Sosok kepemimpinan yang kuat adalah Kepemimpinan ninik mamak atau panghulu( Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka panghulu, panghulu barajo ka mupakat, mupakat barajo kebenaran)
--- dendi oi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sosok Kepemimpinan yang Kuat > > MENCARI pemimpin yang kuat, setidaknya kita dapat > menunjuk tiga nama, Margaret Thatcher, Lee Kuan Yew > dan Nelson Mandela. Thatcher, yang dijuluki Wanita > Besi itu, sempat menjadi Perdana Menteri wanita > pertama yang paling lama memerintah dalam kurun > waktu lebih dari 150 tahun sejarah kepemimpinan > Inggris. Karena keinginannya yang kuat untuk > berhasil, semua hal yang dilakukan diperhitungkannya > teliti, dengan memikirkan alternatif hasil yang > mungkin diperoleh, yang terbaik maupun yang terburuk > You may have to fight a battle more than once in > order to win it, adalah pernyataannya yang > menunjukkan kemauan kuat Thatcher. > > Profesor Charles Schell dari Manchester Business > School Singapura menyebutkan, kunci keberhasilan Lee > adalah kepiawaiannya mengelola arms of leadership, > yakni kepanjangan tangan yang memungkinkan secara > efektif ia menjalankan pemerintahannya. Profesor > Schell menyebutkan dua tipe lengan kepemimpinan. > Tipe 1, melalui penciptaan pemimpin-pemimpin baru > (leader creates leaders) yang memiliki visi dan > kemampuan menyamai pemimpin puncak. Tipe 2, > menciptakan sistem dan prosedur yang dikontrol ketat > dan dikompensasi melalui reward and punishment yang > konsisten. > > Ia menambahkan adanya perbedaan mendasar dalam > pengelolaan arms of leadership model Lee dengan Pak > Harto, walaupun sama-sama keras dalam sikap > politiknya. Seperti Indonesia pada waktu itu, partai > oposisi di Singapura juga relatif lemah. > Perbedaannya pada bagaimana pemerintahan tangan besi > Lee Kuan Yew juga diimbangi sistem yang kuat dan > penegakan hukum yang baik. Etika parlemen ditetapkan > dengan standar tinggi. Anggota parlemen dilarang > mengunjungi bar atau pun sekadar bersosialisasi, > apalagi berani menerima hadiah. Standar yang sama > diberlakukan di pemerintahan: tanpa ampun bagi > mereka yang ketahuan berjudi, korupsi, atau pun main > wanita. Lain halnya dengan Indonesia, berbeda jauh > dalam law enforcement dan etos kerja. Selain korupsi > merajalela, seseorang malah tidak akan mendapatkan > apa-apa kalau mengikuti mengikuti prosedur birokrasi > yang berlaku. > > Di sebuah negara yang tidak memiliki new leaders > yang cakap atau situasi masyarakat yang cenderung > statis seperti negara-negara. Asia, lebih manjur > jika menggunakan pendekatan otoritatif dengan sistem > dan prosedur yang terukur. Ada situasi di mana > fleksibilitas yang berlebihan malah akan membawa > inefisiensi, minat kerja yang rendah, dan bahkan > penyalahgunaan wewenang. Strategi yang sama juga > layak diterapkan di mana terdapat kesenjangan skill > antara followers dan leader, seperti Indonesia. > Dengan strategi penerapan yang benar, sebuah negara > bahkan akan berjalan efektif, meskipun mungkin tidak > semua orang simpati pada kebijakan maupun diri > pemimpin secara pribadi. > > Di Singapura banyak juga orang yang jengkel terhadap > pemerintah. Mereka menyinggung tentang gaji anggota > parlemen yang paling tinggi di dunia serta dominasi > keluarga Lee di berbagai perusahaan besar. Untuk > menangani semua itu, Lee memberikan reward and > punishment yang ditata cerdik. Kalau membuang sampah > sembarangan, hukuman sudah menanti, apalagi kalau > sampai berani mengedarkan narkotik. Namun, fasilitas > umum yang luar biasa dan taraf kehidupan yang tinggi > merupakan reward bagi mereka yang mau sejalan dengan > pemerintahannya. > > Sementara jika merujuk pengalaman negara Afrika > Selatan, kita pasti harus menyebut dengan rasa kagum > dan hormat kepada Presiden pertama kulit hitam, > Nelson Mandela. Pelajaran mengenai kerendahan hati > dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari > kisah hidupnya, yang mampu membawa bangsanya dari > negara yang rasialis menjadi negara yang demokratis > dan merdeka. Mandela menceritakan bahwa selama > penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah > apartheid, justru mengalami perubahan karakter dan > memperoleh kedamaian dalam dirinya. Sehingga ia > menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan > mereka yang telah membuatnya menderita selama > bertahun-tahun melalui rekonsiliasi nasional. > > Sebagaimana halnya yang dikatakan Kenneth Blanchard, > kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar > untuk melayani mereka yang dipimpin. Perubahan > karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin > sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian > diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas > yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan > tantangan, disertai visi dan misi yang jelas, > seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati. > Setiap kita sesungguhnya, memiliki kapasitas untuk > menjadi pemimpin! > > JIKALAU saja kita bisa menemukan seorang pemimpin > kuat yang akan memimpin bangsa dan negara ini, orang > kuat ini haruslah berkualitas transenden, menembus > dimensi temporal dan spasial, mengatasi > karakter-karakter pemimpin yang selama ini kita > kenal. Jenis orang kuat ini harus berjodoh dengan > impian masyarakat Indonesia sekarang. Kita tidak > bisa lagi meniru orang kuat bangsa-bangsa lain. > Orang kuat kita di masa lampau, belum tentu cocok > dengan konteks kebutuhan sekarang. Orang kuat yang > kita cari kini, belum tentu akan menjadi kuat di > kemudian hari. Apalagi menjiplak orang kuat dalam > sejarah bangsa-bangsa lain, karena mereka memiliki > orang kuatnya masing-masing. Setiap zaman memang > melahirkan orang kuatnya sendiri. > > Rakyat menginginkan pemimpin yang tegas, berani > karena benar, benar karena menurut hukum. Rakyat > tidak butuh pameran kelicinan berdebat, tetapi yang > diperlukan adalah buah dari keintelektualan mereka > yang menunjukkan kualitas perbuatan nyata. Juga > tidak terlalu peduli tentang IQ, yang penting berani > bertindak tegas sesuai kontrak sosial, jujur, tanpa > pamrih, mengutamakan kepentingan bersama, jauh dari > aji mumpung, berani tidak populer demi keselamatan > dan kesejahteraan rakyat. Rakyat tidak menginginkan > kualitas pemimpin arogan, yang hanya peduli pada > golongan sendiri, kelompok sendiri, daerah sendiri, > kerabat sendiri, pemimpin yang egoistik. Pemimpin > mabuk kuasa, yang takut kehilangan kursi. Para > pemimpin ini berdiri tegak di depan dengan > panji-panji partai, dan di belakang, ribuan massa > pendukungnya. Namun, suara pemimpin politik ini, > meskipun berkata demi kepentingan seluruh bangsa, > tetap saja ditafsirkn bagi kepentingan kelompoknya. > Tokoh-tokoh ini adalah tokoh-tokoh denga > n > kepentingan golongan, massa tertentu, demi tujuan > tertentu pula. Ia mengabdi untuk masa kini yang > dekat dan untuk persoalan-persoalan aktual saja. > Tanda gambarnya kami, dan bukan tanda gambar kita. > Dan karenanya, sulit memperoleh kepercayaan dari > massa dan golongan lain. > > Tokoh pemimpin yang bisa diterima oleh seluruh > golongan dan masyarakat bangsa adalah tokoh yang > tidak memiliki massa golongan. Massanya adalah > seluruh rakyat. Tokoh semacam itu barangkali memang > berasal dari suatu golongan massa, tetapi memiliki > kualitas di luar massa golongannya. Tokoh ini tidak > berbendera, dan dengan demikian justru mewakili > semua bendera, karena semua bendera yang ada bisa > dikibarkannya. Ia tidak memiliki kepentingan > kelompok, dan karenanya ia memenuhi semua > kepentingan kelompok. Tokoh yang mungkin bisa > dipercaya ini adalah tokoh yang berkualitas > trasendental, tokoh yang kepentingannya > tidak-berkepentingan, yang massanya tidak-bermassa, > yang suaranya bukan suara sekarang ini. Pemimpin > yang diinginkan adalah yang kuat karakternya, yang > tidak ragu untuk membenarkan dan menyalahkan. > Pemimpin yang tidak melihat batas-batas golongan dan > kepentingan. Pemimpin yang tidak ambivalen, yang > berbicara melalui kerja. Berkuasa tetapi tidak > menguasai. Kaya tetapi tidak m > emiliki. > Cerdas tetapi menyembunyikan kecerdasannya. Jujur > tetapi rendah hati. Termasyhur tetapi berlaku biasa. > Berprinsip tetapi terbuka. Menghukum dengan > menangis. Berdoa bukan untuk dirinya. > > Karakter pemimpin yang demikian itu mungkin banyak > kita miliki. Tetapi, pemimpin bangsa yang > berkualitas seperti itu, karena sifatnya yang > transendental, ia tidak bisa memunculkan dirinya > dengan usahanya sendiri. Orang yang terlalu percaya > pada kerja rasio bahwa pemimpin dapat diperjuangkan, > patut dicurigai kejujuran dan otentitas > kepemimpinannya. Ia bukan lagi pemimpin transenden. > Karena orang kuat adalah orang panggilan. Siapa yang > memanggil? Hati nurani dan jeritan kebutuhan rakyat > sendiri. Pemimpin sejati tidak berambisi menjadi > pemimpin. Bila kualitas pemimpin yang demikian itu > terpilih, maka kebesarannya akan diuji. Kualitas > pemimpin yang demikian itu akan berada di > tengah-tengah tarikan dualisme pluralisme bangsa > ini. Ia akan terjepit antara yang kanan dan yang > kiri, antara mayoritas dan minoritas, antara yang > keras dan yang lunak. Kreativitas dan kepekaannya > diuji. > > Di saat-saat inilah keberanian dan ketegasannya > terhadap kebenaran mendapatkan tantangannya. > Krisis-krisis besar semacam ini, tidak jarang > memakan korban diri pemimpin sendiri. Tarik-menarik > kepentingan dualistik yang plural inilah ciri khas > konteks Indonesia. Orang kuat Amerika mungkin hanya > menghadapi dualisme dua partai, tidak ada lagi > dualisme === message truncated ===> ____________________________________________________ > Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, > silahkan ke: > http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net > ____________________________________________________ ===== Lautan Sati Rantau Batuah Sutan Palito Alam 33 th __________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Mail SpamGuard - Read only the mail you want. http://antispam.yahoo.com/tools ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
