http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0312/16/daerah/744097.htm


Kelok 9 Dibangun, Ekonomi Sumbar Makin Menggeliat



Padang, Kompas - Pembangunan Jembatan Layang Kelok 9 di Kabupaten 50 Kota, sekitar 147 kilometer utara Padang, Sumatera Barat, tidak sekadar memperlancar akses transportasi Padang-Pekanbaru, tetapi juga bagaimana menyinergikan pembangunan daerah Sumbar dengan pertumbuhan yang pesat di daerah timur Sumatera. Secara langsung dan tidak langsung hal ini akan menggerakkan kegiatan ekonomi daerah ini, baik sektor pertanian, pariwisata, maupun jasa.


Bahkan, pembangunan Jembatan Layang Kelok 9 juga mempunyai dampak budaya, bagaimana memperkuat kembali hubungan budaya yang sudah ada sejak zaman Belanda antara Sumatera Barat (Sumbar) dan Riau, yang dulu pernah bersatu sebagai masyarakat Sumatera Tengah.

Demikian inti pokok-pokok pikiran yang dikemukakan H Basril Djabar (Ketua Badan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri Sumbar), Prof Dr Ir Muchlis Muchtar (Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sumbar), Ir H Dody Ruswandi MSCE (Wakil Kepala Dinas Prasarana Jalan Sumbar), Ir Hediyanto W Husaini MSCE MSi (Kepala Dinas Prasarana Jalan Sumbar), dan Ir H Indra Catri MSP (mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang), yang ditemui terpisah di Padang sejak tiga hari terakhir hingga Senin (15/12).

Mereka dimintai pendapatnya berkaitan dengan kedatangan Presiden Megawati Soekarnoputri tanggal 21-22 Desember nanti ke Sumbar untuk meresmikan dimulainya pembangunan Jembatan Layang Kelok 9. Megawati dan Taufik Kiemas di Batusangkar, Kabupaten Tanahdatar, sekaligus menghadiri prosesi adat Minangkabau pemberian gelar adat suku Sikumbang; Datuak Basa Batuak, kepada suaminya, Taufik Kiemas. Megawati sendiri juga akan mendapat gelar kehormatan Puti Reno Intan.

Basril Djabar mengatakan, dimulainya pembangunan Jembatan Layang Kelok 9 sebenarnya disambut sukacita oleh berbagai kalangan, terutama pelaku bisnis di daerah ini. "Bila pembangunan jembatan itu selesai, ekonomi masyarakat Sumbar akan menggeliat. Sentra-sentra ekonomi dengan komoditas pertanian dan agroindustri akan lebih bergairah dan hidup. Sebab, Riau merupakan pasar sangat potensial dan mudah dijangkau," katanya.

Ia menjelaskan, karena berada di pantai barat, untuk komoditas yang butuh waktu cepat, Pelabuhan Telukbayur tidak bisa diharapkan. Sementara Sumbar sebagai sentra pertanian dan agroindustri, produksinya banyak dibutuhkan provinsi tetangga, seperti Riau dan daerah lain di kawasan timur Sumatera. Dari Dumai, misalnya, ekspor komoditas asal Sumbar bisa cepat sampai ke Malaysia, Singapura, Jepang, Eropa, dan sejumlah negara tujuan lainnya.

Bila selama ini komoditas yang bisa diangkut terbatas dalam jumlah volumenya karena kondisi jalan yang sempit dan tikungan terjal, serta tidak bisa dilewati truk jenis tronton, maka dengan selesainya Jembatan Layang Kelok 9, demikian kata Basril Djabar, arus angkutan barang menjadi lancar.

Muchlis Muchtar menambahkan, selama ini yang dikeluhkan masyarakat adalah soal seringnya kemacetan dan terbatasnya daya angkut kendaraan yang melewati kawasan Kelok 9 tersebut. Sementara jalan alternatif tidak ada. "Karena itu, Pemerintah Provinsi Sumbar memasukkan proyek pembangunan Jembatan Layang Kelok 9 sebagai salah satu dari lima proyek strategis Sumbar 2000-2005," katanya.

Secara ekonomi, dengan pesatnya pertumbuhan di Riau dan kawasan Sumatera timur lainnya, banyak pelaku ekonomi di Sumbar menjadikan daerah itu sebagai target pasar utama. Sebab, dalam era otonomi, kawasan pantai timur Sumatera, terutama Provinsi Riau yang memiliki cadangan sumber daya alam yang besar-minyak dan gas-akan tumbuh menjadi pusat kegiatan ekonomi utama (economic growth pole) dan tentunya membutuhkan bahan baku produksi.

Muchlis melukiskan, beras dan sayur-mayur juga daging asal Sumbar merupakan tiga jenis komoditas Sumbar yang dominan dibutuhkan masyarakat Riau dan sekitarnya. "Pertanian kita adalah pertanian yang sehat, tidak memakai bahan-bahan kimia, seperti pestisida, tetapi pertanian anorganik. Dan konsumen produk ramah lingkungan ini tidak hanya di Riau, tetapi juga di luar negeri," tambahnya.

Infrastruktur

Untuk bisa berkompetisi di pasar yang potensial, fasilitas infrastruktur transportasi yang baik merupakan kebutuhan yang mutlak. "Usaha peningkatan kapasitas jalan Bukittinggi (Sumbar)-Pekanbaru (Riau) yang telah menggunakan dana besar dalam kurun waktu 10 tahun terakhir akan memberikan dampak yang optimal apabila kendala jalan-jalan sempit di daerah Kelok 9 dapat dipecahkan dengan membangun prasarana yang andal dan kapasitasnya tinggi, terutama bagi angkutan semitrailer," ungkap Dody Ruswandi.

Menurut dia, agar semua investasi yang besar bisa memberikan manfaat yang optimal pada masyarakat, pembangunan Jembatan Layang Kelok 9 menjadi sangat penting untuk segera dimulai.

Dari data yang ada, jelas Dody, kepadatan arus lalu lintas Bukittinggi-Pekanbaru rata- rata 7.559 per hari pada tahun 2001. Tahun 2003 arus lalu lintas berkisar 8.000 sampai 11.000 per hari. Ini dengan kondisi jalan yang sempit dan hampir selalu macet di kawasan Kelok 9. Bila Jembatan Layang Kelok 9 selesai, volume angkutan akan bertambah dan diperkirakan tahun 2010 rata-rata 13.000 unit per hari dan tahun 2015 sebanyak 16.000 unit per hari.

"Kami bersyukur, selain di Sumbar pembangunan Jembatan Layang Kelok 9 menjadi salah satu proyek strategis, oleh Departemen Kimpraswil juga menjadi salah satu dari lima proyek strategis nasional," tambahnya.

Bahkan, Kepala Dinas Prasarana Jalan Sumbar Hediyanto W Husaini memberikan data tentang terjadinya realokasi kegiatan perekonomian di wilayah bagian tengah Sumatera dengan Provinsi Riau sebagai titik sentral. Sebagai ilustrasi perbandingan indikator ekonomi dan lokasi antardaerah di sekitar Provinsi Riau (Tabel). Gambaran seperti yang terlihat pada tabel akan mendorong terjadinya persaingan antarprovinsi dalam memanfaatkan kemajuan yang dimiliki Provinsi Riau karena peningkatan produksi dan investasinya.

"Jarak yang relatif dekat merupakan kelebihan komparatif yang harus diperbesar keunggulannya dengan meningkatkan mutu pelayanan jalan agar hubungan lalu lintas Sumbar- Riau menjadi keunggulan yang berkelanjutan. Sesuai dengan perhitungan praktis transportasi bahwa semakin besar kapasitas daya angkut suatu kendaraan yang melalui suatu prasarana jalan, semakin murah pula biaya angkutannya," ujar Hediyanto.

Arus wisata

Lancarnya akses transportasi dengan dibangunnya Jembatan Layang Kelok 9, menurut Indra Catri, mantan Kepala Dinas Pariwisata Padang, tidak hanya memajukan sektor pertanian dan jasa, tetapi juga pariwisata. "Di balik kemiskinan sumber daya alam Sumbar, Ranah Minangkabau ini juga kaya dengan berbagai obyek wisata alam, budaya, sejarah, wisata belanja, dan atraksi kesenian yang tidak dimiliki provinsi lain seperti Riau," katanya.

Bagi masyarakat Riau, lanjut Catri, Sumbar merupakan tempat wisata yang menyenangkan. Cuma selama ini yang dikeluhkan mereka adalah kekhawatiran bila terjadi bencana tanah longsor atau macet di kawasan Kelok 9 karena tidak adanya jalan alternatif.

"Dengan dimulainya pembangunan Jembatan Layang Kelok 9, ada harapan industri pariwisata Sumbar akan semakin cerah. Bahkan, Jembatan Layang Kelok 9 ini, bila dibangun dengan memadukan aspek budaya, misalnya, desain jembatannya dengan ornamen-ornamen yang khas Minangkabau, seperti Jembatan Siti Nurbaya di Padang, maka akan menjadi obyek wisata tersendiri pula," ujarnya





Z Chaniago - Palai Rinuak -http://photos.yahoo.com/bada_masiak/

======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================

_________________________________________________________________
Browse styles for all ages, from the latest looks to cozy weekend wear at MSN Shopping. And check out the beauty products! http://shopping.msn.com


_______________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/listinfo/rantau-net
_______________________________________________

Kirim email ke