DEMOKRASI kok Islamy
Kebetulan posting tentang 'DEMOKRASI kok Islamy?' menarik perhatian sehingga saya forward ke milis di internal perusahaan tempat saya bekerja dan ada tanggapan dari seorang rekan yang namanya saya samarkan karena belum seijin ybs. Berikut ini adalah kutipan dari tanggapannya.
Mohon dapat dikomentari dan dikoreksi jika perlu.
--- Date: Fri, 26 Mar 2004 18:18:14 +0700 From: SW
Bismillahirrahmanirrahiim Assalamu 'alaikum wr.wb.
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga tulisan ini. Ternyata membutuhkan waktu yang lama dan energi yang tidak sedikit untuk menuangkan apa saya pahami ke dalam sebuah tulisan. Saya sertakan juga file doc-nya dalam attachment.
===========
Setelah saya membaca Tanya Jawab dengan judul Menegakkan Benang Basah yang dikirim saudaraku Dng ada dua hal yang saya rasakan, pertama: senang karena mendapatkan pengetahuan baru tentang sikap beberapa ulama Salafiy, tentunya ini membuka wawasan saya; kedua: timbul kekuatiran karena setelah dipikir2 tanya jawab ini kurang tepat dilemparkan ke dalam forum umum, walaupun forum umum tersebut semuanya muslim, karena tingkat pemahaman Islam anggota forum terutama dalam menyikapi suatu masalah faktual berbeda-beda.
Saya mungkin belum cukup kompeten dalam menanggapi persoalan ini, saya juga masih belajar, tetapi berangkat dari kekuatiran itu maka saya mencoba membahas isi tanya jawab itu.
Pada halaman pertama tanya jawab itu, saya sangat setuju sekali dengan jawaban yang diutarakan oleh narasumber. Namun mulai halaman kedua dan seterusnya, saya rasakan tanya jawab tersebut menjadi berat sebelah.
Mengapa berat sebelah?
Pertama, kalau saja seandainya si penanya adalah salah seorang pemimpin dan pendiri partai Islam tertentu, mungkin tanya jawab ini akan berkembang lebih baik dan sangat berguna bagi siapapun yang membacanya.
Kedua, saya tidak berniat merendahkan sang narasumber, kepahaman beliau tentang aqidah dan akhlak Islam insya Allah jauh, sangat jauh lebih tinggi dari saya yang sangat dhaif ini. Tetapi dalam hal ini saya ingin mengungkapkan bahwa rasanya kurang bijak dan waro' (berhati-hati) bila sang narasumber tidak melakukan tabayyun (cek & ricek) kepada pemimpin2 partai Islam. Mengapa mereka mendirikan partai Islam, latar belakang serta dalil-dalil sehingga membuat ijtihad membentuk partai Islam.
Di awal tulisan, paragraf pertama yang di-bold terdapat tulisan:
"...Beliau mengajak umat agar tidak sembrono dalam setiap ucapan yang terlontar atau tindakan respon terhadap satu masalah kecuali telah memahami seluk beluknya dengan baik..."
Kemudian pada halaman 6, narasumber sendiri yang mengatakan, "...Kita memang butuh tabayyun dengan orang yang berbeda pendapat. Akan lebih baik lagi, kalau akhi langsung belajar dari kitab-kitab para ulama..."
Bukankah beliau sendiri yang mengatakan membutuhkan tabayyun dan belajar dari kitab2 para ulama. Setahu saya sudah sangat banyak kitab2 ulama yang membahas tentang politik dan menghadapi serangan2 kalangan nasrani dan yahudi melalui politik. Silakan lihat referensi berikut ini:
1. Manhaj Haraki: Strategi Pergerakan dan Perjuangan Politik dalam Sirah Nabi SAW, karya Syaikh Munir Muhammad Al-Ghadban (2 jilid). Lihat resensi: http://www.ekuator.com/katalog.see.p?see=katalogsee&id=4462
2. 2. Fiqh Prioritas, karya Dr. Yusuf Qaradhawi
3. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, karya Asy-Syahid Hasan Al-Banna
4. Fiqh Dakwah, karya Syaikh Mushtofa Masyhur
Dan kalau ada yang langganan Majalah Tarbawi, pada edisi 81 banyak iklan buku2 tentang politik dan harokah yang insya Allah sangat baik untuk mengetahui alasan dan memahami mengapa akhirnya ada ulama yang berpartai dan berparlemen.
Saya melihat ustadz2 yang saya kenal dari partai tertentu yang sedang menjadi anggota Dewan saat ini, mereka tetap memelihara diri, keluarga dengan aqidah dan akhlak yang baik dan tetap concern terhadap takwinul ummah (pembentukan ummat) dengan mengajar di berbagai pengajian intensif (tarbiyah) maupun pengajian umum. Di dalam parlemen mereka juga tidak mengorbankan aqidah yang telah tertanam dalam diri mereka. Konsep Muroqobatullah (senantiasa merasa diawasi oleh Allah) telah tertancap dalam hati mereka. Sebagai salah satu contoh adalah Dr. Irwan Prayitno (http://www.irwanprayitno.or.id/h/p.html ), beliau adalah Ketua Komisi VIII DPR-RI yang membidangi masalah Energi. Suatu ketika, rumah beliau pernah didatangi oleh seorang pejabat tinggi dengan 'misi khusus' sampai dua kali. Kali pertama kedatangan dengan membawa 'koper' ditolak. Kali kedua sang ustadz tidak ada di rumah, hanya ada istri dan anak2nya. Sesuai ajaran Islam, istri tidak boleh menerima tamu laki2 tanpa seizin suaminya, maka si pejabat meningga
Subhanallah, saya sempat speechless ketika mendengar kisah ini langsung dari ustadz Rofi' Munawwar. Padahal Ust. Irwan mempunyai kesempatan tidak disaksikan siapa pun ketika membuka amplop itu, tapi beliau tahu Allah menyaksikan. Semoga beliau senantiasa diberikan petunjuk yang lurus dan dimasukkan ke dalam golongan orang2 yang masuk syurga.
Kisah ini bagi saya seperti dongeng saja, ada banyak kisah 'dongeng' seperti ini di buku 'Bukan di Negeri Dongeng: Kisah Nyata Para Pejuang Keadilan' yang dikumpulkan oleh Helvy Tiana Rosa dkk.
***
Kembali ke masalah politik dan cara berdakwah. Politik dan cara berdakwah itu bukan masalah akar seperti aqidah & ibadah, tetapi masalah cabang (furu'iyah), perlu dilakukan kajian fiqh yang sangat waro' dan berlandaskan syariat benar. Saya rasa buku no. 1 dan no. 4 di atas sangat baik untuk menjelaskan masalah perjuangan politik dan cara berdakwah. Kalau berdakwah dan mengurus negara hanya boleh di masjid, sangat kaku sekali pemahaman seperti itu. Di masa Rasulullah masjid memang pusat berdakwah bahkan pusat pemerintahan. Tapi Rasulullah SAW juga tetap berdakwah dan memberi perintah di luar masjid. Sangat berbahaya sekali menuduh orang lain yang sedang berikhtiar di jalan dakwah melalui lembaga dakwah yang berbaju partai adalah orang yang hipokrit (munafik). Kriteria munafik mana yang masuk? Bukankah politisi yang track recordnya sudah ketahuan busuk yang merupakan orang munafik? Mereka berjanji tidak ditepati, berkata bohong dan diberi amanah malah khianat.
Jika kita melihat sirah shohabah (sejarah sahabat), setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, terjadi perselisihan siapa yang menjadi khalifah selanjutnya. Perselisihan ini sebenarnya akibat fitnah yang disebarkan oleh orang Yahudi dan orang2 munafik di kalangan ummat muslimin saat itu. Fitnah tersebut memecahkan ummat menjadi dua kubu, kubu Ali bin Abi Thalib dan kubu Muawiyah bin Abu Shofyan, padahal keduanya adalah orang2 dengan iman yang tinggi. Fitnah ini menjadi bola liar sehingga Ali dan Muawiyah sendiri tidak mampu membendung pengikutnya. Hal ini menyebabkan Aisyah, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam termakan fitnah itu dan membela Muawiyah. Secara terpisah mereka menemui Ali. Dalam pembicaraan yang tegang itu, satu sama lain tidak ada yang menuduh salah seorang di antara mereka munafik atau kafir. Masing2 mengetahui kualitas iman sahabat yang lain. Akhirnya tabayyun itu selesai dan para sahabat pulang ke tempatnya masing2. Namun Thalhah dan Zubair terbunuh dalam perjalanan pulang oleh orang mu
Kisah di atas membawa hikmah pada kita bahwa gossip apa pun yang kita dengar tentang seseorang, apalagi yang kita ketahui kualitas iman dan akhlaknya baik, perlu dilakukan tabayyun. Jika pun masih terdapat perbedaan pendapat maka tidak baik menghujat dengan tuduhan yang tidak benar dan disebarkan kepada orang lain.
***
Dalam bahasa arab politik itu Siyasah atau Siasat. Setahu yang saya baca dari Sirah Nabawiyah, Rasulullah SAW itu berpolitik atau bersiasat dalam rangka berdakwah dan bernegara. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berhasil di tanah arab mendirikan negara Islam karena memang di sana sudah merupakan negara kerajaan, tidak mengenal demokrasi. Di Indonesia setelah jaman keemasan kerajaan meredup karena penjajahan dan diperkenalkannya konsep demokrasi oleh penjajah, akan sulit menerapkan prinsip dan sistem yang sama seperti yang dilakukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab untuk 'meng-Islam-kan' Indonesia. Kita tahu Indonesia mayoritas muslim dan kita tahu mereka kebanyakan masih jauh dari konsep Islam terutama menyangkut masalah tauhid, atau kata seorang ustadz dari Depok umat Islam Indonesia memegang Islam seperti memegang bara api.
Lalu apa yang kita harus dilakukan?
Berdakwah menegakkan tauhid adalah jawaban yang benar, menggembar-gemborkan Islam harus tegak berdiri di Indonesia (menjadi negara Islam) kemudian disebarluaskan ke seluruh masyarakat adalah baik, namun belum tepat. Belum saatnya. Oleh karena itu kita perlu bersiasat (berpolitik) dan ini adalah bagian dari Fiqh Dakwah yang kita adopsi dari Sirah Rasulullah SAW.
Pada masa dakwah Rasulullah SAW di bumi Mekkah, beliau menyebarkan tauhid tapi tidak frontal memaksakan konsep Islam kepada petinggi Mekkah. Beliau berdakwah dengan hikmah dan lembut penuh kesabaran. Secara sembunyi2 beliau terus mencari pengikut dari seluruh lapisan elemen masyarakat, mulai dari petinggi Quraisy seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab sampai budak2 seperti Bilal dan Sumayyah (ibu dari Amr bin Yasir). Pada saat Sumayyah hendak dibunuh oleh tuannya (saya lupa namanya) karena ketahuan memeluk Islam, Rasulullah hanya bisa mengirimkan salam dan mengatakan Allah akan menyediakan syurga untuknya. Saat itu, ummat Islam yang sedikit belum bisa mengangkat senjata atau menegakkan syariat untuk memerangi kemungkaran.
Kemudian Islam semakin berkembang, namun tetap Rasul SAW tidak bisa mengambil alih kepemimpinan orang2 kafir di tanah Mekah. Maka Rasulullah mengirim sahabat2nya ke berbagai daerah untuk mencari tanah tempat berdakwah hingga bisa berdirinya Islam sebagai Daulah (negara), akhirnya Madinahlah yang bisa terkondisikan dengan dakwah dan dipilihlah kota ini sebagai tempat hijrah. Pada masa Madinah inilah masyarakat yang sudah terkondisikan bisa menerima Islam sebagai syariat dan negara. Ketika syariat telah tegak maka hukum dapat berlaku dengan tegas.
Itulah bagian siasat Rasul SAW yang dibimbing oleh Allah. Kasusnya mirip dengan di Indonesia, bedanya Indonesia mayoritas sudah muslim tapi belum Islami, maka fiqh dakwahnya adalah menyebarkan aqidah yang lurus dengan tidak terlalu menggembar-gemborkan isu negara Islam yang membuat takut umat lain dan umat islam sendiri yang sudah terlanjur fobia. Kondisi umat belum siap.
Saat ini memang sudah banyak ustadz yang sengaja dikirim ke berbagai daerah untuk menyebarkan tauhid. Namun masih ada kurang, siapa yang berdakwah di parlemen kalau masyarakat yang nanti sudah terkondisikan akhirnya akan putus asa dan kembali jahiliyah karena para pemimpin negara dan anggota dewannya masih seperti sekarang ini? Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan beberapa ulama yang akhirnya mendirikan sebuah partai:
1. Aksi protes dan demonstrasi yang sering kita lancarkan tidak membuat mereka mendengar dan membuat keputusan yang membela rakyat. Kebanyakan dari mereka buta dan tuli, tapi tangan kirinya menengadah menanti uang dari pengusaha/pejabat korup kemudian tangan kanannya menandatangani Undang-undang zalim yang berpihak pada yang thaghut.
2. Kita tidak bisa hijrah fisik sesungguhnya seperti zaman Rasulullah dahulu. Tidak ada tanah lain yang bisa menampung jutaan orang Indonesia yang mau berhijrah.
3. Cara2 frontal seperti dengan berperang dan memisahkan diri menjadi negara sendiri seperti yang dilakukan Daud Beureuh, Kartosuwiryo dan lain-lain bukanlah pilihan terbaik mengingat kualitas dan kuantitas orang yang benar aqidah dan pemahamannya masih sedikit.
Seperti kisah Rasulullah di Mekkah yang saya gambarkan di atas, perlu kesabaran tinggi dan siasat yang tepat untuk memperoleh kemenangan Islam, walaupun adalah hak Allah yang menentukan menang atau tidaknya kita. Kita cuma berkewajiban menyempurnakan ikhtiar. Masalah caranya, kembali kepada masing2 individu.
Yang mau berpartai silakan berpartai dengan menjunjung tinggi aqidah dan akhlak yang benar dan tetap berdakwah menegakkan tauhid.
Yang mau berdakwah menyebarkan syiar Islam keseluruh penjuru Indonesia silakan.
Yang mau membina yayasan2 sosial Islam silakan, yang lainnya pun silakan asal baik, bermanfaat dan tidak melanggar koridor Islam.
Yang kurang baik adalah yang hanya jadi penonton, dan cuma menyisihkan uangnya untuk berzakat saja. Berikanlah kontribusi lebih pada Islam. �Sebaik-baik muslim adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.� Dan �Orang Islam yang tidak peduli kepada nasib ummatku maka ia bukan golonganku,� begitu Rasulullah berpesan.
Terakhir, yang tidak baik adalah yang menyebarkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi umat, menyebarkan fitnah, hasutan, memperolok2 orang atau ummat Islam lain, padahal belum tentu kita lebih baik dari golongan itu bukan? (Lihat QS Al-Hujurat: 11)
Lebih jauh lagi mari kita lihat ayat berikut ini:
�Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekefiran, kefasikan dan kedurhakaan.Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.� (QS. Al-Hujurat :6-7)
Lepas dari itu semua, kita sadari mungkin pilihan berpartai ini memang bukan yang terbaik untuk melepaskan bangsa ini dari keterpurukan dan pejajahan kaum sekularis kapitalis. Kita hanya dituntut menyempurnakan ikhtiar kita. Turut menyukseskan Pemilu 2004 melalui lembaga Partai adalah salah satu ikhtiar yang sebaiknya disempurnakan dibanding mempertahankan hal-hal yang konservatif tanpa melihat segi maslahat untuk ummat. Kalau semua hal harus tetap konservatif dan menolak yang bukan berasal dari Islam, buntutnya akan panjang, misalnya: Kita tidak boleh naik haji naik pesawat, tetapi menggunakan perahu, unta atau kuda; atau tidak boleh berperang menggunakan senjata api tetapi tetap menggunakan pedang dan tombak, dll. Apa harus begitu?
***
Saat ini sebenarnya telah berlangsung perang di Indonesia. Ada dua perang berbeda tetapi keduanya berhubungan. Yang pertama adalah perang intelejen dan yang kedua adalah perang media dan merebut opini masyarakat. Yang kedua ini adalah hasil dari perang yang pertama. Hasil dari strategi strategi intelejen keluar sebagai perang media. Hasil perang ini dalam jangka pendek adalah hasil Pemilu 2004 nanti.
Perlu kita ketahui setelah zaman Rasulullah dan zaman keemasan Islam pada abad 8 � 15 umat Islam lemah dalam hal intelejen. Padahal dijaman Rasulullah dan keemasan Islam, informasi intelejen sangat berpengaruh dalam keputusan2 Rasulullah dan Khalifah saat itu (silakan baca Sirah Nabawiyah dan Sirah Shahabah). Bagaimana strategi berdakwah dan berpolitik untuk melebarkan Daulah Islamiyah terekam dengan apik dalam Sirah2 itu. Saat ini, khususnya di Indonesia langkah2 intelejen telah mulai dilakukan. Alhamdulillah saat ini dibantu oleh Jend. (Purn) Z.A. Maulani mantan KaBakin (mudah2an Allah senantiasa memberikan hidayah kepada beliau) dan Suripto (mantan pejabat Menhutbun) beserta ustadz2 muda, langkah2 cemerlang intelejen telah dilakukan. Sampai akhirnya terbentuknya sebuah partai dakwah adalah hasil analisa intelejen bidang politik, untuk menahan laju sekularis kapitalis, yahudi dan nasrani (dengan gempuran budaya dan kristenisasi) di Pemilu 2004 ini. Apalagi pihak Nasrani mendapat dukungan dana penuh dari l
Dalam salah satu ceramahnya yang saya peroleh dari VCD, Hj. Irena Handono mengingatkan bahwa untuk menyukseskan Program Yusuf/Yoseph 2004 mereka mempunyai 3 skenario (ini hasil intelejen sepertinya), yaitu:
1. Menambah jumlah umat Nasrani di Indonesia. Tahun 2003 lalu, mereka telah mempunyai 40 juta pemilih. Di tahun 2004 ini mereka ingin menambah 20 juta lagi. Caranya: kristenisasi. Misalnya kawin campur, pembagian sembako, pakaian bekas, obat-obatan, beasiswa, khitanan massal dll.
2. Bila skenario 1 gagal, mereka membantu menyebarkan isu politisi busuk. Seperti yang kita ketahui, orang2 yang berada peringkat atas politisi busuk adalah orang Islam. Dalam dakwah (baca: kampanye) mereka, mereka menyampaikan jangan percaya sama orang Islam, karena mereka politisi busuk yang korup, dll.
3. Bila skenario 2 gagal, skenario terakhir adalah Pembusukan Kepercayaan Ummat. Kita tahu jumlah kita lebih banyak dari mereka, maka program keji inilah yang paling gencar mereka lancarkan. Bagaimana cara membusukkannya? Mereka menebarkan isu GOLPUT. Umat Islam diajak untuk tidak percaya dengan demokrasi, Pemilu 2004 dan orang2 yang menjadi anggota Dewan nanti. Sehingga pada akhirnya banyak umat Islam yang tidak mencoblos, padahal TIDAK SATU PUN kalangan nasrani yang tidak nyoblos.
Untuk lebih jelasnya silakan menonton VCD Irena Handono (kalo gak salah ini VCD ke-3 beliau) yang diterbitkan oleh Gerakan Muslimat Indonesia.
***
Barusan saya membaca email forward dari Mas Harnanto. Wah, berat juga nih �serangannya.� Tapi, saya mencoba menjawab begini:
Email forward-an seperti ini, Wallahu a�lam, mungkin adalah bagian dari perang intelejen yang dilancarkan umat Nasrani mengenai isu GOLPUT. Kita tahu sekarang telah berdiri Institut Teologi Kalimatullah yang memberikan pelajaran Islamologi sebanyak 24 sks, tetapi bukan untuk belajar Islam dengan benar, tetapi mempelajari & mencari kelemahan Islam dengan menukil ayat2/hadist yang tersirat. Dan kita juga tahu Jaringan Islam Liberal yang juga merupakan hasil intelejen Yahudi dan Nasrani. Mereka2 ini seperti Snouck Hurgronje, mereka pintar menukil2 ayat, hadist Rasulullah dan perkataan para ulama besar seperti Ibnu Taimiyah & Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Coba kita tengok buku Fiqih Lintas Agama karya �aktivis JIL� dkk. Pada resensi yang saya baca dimasukkan terjemah surat Al-Maidah : 5 yang diresensikan begini:
�Alasan yang cukup fundamental tentang dibolehkannya nikah beda agama dengan non-muslim yaitu QS.5:5 yang berbunyi: "Hari ini telah kuhalalkan kepada kalian segala hal yang baik, makanan ahli kitab, dan makanan kalian juga halal bagi ahli kitab. Begitu pula wanita-wanita janda mukmin dan ahli kitab sebelum kalian halal dinikahi". (h.162)
Padahal terjemah Departemen Agama tidak begitu:
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberikan Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikan gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerina hukum-hukum Islam). Maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. (QS. 5:5)
Apalagi kalau kita buka buku-buku tafsir dari ulama2 besar. Kita akan tahu sebab turunnya ayat (asbabun nuzul) dari ayat ini.
Pelanggaran yang dilakukan �aktivis JIL� ini adalah pelanggaran syari�at baku yang berlaku dalam Islam, semua mahzab dan golongan2 Islam yang lurus pasti menolak ini. Ustadz Hartono Ahmad Jaiz telah memasukkan JIL ini sebagai aliran sesat dan Munafiq I�tiqodi (yaitu golongan munafik yang memang berniat menghancurkan Islam).
Kemudian saya melihat maroji� (daftar pustaka) yang digunakan pada email tersebut. Kita lihat nomor 1. Saya memang tidak mengenal penulisnya. Dan saya tidak berniat menuduh/memfitnah sembarangan. Tetapi walaupun buku itu karya dan terbitan Arab sana, tetapi bukankah di negara2 Arab juga telah terselusupi oleh orang2 sekularis dan beroperasi seperti layaknya JIL di Indonesia. Wallahu a�lam. Mudah2an penulisnya itu sebenarnya beri�tikad baik dengan menuliskan buku itu. Bisa juga yang menuliskan email dengan menukil2 buku itu yang merupakan bagian dari propaganda dan hasil dari intelejen musuh2 Islam untuk melemparkan fitnah. Wallahu a�lam. Yang saya tahu, penerbit Masyarakat Belajar Depok lah yang harus kita perhatikan. Menurut informasi yang saya dapat dan insya Allah shahih, kebanyakan mereka adalah aktivis JIL.
Oleh sebab itu, saya menghimbau, khususnya untuk saya pribadi. Bila menerima email seperti itu (atau mungkin email dari danang juga ya? Wallahu a�lam). Pikirkan maslahatnya bagi umat Islam dan bangsa ini. Jangan2 secara tidak sengaja kita terprovokasi dan menjadi agen2 intelejen musuh2 Islam tanpa kita sadari. Sebab, inilah yang mereka inginkan dari melempar sebuah email ke milis untuk mendukung �dakwah� mereka. Jangan ragukan kekuatan sebuah email. Saya pernah mendapat forward-an email dari seorang teman SMA tentang Kajian Rabu yang pernah saya ringkas sewaktu saya di Surabaya, padahal saya tidak merasa memforwardkan ke milis atau teman2 SMA saya, tetapi email itu sudah kembali ke saya lagi, entah saat itu saya sudah menjadi orang yang keberapa. J
***
Terakhir, saya toh tetap tidak bisa memaksakan kehendak saya agar Saudara2 seiman saya, di perusahaan yang kita cintai ini, tempat kita menjemput rezki kita untuk keluarga, harus berpartisipasi dalam Pemilu untuk mencoblos sebuah partai Islam. Seperti yang saya utarakan di atas memilih ikut berdemokrasi dengan mengusung partai Islam mungkin bukan pilihan yang paling tepat. Dan belum tentu kemenangan menjadi milik kita, karena skenario Allah-lah yang berbicara nanti. Tetapi, di sana ada harapan walaupun mungkin hanya setitik. Sempurnakanlah ikhtiar kita dan berdoalah, agar bangsa ini bisa bangkit dengan Islam sebagai pengusungnya. Ingatlah, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, bila kaum itu tidak berusaha, tentunya dengan ikhtiar yang sempurna.
ALLAHU AKBAR!!!
Sesungguhnya kebenaran itu hanya datang dari Allah, dan mohon maaf, mungkin paparan saya banyak kelemahan dan kesalahan, sesungguhnya itu karena kompetensi saya yang masih dhaif ini. Saya menerima dengan terbuka kritik dan saran dari Saudara2ku.
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
