http://www.republika.co.id/ASP/koran_detail.asp?id=153607&kat_id=3
Rabu, 18 Februari 2004

Tangis Sinta Seusai Gempa
Laporan : khairul jasmi/antara

Selasa (17/2), pukul 06.00 WIB. Pagi amat dingin di kota hujan Padang
Panjang, Sumatra Barat. Sinta, gadis cilik berusia lima tahun, terbujur
kesakitan di bangsal Rumah Sakit Islam Ibnu Sina.
''Pa, Ma, Dik Nisa ... Sinta sakit,'' gadis itu memanggil-manggil
orang-orang yang ia sayangi. Badannya sulit bergerak; matanya tidak bisa
dibuka. ''Sabar sayang, sebentar lagi mama dan papa datang,'' ujar tantenya,
Yohana. Ucapan penghibur.
Sinta tidak tahu gempa yang meluluh-lantakkan rumahnya, Senin (16/2) malam,
telah merenggut nyawa ibu dan adik tersayangnya. Gempa berkekuatan 5,6 Skala
Richter (SR) itu mengguncang Sumatra Barat pada pukul 21.44 WIB. Ratusan
rumah roboh, empat nyawa melayang, lima orang luka berat.
Sinta adalah anak Rosi Citra Dewi (34 tahun), warga Pitalah, sebuah nagari
(desa) di antara Padang Panjang dan Danau Singkarak. Dalam gempa sekejap
itu, Rosi wafat tertimpa reruntuhan rumah. Demikian pula Annisa (2), anak
terkecilnya. Tinggallah Sinta sendirian. Sang ayah, Johan Datuk Intan,
sedang tidak di rumah saat musibah tiba. Ia seorang sopir bus umum antarkota
antarprovinsi. Ia sedang membawa mobil dari Bukittinggi ke Jambi.
Saat gempa terjadi, Johan diperkirakan berada di Gunung Medan, daerah
peristirahatan di dekat batas Sumbar-Jambi. Dia bisa jadi belum tahu musibah
telah menewaskan dua anggota keluarganya.
Gempa tektonik yang mengguncang Sumatra Barat itu mengakibatkan 113 rumah
hancur. Sebanyak 105 berada di Pitalah, Gunung Rajo, Batu Lipai, Kubu
Kerambil, dan Tanjuang Barulak di Kecamatan Batipuh, Tanah Datar. Lainnya,
sebanyak delapan unit, adalah rumah pendidik di Jorong Paladangan, Nagari
Malalak, Kabupaten Agam. Di Malalak, sebuah masjid juga rusak berat.
Gempa itu berpusat di titik 00,55 LS, 100,3 BT atau di kaki Gunung Tandikek,
Kabupaten Agam. Sejak gempa Senin malam, hingga Selasa sore, terjadi ratusan
kali gempa susulan dalam kekuatan yang terus melemah.
Menurut Kepala Badan Stasiun Meteorologi dan Geofisika Padang Panjang,
Soemarso, gempa susulan enam jam pertama terjadi sebanyak 52 kali, enam jam
kedua 42 kali, dan enam jam ketiga 24 kali. Dia menyebutkan, getaran
terbesar dirasakan di daerah Tanah Datar dan Malalak, yakni sebesar 5 MMI
(Modified Mercalli Intencity).
Kemungkinan gempa susulan lebih besar, menurut dia, cukup tipis. ''Gempa
susulan yang terjadi selama ini masih dalam skala kecil, rata-rata di bawah
3 Skala Richter dan tidak ada deteksi awal yang menunjukkan bakal ada gempa
susulan lebih besar,'' ujarnya.
Menurut Soemarso, getaran gempa cukup kuat dirasakan di Kota Padang,
mencapai 4 hingga 5 SR; Bukittinggi, Solok, dan Sawahlunto Sijunjung 3
hingga 4 SR; serta Malalak, Padang Panjang, dan Tanah Datar sekitar 5 SR.
Akibat guncangan itu, seluruh jaringan listrik di Sumbar mati selama
setengah jam. Gempa itu membuat panik Pitalah, nagari yang terletak di
patahan semangko Pegunungan Bukit Barisan. Rumah Rosi berada di pinggir
tebing, di tepi jalan negara yang membelah kampungnya. Tanah di tebing itu
longsor saat gempa.
Longsoran menimbun rumah, persis di kamar tidurnya. Suara pekikan segera
menyusul bersamaan dengan putusnya aliran listrik PLN. Masyarakat
berhamburan. Sayup terdengar tangisan Sinta dari bawah reruntuhan. Dengan
tangan telanjang, masyarakat berusaha menolong korban. Mereka berhasil
mengeluarkan Sinta yang terluka. Namun, ibu dan adiknya baru bisa
dikeluarkan beberapa menit kemudian dalam keadaan tak bernyawa.
Jenazah ibu-anak itu kemarin dimakamkan di Nagari Pitalah, Kecamatan Batipuh
X Koto, Kabupaten Tanah Datar, sekitar 100 km dari Padang ke arah utara.
Republika mencatat, di Batipuh Padang Panjang, empat orang tewas akibat
tertimpa bangunan. Selain Rosi dan Annisa, korban meninggal adalah Upik
Hilang (75 tahun) dan Cinto (52), warga Gunung Sago, Kecamatan Batipuh.
Selain mereka, korban-korban luka berat dirawat di RS Ibnu Sina, yakni
Farida (46 tahun), Dona (12), Eko (3), Tika (11), dan Ella (14 bulan).
Kelima korban ini berasal dari Desa Gunung Sago, Kecamatan Batipuh,
Kabupaten Tanah Datar. Usai gempa Senin malam, hampir semua warga di radius
100 km dari pusat gempa tidak bisa tidur. Muncul kabar, di radio dan
pengeras suara, akan ada gempa susulan sekitar pukul 04.00 pagi dengan
kekuatan yang lebih dahsyat. Di pagi buta itu, orang-orang gelisah dan
keluar rumah. Anak-anak menangis kedinginan.
Di Batusangkar, warga berkumpul di lapangan terbuka. Di Padang, warga kota
pun tidak tidur. Sementara, pengumuman terus berkumandang menyampaikan
kepada warga bahwa gempa susulan akan datang. Gempa susulan memang datang,
malah dalam jumlah ratusan kali, tapi kekuatannya terus melemah.
Gubernur Sumbar, H Zainal Bakar, melalui Kepala Biro Humas, Yuen Karnova,
membenarkan kemungkinan bakal terjadinya gempa susulan setelah mendapat
informasi sejumlah sumber di masyarakat dan Pemko Padang Panjang. Ia
mengimbau masyarakat Padang Panjang agar tetap waspada dan tenang sampai
keadaan membaik

Nofendri T. Lare
========================================================
LaMaK DiaWaK KaTuJu DiuRaNG
========================================================


____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke