From: "nirijna" <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Fwd: Re: tentang jilbab di Prancis..milah? Date: Sun, 28 Dec 2003 07:07:03 -0000
--- In [EMAIL PROTECTED], "nirijna" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: --- In [EMAIL PROTECTED], "nirijna" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam
Sekularisme sekarang tengah berkembang dalam jalur mencari bentuk. Dulu, sekularisme dekat dengan kaum scholar yang punya kecenderungan mempermudah kehidupan manusia. Memang hanya kaum pintar yang mampu menjadikan yang sulit itu mudah.
Tapi kini, terminologi sekularisme mengacu pada non-fundamentalisme. Kalau perspektif ini yang kita pakai, wacana kita bisa membias ke mana-mana.
Saya lebih condong menggunakan perspektif pertama dimana sekularisme sebaiknya ditujukan untuk mempermudah hal-hal yang sulit dipahami oleh umat. Dalam konteks ini, sekularisme adalah sangat Islami sekali.
Dalam kaitan ini, semua perintah dan larangan yang nyata dalam Islam adalah Diin 'l Islam itu sendiri. Toleransi, salah satu contoh sekularisme, adalah salah satu ajaran yang nyata dalam Islam.
Tapi kalau ada sekularisme yang menjauhkan umat dari ajaran esensial Islam, maka tak dapat dikatakan diin. Terminologi yang tepat yang saya temukan dalam Quran adalah "milah."
Milah itu bisa berupa paham, informasi, perilaku, budaya, kebiasaan, adat istiadat dll. Yang tentu saja harus kita saring. Karena tidak semua milah itu baik dan tidak semuanya buruk. Tergantung darimana sumbernya dan ditujukan untuk apa (manfaatnya).
Kalau sumbernya condong pada kekafiran, maka milahnyapun condong sesat. Kalau sumbernya condong kepada iman, maka milahnyapun condong baik. Uswatun hassanah yang ditunjukkan Rasulullah termasuk milah yang baik. Budaya kekerasan, permusuhan dan kebencian untuk tujuan 'perut' kelompok tertentu, jelas milah yang buruk.
MUI menmgeluarkan fatwa tentang pengharaman bunga bank tanpa didukung oleh ekonom yg ulama, jelas milahnya meragukan. Pernyataan seorang Hatta yang ekonom tapi paham Islam tanpa harus memamerkan songkoknya, kemungkin milahnya ke arah yang baik sangat besar sekali, walaupun Hatta menghalalkan bunga bank karena dianggapnya bermanfaat untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Jadi saya kira 'diin' itu jelas sekali posisinya. Dianya berupa petunjuk nyata dari Allah SWT semata. Kalau ada petunjuk dari tuhan- tuhan yang lain, biarkan saja. Diinul kafirin namanya.
Seperti tulisan Ulil di Kompas yang kontroversial yang membolehkan wanita muslim tanpa jilbab. Itu jelas milah namanya. Bahwa wanita muslim, apalagi sudah bersuami, mutlak menutupi aurat, dan dianjurkan berjilbab seperti istri2 nabi, adalah Diin 'l Islam.
Bahwa Ulil menanggalkan jilbab istrinya, itu adalah milah (cult) seorang Ulil. Sah-sah saja bagi seorang Ulil. Tapi yang jelas istri2 saya wajib berjilbab karena saya seorang pengikut Diin 'l Islam (The Way of Islam). Karena memang jilbab baik buat dia, saya dan orang2 di sekitarnya.
Saya sering merasakan 'pandangan aneh' orang-orang fundamentalis, terutama ketika saya dan istri berada di bandara. Saya condong travel bercelana pendek. Kombinasi pria bercelana pendek dengan perempuan berjilbab Sunniah, masih menjadi pemandangan langka di negeri ini.
Istri saya menjalankan Diin 'l Islam. Saya menyuruh dia karena itu ajaran Islam. Tapi bahwa saya kemana-mana becelana pendek, itu adalah milah (cult) seorang saya. Artinya, milah yang tidak merugikan diin itu sendiri. Wong auratnya pria cuma "pandangan" dan kemaluannya saja.
Itulah salah satu ungkapan protes saya terhadap kemaksiatan yg merajalela saat ini. Banyak laki2 yang bercelana panjang, ternyata menerapkan seks bebas, selingkuh, sex after lunch dll. Tidak bisa menjaga mata dan kemaluannya. Diin Islam adalah menjaga pandangan dan aurat. Apa yang harus dipakai untuk menjaga pandangan dan aurat itu, silakan berekspresi ria (culture), bermilah ria. Percuma culture-nya tertutup, tapi tabiatnya terbuka. Saya menghindari "cult of appearance" (pinjam istilah Bill, thanks) yg seperti itu.
Seorang sister di Gereja, bila dia mengenakan jilbab karena yakin itulah jalan terbaik baginya untuk menjaga auratnya dan mencegah orang lain tergoda yang nggak2 atas dirinya, bagi saya itu sudah mencerminkan sikap Diin 'l Islam.
Tapi rumah mode yang memproduksi Moslem Fashion dengan segala kelebihan lekuk2 tubuh dan penonjolan lainnya, kendati terbungkus, adalah milah, apalagi bila dipamer-riakan di atas catwalk, merchandises, namanya.
Memang setiap amal tergantung motif. Dan ironisnya, hanya Tuhan yang tahu motif sesungguhnya amal2 seseorang. Kita hanya bisa mengevaluasi output dari orang itu saja.
Salam Nirijna MC
--- In [EMAIL PROTECTED], "Johan Romadhon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Sebetulnya ada satu agama yang sangat diuntungkan oleh pernyataan Presiden > Chirac ini, agama Sekulerisme. Pendapat ini dilontarkan oleh sebagian kawan > diskusi saya, yang tentu saja, tergolong "fundamentalis" untuk ukuran milis > ini. Apalagi, dari ngaji saya selama ini, kedudukan ideologi- ideologi yang > ada, disejajarkan dengan agama-agama, masuk golongan dien. > Nah mungkin ustadz di islib ini bisa lebih jelaskan dien itu apa ya bisa > disamakan dengan ideologi, ini pertanyaan saya. > > > ] --- End forwarded message --- --- End forwarded message ---
_________________________________________________________________
Add photos to your e-mail with MSN 8. Get 2 months FREE*. http://join.msn.com/?page=features/featuredemail
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________
