Hakikat Halal bi Halal

 

Tidak cukup sebulan Syawal untuk kita berhalal bi halal , baik secara personal , orang seorang maupun yang diselenggarakan secara kolektif . Walau bulan telah berganti halal bi halal masih tetap saja dilakukan .  Hakikat halal bi halal meminta kepada orang lain agar menghalalkan perbuatan kita yang mungkin dirasa oleh mereka sebagai perbuatan yang tidak menyenangkan bahkan mungkin menjadi penderitaan . Sebaliknya kitapun menghalalkan perbuatan siapa saja kepada kita yang dirasakan kurang disenangi .

Walau sebagai orang beriman , sesungguhnya kita tabu untuk berencana membuat orang lain merasa tidak senang dan menderita akibat perbuatan kita . Permohonan maaf hanya terhadap perbuatan yang tidak kita sengaja . Jadi tidak perlu kita minta maaf dengan kata � Mohon maaf atas segala kekeliruan , baik yang disengaja maupun tidak � Pasti yang lahir dari seseorang adalah hal hal yang baik , tidak ada maksud berbuat buruk apalagi disengaja . Saling memaafkan menjadikan hidup kita tanpa beban . Tidak ada dendan , tidak ada sakit hati , apalagi niat untuk membalas dendam dan melampiaskan sakit hati . Memang berat untuk memaafkan , walau untuk meminta maaf sebagian orang merasa keberatan , ketika mereka meempunyai strata social yang lebih tinggi dari mereka yang diminta maafnya .

Memberi maaf atau melupakan terasa sulit , oleh karenanya Allah SWT memasukkan sifat mudah memberi maaf itu sebagai salah satu cirri orang yang bertaqwa .

Aapabila kita telah memberi maaf dan meminta maaf , yang penting sesudah itu adalah perubahan perilaku kita , tidak mengulang kesalahan yang sama . Ada sebuah pesan baik yang konon berasal dari nabi Musa A.s , berbunyi � Lupakanlah perbaikan baikmu kepada orang lain , dan ingatlah perbuatan burukmu yang terlanjur kau lakukan terhadap orang lain , sebaliknya lupakan perbuatan buruk orang lain pada dirimu dan ingatlah perbuatan mereka kepada dirimu �  Dengan mengikuti pesan itu hidup terasa indah , dan kita akan terus mengupayakan kebaikan dalam ucapan dan perbuatan kita ..

Tali hubungan sesama manusia , bisa berupa perjanjian atau kontrak social , mulai  dari kehidupan suami isteri , kekeluargaan sampai kepada kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara . Yang tertulis boleh jadi berupa undang undang , sedangkan yang tidak tertulis bisa berupa kebiasaan dimana kita berada , etika , sopan santun dll.

Maka dari itu kewajiban kita untuk selalu berpegang  kepada adat dan kebiasaan yang baik disamping juga berpegang kepada aqidah dan syariah ( jalan yang ditetapkan Allah ) dimana dilingkungan alam Minagkabau dikenal denganABS dan SBK itu.

 

Wassalam zul amry piliang di jimbaran bali


Do you Yahoo!?
New Yahoo! Photos - easier uploading and sharing
_______________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/listinfo/rantau-net
_______________________________________________

Kirim email ke