Yth.Sdr. Nofendri T.Lare,

       Assalamualikum wr.wb.
Sebagai seorang yang senang baca sejarah,ambo tertarik dengan carito:
Menelusuri Sejarah Negeri  di   Minang-kabau (1) nan masuk di inbox ambo.
Kalau boleh ambo manyalo ciek, sebab di kampung ambo di Pesisir Selatan ado
pulo terdapat namo Mande Rubiah yang juga disebut sebagai raja atau Bundo
Kandung.. Apakah itu legenda atau sejarah?

Pada bulan Januari nan lalu ambo jo kawan-kawan melaksanakan sebuah kegiatan
yang kami namakan Safari Pendidikan.  Kami bersafari di nagari-nagari
sepanjang Pessel mulai dari Tarusan sampai Lunang Silauik (Lusi).
Di nagari Lusi kami diajak Pak Walinagari ziarah kesebu-ah lokasi yang
disebut sebagai obyek peninggalan sejarah
karena dirawat dengan beaya dari Pemda. Dilokasi tsb. terdapat sebuah rumah
gadang yang sudah berumur ratusan tahun yang disebut sebagai istana Mande
Rubiah.
Tidak jauh dari istana itu terdapat makam yang dicerita-kan sebagai makam
Mande Rubiah yang cukup besar dan diapit oleh dua makam dikiri kanannya yang
diceritakan sebagai makam Dang Tuanku kakak bearadik Mande. Yang lebih
menarik lagi tidak jauh terpisah dari makam Mande Rubiah terdapat pula makam
yang disebut sebagai makam Cindue Mato yang terkenal dalam cerita -cerita
Minangkabau. Dirumah gadang itu masih ada tinggal seorang yang perempuan
yang disebut juga sebagai Mande Rubiah karena keturunan dan penampilannya
cukup berwibawa.

Yang menjadi pertanyaan ambo,  apakah ado hubungannyo jo carito Mande Rubiah
nan ado di Solok? . Apakah masih ado carito Mande Rubiah ditampek lain?
Sekian dulu dari ambo sabalunnyo minta maaf..

Wassalam,
Asmardi Arbi.



----- Original Message -----
From: "Nofendri T. Lare" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "KaRaNTau" <[EMAIL PROTECTED]>; "KaSuRau" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "[EMAIL PROTECTED]@RoL@" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, March 24, 2004 12:22 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Menelusuri Sejarah Negeri di Minangkabau (1)


> Padang Ekspres Online : *Menelusuri Sejarah Negeri di Minangkabau (1)
> Kayu Manang, Pilar Kemenangan
> By padangekspres, Senin, 22-Maret-2004, 03:45:18 WIB
>
> Jangan lupakan sejarah. Kalimat singkat ini sangat penting maknanya,
> demikian juga bagi masyarakat Minang terutama generasi muda untuk
mengetahui
> seluk beluk nagari di daerah ini.
> Tak Mungkin asap tanpa ada api, tak mungkin sesuatu terjadi kalau tak ada
> penyebanya. Kondisi inilah yang melatarbelakangi lahirnya sebuah nama
nagari
> yang berada di lingkungan Alam Minangkabau.
>
> Salah satu daerah kecil di Kabupaten Solok, Kecamatan Pantai Cermin,
> tepatnya Nagari Sago terdapat suatu cerita yang terangkum dalam bentuk
> mitos, tentang asal usul Kayu Manang yang diambil menjadi nama nagari Kayu
> Manang yang ada di daerah tersebut.
>
> Dahulu kala di masa alam di daerah tersebut masih dihuni manusia yang
> mempunyai kekuatan supranatural, terdapatlah tiga orang, yang menjadi
> penguasa di Kayu Manang, sebagai pemimpin di sana tersebutlah seorang
> perempuan bernama Mande Rubiah yang mempunyai dua anak laki-laki, yang
> sulung bernama Bujang Juaro sedangkan bungsu diberi nama Bujang Juandang.
>
> Pada awalnya, hubungan persaudaraan antara kedua kedua putra raja ini
rukun
> dan damai saja, namun karena suatu hal keinginan untuk mendapatkan daerah
> yang luas dalam wilayah kerajaan ibunya telah menjadikan mereka menjadi
> bertempur. Kejadian ini bermula, pada suatu hari kedua pangeran ini
> dipanggil Mande Rubiah untuk membahas pembagian wilayah kekuasaan kepada
> keduanya, yang telah menginjak remaja.
>
> Dengan didampingi beberapa orang penasehat kerajaan Mande Rubiah membuka
> sidang keluarga dengan anak-anaknya. Hadirin yang datang, baiaklah awak
> bukak se rapek ko, ambo sabagai rajo di tampek ko, alah mulai gaek, supayo
> anak ambo yang alah gadang ko, dapek batanggung jawek bisuak, mangkonyo
> paralu di agiah tampek kuaso daerah yang ka di pimpiannyo beko, duo tampek
> yang alah ambo rancanaan," katanya kepada hadirin yang datang saat itu,
> beberapa orang penghulu di wilayah kerajaannya, semua Dubalang yang setia
> mengikutinya.
>
> Dalam lanjutannya, disebutkan dua daerah yang akan dikuasakan tersebut,
> merupakan tempat yang sama strategisnya, tersebut nama yang sekarang
dikenal
> yaitu Koto Tinggi dan Kayu Manang.
>
> Putranya yang sulung, Bujang Juaro dikuasakan untuk memimpin daerah Koto
> Tinggi, sedang si bungsu dikuasakan untuk memimpin daerah Kayu Manang.
Kedua
> daerah ini saling berdampingan, yang tersebut pertama terletak pada
dataran
> tinggi atau perbukitan sedangkan daerah yang kedua atau Kayu Manang
terletak
> pada dataran rendah di lembah.
>
> Setelah rapat kedua pangeran ini, keluar dari balairung kerajaan dengan
hati
> lega, karena bisa menjadi raja yang dipercaya memimpin suatu daerah dengan
> rakyatnya.
>
> Pada awalnya, kepemimpinan kedua raja muda ini berkuasa dengan adil dan
> memihak rakyat, kedua wilayah kekuasaannya sangat makmur dengan rakyat
yang
> sejahtera, ditambah lagi dengan kekayaan alamnya yang melimpah ruah.
>
> Namun, karena saling bersaing untuk membuktikan yang terbaik, kedua raja
> muda ini mulai lupa dengan hubungan persaudaraannya, Bujang Juaro yang
> memimpin daerah Kayu Manang tidak puas dengan wilayah kecil yang
> dipimpinnya. Maka Ia mulai mengambil alih wilayah perbatasan, hal ini pun
> dilakukan raja Bujang Juandang, karena merasa tidak puas dengan kecilnya
> wilayah yang ia pimpin.
>
> Sekian lama mengobarkan perang dingin, kedua raja ini mulai berfikir untuk
> saling mengalahkan karena merasa tidak mungkin untuk berdamai lagi, karena
> menganggap harga dirinya dilecehkan.
>
> Hal ini di laporkan penasehat kerajaan, yang biasa di panggil, Datuak
> Rumbio, kepada Raja Mande Rubiah, " Maaf Mande, ambo manggaduah, alah lamo
> antaro Bujang Juandang jo Bujang Juaro, batangka masalah bateh kuasonya,
apo
> indak sabaiknyo di damaiaan," katanya.
>
> Sebagai seorang pemimpin tertinggi, raja Mande Rubiah telah mendengar
> keributan antara kedua orang anaknya ini, namun sebagai seorang raja yang
> bijaksana, Ia tidak mau langsung ikut campur, karena ingin mengetahui
> bagaimana kedua orang anaknya ini dapat mengatasi persoalan diantara
mereka,
> sebagai seorang calon pemimpin ke depan.
>
> Karena tidak kunjung ada pemecahan, kedua orang raja yang bersaudara ini
> mengadakan uji tanding kekuatan karena tidak ingin rakyatnya yang
berperang,
> sebelum bertemput mereka membuat suatu kesepakatan, bagi siapa yang kalah
> dalam pertempuran ini, maka seluruh isi dan kekayaan alamnya akan di bawa
ke
> daerah yang menang.
>
> Pada harinya, kedua raja ini bertemulah di suatu padang yang luas untuk
> mengadu kekuatan, tempat ini memang berada tepat di perbatasan antara
> wilayah kekuasaan kedua raja tadi.
>
> Siang berganti malam, selama berhari-hari kedua raja ini terus melakukan
> pertempuran saling ingin mengalahkan dengan gigihnya, karena memang dari
> kecil keduanya telah sama di asah dengan berbagai ilmu dan keahlian yang
> mumpuni, pertempuran sengit ini, hampir tak bisa di lihat oleh mata orang
> awam, hanya tanda yang terlihat, desau angin menderu, pohon-pohon di
> sekitarnya bertumbangan, dengan daunnya beterbangan mengitari tempat
> tersebut.
>
> Telah seminggu pertempuran ini berlangsung tanpa bisa dipastikan siapa
yang
> akan memenangkan pertempuran ini.
>
> Sampai hari kedelapan karena kelengahan Bujang Juaro, yang menganggap ilmu
> adiknya lebih rendah, pada saat akan menyarangkan pukulan ke muka adiknya
> tersebut, pertahanan di pinggangnya terbuka, jadinya, kesempatan ini tidak
> di sia-siakan Bujang Juandang untuk menyarangkan pukulan telah di
> persiapkanya dengan kekuatan penuh ke bawah ketiak Bujang Juaro.
>
> Sampailah pada akhirnya pukulan telak ini langsung melemahkan tubuh Bujang
> Juaro, yang semakin lama tidak mampu lagi menahan gempuran Bujang
Juandang,
> dan pada akhirnya di malam kesembilan Ia terpaksa menyerah kalah, kepada
> adiknya itu.
>
> Sejak saat inilah di tancapkanlah oleh Bujang Juandang sebuah kayu, yang
> biasa di sebut kayu manang di tempat Ia memenangkan pertempuran tersebut.
>
> Dengan berat hati Bujang Juaro harus merelakan seluruh kesuburan tanah dan
> isi alam yang ada di wilayah kekuasaannya tersebut, di angkut oleh Bujang
> Juandang dengan menggunakan ilmu yang di milikinya kedaerah kekuasaannya
> yang berada di lembah yang di kelilingi bukit.
>
> Dari cerita ini lah daerah yang berada di Lembah ini di sebut dengan kayu
> manang karena terdapat satu batang besar yang tumbuh di tengah suatu
> lapangan, di anggap sebagai tongkat kemenangan Bujang
Juandang.(fachruddin)
>
> Padang Ekspres Online : http://www.padangekspres.com/
> Versi online:
>
http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=2354
> 4
>
>
>
>
> ____________________________________________________
> Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
> http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
> ____________________________________________________

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke