Assalamualaikum Wr. Wb.
Urang awak di Sumbar punya potensi pertanian dan peternakan yang baik.
Kemudian kita bisa mendukung dengan industri hilirnya, misalnya packaging untuk
product pilihan, selected meat dan daging halal, rendang, ikan asap balado,
dll.
Dengan naiknya purchase power China, mereka mulai royal dan bisa beli
product pilihan. Sehingga harga pangan secara global mulai naik, dimuali dari
negara sekitarnya yang terus merambat. Daerah yang tidak siap dengan industri
pangannya akan kesulitan, karena harus membeli dengan harga yang relatif lebih
tinggi.
Kenapa China dipandang mengkhawatirkan? karena mereka itu banyak sekali
penduduknya. Kalau kita menilai Indonesia sudah besar dengan penduduk 220 juta
orang, mereka itu enam kali kita jumlahnya. Kalau 10% dari mereka itu suka makan
dan beli apa saja dengan harga yang tinggi, maka ini sama dengan 60% jumlah
orang kita.
Kalau kita bisa menjadi pelopor dalam mengambil posisi untuk mengantisipasi
kondisi ini, kita akan banyak menolong orang banyak untuk keluar dari
keterbelakangan di bidang okonomi. Industri pangan adalah industri yang
menjanjikan dan sekaligus pelik karena menyangkut kebutuhan orang banyak dan
penuh dengan tantangan. Urusan perut adalah urusan yang tidak bisa
ditawar-tawar.
Wassalam,
Ridwan
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, March 16, 2004 4:03
PM
Subject: [RantauNet Ekonomi] Kenapa tidak
ke industri agro?
Dunsanak Yth.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Di harian Kompas kemarin ada tulisan yang
kira-kira (saya lupa persisnya) berjudul China mengancam persediaan
pangan dunia. Disana ditulis sejak tahun 1994, akhli masyalah pangan dan
beras memprediksikan China akan kekurangan persediaan beras dalam sepuluh
tahun kedepan. Sejak beberapa tahun lalu China sudah mulai mengimport beras,
dan produksi dalam negerinya tidak mencukupi kebutuhan. Harga beras dan
inflasi sudah mulai menunjukan kenaikan. Keadaan ini semuanya disebabkan
jumlah penduduk yang tinggi, dan kemampuan daya beli (purchase power) rakyat
China yang meningkat.
Indonesia sendiri sudah lama menjadi pengimport
beras, dan ini akan terus berlanjut. Mencetak industri beras dan
pertanian atau pangan secara keseluruhan tidaklah mudah. Lihat saja
pemerintahan lama yang katanya berhasil dipembangunan juga gagal mencetak
sawah sejuta hektar di Kalimantan. Program transmigrasi yang di
gembor-gemborkan selama puluhan tahun juga tidak memberikan hasil yang
memuaskan. Semuanya perlu penanganan atau solusi yang menyeluruh atau
holistik.
Saya dapat masukan dari sanak di kampung yang
menceritakan hal berikut,
Kondisi pertanian kampung Sei-Beringin dan sekitarnya saat ini kurang produktif karena sawah tidak menjadi.
Karena tak ada air, tanam Ubi harganya murah. Tanam cabe
modalnya besar sehingga ekonomi masyarakat
sulit.
Sumbar sebenarnya potensial untuk bisa
mengembangkan industri pertaniannya. Dengan tidak memeliki sumber daya alam
seperti minyak dan gas seperti daerah sekitarnya, masyarakat disana bisa
mengelola alamnya dengan lebih baik. Apalagi sistem pemerintahan kenagarian
yang ada sekarang bisa mendukung untuk dapat lebih baik mendengarkan aspirasi
dari bawah. Selain industri agro, Sumbar bisa
juga terus berkembang keindustri perternakan dan industri hilir lainnya
seperti industri pengolahan pangan. Bisa bikin quality halal meat, bisa bikin
bandeng asap, bisa bikin pepes ikan tuna, dll
Wassalam,
Ridwan