Wa'alaikum salam wr. wb.

Ronald, sama sama uda ucapkan juga selamat berkenalan dan salam hormat untuk
Ronald di Papua......
Bagaimana khabarnya di sana....?, apakah ada juga bara2 api seperti di aceh,
yang nanti lambat laun bisa juga menjadi aceh kedua..?

Berbicara mengenai minang terutama dari kacamata uda yang sudah 18 thn tidak
melihat minang, benar benar seperti mencoba mengenali teman sepermainan
diwaktu kecil dimasa sekarang.
Semua yang uda bayangkan tentang dia sudah jauh berbeda bahkan mungkin
bertolak belakang dari apa yang uda bayangkan sebelumnya.

Tapi bolehkan kalau uda mau menilai secara general....?

Minang menurut uda memang sudah berubah dan jauh berbeda dengan minang yang
dikenal dulu oleh orang2 dipropinsi lain...Dulu dikenal orang minang itu
alim2, taat beragama, kalau kawin tidak boleh dengan orang diluar minang,
semua sudah diatur oleh keluarga (arrange married), bila ada laki2 minang
kawin dengan suku sunda misalnya, maka keluarga perempuan tidak akan pernah
mengizinkan mantunya untuk pulang kampung karena takut kalau pulang akan
dikawinkan lagi..., kemudian begitu dikenal orang minang itu kental
kekeluargaannya bagai pepatah anak dipangku keponakan dibimbing.

Itu semua sudah berubah seiring dengan berputarnya roda jaman ini, pengaruh
orang2 dirantau yang sudah tidak lagi memperhatikan adat2 kita seperti anak
dipangku keponakan dibimbing. Tidak ada lagi mamak yang repot2
mencarikan/memilih jodoh untuk keponakannya, seringkali sang mamak cuma
sebagai simbol karena semua sudah diputuskan oleh orangtua sianak.
Selain itu pengaruh pendidikan juga membuat sianak kadang lebih pintar dari
orangtuanya, tidak jarang sianak menentukan sendiri apa yang dia anggap
benar.
Belum lagi pengaruh globalisasi yang sudah merasuk kedesa desa dimana ekses
negatipnya tentu saja ikut seperti sudah umumnya melihat adegan yang kurang
pantas difilm film, atau juga vcd2, buku2, situs2 dlsbnya.

Ini semua memang tak bisa dibendung......., ibarat membendung air, semakin
dibendung semakin besar daya dobraknya, dan semakin besar juga keingin
tahuan kaum muda.

Maka apakah yang bisa kita lakukan.....?, menerima dan menyadari adanya
perubahan itu adalah yang pertama kita mesti lakukan, kemudian bagaimana
kita mengarahkannya agar perubahan ini tidak menjadikan generasi kita
menjadi rusak/mundur tapi sebaliknya menjadi pemacu bagi mereka agar bisa
berprestasi.

Contoh yang bisa saya berikan adalah terutama dalam masalah
pendidikan......., saya tidak yakin apakah sekarang sudah berubah atau belum
di Ina.
Tapi saya ingat sejak saya sekolah dari SD sampai kuliah maka metodanya
tidak berubah, saya disuruh menghafal, mencatat tanpa ada usaha2 dari guru
saya waktu itu agar kita murid2 belajar memikirkan dan mencerna apa yang
sedang diajarkan.
Bahkan sewaktu kuliahpun di Ina, masih juga kerja saya cuma mencatat2 dan
menghafal2 untuk quiz2 dlsb. Maka tidaklah heran setelah lulus sekolahpun
sarjana2 kita masih belum siap pakai dan masih perlu training2 /on the job
training sebelum benar2 bisa dilepas sebagai pekerja.

Setelah saya kuliah disini, walau saya sadari amrik masih jauh ketinggalan
levelnya dibanding eropa sana, betapa system pendidikannya jauh berbeda
dengan yang saya terima di Ina dulu. Disini sebelum kita kuliah,  seminggu
sebelum pertemuan materi kuliah sudah bisa didownload diinternet, begitu
banyak assignment2 dan setelah tugas selesai semua jawabannya juga bisa
dilihat juga diinternet, belum lagi library yang menyebar dimana mana,
bargain2 book dan banyak lagi.
Maka lihatlah betapa kemajuan teknology benar2 dimanfaatkan oleh orang2
disini.

Melihat contoh ini, tidak bisakah ini juga diterapkan di Ina, toh nyatanya
pertelekomunikasian sudah semakin maju di kita, warnet menjamur dimana mana,
alangkah bagusnya bahan2 pelajaran bisa diposting di internet, test2 atau
ulangan harian bisa dikirim lewat email kepada siswa/orangtua, library
diperbanyak, buku2 tidak perlu dicetak dengan kertas2 mahal. Kemudian
setelah anak2 usia 16thn keatas diberi kesempatan untuk magang kerja ditoko2
atau tempat kerja lain yang ringan2.

Maka kalau globalisasi ini dimanfaatkan secara baik, kita tidak perlu lagi
khawatir generasi muda kita akan mengalami kemunduran atau dekadensi moral,
karena semua sudah disibukkan oleh assignment2 dari sekolahnya, tak sempat
lagi mereka membuka situs2 porno yang saya lihat bertebaran diwarnet2.

Sekian saja dulu ya Ronald, maaf kalau sekiranya jawaban uda kurang tepat
dengan sasaran yang Ronald tanyakan.

wassalam
da Ad



----- Original Message ----- 
From: "ronal chandra" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "<b>Milis Komunitas MINANGKABAU (Urang Awak)</b> sejak 1993"
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, January 04, 2004 2:16 AM
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Catatan Pendidikan Sumbar Memasuki th 2004


> Assalamu'alaikum Da Adrisman
>
> Da ambo ka tanyo ke Uda, Udakan ado dilua nagari yo
> ?bisa uda menjelaskan bagiamana uda memandang Minang
> saat ini dari kaca mata uda nan ado dilua nagari ?bia
> awak samo2 tau dulu, batua indak minang menghadapi
> masalah saat ini?
>  koq lai bulieh silahkan dijawab da :-)
>
> Wassalam
> Ronal Chandra

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke