maaf bila mengganggu, saya pernah baca artikel spt yg saya kutip dari
http://intelindonesia.blogspot.com/2007/02/gsm-oh-gsm-masih-berbendera-merah-putih.html

bila ini tidak sesuai dengan maksud dan tujuan dari group ini maka
tidak dilanjut disini tapi di gorup yang lebih sesuai

GSMÂ… OH GSMÂ… MASIH BERBENDERA MERAH PUTIH KAH ?


Perkembangan dunia telekomunikasi di Rekiblik Ndonez ini sudah
mencapai tahap yang mengagumkan. Pada September 2006 data menunjukan
bahwa pengguna Ponsel di Rekiblik Ndonez ini sudah mencapai angka yang
cukup fantastis. Pengguna Ponsel di Ndonez untuk sekarang ini mencapai
lebih dari 38 juta pelanggan atau sekitar 17,28 % dari keseluruhan
jumlah penduduk Ndonez. Jumlah ini adalah jumlah mereka yang hanya
menggunakan operator yang menyediakan layanan berbasis teknologi GSM
(Global Satellite Mobile) belum ditambah lagi mereka yang menggunakan
operator yang menyediakan layanan berbasis teknologi CDMA (Code
Digital Multiple Access).



Tanpa ampun trend menggunakan Ponsel ini sudah merambah ke semua
lapisan masyarakat dari semua golongan baik itu di daerah pedesaan
maupun di kota-kota besar. Ponsel sudah menjadi semacam instrumen
untuk menaikan status sosial dari seorang individu, bahkan banyak yang
menjadikannya sebagai life style dengan alasan kebutuhan akan
komunikasi dan informasi yang cepat. Tentunya hal ini adalah sesuatu
yang positif dan bisa dipahami di satu sisi, tetapi apabila tidak
diawasi dengan semestinya oleh pemerintah sebagai regulator sistem
telekomunikasi di Rekiblik Ndonez ini, maka perkembangan dunia
telekomunikasi ini akan menjadi boomerang yang memungkinkan terbukanya
celah dalam sistem pertahanan dan keamanan negara. Karena itu ijinkan
saya berbagi pengalaman dengan Bung Seno.

Beberapa waktu yang lalu Densus 88 Antiteror Polri melakukan
penggerebekan di daerah Wonosobo, Jawa Tengah yang menewaskan Jabir
yang konon adalah murid terakhir Sang Empu perakitan bom yaitu Alm.
Dr. Azahari. Seorang informan yang berdinas di Densus 88 bercerita
tentang kronologi terjadinya penggerebekan di Wonosobo. Densus 88
berhasil melacak Jabir dari nomor Ponselnya dengan menggunakan GSM
Interceptor buatan Israel yang berharga 4 milyar rupiah tiap unitnya.
Alat tersebut adalah sebuah kotak kecil yang bisa dibuka mirip Laptop.
Ukurannya sedikit lebih besar dari Laptop standar, warnanya abu-abu
kehitaman. Melihat alat itu, otak saya mencoba mengingat-ingat karena
saya pernah melihat alat ini sebelumnya.

Saya ingat peralatan milik Hulubalang Mossad yang sudah dimodifikasi.
Ada semacam antena yang menyembul dan bisa ditarik dari dalamnya.
Untuk hal ini saya tidak begitu kaget karena pada beberapa jenis
Laptop juga terpasang CDMA Modem yang antenanya bisa ditarik cuma
tidak sebesar itu. Perbedaan yang mencolok adalah adanya dua kotak
lain berwarna hitam dengan instrumentasi yang tidak begitu jelas yang
terhubung dengan alat itu. Instrumen ini juga memiliki layar
tersendiri tapi saya tidak bisa membaca apa itu karena ketika saya
melihatnya alat tersebut dalam kondisi mati.

Ternyata alat mirip laptop itu bukan sembarang Laptop, Mossad
menyebutnya the smart eagle yang mana "Berita berbasis GSM milik
Mossad". "Pencerahan" dari kalangan Densus 88 tentang fungsi
sesungguhnya alat itu membuka korelasi keyakinan Mossad menguasai
komunikasi GSM di Indonesia.

Saya terngiang dengan kalimat "Asal masih GSM !" Hal inilah yang
kemudian mendorong saya mengambil inisiatif lebih lanjut untuk
menganalisis menggunakan pendekatan Potential Risk Assessment (PRA)
dalam perspektif pertahanan. Bagaimana mungkin mereka mampu mengakses
semua teknologi komunikasi yang berbasis GSM di Rekiblik Ndonez ?
Kalaupun mereka memiliki peralatan yang canggih tetap saja tidak
semudah itu mengakses ke perusahaan-perusahaan yang memiliki
portofolio internasional.

Dalam teknologi telekomunikasi nirkabel, setiap modulasi yang terkirim
dalam pelayanan kepada para pelanggannya pasti dalam keadaan encrypted
dengan kode binary yang memang diciptakan khas, tidak mengikuti aturan
umum sehingga tidak mudah dipecahkan. Kebetulan saya sedikit banyak
belajar tentang ini, jadi saya tahu teknik enskripsi. Jangankan untuk
intercepting apalagi penyadapan, untuk mengakses server induknya saja
pasti sudah sangat kesulitan. Kecuali ada yang "bermain" di balik itu
semua, dengan memberikan key code binary untuk decryption sehingga
memudahkan langkah decoding setiap modulasi. Saya mencoba melakukan
deep study tentang dunia telekomunikasi di Rekiblik Ndonez ini
khususnya operator seluler yang menggunakan teknologi berbasis GSM.
Hasilnya cukup memuaskan saya, hipotesa saya terbukti.

Di Rekiblik Ndonez ini ada 3 operator seluler besar yang menggunakan
teknologi berbasis GSM yaitu PT. Telekomunikasi Indonesia Seluler Tbk.
(Telkomsel), PT. Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Indosat), dan
PT. Excelcomindo Pratama Tbk. (Pro XL). Kalau dilihat sekilas memang
tidak ada yang salah dengan ketiga perusahaan itu. Tetapi ketika
diselidiki lebih jauh Corporate Insight nya, maka akan ditemukan
potensi terbukanya masalah national security ini. Berikut ini adalah
data Biro Transaksi dan Lembaga Efek dari Badan Pengawas Pasar Modal
dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM) per Oktober 2006 tentang komposisi
pemegang saham dari 3 perusahaan telekomunikasi ini :

1. PT. Telekomunikasi Indonesia Seluler Tbk. (Telkomsel)
Singapore Telecom + publik asing : 37,86 %
Pemerintah Ndonez + publik Ndonez : 62,14 %
2. PT. Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Indosat)
Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. + publik asing : 86,62 %
Pemerintah Ndonez + publik Ndonez : 13, 38 %
3. PT. Excelcomindo Pratama Tbk. (Pro XL)
Telekom Malaysia Berhad + publik asing : 85,07 %
Telekomindo Primabhakti + publik Ndonez : 14,93 %

Lihat saja angka-angka tersebut. Wajar logikanya kalau saya mengatakan
bahwa telekomunikasi di Rekiblik Ndonez sudah tidak "berbendera Merah
Putih" lagi. Kalau boleh diambil rata-ratanya, maka kepemilikan asing
akan saham perusahaan-perusahaan telekomunikasi di Ndonez mencapai
angka 69,85 %. Kepemilikan saham yang hampir mencapai 70 % inilah
celah keamanan yang tidak diperhatikan oleh aparat-aparat yang
berkepentingan dalam hal ini, termasuk Seno Raya di dalamnya.

Saya mencoba menyelidiki tentang perusahaan-perusahaan asing ini.
Tentunya dimulai dari kepemilikan atas saham perusahaan-perusahaan
tersebut. Saya meminta bantuan seorang teman di Singapore untuk
melacak kepemilikan saham dari Singapore Telecom Inc. dan Singapore
Technologies Telemedia Pte. Ltd. Hasilnya cukup lumayan untuk membuat
saya curiga. Setengah dari saham perusahaan-perusahaan tersebut memang
dimiliki oleh pemerintah Singapore, tetapi sebagian kecil yaitu
sekitar 20 % lebih dimiliki oleh seorang Spekulan Valas Yahudi yang
pernah mengacak-acak konstelasi perekonomian Asia Tenggara pada dekade
90-an. Dia adalah George Soros. Sekalipun tidak secara langsung,
tetapi salah satu anak perusahaan dari Soros Corporation Holding Co.
memiliki saham kedua perusahaan ini. Meskipun kepemilikan saham atas
kedua perusahaan ini cukup kecil dibanding pemerintah Singapore,
tetapi munculnya nama ini dalam deretan para pemegang saham Singapore
Telekom Inc. dan Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. cukup
menimbulkan kecurigaan dalam benak saya terhadap setiap policy kedua
perusahaan ini di Rekiblik Ndonez.

Kalau diselidiki lebih dalam lagi, maka komposisi saham yang
sedemikian besar dari kedua perusahaan Singapore ini atas
perusahaan-perusahaan telekomunikasi di Rekiblik Ndonez akan
memberikan berbagai macam konsekuensi tersendiri di dalam manajemen
perusahaan tersebut. Pihak pemilik saham yang lebih banyak akan
menaruh orang-orangnya di dalam manajemen inti dengan porsi yang lebih
banyak pula dalam perusahaan tersebut. Analoginya mirip partai politik
yang memenangkan suara terbanyak sehingga memiliki banyak wakil di
parlemen, demikian pula pemegang saham dan Dewan Komisaris di dalam
sebuah perusahaan.

Orang-orang yang ditaruh di dalam manajemen inti sebuah perusahaan ini
tentunya memiliki pengaruh besar dalam setiap policy dan
keputusan-keputusan yang diambil perusahaan. Ekses negatif lainnya
adalah, orang-orang yang duduk di manajemen inti inilah yang memegang
banyak rahasia perusahaan termasuk sistem keamanannya.

Saya memiliki segepok arsip-arsip tentang orang-orang di manajemen
inti ketiga perusahaan ini. Data saya lumayan lengkap tentang
"Biography of the Board of Commissioners", "Biography of the Audit
Committee" dan "Biography of the Board of Directors" jangan tanya dari
mana saya mendapatkannya, karena setidaknya saya menghabiskan waktu 5
bulan untuk mengumpulkannya.

Terlalu panjang kalau saya ceritakan di sini tentang latar belakang
mereka satu persatu. Setidaknya ada beberapa orang dari mereka yang
berasal dari Singapore yang bisa saya sebut di sini seperti Peter Seah
Lim Huat, Lee Theng Kiat, Sio Tat Hiang, Sum Soon Lim, Lim Ah Doo, Ng
Eng Ho, Joseph Chan Lam Seng, Raymond Tan Kim Meng, dan Wong Heang
Tuck. Setelah saya selidiki latar belakangnya dengan seksama, pada
intinya adalah, ada beberapa dari mereka di masa lalu yang memang
pernah memiliki hubungan dengan beberapa Non Government Organization
(NGO) yang berasal dari Israel yang bermarkas di Singapore seperti
Shimon Perez Foundation, Shekel Ha-Nissi Foundation, dll.

Salah satunya bahkan mengambil Master of Technology dari University of
Tel Aviv dan menuliskan "Be shema Elah ha rahman rahamin melek Yom
Habbin, be shema Elah mubarekha ha shamayin mim alama we ad alama
hasyim be orach misor !" dalam pembukaan Tesisnya (saya punya salinan
Tesisnya). Kalimat ini merupakan kalimat salam pembukaan dari agama
Yahudi (Judaism). Dari closed source yang saya dapatkan,
mengkonfirmasikan kebenaran hal tersebut. Ada kemungkinan mereka bukan
hanya seorang businessman saja, bisa jadi Mossad Agent atau
sekurang-kurangnya orang-orang binaan yang dimanfaatkan, karena harus
diingat bahwa Singapore adalah sahabat karib Israel di Asia Tenggara.
Tidak salah rasanya kalau saya menilai dari sinilah sumber kebocoran
enskripsi telekomunikasi Rekiblik Ndonez.

Saya mencoba menarik benang merah yang merangkum semuanya. "Asal masih
GSM, berita itu milik kami !" Saat ini saya tidak lagi terheran-heran
kalau para Hulubalang Mossad mampu dengan mudah menyadap banyak
informasi, ataupun pembicaraan-pembicaraan penting yang dilakukan
melalui Ponsel berbasis teknologi GSM (saya tidak tahu bagaimana
dengan nasib CDMA). Tapi saya ingin menekankan bahwa, bahkan orang
paling bodoh di negeri ini pun akan tahu masa depan negeri ini kalau
17,28 % warga negaranya dimata-matai secara sistematis dan
terorganisir oleh negara lain yang memang menghendaki kehancurannya.
Anda tahu yang saya maksud. Saya menghimbau pada pemerintah dan semua
komunitas intelijen yang ada, seriuslah dalam mengemban tugas negara.
Kalau orang segoblok saya dengan ketrampilan, tenaga, dana, fasilitas,
dan waktu yang terbatas saja masih bisa mendeteksi sampai sejauh ini
meskipun tidak detail, apalagi kalian yang dibekali dengan pendidikan,
pelatihan, dana, dan fasilitas yang memadai, harusnya bisa jauh lebih
dalam dari ini semua. Kami sebagai warga negara ingin melihat hasilnya.

"Asal masih GSM, berita itu milik kami !" saya berharap statement
mereka akan berubah menjadi "Kalau sudah GSM, berita itu bukan milik
kami !"

Saya tunggu ulasannya Bung Seno. Sekali lagi, saya cuma Cah Bodho yang
nekad nulis dan nekad "nginteli" intel-intel.

-------------------------------------------------------------------------------------
Catatan Senopati

Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Cah Bodho yang saya kagumi,
begitu lama saya harus melakukan sejumlah crosscheck atas artikel anda
yang sangat berharga ini. Dengan sangat terpaksa, saya "buang" bagian
yang bisa digunakan untuk melacak anda. Penilaian saya, Cah Bodho
telah mengakses sekitar 20% informasi tertutup, yang merupakan
prestasi yang saya kira sulit untuk dicapai oleh Intel Polisi, Intel
TNI, bahkan Intel BIN sekalipun.

Saya juga termasuk yang pesimis karena saya hanya pensiunan yang sama
nekadnya dengan Cah Bodho. Andaikata kita bersama Blog I-I mampu
membangun pesimisitas mimpi menjadi gelora semangat Republik Indonesia
Raya, mungkin kenekadan ini akan menghasilkan gelombang perubahan
mental dan cara berpikir aparatur negara, khususnya intelijen untuk
menepati janji lahir bathin menjaga NKRI.

Pertanyaan saya berikutnya adalah, apakah Indonesian Intelligence
Communities mengetahui berbagai ancaman sejauh penyelidikan Cah Bodho
ataupun Blog I-I. Kemudian yang lebih terpenting lagi adalah sekuat
apa integritas Intelijen Indonesia dalam menyikapi berbagai ancaman,
jangan-jangan Intelijen Indonesia tidak mengerti metode Potential Risk
Assessment (PRA) ataupun metode Threat Assessment (TA).

Setidaknya Cah Bodho telah berbuat sesuatu bagi NKRI, yaitu berupa
peringatan nyata tentang potensi resiko bagi NKRI yang harus ditebus
dari kebodohan kebijakan negara yang carut marut dan tidak
terkoordinasi antar bidang-bidang pembangunan.

Blog I-I sudah putus asa dengan jalur-jalur resmi organisasi intelijen
Indonesia yang telah menjadi lucu karena banyaknya kelompok-kelompok
circus cambridge yang akan Blog I-I soroti pada tulisan berikutnya.

Blog I-I menantikan partisipasi aktif dari rekan-rekan Blog I-I
seperti Cah Bodho.

Pesan Senopati untuk Cah Bodho, tetaplah waspada dan berlaku wajar
dalam setiap proses penyelidikan.

Sekian

# posted by senopati wirang : 10:35 AM  

Kirim email ke