Sehubungan dengan Mimpinya Ronald yang pada dasarnya jadi mimpi kita bersama dalam mencapai visi.
Ini ada tulisan menarik tentang mimpi dari mailing list UGM, bagaimana kita harus bermimpi.
Tulisan ini ada beberapa bagian, rencana mau saya upload ke www.cimbuak.com sembari menunggu ijin dari penulis dan tidak kehilangan moment saya forwardkan ke RN.
Saya yakin tulisan ini sangat bermanfaat bagi kita.
Salam
Is, 34
www.cimbuak.com #kampuang jauah dimato dakek dijari#
 
-----Original Message-----
From: nukman [mailto:nukman
 
 
 Mimpi


Banyak orang sukses karena mereka berani bermimpi namun tekun dan
cendekia mengejar mimpinya. Biasanya mereka yang sukses
melakukan tahapan seperti ini: Gantung mimpi tentang sukses setinggi
langit. Uraikan mimpi menjadi sasaran-sasaran. Wujudkan
sasaran-sasaran  menjadi tugas-tugas. Jadikan tugas-tugas dalam
langkah-langkah. Lakukan langkah pertama dan ikuti dengan
langkah-langkah berikutnya. Teruslah melangkah dengan tegar dan cerdik
meski batu menghalang di depan.

Mimpi, seperti ditulis pakde Broto, jika didayagunakan akan membawa
berkah dan pemacu intuisi. Masfuk, orang Jawa miskin yang
berhasil menjadi orang kaya, dalam bukunya "Orang Jawa Miskin Orang Jawa
Kaya" menuturkan bahwa mimpi adalah langkah pertama
yang mesti diambil untuk menuju sukses.

Tanpa mimpi, banyak orang tidak maju, karirnya jalan di tempat, dan ia
menjalani rutinitas yang membosankan. Saya ingat betul
dengan seorang penjual gethuk cantik di pasar dekat rumah, ketika saya
masih SMP, yang suka manggil saya untuk beli
dagangannya. "Cah bagus, arep tuku opo: gethuk, tiwul opo cethot?" Waktu
SMP, karena masuk siang, saya memang dapat jatah
pekerjaan rumah untuk belanja harian ke pasar meski saya anak laki-laki.

Sembilan tahun kemudian, tatkala saya hampir lulus kuliah, ia masih
duduk di tempat yang sama, dengan gendhongan yang sama,
cara memotong gethuk yang sama. Tak ada yang berubah. Perubahan yang
kelihatan jelas adalah bertambah kerut wajahnya dan
rambutnya yang kian memutih. Perubahan lain, ia lupa saya.

Tak pernahkah ia bermimpi untuk menjadi juragan gethuk? Tak sempatkah ia
membangun mimpi memiliki "pabrik rumahan" gethuk,
tiwul dan cethot yang melayani para penjual gethuk gendongan? Sayang,
saya waktu itu tak punya ilmu mimpi. Jadi kalaupun saya
tanya waktu itu, jawabannya kira-kira seperti ini: "Oalah cah bagus,
ngene wae wis cukup kok." Begini saja sudah cukup,
kenapa harus repot-repot?

Dalam perjalanan karir, banyak orang yang bersikap seperti mbakyu Gethuk
tadi, meski tidak seekstrim itu. Mereka biasanya
memiliki ciri-ciri yang sangat mudah dilihat: mengerjakan hal itu-itu
saja selama bertahun-tahun tanpa ada tambahan "value"
yang berarti. Value ini bentuknya beraneka ragam, tapi yang paling umum
dipakai sebagai ukuran adalah uang atau imbalan
berharga lainnya seperti stock option.

Ciri lain: bekerja bertahun-tahun di tempat yang sama sambil menggerutu
merasa tidak diperlakukan dengan adil oleh manajemen,
gajinya tidak dinaikkan, tidak diberi tantangan baru, dan segudang
keluhan lain. Namun lucunya, ia tidak mau pindah karena
banyak alasan.


Mimpi, kadang merupakan barang mewah. Padahal mimpi itu mudah dan murah.
Tidak usah repot-repot menulis mimpi. Bulatkan saja
mimpi itu dalam tekad. Ketika lulus kuliah, misalnya, mimpi saya sangat
sederhana. Sebagai anak lelaki pertama, saya ingin
segera berhasil sehingga mampu membiayai kuliah tujuh adik dan membantu
perekonomian keluarga. Sederhana bukan? Tetapi mimpi
yang ala kadarnya itu memberi energi yang luar biasa. Ini contoh
"kecil"nya. Sadar bahwa merokok adalah biaya (minimal beli
rokok), begitu menginjak Jakarta saya bunuh kebiasaan merokok ini.
Ketika orang lain kesulitan menghentikan kebiasaan
merokok, saya hanya cukup untuk memejamkan mata sejenak, maka
berhentilah saya merokok sejak Februari 1990 hingga sekarang.
Apa pendorongnya? ya hanya mimpi tadi. Bayangkan betapa berharganya uang
Rp 500 per hari jika orang miskin seperti saya ke
Jakarta . Dari pada buat beli rokok mending buat beli kertas folio dan
perangko untuk buat surat lamaran kerja atau keliling
ke seluruh penjuru Jakarta naik bis kota.

Mimpi itu pula yang membantu saya melepas predikat sarjana teknik.
Peduli amat dengan gelar sarjana, sebelum ada kerjaan
pasti saya memberikan les privat matematika dan fisika ke anak-anak SMA
dan SMP. Ada yang rumahnya sederhana di Sunter. Ada
yang magrong-magrong di Senopati. Cuek saja ke sana kemari naik bis dan
keringatan. Yang penting ada nafkah dan modal untuk
survive di jakarta. Gara-gara nggak punya udel dalam mencari nafkah itu,
keberuntungan mampir ke saya. Saya sempat ngelesi
cucu Wakil Presiden Sudarmono di Senopati serta anak Direktur Bank Exim
waktu itu yang kebetulan lulusan UGM. Mereka
membayarnya sesuka-suka. Ketika di Sunter sekali datang saya dibayar Rp
10.000,-, saya dibayar Rp 75.000 hanya dua kali
datang ke cucu Sudarmono. Uang segitu mewah untuk tahun 1990. Apalagi
untuk cah ndeso yang baru di Jakarta dua bulan.


Mimpi, pada tahapan ini, minimal mampu membuat kita -- paling tidak,
saya -- beringas dan kejam terhadap diri sendiri untuk
mengejar sukses. Mampu membuat kita tegar menghadapi situasi seburuk
apapun.

Pada tulisan selanjutnya akan saya umukkan bagaimana mimpi bisa
mendorong kita menemukan "keberuntungan-keberuntungan".


********
Tulisan ini disundut oleh mimpi ki Broto.

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke