Pak Darwin dan sahabat milis,
Saya down load email hari Minggu Sore 28 Desember. Sempat terkejut ada nama saya pada judul posting yang dikirim Pak Darwin...Pengirim yang tidak asing lagi bagi saya dan kawan-kawan di forum ini...Nama yang selalu teringat dengan tulisan bersambung berjudul : Catatan Perjalanan Haji...Yang setelah saya kumpulkan ada kurang lebih 27 seri....Dengan sekitar 100 halaman....Yang mana tidak pernah bosan saya baca dan saya simak....Selalu menimbulkan keharuan dan rasa kangen kepada sang penulis....
Catatan pertama, Pak Darwin menyebut seorang teolog Katolik Hans Kung...Mengingatkan saya saat menempuh kuliah di Fakultas Theologia Duta Wacana...Ada seorang teman seangkatan yang pernah menulis skripsi mengenai pemikiran Hans Kung...Saya tertarik pemikiran Hans Kung mengenai posisi agama...apalagi kalau direlevansikan dalam kehidupan umat beragama di Indonesia. Sebenarnya dulu saya ingin membahas dalam skripsi relevansi pemikiran Hans Kung dalam konteks masyarakat beragama di Indonesia.Sayangnya...melihat track record nilai saya waktu yang meragukan kemampuan saya menulis topik itu, akhirnya dosen pembimbing saya sempat melarang...Wah beruntunglah kawan saya itu punya kelebihan intelektualitas sehingga mampu mengulas pemikiran Hans Kung.
Dalam salah satu perenungan natal sempat timbul pertanyaan, mengapa ke-kristen-an oleh sebagian pihak diekuivalenkan dengan Yahudi...? Sehingga ketidaksenangan terhadap masyarakat Yahudi dilampiaskan ke komunitas Kristen...Demikian juga di sebagian komunitas umat Kristen, begitu semangatnya mengkaitkan ke-Kristen-an dengan Yahudi...Begitu bangganya dengan peradaban dan histori Yahudi, sehingga semakin mengukuhkan, yang sebenarnya sangat semu, Kristen dengan Yahudi...
Lagi-lagi dalam konteks Kristen-Yahudi saya "berontak" dan melakukan otokritik di kalangan komunitas Kristen dimana saya berada...Pertanyaan yang diajukan, apa yang harus di-BANGGA-kan dari sebuah bangsa yang dalam sejarahnya telah mencerca Yesus Kristus (Isa Almasih)...telah mengutuk...telah menghina...yang pada puncaknya telah menyalibkanNYA di tiang gantungan sebagai lambak kutuk...???Apakah ke-jahat-an bangsa Yahudi itu adalah rencana Allah...sehingga dosa besar bangsa Yahudi harus dimaafkan...dan dianggap sebagai jalan Tuhan....??Terhadap pemahaman itu saya sangat tidak setuju....Kekristenan memang berpijak pada akar sejarah Yahudi...Namun bukan berarti Kristen harus ekuivalen dengan Yahudi...Dalam tradisi komunitas dan histori memang ada benang merah yang menghubungkan antara Ke-kristen-an dengan Yahudi...Namun dalam tradisi ke-Iman-an....benang merah itu tidak perlu dipertahankan lagi....Ke-iman-an Kristen sangat tidak bisa dihubungkan ke-iman-an umat Yahudi....
Konsekuensi dari sikap saya itu, saya tidak lagi memusingkan dengan identitas agama yang tertera di KTP saya sekarang ini. Apa artinya agama yang saya peluk kalau ternyata misalnya ada penafsiran ajaran (oleh tokoh gereja tertentu) yang justru menghambat komunikasi saya dengan saudara-saudara saya umat beragama lain....Ibarat agama saya telah menjadi penjara yang justru mengasingkan saya dalam kehidupan beragama....Saya tidak peduli dengan berpegang pada pemikiran tersebut saya pernah di tegur oleh Pendeta...oleh para pejabat gereja...Tidak peduli kalau saya pernah dapat surat teguran...(saya terdaftar di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jabar-Nurdin-Jakarta Barat) gara-gara pernah mengulas tulisan pengalaman rekan melakukan perjalanan haji, diantaranya Catatan Perjalanan Haji dari Pak Darwin di media intern gereja....
Bagi saya, Catatan Perjalanan Haji tulisan Pak Darwin jauh lebih bermutu, lebih mengharukan, lebih memberikan pendidikan iman, ketimbang cerita para pendeta atau tokoh-tokoh gereja saat melakukan holly land ke tanah Palestina...Yang buntut-buntutnya mengajak (sebagian) umat Kristen untuk tidak ragu melakukan Holly land seperti mereka....Apalagi kalau bukan karena pertimbangan bisnis...Karena ada pendeta yang rupanya bekerja sama dengan biro perjalanan wisata tertentu untuk mengajak umatnya ikut Holly Land via biro perjalanan tersebut...Karena begitu keras saya mengkritik itu, di kelompok/pengikutnya Gilbert Lumoindong saya dicap sebagai Kristen KTP.....ha...ha...ha...saya ketawa terbahak-bahak...
Sepenuhnya saya setuju dengan Pak Darwin...Konsentrasi saya dalam kehidupan beragama adalah bagaimana membangun suasana yang dialogis antar umat beragama....Bagaimana kita merentang persahabatan, persaudaraan, komunikasi, diantara keyakinan yang berbeda...Saya sangat yakin se yakin-yakin-nya kita mempunyai "jembatan" untuk mewujudkan itu...Meski disadari tidak semua komunitas berkenan melewati "jembatan" tersebut....
Bagi saya pribadi...Iman adalah yang utama dan final....Kemantapan iman itu yang membuat saya merasa fleksibel untuk menjalin komunikasi dengan berbagai komunitas agama. Saya bisa menikmati tulisan Pendeta Dr. Andar Ismail. Sebaliknya juga menikmati tulisan Gede Prama....Dalam kesempatan lain saya bisa mengambil hikmah dari kotbah Aa Gym...(dalam hal ini saya salut dan kagum keteguhan beliau tidak mau bertemu dengan Mr. Bush...sebaliknya mempertanyakan, apa untungnya bagi kehidupan umat Kristen manakala Pendeta Natan Setiabudi (Ketua Umum PGI) yang memilih bertemu Mr. Bush dengan berbagai alasan yang sangat subyektif).
Betul sekali, saya rupanya mewarisi darah Kawanua...sesuai nama fam yang diberikan orang tua saya. Namun...saya lebih merasa sebagai orang Indonesia ketimbang komunitas Kawanua...Kebetulan saya terlahir dari darah yang beraneka ragam. Ibu saya lahir di tanah Magelang...dari rahim seorang ibu (oma saya) keturunan Chinesse (peranakan ke kedua) dan ayah (opa saya) dari Kawanua...Kebetulan ibu saya dibesarkan dalam lingkungan yang mewarisi pendidikan dan tradisi Belanda...karena ayahanda ibu saya dulunya ikut KNIL...Kemudian, ayah saya kelahiran Jakarta, lahir dari seorang Ibu yang rupanya berasal dari Aceh dan dan ayah yang juga dari Kawanua...Saya sendiri sampai sekarang belum pernah menginjak tanah Kawanua...Termasuk juga bahasa daerah sana, yang sama sekali saya tidak paham...Saya lebih bangga sebagai manusia Indonesia...karenanya kepada anak saya, Ria, saya telah menghapus identitas kesukuan...
Untuk Pak Darwin dan para sahabat milis, dalam suasana Natal, saya sedih dan terkejut saat membaca Kompas Sabtu 27 Desember, mengenai problema Ibadah Haji...Saya teringat tulisan Pak Darwin...Akankah Pak Darwin merasakan kemelut yang memprihatinkan tahun lalu...? Saya yakin dan percaya, kalaupun Pak Darwin mengalami itu, keteguhan dan kesabaran Pak Darwin bisa mengesampingkan problema semacam itu....
Saya mengikuti ibadah malam Natal...Demikian juga saudara-saudara saya...Sayangnya hanya melulu bertema kan Damai dan sejahtera...Tahun lalu tema-nya itu...sekarang tema-nya itu....Menjadi pertanyaan, apakah bisa damai dan sejahtera manakala saudara-saudara saya para Calon Haji sedang menghadapi cobaan berat...yang mengundang emosi dan kegeraman....?
Teringat saya akan tulisan Pak Darwin, lagi-lagi perasaan damai Natal menjadi terusik gara-gara permasalah tersebut....Saya hanya bisa call ke teman-teman saya yang sudah jadi Pendeta, yang sekarang lagi sibuk dengan undangan kebaktian Natal....Hanya pesan kepada mereka...tolong ingat dan masukkan dalam doa problema saudara-saudara kita yang siap menunaikan ibadah haji.
Salam hormat saya untuk Pak Darwin sekeluarga dan sahabat milis.
R Adolf Izaak
----- Original Message ----- From: "Darwin Bahar" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Saturday, December 27, 2003 3:35 PM Subject: [kota-bogor] Robert Adolf
Barangkali tidak ada yang tidak sepakat dengan teolog Katolik Hans Kung ketika mengatakan: "Tidak ada kedamaian dunia tanpa kedamaian agama".
Wassalam, Darwin Milis kota-bogor ... media interaktif untuk 'orang Bogor' dan yang
pernah tinggal di Bogor.
--- End forwarded message ---
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________
