikel 
kompatiologi berbeda, yang diurutkan ditambahkan dan disesuaikan sesuai tema 
yang ingin disajikan penulis. 
>+==============================+<



        “Semenjak manusia sadar bahwa dia memiliki kesadaran diri, dan 
kesadaran diri adalah sesuatu yang pasti, maka manusia menganggap semua ilmu 
pengetahuan harus dibangun atas dasar kepastian. Sehingga semua pengetahuan 
yang didapat dari pengalaman dan dan ketidak pastian tidak dapat dipandang 
sebagai ilmu. 
        Tetapi jangan lupa kesadaran diri dan pengalaman tidaklah ada 
hubungannya. Pengalaman akan menghasilkan pemahaman yang berbeda bagi tiap 
individu. Jadi pengetahuan yang didapat dari pengalaman tidak dapat dengan 
begitu saja dikatakan benar atau salah dengan memakai metode kepastian.”
(dikutip dari bagian Pendahuluan dari e-book “Kompatiologi Logika Komunikasi 
Empati”)

-----

Orang yang memilih jalan hidup sebagai orang kebanyakan (95%) tidak secara 
otomatis dapat dipastikan memiliki kewarasan, mengikuti norma dan peraturan 
yang berlaku. 
Menjadi orang yang memilih jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan orang (5%) 
tidak secara otomatis bisa dipastikan tidak memiliki kewarasan, tidak mengikuti 
norma dan peraturan yang berlaku. 

Orang gila adalah orang yang tidak menyadari kegilaannya, sehingga kegilaan 
tersebut dapat muncul dengan tidak terkontrol; Kalau seseorang telah mampu 
menyadari adanya kegilaan-kegilaan yang dimilikinya, maka tentunya orang 
tersebut tidak akan melampiaskan kegilaannya di sembarang waktu dan tempat. Dia 
hanya melampiaskannya pada tempat-tempat tertentu, di mana suatu kegilaan dapat 
dilampiaskan tanpa merugikan pihak lain di luar diri kita. Sebab jika 
pelampiasan kegilaan dilakukan pada waktu dan tempat yang salah, maka dapat 
merugikan pihak lain, yang menimbulkan konsekwensi; orang lain tersebut akan 
merespon dengan membalas merugikan diri kita. 

-----

Umpamanya pada sebuah kehidupan di dunia malam dimana aturan budaya yang 
berlaku melekat pada peran masing-masing individu di dalamnya; 
Seorang konsumen mempunyai Hak dapat bertingkah sesuai dengan kemauannya, yang 
jika dilakukan di luar wilayah kehidupan malam, tindakan itu dapat disebut 
melecehkan, pada para wanita/pria penghibur di dalam ruangan tsb; dengan 
Kewajiban membayar sesuai tarif yang berlaku. 
Seorang wanita/pria penghibur memiliki Kewajiban untuk menerima perlakuan 
konsumen Tanpa Memiliki Hak untuk menolak atau menunjukkan ketidaksenangannya; 
dengan konsekwensi positifnya wanita/pria penghibur tsb memiliki Hak atas 
bayaran uang dari konsumen sesuai tariff yang berlaku. 
Dan para pelayan yang bekerja di dunia malam berKewajiban menghidangkan minuman 
dan membersihkan sisa-sisa minuman tamu, tetap bertingkahlaku selayaknya orang 
yang bekerja di wilayah 95% seperti layaknya sopan-santun pegawai; para pelayan 
Tidak berHak untuk marah terhadap resiko bila terlecehkan oleh orang mabuk, 
keuntungannya mereka berHak mendapatkan upah yang lebih dibandingkan mereka 
menjadi pelayan di wilayah 95%.

Pelanggaran aturan terjadi bilamana; Seorang konsumen tidak melaksanakan 
Kewajibannya membayar sesuai tarif yang berlaku, Seorang wanita/pria penghibur 
dan pelayan marah karena dilecehkan konsumen. Seorang wanita/pria penghibur 
menghalangi konsumen dalam memaksimalkan Hak-nya untuk melecehkan si 
wanita/pria penghibur. 

Aturan budaya yang melekat pada masing-masing peran di kehidupan dunia malam 
baik kepada; si konsumen, si wanita/pria penghibur maupun si pelayan 
menginjinkan setiap individu untuk memaksimalkan Hak-nya selama masih melunasi 
Kewajibannya masing-masing. Si konsumen boleh merayu si wanita/pria penghibur 
dan membuatnya mabuk agar kehilangan kontrol dan bisa dimaksimalkan untuk 
dipermainkan lebih jauh. Si wanita/pria penghibur bisa berusaha merayu si 
konsumen agar membeli service yang lebih sehingga mendapatkan uang tips dan 
uang jasa yang lebih dari kesepakatan sebelumnya. Si pelayan bisa memberikan 
pelayanan misalnya; pemesanan minuman yang cepat, membersihkan meja dari sampah 
atau berprilaku lebih ramah dan ‘ringan tangan’ (suka membantu) agar 
mendapatkan uang tips yang lebih. 

Peraturan yang sama dari semuanya adalah aturan tentang fairness. Siapa yang 
mendapatkan lebih dituntut lebih dan siapa yang mendapatkan kurang dituntut 
kurang, itulah yang disebut kesepakatan yang fair. Untuk mendapatkan Hak-nya 
seseorang harus melakukan Kewajiban-nya. 

Segala kesepakatan antar peran masing-masing individu di dalam dunia malam 
hanya berlaku di dalam ruangan itu saja dan saat itu saja. Mungkin saja ketika 
masing-masing individu keluar dari ruangan, kembali ke dunianya masing-masing, 
satu sama lain mereka menjadi tidak saling kenal, seolah-olah tidak pernah 
bertemu, tidak ada yang pernah terjadi. Kesepakatan budaya ala dunia malam 
hanya berlaku di dalam ruangan itu saja dan saat itu saja, di luar 
masing-masing individu kembali menjadi manusia 95% dengan norma, aturan, dan 
sopan santun yang berlaku di masyarakat umum.

-----

Jikalau seorang supir Bajaj memukul seorang polisi, lalu seorang polisi 
membalas dengan menangkap supir Bajaj tersebut, maka bisa saja terjadi 
“korps”(persaudaraan seprofesi) yaitu para supir Bajaj tersebut akan 
bersama-sama mengeroyok polisi yang menangkap supir Bajaj tersebut tanpa 
mencari tahu sebab-musebab asal-usulnya permasalahan.
Jikalau seorang Polisi menyalahgunakan kekuasaannya kepada seorang anggota 
“masyarakat” (yang bukan anggota korps polisi), lalu orang tersebut melapor ke 
kantor tempat polisi tersebut bertugas, maka bisa saja terjadi bilamana anggota 
masyarakat tsb malah akan dikerjai oleh “rekan sejawat” si polisi yang 
melakukan kesalahan. Tindakan yang tepat untuk dilakukan oleh anggota 
masyarakat tersebut adalah melaporkan pelanggaran tsb kepada yang lebih tinggi 
posisinya misalkan ke polisi militer. 
Jikalau seorang dokter melakukan malpraktek dan si korban mengadukannya ke 
rumahsakit tempat dokter tersebut bertugas, maka bisa saja terjadi para rekan 
sejawat si dokter yang melakukan malpraktek akan mati-matian menutupi kesalahan 
rekan sejawatnya. Tindakan yang tepat untuk dilakukan oleh si korban adalah 
mengadukan kasus tsb ke lembaga bantuan hukum yang menangani kasus malpraktek 
atau mengadukan hal tsb ke badan yang mengawasi kode etik kedokteran. 

Kepolisian memiliki peran sebagai Polisi Hukum Masyarakat; Kedokteran memiliki 
peran sebagai Polisi Kesehatan Masyarakat; dan Psikologi memiliki peran sebagai 
Polisi Superego Masyarakat. Tiap bidang kegiatan professional yang memiliki 
perannya sebagai “Polisi” terhadap suatu bidang di masyarakat, sudah seharusnya 
juga memiliki “Polisi Militer”-nya masing-masing. 

-----
 
I * Ketika orang mulai beranggapan bahwa “kesadaran berhubungan dengan 
kepastian”; 
II * Ketika “fair-ness” tidak dijalankan (Siapa yang mendapatkan lebih dituntut 
lebih dan siapa yang mendapatkan kurang dituntut kurang, itulah yang disebut 
kesepakatan yang fair);
III * Ketika suatu jenis kegiatan professional yang memiliki perannya sebagai 
“Polisi” terhadap suatu jenis bidang kegiatan di masyarakat, tidak memiliki 
“Polisi Militer”-nya masing-masing.

Jika ketiga hal ini terjadi bersamaan, maka yang tercipta adalah pemerintahan 
“Tiran” yang akan berakhir dengan keruntuhannya secara alami.

-----

        “Akal yang diharapkan akan menghasilkan hal yang lebih baik dan 
bermoral, ternyata malah menghasilkan kekacauan dan kesengsaraan bagi manusia 
dan hanya menghasilkan keuntungan bagi kelompok atau dirinya dan tidak pernah 
mempertimbangkan kerugian dipihak lain. Sedangkan strategi bertujuan 
meminimalkan kerugian dari semua pihak.
        Semenjak manusia sadar bahwa dia memiliki kesadaran diri, dan kesadaran 
diri adalah sesuatu yang pasti, maka manusia menganggap semua ilmu pengetahuan 
harus dibangun atas dasar kepastian. Sehingga semua pengetahuan yang didapat 
dari pengalaman dan dan ketidak pastian tidak dapat dipandang sebagai ilmu. 
        Tetapi jangan lupa kesadaran diri dan pengalaman tidaklah ada 
hubungannya. Pengalaman akan menghasilkan pemahaman yang berbeda bagi tiap 
individu. Jadi pengetahuan yang didapat dari pengalaman tidak dapat dengan 
begitu saja dikatakan benar atau salah dengan memakai metode kepastian.
        Kini tiba pada pengertian baru, bahwa pengalaman tidak dapat menjadi 
tolok ukur, tetapi menghasilkan jangkauan variasi yang berskala. Ini sebenarnya 
sudah kita ketahui sejak dulu, tetapi tidak pernah kita sadari, seperti waktu, 
tidak kita sadari adalah suatu dimensi sampai Einstein mengenalkan pada kita 
bahwa waktu adalah dimensi. Setelah kita menyadari waktu adalah dimensi, banyak 
pengetahuan yang dahulu terasa benar, akhirnya kebenarannya hanya di dalam 
lingkup dan kondisi yang sangat sempit dan tertentu. 
        Anda mempunyai kesadaran akan adanya pilihan. Pilihan ada di tangan 
anda. Tetap tinggal di kepastian, atau berani mengalami realita baru dalam 
hidup anda.”
(dikutip dari bagian Pendahuluan dari e-book “Kompatiologi Logika Komunikasi 
Empati”) 



Download for Free (tidak perlu membership) Update Terbaru E-Book Kompatiologi
http://rapidshare.com/files/137418283/kompatiologi_logika_komunikasi_empati.pdf.html
 
http://rapidshare.com/files/137418284/kompatiologi_logika_komunikasi_empati.rtf.html
http://rapidshare.com/files/137418285/catatan_harian_seorang_pendekon_kompatiologi_andy_ferdiansyah.pdf.html
http://rapidshare.com/files/137418286/catatan_harian_seorang_pendekon_kompatiologi_andy_ferdiansyah.rtf.html
http://rapidshare.com/files/137418287/Kitab_Angin_Kompatiologi_Juswan_Setyawan.rar.html


      We have the leading experts share advice, tips, and personal experiences 
here - http://nz.lifestyle.yahoo.com/health/

Kirim email ke