Lanjutan tulisan tentang mimpi, semoga dapat
terinspirasi dari tulisan ini,
Ini
tulisan dari milis UGM, Insya Allah akan di Upload di www.cimbuak.com karena sudah dapat ijin dari
penulis.
Salam
Is,
34
www.cimbuak.com #kampuang nan jauah dimato
dakek dijari#
-----Original Message-----
From: nukman
Keajaiban Mimpi Kecil Itu Terus Berlanjut..
Kadang saya tercenung dan nyaris tak percaya melihat adik-adik saya
sekarang berkembang begitu pesat. Adik terkecil, kini sudah menjadi
copywriter iklan yang diakui di Jakarta. Ia pernah menjadi copywriter
termuda di Jakarta. Hasil karyanya pernah menyabet penghargaan Citra
Adipariwara. Kini ia mondar-mandir Jakarta, Singapura, Malaysia. Bahasa
Inggrisnya cas cis cus. Dua bulan lalu ia bulan madu ke Bangkok dan
jalan-jalan ke negara Asia lain. Pendidikannya? Hanya lulusan SMA!
Kakaknya bisa lulus Teknik Industri ITB dan langsung jadi wiraswasta.
Adik saya yang lain jadi Account Manager sebuah PMA dari Singapura.
Beberapa yang lain masih berusaha agar jadi orang yang mapan.
Itukah keajaiban mimpi kecil "Survive di Jakarta dan menyekolahkan adik2
dan membantu ekonomi orang tua" 14 tahun lalu? Saya tidak sangsi lagi.
Indah? Jelas. Namun untuk menggapai keajaiban itu banyak jalan yang
harus ditempuh. Kalau pakai satu jalan saja, pasti saya sudah tewas
kleleran dan keajaiban itu tak terwujud.
Soal keuangan misalnya. Ketika belum mampu mengelola uang, saya tidak
mampu menabung sepeserpun. Setiap terima gaji, habis buat bayar SPP
adik, buat keperluan sekolah, dan lain-lain. Oleh karena itu, saya
bekerja sehebat mungkin agar dapat gaji di atas rata-rata. Hanya tiga
bulan kerja di harian bisnis, saya pindah ke media bisnis mingguan
dengan gaji naik 30%. Di media baru itu pun saya bekerja tak kalah keras
sehingga mampu menembus batas-batas konvensional. Seorang reporter muda
misalnya baru boleh menulis setelah 2 tahun. Tapi enam bulan jadi
reporter saya sudah diangkat menjadi penulis. Begitu seterusnya.
Otomatis gaji saya paling tinggi diantara reporter seangkatan.
Meski begitu, uang itu tidak cukup untuk mewujudkan cita-cita tadi. Saya
beranikan diri membuka perusahaan komputer dan Teknologi Informasi (IT)
di Bekasi bersama teman-teman. Tidak ada setahun, bisnisnya berantakan.
Rugi. Apes. Tapi saya mendapat pengalaman luar biasa dari kegagalan ini.
Untung, karena dorongan mimpi kecil itu saya ubet nyari uang lain.
Karena pandainya "cuma" menulis saya mendalami hal-hal khusus yang
penulis lain enggan, nulis tentang IT. Dari pemahaman terhadap dunia IT
inilah saya laku sebagai penulis advertorial yang sering dikontrak oleh
agensi iklan. Ini tulisan komersial. Saking langkanya penulis
advertorial IT, saya ketiban banyak rezeki. Bahkan kadang-kadang untuk
urusan sepele - seperti menterjemahkan siaran pers perusahaan IT
multinasional ke dalam bahasa Indonesia. Pendapatan saya dari sini tak
jarang melebihi gaji bulanan.
Mimpi kecil, ternyata bukan hanya membuat saya "Mampu beringas dan kejam
pada diri sendiri" dan "Memompa semangat untuk bekerja di atas
rata-rata" seperti saya sampaikan di tulisan sebelumnya. Lebih dari itu,
mimpi kecil mampu membuat saya jadi semakin KREATIF mencari sumber
pendapatan baru.
Meski demikian, prestasi itu tergolong kecil dibanding langkah yang
lain: menebar mimpi ke adik2. Ketika satu persatu adik saya ajak ke
Jakarta, mereka dengan cepat membangun mimpi yang sama. Di Jakarta
mereka saya beri pilihan, mau kerja atau sekolah. Apapun pilihannya saya
dukung. Hal yang kelihatannya sepele ini ternyata juga penuh liku.
Syukurlah adik2 memiliki mimpi yang sama sehingga mendapat keajaiban
yang mungkin tak kalah dari saya.
Mereka makan seadanya di rumah kontrakan amat sederhana di Cililitan.
Mereka mau memasak di rumah. Tak pernah minta uang kakaknya meski
kantong kosong. Mereka ubet ke sana ke mari. Terkadang saya "menangis
tanpa keluar air mata" melihat adik yang dengan badan berbasah peluh
kelelahan pulang mencari kerja dan makan indomie rebusan sendiri di
ujung pintu rumah. Kadang saya terpikir betapa kejamnya saya membiarkan
mereka pontang panting cari kerja padahal dengan jaringan bisnis saya
waktu itu dapat saja menitipkan mereka ke perusahaan yang layak. Saya
biarkan mereka mencari jalannya sendiri.
Dan inilah keajaiban menebarkan mimpi ke mereka: adik pertama dapat
kerja, membawa adik kedua ke jakarta. Adik kedua membawa adik ketiga.
Dan seterusnya. Praktis tujuh adik saya permah ke Jakarta semua. Itulah
langkah subsidi silang ala orang ndeso yang ternyata berhasil. Jika ada
yang mengira saya mengentaskan adik-adik, itu pendapat yang salah.
Mereka mengentaskan diri sendiri. Peran saya hanya sebatas menyediakan
rumah untuk berlabuh, makan secukupnya, uang ala kadarnya, serta contoh
semangat tarung yang tinggi melawan nasib di Jakarta.
Mimpi kecil, ternyata sanggup membuka simpul-simpul keterbatasan kita.
Kreativitas kita yang biasanya terbelenggu karena kurang ditantang oleh
keadaan, bisa jebol karena mimpi-mimpi kecil seperti ini. Betapa
hebatnya jika mimpi yang mampu melahirkan kreativitas ini diterapkan
dalam karir dan bisnis.
Bersambung...
Nukman Luthfie
******
Catatan:
Saya belum masuk dalam mimpi bisnis dan karir dulu. Sedang asik dengan
mimpi kecil non bisnis dan karir yang kebetulan sudah terwujud. Saya
yakin banyak orang yang tak mampu dari segi finansial yang menghadapi
masalah yang sama - punya tanggungan keluarga yang banyak dan harus
survive.
Ada banyak email japri yang masuk menanyakan banyak hal, terutama
bagaimana mempertahankan mimpi yang positif dan indah. Di bawah ini saya
kutipkan sumbangan dari rekan baik saya soal mimpi. Saya kutip 100%
tanpa edit bahasa. Moga2 pakde Broto bisa membantu menjawab
pertanyaanya.
# Gue mau ngomentarin tulisan ngenai mimpi, ama ade 2 pertanyaan untuk
bahan diskusi SerSan :
I . Mimpi Indah = Vision
Mimpi menurut kitab suci "Dreamer" karya Lord TV-Dream Catcher, Mimpi
dibagi menjadi tiga kelompok : Mimpi Siang Bolong, Mimpi Buruk & Mimpi
Indah. (Mimpi basah nggak ade kelompoknya).
a. Mimpi Siang Bolong
Impian sejuta umat, impian yang berlaku umum pada sebagian besar orang
yaitu ingin kaya, Rumah bagus, mobil mewah, deposito bunganya cukup
untuk tujuh turunan, keluarga harmonis, Punya perusahaan banyak, gundik
cantik2 (Jamak artinya lebih dari satu gundik ha..ha ha), masuk surga
dll.
Impian jenis ini hanya melintas tampak menimbukan efek emosional or
reaktif untuk si pemimpi , jadi yah berlalu begitu aja - Life goes on.
b. Mimpi Buruk
Impian yang memicu keinginan yang tidak terpuaskan pada si pemimpi,
impian ini hanya membangkitkan keinginan yang sangat mempengaruhi
kejiwaan si Pemimpi sehingga tidak bisa mimpi lagi (Insomenia - nggak
bisa turu maksudnya), Nafsu besar tenaga kurang, Hilanglah kebahagian
dalam hidup si pemimpi - Life ended
c. Mimpi Indah
Impian yang menginspirasi cita-cita, membangkitkan believe - Keyakinan
dan kepercayaan diri untuk mencapai cita-cita, Mimpi menjadi Visi hidup
si pemimpi, membangkitkan passion - hasrat yang kuat untuk
merealisasikan , yang kemudian menjabarkannya menjadi goals yang jelas,
disusul action yang konkret, persistent and finally Dream Come True -
Life is Wonderful.
Pertanyaan I : Bagaimana supaya mimpi kita adalah mimpi Indah ?.
II. Konsistensi Mimpi Indah menjadi Mimpi Indah-Indah
Dari beberapa obrolan dengan rekan-rekan seperjalanan hidup, kita
bersepakat bahwa mimpi indah adalah Vision yang menjadi inspirasi
langkah hidup kita, Cuma untuk sebagian orang mimpi indahnya begitu
dinamis berubah dengan cepat sehingga tidak cukup waktu untuk
merealisasikan impiannya karena impian lainnya..
Contoh ( Fiktip belaka dilarang GR) : Si N, sesuai impiannya dari waktu
masih ingusan menjadi tukang insinyur, diambilnya kuliah biar jadi
insinyur nggak peduli beratnya pelajaran gue harus jadi tukang insinyur
walaupun IP pas-pasan (2 lebih dikit cukuplah) baru jadi insinyur belum
sempet jadi tukangnya udah bermimpi indah yang lain Pengen jadi CEO
Multi national company katanya, merangkak lagi dia merealisasikan
impiannya , karena mimpinya mimpi indah karirnya cukup bagus sampai
akhirnya menjadi director sebuah perusahaan Dot Com, belum sempet jadi
CEO muncul lagi mimpi indahnya untuk menjadi entrepreneur yang sukses.
Jadi walaupun dua impian indah yang terdahulu belum menjadi kenyataan,
impiannya yang ke tiga masih mimpi indah yang membakar motivasi &
passion untuk merealisasikan impiannya, semoga mimpi indahnya yang ke
III menjadi kenyataan, Amien.
Indahnya mimpi relative untuk setiap pemimpi, tapi tentunya kita
berharap setelah mimpi indah kita mendapatkan mimpi indah yang lain
bukan mimpi siang bolong atau mimpi buruk.
Pertanyaan II : Gimana mepertahankan mimpi indah, atau kalaupun kita
bermimpi lagi impian kita tetap indah atau bahkan lebih Indah ?
Thanks Friend
TV
[Non-text portions of this message have been removed]
From: nukman
Keajaiban Mimpi Kecil Itu Terus Berlanjut..
Kadang saya tercenung dan nyaris tak percaya melihat adik-adik saya
sekarang berkembang begitu pesat. Adik terkecil, kini sudah menjadi
copywriter iklan yang diakui di Jakarta. Ia pernah menjadi copywriter
termuda di Jakarta. Hasil karyanya pernah menyabet penghargaan Citra
Adipariwara. Kini ia mondar-mandir Jakarta, Singapura, Malaysia. Bahasa
Inggrisnya cas cis cus. Dua bulan lalu ia bulan madu ke Bangkok dan
jalan-jalan ke negara Asia lain. Pendidikannya? Hanya lulusan SMA!
Kakaknya bisa lulus Teknik Industri ITB dan langsung jadi wiraswasta.
Adik saya yang lain jadi Account Manager sebuah PMA dari Singapura.
Beberapa yang lain masih berusaha agar jadi orang yang mapan.
Itukah keajaiban mimpi kecil "Survive di Jakarta dan menyekolahkan adik2
dan membantu ekonomi orang tua" 14 tahun lalu? Saya tidak sangsi lagi.
Indah? Jelas. Namun untuk menggapai keajaiban itu banyak jalan yang
harus ditempuh. Kalau pakai satu jalan saja, pasti saya sudah tewas
kleleran dan keajaiban itu tak terwujud.
Soal keuangan misalnya. Ketika belum mampu mengelola uang, saya tidak
mampu menabung sepeserpun. Setiap terima gaji, habis buat bayar SPP
adik, buat keperluan sekolah, dan lain-lain. Oleh karena itu, saya
bekerja sehebat mungkin agar dapat gaji di atas rata-rata. Hanya tiga
bulan kerja di harian bisnis, saya pindah ke media bisnis mingguan
dengan gaji naik 30%. Di media baru itu pun saya bekerja tak kalah keras
sehingga mampu menembus batas-batas konvensional. Seorang reporter muda
misalnya baru boleh menulis setelah 2 tahun. Tapi enam bulan jadi
reporter saya sudah diangkat menjadi penulis. Begitu seterusnya.
Otomatis gaji saya paling tinggi diantara reporter seangkatan.
Meski begitu, uang itu tidak cukup untuk mewujudkan cita-cita tadi. Saya
beranikan diri membuka perusahaan komputer dan Teknologi Informasi (IT)
di Bekasi bersama teman-teman. Tidak ada setahun, bisnisnya berantakan.
Rugi. Apes. Tapi saya mendapat pengalaman luar biasa dari kegagalan ini.
Untung, karena dorongan mimpi kecil itu saya ubet nyari uang lain.
Karena pandainya "cuma" menulis saya mendalami hal-hal khusus yang
penulis lain enggan, nulis tentang IT. Dari pemahaman terhadap dunia IT
inilah saya laku sebagai penulis advertorial yang sering dikontrak oleh
agensi iklan. Ini tulisan komersial. Saking langkanya penulis
advertorial IT, saya ketiban banyak rezeki. Bahkan kadang-kadang untuk
urusan sepele - seperti menterjemahkan siaran pers perusahaan IT
multinasional ke dalam bahasa Indonesia. Pendapatan saya dari sini tak
jarang melebihi gaji bulanan.
Mimpi kecil, ternyata bukan hanya membuat saya "Mampu beringas dan kejam
pada diri sendiri" dan "Memompa semangat untuk bekerja di atas
rata-rata" seperti saya sampaikan di tulisan sebelumnya. Lebih dari itu,
mimpi kecil mampu membuat saya jadi semakin KREATIF mencari sumber
pendapatan baru.
Meski demikian, prestasi itu tergolong kecil dibanding langkah yang
lain: menebar mimpi ke adik2. Ketika satu persatu adik saya ajak ke
Jakarta, mereka dengan cepat membangun mimpi yang sama. Di Jakarta
mereka saya beri pilihan, mau kerja atau sekolah. Apapun pilihannya saya
dukung. Hal yang kelihatannya sepele ini ternyata juga penuh liku.
Syukurlah adik2 memiliki mimpi yang sama sehingga mendapat keajaiban
yang mungkin tak kalah dari saya.
Mereka makan seadanya di rumah kontrakan amat sederhana di Cililitan.
Mereka mau memasak di rumah. Tak pernah minta uang kakaknya meski
kantong kosong. Mereka ubet ke sana ke mari. Terkadang saya "menangis
tanpa keluar air mata" melihat adik yang dengan badan berbasah peluh
kelelahan pulang mencari kerja dan makan indomie rebusan sendiri di
ujung pintu rumah. Kadang saya terpikir betapa kejamnya saya membiarkan
mereka pontang panting cari kerja padahal dengan jaringan bisnis saya
waktu itu dapat saja menitipkan mereka ke perusahaan yang layak. Saya
biarkan mereka mencari jalannya sendiri.
Dan inilah keajaiban menebarkan mimpi ke mereka: adik pertama dapat
kerja, membawa adik kedua ke jakarta. Adik kedua membawa adik ketiga.
Dan seterusnya. Praktis tujuh adik saya permah ke Jakarta semua. Itulah
langkah subsidi silang ala orang ndeso yang ternyata berhasil. Jika ada
yang mengira saya mengentaskan adik-adik, itu pendapat yang salah.
Mereka mengentaskan diri sendiri. Peran saya hanya sebatas menyediakan
rumah untuk berlabuh, makan secukupnya, uang ala kadarnya, serta contoh
semangat tarung yang tinggi melawan nasib di Jakarta.
Mimpi kecil, ternyata sanggup membuka simpul-simpul keterbatasan kita.
Kreativitas kita yang biasanya terbelenggu karena kurang ditantang oleh
keadaan, bisa jebol karena mimpi-mimpi kecil seperti ini. Betapa
hebatnya jika mimpi yang mampu melahirkan kreativitas ini diterapkan
dalam karir dan bisnis.
Bersambung...
Nukman Luthfie
******
Catatan:
Saya belum masuk dalam mimpi bisnis dan karir dulu. Sedang asik dengan
mimpi kecil non bisnis dan karir yang kebetulan sudah terwujud. Saya
yakin banyak orang yang tak mampu dari segi finansial yang menghadapi
masalah yang sama - punya tanggungan keluarga yang banyak dan harus
survive.
Ada banyak email japri yang masuk menanyakan banyak hal, terutama
bagaimana mempertahankan mimpi yang positif dan indah. Di bawah ini saya
kutipkan sumbangan dari rekan baik saya soal mimpi. Saya kutip 100%
tanpa edit bahasa. Moga2 pakde Broto bisa membantu menjawab
pertanyaanya.
# Gue mau ngomentarin tulisan ngenai mimpi, ama ade 2 pertanyaan untuk
bahan diskusi SerSan :
I . Mimpi Indah = Vision
Mimpi menurut kitab suci "Dreamer" karya Lord TV-Dream Catcher, Mimpi
dibagi menjadi tiga kelompok : Mimpi Siang Bolong, Mimpi Buruk & Mimpi
Indah. (Mimpi basah nggak ade kelompoknya).
a. Mimpi Siang Bolong
Impian sejuta umat, impian yang berlaku umum pada sebagian besar orang
yaitu ingin kaya, Rumah bagus, mobil mewah, deposito bunganya cukup
untuk tujuh turunan, keluarga harmonis, Punya perusahaan banyak, gundik
cantik2 (Jamak artinya lebih dari satu gundik ha..ha ha), masuk surga
dll.
Impian jenis ini hanya melintas tampak menimbukan efek emosional or
reaktif untuk si pemimpi , jadi yah berlalu begitu aja - Life goes on.
b. Mimpi Buruk
Impian yang memicu keinginan yang tidak terpuaskan pada si pemimpi,
impian ini hanya membangkitkan keinginan yang sangat mempengaruhi
kejiwaan si Pemimpi sehingga tidak bisa mimpi lagi (Insomenia - nggak
bisa turu maksudnya), Nafsu besar tenaga kurang, Hilanglah kebahagian
dalam hidup si pemimpi - Life ended
c. Mimpi Indah
Impian yang menginspirasi cita-cita, membangkitkan believe - Keyakinan
dan kepercayaan diri untuk mencapai cita-cita, Mimpi menjadi Visi hidup
si pemimpi, membangkitkan passion - hasrat yang kuat untuk
merealisasikan , yang kemudian menjabarkannya menjadi goals yang jelas,
disusul action yang konkret, persistent and finally Dream Come True -
Life is Wonderful.
Pertanyaan I : Bagaimana supaya mimpi kita adalah mimpi Indah ?.
II. Konsistensi Mimpi Indah menjadi Mimpi Indah-Indah
Dari beberapa obrolan dengan rekan-rekan seperjalanan hidup, kita
bersepakat bahwa mimpi indah adalah Vision yang menjadi inspirasi
langkah hidup kita, Cuma untuk sebagian orang mimpi indahnya begitu
dinamis berubah dengan cepat sehingga tidak cukup waktu untuk
merealisasikan impiannya karena impian lainnya..
Contoh ( Fiktip belaka dilarang GR) : Si N, sesuai impiannya dari waktu
masih ingusan menjadi tukang insinyur, diambilnya kuliah biar jadi
insinyur nggak peduli beratnya pelajaran gue harus jadi tukang insinyur
walaupun IP pas-pasan (2 lebih dikit cukuplah) baru jadi insinyur belum
sempet jadi tukangnya udah bermimpi indah yang lain Pengen jadi CEO
Multi national company katanya, merangkak lagi dia merealisasikan
impiannya , karena mimpinya mimpi indah karirnya cukup bagus sampai
akhirnya menjadi director sebuah perusahaan Dot Com, belum sempet jadi
CEO muncul lagi mimpi indahnya untuk menjadi entrepreneur yang sukses.
Jadi walaupun dua impian indah yang terdahulu belum menjadi kenyataan,
impiannya yang ke tiga masih mimpi indah yang membakar motivasi &
passion untuk merealisasikan impiannya, semoga mimpi indahnya yang ke
III menjadi kenyataan, Amien.
Indahnya mimpi relative untuk setiap pemimpi, tapi tentunya kita
berharap setelah mimpi indah kita mendapatkan mimpi indah yang lain
bukan mimpi siang bolong atau mimpi buruk.
Pertanyaan II : Gimana mepertahankan mimpi indah, atau kalaupun kita
bermimpi lagi impian kita tetap indah atau bahkan lebih Indah ?
Thanks Friend
TV
[Non-text portions of this message have been removed]
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
