Dari Riau nan taraso bana dek ambo iyo iko ' pendidikan dan kemiskinan ';
        Konyo kalau bisa awak makan :
        - Untuak manggalang Sumbar miskin dicontoh / awak tiru dari Malaysia
sumber dari Riau Post tgl 12/01/04 koran pagi dari temu muka undangan /
jumpa pers gubernur Riau bpk Rusli Zainal jo rekannyo konsul Malaysia di
PBaru, salah ciek dari kato no nan awak pacik " Di Malaysia untuak maransang
Ekonomi masyarakat nyo (Malaysia)kerajaan Malaysia mempermudah urusan
perizinan berusaha / usaha rakyat banyak supaya masyarakat Malaysia
bergairah berusaha di bidang apa saja (red) ". Yg ambo tau  ampek parusahaan
sawit gadang di riau Malaysia nan baladang tun . Lain hal jo kawan sikola
ambo thn 1985 pai ka Malaysia tukang kabun sawit kato no (barhasil
tampaknyo- sakakali pulkam no baok manpower kasinan). 
Jadi kapatang Minang Inc. kan ado, indak mungkin awak baok ka Sumbar dan
awak buek parusahaan daging sapi yg awak dibimbiang dek Dr. Hewan Sumbar
(usul).Dan ciek lai pedoman awak 5000 ek sapi/ thn di datangkan dari Amerika
dan alun nandari Australi jo Switzer Karano Sumbar subur tanahnyo tambahan
partamo otoda diluncuakan dulu satahu ambo adiak ambo dr hewan skkan di
Jambi di tariak pulkam dan kini lamak dikampuang sambia no pupuah 5ribu ayam
talua (masih lumayan)+ helper 4urg , alun nan adiak ambo lai yg sumando ambo
tu dari Jawa Drh .Saking sibuk no susak awak batamu/ bincang2 talepon bunyi
tiok sabanta hal taranak tu.
Jadi hal Eko sumbar mungkin indak parah bana tapi pengarahan/pemerataan nan
alun tapek sasaran. Mudah2 an apak Sumbar jadi mangarati. Contoh sajo
Kiktinggi jo wisata objek no dan RSTs panuah taruih alah sawajar no di
bangun tabahan bangunannyo (indak tatampuang lai pasien stroke nyo  +
bangunan + pasien + pagawai).DLL.
        - Kalau Sumbar Eko rancak ambo yakin pandidikan tabantu dan sdm
subar naik mudah2 an.

Wass dulu,
PMMA


-----Original Message-----
From: ronal chandra [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, January 09, 2004 11:41 AM
To: <b>Milis Komunitas MINANGKABAU (Urang Awak)</b> sejak 1993
Subject: [EMAIL PROTECTED] Perantau Minang dan Masalah Pendidikan Minang


Dalam tulisan sebelumnya saya mengatakan bahwa masalah
utama yang dihadapi Masyarakat Minang saat ini adalah
keterbelakangan pendidikan&keterpurukan ekonomi yang
membuat terjadinya permasalah sosial dikehidupan
bermasyarakat.

Keterbelakangan pendidikan dan Keterpurukan ekonomi
adalah hal yang paling melekat dalam masyarakat Minang
saat ini, sepertinya dua hal diatas seakan identik
dengan keadaaan masyarakat yang dulu merupakan ras
terbaik disuku bangsa ini.

Pendidikan, proses pendidikan yang berlaku saat ini
diindonesia maupun diMinang membentuk pola pikir
generasi kita (Minang) menjadi generasi berpola pikir
pegawai. Tujuan akhir dari rentetan proses belajar
yang panjang hanya untuk mendapatkan selembar ijasah
yang akan berguna untuk melamar pekerjaan, sehingga
bukanlah hal yang mengherankan jumlah calon pegawai
trus bertambah dari tahun ke tahun sedang lapangan
pekerjaan yang diharapkan tidak sebanding dengan calon
pegawai.

Tingkat pengangguran yang tinggi dengan label sarjana
membuat stigma negatif yang muncul dimasyarakat saat
ini.  Karena pendidikan = sarjana identik dengan
pengaguran, fenomena ini membuat kejenuhan digenerasi
- generasi yang akan tumbuh menjadi pemimpin Minang
disama depan. Hal ini membuat pemahaman dimasyrakat
bahwa pendidikan bukan lagi suatu hal yang diperlukan.

Pemerintah Daerah sering kali dipojokan sebagai orang
yang bertanggung jawab dalam setiap kemunduran
pendidikan yang terjadi diMinang. Justifikasi seperti
ini adalah bentuk ketidak adilan yang sering kali
dilakukan masyarakat yang panik, karena pada
prinsipnya Pemerintah Daerah adalah seorang pegawai
yang berbaju Eksekutif yang hanya tau menjalankan
tugas dan perintah dari orang atau masyarakat yang
mengangkatnya.

Dari uraian diatas dapat dilihat sistem pendidikan
yang tumbuh berkembang saat ini sudah menjadi jamur
yang menggerogoti pola pikir calon - calon pemimpin
masa depan.   Ketika sebuah sungai yang hulu nya hitam
maka air yang mengalir pun akan berwarna hitam dengan
kata lain ketika para pendidiknya bermental pegawai
maka anak didiknya pun akan bermental pegawai yang
akan bermuara pada bertambahnya calon pegawai yang
tidak pernah selesai.

Perantau Minang, Minang sangat identik dengan
perantaunya, kecendrungan yang terjadi bahwa para
perantau Minang selalu dapat survive dimanapun mereka
berada. Pola berpikir " Dimana bumi dipijak disitu
ranting dipatah dan alam takambang jadi guru?" membuat
perantau Minang sangat mudah beradaptasi dengan
lingkungannya dan kemudian survive.

Hampir 90% dari para perantau ini adalah pembuka
lapangan pekerjaan yang unggul karena hampir 90% dari
perantau ini adalah pedagang (pengusaha). Adalah hal
yang mungkin untuk melakukan riset tentang konsep
pengembangan usaha dari para perantau ini yang
kemudian mengkemasnya menjadi sebuah konsep pendidikan
kewirausahaan sehingga nantinya ada pola penyeimbang
dari pola pendidikan diknas yang mengarahkan anak
didiknya menjadi pegawai dan pola pendidikan
kewirausahaan dari para perantau Minang yang
mengarahkan anak didik nya menjadi pencipta lapangan
pekerjaan.

Sehingga  akan terjadi sinergi yang baik antara
Pemerintah Daerah + Masyrakat dengan para perantaunya.
Nantinya kedepan bukan Cuma ada sekolah dan perguruan
tinggi yang menghasilkan lulusan berwatak pegawai tapi
juga ada sekolah dan universitas yang sanggup mencetak
generasi yang berwatak kewirausahaan.

Karena posisi dari para perantau yang berada jauh dari
daerah asalnya membuat para perantau Minang ini berada
ditengah dan memungkinkan untuk menjadi penyeimbang
dalam menyelesaikan semua masalah yang terjadi
disumbar.

Wassalam 
Ronal Chandra 
Dari Bumi Timur Indonesia
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke