Kalau ada sebuah Bank di indonesia memberikan bunga deposito tinggi itu adalah hal yang wajar selama tidak melebihi dari bunga SBI yang ada. Apabila melebih dari SBI itu yang perlu dipertanyakan dan sebaiknya di hindari untuk menempatkan deposito di Bank tersebut. Pastinya yang namanya Investasi itu di depannya pasti ada sebuah resiko, tinggal bagaimana kita secara bijaksana menempatkan resiko itu secara pintar. Makin tinggi return , maka makin tinggi resiko yang ada. Seperti apabila anda berinvestasi di Reksadana saham dimana tujuan Investasi nya harus jangka panjang (minimal 5 tahun) dan anda harus pintar juga mencari Manajer Investasi yang sudah berpengalaman ex: Schroder , dimana kunci sebuah hasil dari investasi anda ada di tangan MI tersebut. Sebaiknya memang jangan taruh semua investasi anda didalam sebuah keranjang saja.
--- On Fri, 9/19/08, Ilham Rizqi Sasmita <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Ilham Rizqi Sasmita <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [pulsa] Re: Kompas: Lehman Getarkan Korporasi Global To: [email protected] Date: Friday, September 19, 2008, 2:56 PM Inflasi kita menurut BPS untuk kurun waktu Juli 2007 - Juli 2008 itu sekitar 15%. Pemicunya, kenaikan harga bahan pokok dan BBM. Kalau kita ambil deposito satu tahun dengan bunga 12%, artinya ya masih nombok 3% untuk menutup inflasi. Tapi kalau deposito 12% itu diambil per-1 bulan dan dirollover tiap 1 bulan, itu kan jarang bank yang mau. Menurut saya investasi untuk pendidikan anak itu maknanya agak aneh. Tujuan keuangannya untuk pendidikan, tapi jalannya lewat kegiatan investasi. Yang namanya investasi, selalu ada resiko walaupun kecil. Contoh: buat yang beli ORI tahun 2008, sekarang lagi rugi karena nilainya merosot terus. Atau yang beli reksadana saham, nilainya merosot dan resikonya makin besar karena ekonomi makro yang ikut terguncang. Kalau investasinya rugi, tujuan keuangannya ya gagal. Kecuali menabung. Tujuan keuangannya untuk membiayai pendidikan, dan jalannya lewat kegiatan menabung. Menabung seperti ini bukan kegiatan investasi, ya personal saving biasa. Masalahnya, sistem moneter kita yang sekarang beda dengan 5-10 tahun yang lalu. Praktis tidak ada lagi produk keuangan yang bisa dibilang tabungan. Sederhananya, hanya nitip duit. Karena desain besar dari pemerintah memang begitu, supaya rupiah banyak berputar di masyarakat lewat sektor riil. Bukan di pasar uang. Makin banyak uang berputar di masyarakat, pertumbuhan ekonomi bisa naik terus dan itu riil. Bukan seperti periode 2004-2005, pertumbuhan tinggi tapi bukan di sektor riil, tapi di sektor finansial. Akibatnya, walaupun pertumbuhan ekonomi tinggi tapi pengangguran kok banyak? Ya iyalah, karena yang tumbuh bukan sektor riil. Makanya suku bunga BI dipertahankan tetap rendah, karena kalau tinggi, nanti orang malah menyimpan uangnya di Bank. Konsekuensinya, bunga deposito rendah, bunga tabungan rendah, hampir semua bank yang mengeluarkan produk personal saving kasih bunga rendah. Heran kan, kalau ada bank yang kasih bunga tinggi untuk deposito? Makanya saya tanya kenapa...ada apa... Wah, kepanjangan nih... :D 2008/9/20 dwi lesmana <[EMAIL PROTECTED] com>: > deposito apa masih untung bos ? bukannya udah abis kemakan sama > inflasi per tahun...?? > > mendingan dipake beli stok mkios aja boss muternya harian, hehe... > > jadi inget tadi siang denger di salah satu radio, seorang pakar keuangan > (lupa > namanya) mengingatkan, hati2 juga dengan yg namanya 'investasi > pendidikan'. .. > baik berupa asuransi ataupun tabungan, menurut beliau at least bea > pendidikan > naik sekitar 20-25 % per tahun....hari ini kita buka investasi pendidikan, > sekian > tahun yang akan datang belum tentu cukup dengan bea yang berlaku pada saat > itu. > -- Voucha3 Team 0859-59-VOUCHA http://voucha. net
