Pelemparan Jumrah hari ke II, dan  panggilan Haji / Hajjah

 

Mina , 2 Februari 2004 ( 11 Zulhijjah 1422 H )

 

Selepas sholat Zhuhur , saya dan rombongan berangkat menuju Jamarat untuk melaksanakan pelemparan hari ke II yang terdiri 3 Jumrah yakni : Ulla , Wustha dan Aqobah . Dan dari Maktab saya telah mempersiapkan batu kerikil sebanyak 21 buah dan serep 4 buah  kalau seandainya terjadi lemparan yang meleset . Saya memakai jaket tebal dan ada tutup kepalanya ,   agar supaya bisa menghindari batu kerikil yang nyasar agar  kepala tidak benjut . Sesampainya ditempat pelemparan Bapak Ketua Rombongan dan Pembimbing telah mengatur strategi , dimana harus kumpul kembali setelah pelaksanaan pelemparan . Berbeda dengan situasi kemaren yang penuh sesak , situasi  kali ini tidak seramai kemaren . Hal ini dise babkan jamaah tidak terkonsentrasi disatu lokasi tapi pada tiga jumroh yang berbeda , Disamping itu pengamanan dari pihak KSA ( Kerajaan Saudi Arabia ) lebih diperketat dengan menurunkan pasukan tentara yang berbaju loreng loreng , pada hari pertama pengamanan hanya oleh polisi dan asykar  . Mungkin karena pengalaman hari kemaren yang memakan banyak korban . Hari ini jamaah jauh jauh sudah diatur  , bagi yang berangkat sudah dipisahkan dengan yang pulang oleh  barisan tentara yang membuat pagar betis . sehingga tidak terjadi lagi jamaah yang bergerombol dan bentrokan , saya pikir kok tidak dari kemaren kemaren dilakukan kayak begini , kan tidak terjadi korban yang sia sia , Alhamdulillah saya dan rombongan berhasil melaksanakan pelemparan dengan sempurna dan selamat . Setelah semua anggota jamaah KBIH Arofah kumpul , saya dan rombomgam  kembali lagi ke maktab lewat terowongan Mina . Di maktab / Tenda kegiatan  saya hanya berzikir dan istirahat menunggu waktu sholat . Dimalam hari diadakan ceramah agama oleh K.Ustadz Mukhtar Jamil dari Jawa Timur , yang dalam penyampaiannya sangat kocak dan menarik mengenai arti simbolis dari pelaksanaan ibadah Haji . Menurut beliau banyak orang naik Haji hanya untuk mendapatkan status symbol biar dipanggil  Pak Haji , Bu Hajjah ataupun Wak Haji , bukan itu saja kadangkala didepan nama yang bersangkutan ditambahi pula nama Akhmad ataupun Muhammad untuk melengkapi nama yang sudah ada . Hal ini sebetulnya sangat berlebihan . Ada juga sebagian orang yang sudah haji , marah besar kalau  didalam penulisan nama dalam undangan tidak mencantumkan gelar H didepan namanya   . Menghadapi orang seperti , menurut K. Mukhtar Jamil mudah sekali , coba disuruh duduk dan diajak ngomong dan terangkan , bahwa Nabi Muhammad  SAW sebagai junjungan kita itu Haji apa bukan ? atau Aisyah RA itu hajjah  apa bukan ? atau para sahabat  Nabi rata rata sudah haji semua bukan ?.  Tapi kenapa didepan nama beliau tidak ada gelar H atau Hj  tersebut ? Panggilan Hajj dan Hajjah adalah untuk orang sedang melaksanakan ibadah haji , sedangkan apabila telah kembali kekampung halaman panggilan tersebut sudah tak ada lagi , atau panggilan yang  lebih cocok diberikan / dipanggil mantan  Haji atau Hajjah kali ya�. !

 

 

Wassalam : zul amry piliang (Mantan jamaah Haji 1422 H)


Do you Yahoo!?
Yahoo! Search - Find what you�re looking for faster.
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke