Assalamu Alaikum W. W. Benar-benar mempesona dan kagum bundo serta seisi rumah mendengar dan melihat VCD dari Irene Handono mantan seorang biarawati. Untuk orang Islam kelihatan kaset serta buku karangn Ibu Irene Handono ini seperti buku wajib. Silakan usahakan bapak-bapak dan ibu-ibu serta nanda-nanda semua mendengar nanti akan berdecak kagum. Syukur kepada Allah SWT kita ummat Islam semog adiberi petunjuknya.
Bersama ini bundo kirim profilenya yang bundo akses dari Internet. Wassalam Bundo Nismah Hj Irene Handono Contoh Pembauran yang Sempurna Wanita separuh baya itu menyambut tamunya dengan ramah. "Silahkan masuk," katanya sambil berdiri di depan pintu. Seluruh aurat tubuhnya tertutup rapat, nyaris tidak kentara bahwa ia seorang Cina. Dialah Han Hoo Lie atau lebih pepuler dipanggil Irene Handono. Lucunya, dirinya yang jelas-jelas Cina itu kadang tak disadari kawan-kawan pribuminya. Di depan matanya kadang mereka rasan-rasan, "Ah Indonesia akan terus begini selama perekonomiannya di pegang Cina." "Eh, Bu Irene ini juga Cina, lho," kata yang lain. "Bu Irene sih lain," sahut yang pertama. Irene sendiri mengaku tidak tersinggung atau sakit hati. "Karena yang mereka maksudkan itu bukan saya, tapi Cina yang kafirin itu," katanya. Ya, Irene barangkali sebuah contoh pembauran yang sempurna. Dalam kesehariannya, mantan siswa sekolah biarawati ini sudah lebur dengan pribumi, seakan tidak ada jarak. Rumahnya di pinggiran Surabaya terletak di perkampungan biasa. Apalagi tugasnya sebagai pendakwah, membuatnya bergaul akrab dengan masyarakat dari berbagai tingkatan. Tidak itu saja. Irene juga menikah dengan pria pribumi, Ali Zeman namanya. Asal tahu saja, bagi masyarakat keturunan Cina 'haram' hukumnya bila perempuan keturunan menikah dengan pria pribumi. Alasannya, turunun darah akan hilang bila perempuan keturunan dikawinkan dengan pria pribumi, karena garis keturunan darah selalu dihitung atau dilihat dari sudut garis pria. Meski menerima resiko yang tidak ringan, kini perkawinannya dengan pria pengusaha itu, ia telah dikaruniai tiga anak. Agar sejak kecil terbiasa bergaul dengan saudara-saudaranya dari pribumi, anak-anaknya itu semuanya disekolahkan ke negeri. Jadi, soal pembauran yang sekarang ramai lagi dibicarakan itu, bagi Irene sudah tuntas. "Saya tidak pernah digugat darah Cina saya," katanya. Begitu masuk Islam enam belas tahun lalu, ia merasa masalah pembauran itu sudah selesai. Toh demikian anak bungsu -lima bersaudara- pengusaha benang dan plastik ini tak mengingkari bahwa hatinya seakan terbelah dua mendengar berita pemerkosaan massal yang menimpa wanita-wanita Cina pada kerusuhan 14 Mei lalu itu. Sungguh sangat menyakitkan bila kesucian itu direnggut secara paksa. Sebagai sesama wanita ia bisa merasakan penderitaan itu. Atas dasar itulah ia mengirim surat terbuka kepada Meneg Urusan Peranan Wanita, lewat koran terbitan ibukota. "Mengapa Ibu diam saja," tulisnya "Apakah karena musibah tersebut menimpa etnis minoritas (keturunan Cina), sehingga Ibu Menteri menganggap tidak ada masalah." "...Apakah ibu sepakat bahwa kegadisan adalah mahkota wanita? Mari kita simak apa kata korban tentang pemerkosaan tersebut: "Lebih baik kami dibunuh daripada diperkosa." Bukankah itu suara wanita?" "...Berbuatlah, tunjukkan bahwa Islam itu mengayomi seluruh ummat manusia -termasuk wanita dari etnis keturunan Cina," demikian ia menutup suratnya. Namun di sudut hatinya yang lain ia bisa memahami mengapa kelompok keturunan Cina kerap menjadi sasaran kebencian. Perilaku mereka, katanya, sering mengundang rasa benci itu. Mampu menggaji karyawannya sesuai UMR (upah minimal regional) saja sudah merasa sok jadi pahlawan dan bertindak semena-mena. "Ia tak pernah berfikir dan memahami apakah bisa hidup layak dengan upah seperti itu," katanya. Karenanya, katanya, pembauran itu harus datang dari kedua belah pihak. Pribumi harus menerima bahwa keturunan Cina itu juga termasuk bagian saudaranya. Kepada warga keturunan, disamping tidak ekslusif, Irene menyarankan agar lebih bisa memahami penderitaan rakyat. "Penderitaan rakyat adalah juga penderitaan dia," ujarnya. Namun, ia yakin seyakin-yakinnya pembauran itu akan tuntas, tas, bila dengan Islam. "Karena Islam adalah agama universal yang mengajarkan persamaan derajat dan persaudaraan kepada manusia," jelasnya. Ia sendiri yang lahir 30 Juni 1954 di Surabaya berasal dari keluarga Katholik yang taat. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi biarawati atau suster. "Di mata saya suster itu manusia suci," katanya mengenang. Karenanya ia sangat aktif dalam kegiatan gereja. Dan begitu lulus SMA, demi mewujudkan cita-citanya itu ia masuk ke salah satu biara di Bandung. Anehnya, justru di situlah ia menemukan Islam. Awalnya, dianggap paling cakap ia mendapat tugas kuliah di Institut Ilmu Filsafat Theologia. Dalam rangka tugas mata kuliah perbandingan agama, ia kemudian mempelajari Islam. Di sanalah ia kepenthok (ketemu) surat al-Ikhlas, yang memaparkan konsep ketuhanan dalam Islam. "Saya menemukan perbedaan dengan konsep Ketuhanan dalam Katholik," ujarnya. Didorong rasa ingin tahu, ia mendialogkan hal itu, dan sempat berdebat sengit dengan beberapa dosennya. Dari situ ia mulai menyadari kebenaran Islam, sebaliknya iman kristianinya mulai goyah. Tapi bukan berarti ia segera masuk Islam. Setelah melewati liku-liku yang panjang, enam tahun kemudian, l982, Irena baru mengikrarkan syahadat di Masjid Al Falah Surabaya dibawah bimbingan KH Misbach, Ketua MUI Jatim. Badai ternyata bertambang kencang, seperti teror misalnya. Toh ia tetap tegar hingga kini. Semoga.. ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
