Madinah , 23 Februari 2004 ( 2 Muharram 1425 H ) Arbain hari ke 6

 

Hari ini sebagaimana biasa saya sholat Subuh di Masjid Nabawi , mendapat tempat didalam Masjid dan masuk dari pintu King Fahd . Mencari tempat sholat di masjid Nabawi  perlu juga trik agar selalu kebagian tempat didalam masjid . Saya sudah coba beberapa kali dan ternyata berhasil , walaupun kadang kadang saya datang setelah azan dikumandangkan .

Caranya masuk dari Pintu King Fahd kemudian belok kiri sedikit lalu belok kanan selanjutnya menyusuri pembatas tempat perempuan dan lelaki . Setelah sampai dekat lokasi masjid lama belok kiri lagi dan dilokasi inilah biasanya selalu longgar oleh jamaah sholat . Saya perkirakan sebabnya karena lokasi tersebut  jauh dari konsentrasi penginapan jamaah , seperti diketahui sisi timur dari Masjid Nabawi masih berupa lahan kosong dan sedang dalam proses pembangunan hotel berbintang .

 

Selepa sholat Subuh ,  karena persediaan rial makin menipis  , saya mampir dulu ke money changer untuk menukar rupiah ke rial untuk tambahan beli oleh oleh yang akan dibawa pulang . Saya tukarkan sebanyak Rp 1000.000,- dan mendapatkan rial sebanyak Sr 430 , dan ternyata lebih banyak kita memperoleh rial disini dibandingkan kalau kita tukarkan  di Sby yang hanya SR 390 dengan jumlah rupiah yang sama . Ditempat penukaran uang ini semua mata uang bisa ditukarkan dan proses begitu gampang tak perlu isi formulir segala macam seperti di Indonesia . Kita tinggal sodorkan uang kita , dan sebutkan mau ditukar ke mata uang apa ? Dalam hitugan menit uang yang kita inginkan telah ditangan . gampaaang�.. kan ?

Suatu insiden kecil terjadi ditempat penukaran uang antara seorang Turki dengan si Arab pengelola money changer . Mungkin  karena nilai tukarnya kurang sesuai maka si Turki protes , sambil mengembalikan uang rial yang telah dia pegang , namun si Arab tak kalah sengit , dengan mengembalikan uang si Turki dengan cara menebarkan didepan orang banyak  . Tinggal si Turki marah  marah dan  miso miso tak karuan dalam bahasa yang saya tak mengerti . Itulah budaya disini , ribut boleh sambil bersitegang urat leher , tapi jangan coba berkelahi atau mukul , karena siapa yang mukul duluan bisa dianggap kriminil dan dapat dipejara .

 

Nasib kurang baik saya alami sewaktu saya sholat Maghrib , saya lupa tempat menarok sendal , karena tidak ingat nomer tempat sendal tersebut . Didalam masjid Nabawi dekat tiang tiang masjid disediakan tempat menarok sendal dan diberi nomer . Kita harus ingat nomer tempat peletakan sendal tersebut biar mudah mencari lagi . Tapi karena buru buru saya lupa mengingatnya . Akhirnya dari pada mencari cari dan belum tentu ketemu ya sudah saya balik ke hotel dengan kaki nyeker . Dan untungnya hotel saya dekat saja , keluar halaman masjid buru buru naik lift menuju lantai 12 .

 

Banyak kisah menarik hari ini sewaktu saya mau makan malam dirumah makan Indonesia dilantai dua Hotel Intercontinental  sehabis sholat Isya , ketemu tiga orang ibu ibu dari Kloter Ujung Pandang yang tersesat dan terpisah dari rombongannya dan tidak tahu jalan balik ke hotelnya . Ibu ibu tersebut baru datang di Madinah kemaren sore . Saya coba bantu  tanya Polisi , karena ibu tersebut ada membawa secarik tanda pengenal yang ditulis dalam bahasa Arab . Rupanya ketiga ibu tersebut menginap di hotel Al Habib yang jarak 1 km sebelah utara Masjid Nabawi  . Akhirnya ada orang Indonesia ( mukimin ) yang membantu mengantar ketiga ibu tersebut.

 

Jamaah haji Indonesia di Madinah semakin ramai saja , karena kloter terakhir jamaah haji Indonesia , telah berada semua di Madinah.

Hal ini akan lebih terasa lagi disaat antri makan di Rumah Makan Indonesia , masakan disini umumnya enak dan sesuai selera .

 

Wassalam : zul amry piliang

Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - More reliable, more storage, less spam

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke