Jaga Keharmonisan Keluarga

 

Pernah Rasulullah saw bertanya kepada seorang wanita tentang sikapnya terhadap suaminya. Wanita tersebut menjawab, "Segala sesuatu yang sanggup aku kerjakan bagi suamiku, aku lakukan, kecuali apa-apa yang tidak sanggup aku lakukan."

 

Mendengar jawaban tersebut Rasulullah saw bersabda,"Masukmu ke dalam surga atau neraka itu bergantung sikapmu terhadap suamimu."

 

Ketaatan seorang istri kepada suami dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan menuju surga di dunia dan akhirat. "Bilamana seorang wanita melakukan shalat lima waktu dan berpuasa pada bulan

Ramadhan serta menjaga kehormatan dan mentaati suaminya, maka dia akan masuk surga Tuhannya."

 

Demikian pentingnya unsur ketaatan istri kepada suami sehingga Rasulullah saw bersabda, "Sekiranya aku menyuruh seorang untuk sujud kepada orang lain. Maka aku akan menyuruh wanita bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadap mereka."

 

Bahkan Rasulullah menjelaskan bahwa derajat wanita sangat ditentukan oleh perlakuannya terhadap suaminya."Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan hatimu jika engkau memandangnya dan mentaatimu jika engkau

memerintahkan kepadanya, dan jika engkau bepergian dia menjaga kehormatan dirinya serta dia menjaga harta dan milikmu."

Rasulullah bersabda, "Jika istri melakukan shalat lima waktu, puasa Ramadhan sebulan penuh, memelihara kehormatannya dan mematuhi suaminya, ditawarkan kepadanya, `Masuklah ke surga dari pintu mana saja

yang engkau kehendaki'".

 

Masya Allah! Mudah benar tampaknya persyaratan seleksi wanita calon penghuni surga. Tetapi kenyataannya, teramat sulit bagi seorang istri untuk dapat melaksanakan persyaratan terakhir itu. Wajar bila

Allah menghargai ketaatan istri dengan surga, karena nilainya adalah seperti jihad di dalam perang bagi laki-laki. Derajatnya sama dengan mati syahid.

 

Dalam haditsnya yang lain Rasulullah menjelaskan,"Sampaikan kepada wanita-wanita yang engkau jumpai,bahwa patuh kepada suami dan memenuhi hak-haknya, sama pahalanya dengan pahala jihad. Tetapi hanya sedikit di

antara mereka yang melakukan itu."

Asiyah, istri Fir'aun, adalah contoh orang yang telah mengalami pahit getirnya cobaan hidup dalam hal taat kepada suami. Hati wanita mulia ini berpihak kepada Musa yang membawanya kebenaran, sementara ia

mendapatkan kenyataan bahwa dirinya terbelenggu oleh kedudukannya sebagai istri seorang tirani musuh kebenaran.

 

Posisi sebagai istri itu, mewajibkan ia tetap melayani suami sebaik-baiknya, sepanjang perintah yang ia terima tidak bertentangan dengan keyakinan ketauhidannya. Seburuk-buruk Fir'aun, ia adalah pemimpin rumah tangga yang mempunyai hak untuk dilayani. Tetapi manakala Fir'aun menyuruh Asiyah meninggalkan ketauhidannya, ia tak bersedia mentaati

perintah itu. Akibat penolakannya, nyawa Asiyah harus melayang di tangan suaminya sendiri.

 

Itulah risiko bagi wanita yang bersuami sekarakter atau seide dengan Fir'aun. Sejelek-jelek perangai suami, selama ia memerintah istri dengan perintah benar. Wajib bagi istri untuk mematuhinya.

 

Ketaatan yang dituntut bagi seorang istri bukannya tanpa alasan. Suami sebagai pimpinan, bertanggung jawab langsung menghidupi keluarga, melindungi keluarga dan menjaga keselamatan mereka lahir batin,

dunia akhirat.

 

Tanggung jawab seperti itu bukan main beratnya. Para suami harus berusaha mengantar istri dan anak-anaknya untuk bisa memperoleh jaminan surga. Apabila anggota keluarganya itu sampai terjerumus ke neraka karena salah bimbing, maka suamilah yang akan menanggung siksaan besar nantinya (al-Hadits).

 

Di kali yang lain, Rasulullah menambahkan, "Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, ia tak bersedia, sehingga menimbulkan kemarahan suami,maka ia dikutuk malaikat sampai pagi."

 

Karenanya diharuskan bagi wanita menerima dan menaati panggilan suami.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis:

 

"Jika si istri dipanggil oleh suaminya karena perlu, maka supaya segera

datang, walaupun dia sedang masak." (H.r. Tirmidzi, dan dikatakan hadis

Hasan).

 

Dianjurkan oleh Nabi saw. supaya si istri jangan sampai menolak kehendak suaminya tanpa alasan, yang dapat menimbulkan kemarahan atau

menyebabkannya menyimpang ke jalan yang tidak baik, atau membuatnya

gelisah dan tegang.

 

Keinginan untuk berkumpul, kadang-kala datang tidak bersamaan antara suami istri. Di sinilah dituntut perjuangan kaum istri untuk bisa melayani kehendak suami dengan sebaik-baiknya, walau dia sendiri tak

berkeinginan. Dan di sini sebenarnya wanita telah dianugerahi kekuatan luar biasa untuk tidak menampik keinginan kekasihnya. Ia bisa melayani keinginan suaminya kapan saja.

 

Tetapi terkadang memenuhi panggilan seperti itu tidak mudah dilakukan. Apalagi bila tubuh sedang penat, pikiran kusut, tulang-tulang terasa ngilu, belum lagi bila rasa kantuk menyerang mata, sehingga panggilan

itu menjadi berat. Begitu pula di saat perasaan sedang marah, jengkel, atau dilanda kesusahan.

 

Seharusnya hal-hal seperti itu tak dijadikan alasan untuk menolak keinginan suami. Utamanya bagi mereka yang lebih banyak berada di luar rumah. Bekerja di luar rumah akan menghabiskan banyak kekuatan fisik,

menimbulkan ketegangan pikiran, kelelahan yang luar

biasa, dan mental yang kacau akibat hiruk-pikuk suasana di luar. Akibatnya, mereka menemui satu kondisi yang berlainan dan bahkan berlawanan dengan kodratnya yang lembut.

 

Dalam hal ketaatan ini Rasulullah menambahkan, "Tidak boleh bagi seorang istri melakukan puasa (sunat) sedangkan suaminya ada, kecuali dia (suami)mengizinkannya. Dan ia tidak boleh mengizinkan orang

masuk ke rumahnya melainkan dengan izin suaminya."

 

Menurut ajaran hadits tersebut, seorang istri dilarang menerima kehadiran seorang teman tanpa izin suaminya.Tampaknya aneh dan janggal aturan ini. Namun jika kita teliti lebih jauh, itu memang wajar untuk

dilaksanakan. Dengan aturan ini istri akan lebih bisa menjaga kehormatan di balik pembelakangan suami dan menghilangkan terjadinya bahaya fitnah.

 

Mu'adz bin Jabal menerangkan, ia pernah mendengar Rasululah saw bersabda, "Tidak boleh bagi seorang istri yang beriman kepada Allah untuk memberi izin seseorang di rumah suaminya, sementara suaminya

benci-patuh kepada seseorang, meninggalkan tempat tidurnya dan membahayakannya." Bila mereka hendakpergi keluar rumah hendaklah terlebih dahulu meminta izin kepada suaminya.

 

Sungguh indah Islam yang telah mengatur hubungan suami-istri ini. Suami pergi ke luar rumah mencari nafkah, sementara istri mengurus pekerjaan di rumah, mendidik anak dan menjaga kehormatannya di rumah.

Apabila sebuah keluarga telah menerapkan ajaran ini,suasana cerah ceria akan selalu menghiasai rumah.Insya Allah, keluarga sakinah yang didambakan bukan hanya sebuah khayalan.

 


SALMI SARKIS

CCD Sensor & DA  Maintenance 

  [EMAIL PROTECTED] 

 
 
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke