TEMPO, Edisi 29 Maret-4 April 2004
Bukti, Bukan Janji
Dengan resep menolong sesama manusia tanpa peduli apa
partainya, suara untuk Partai Keadilan Sejahtera
diprediksi bakal melonjak.
K
APAN rakyat mengingat jasa aktivis partai? Pada waktu
susah, kala bencana datang menimpa. Setidaknya itulah
pengalaman warga Kampung Pulo, Jatinegara, ketika banjir
merendam Jakarta pada awal 2002. Ketika warga
pontang-pan�ting memindahkan apa saja dari rumah�nya ke
tempat yang aman dari banjir, ketika mereka mendirikan
tenda darurat di pinggir-pinggir jalan, tidak sebatang
hidung pun orang dari partai yang me�reka tusuk dalam
Pemilu 1999 datang.
Yang datang adalah beberapa anak muda. Tanpa banyak kata,
mereka ikut mengangkat barang dari rumah-rumah yang
tergenang bah setinggi satu meter itu. "Rupanya mereka
aktivis Partai Ke�adilan Sejahtera. Mereka datang sebelum
posko partai-partai ramai berdiri," kata Nana Syaefullah,
warga Kampung Pulo yang ditemui Jumat pekan lalu.
Nana, 42 tahun, pedagang onderdil mo�bil di Pasar
Manggarai, mengaku kecewa karena sebuah partai yang selalu
dico�blosnya sejak Pemilu 1982 justru tak se�gesit aktivis
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam mengulurkan bantuan
atau sedikitnya simpati.
Kesaksian Nana dibenarkan Amirud�din dan Rostifawati,
tetangga Nana yang berbeda rukun tetangga/rukun warga,
yang juga mengalami bencana banjir. Me�nurut keduanya,
ketika partai yang lain sibuk mengurusi warga partainya;
aktivis PKS justru tak memandang bendera dan aspirasi
politik warga saat memberikan bantuan bahan kebutuhan
pokok. Bah�kan kemudian setiap empat bulan sekali mereka
menggelar pengobatan dan be�lajar mengaji gratis bagi
warga korban banjir itu.
Sebagai tanda terima kasih, Rostifawati akan meminta
suaminya libur menarik ojek pada putaran terakhir kampanye
PKS di Senayan nanti. Ia berjanji akan datang bersama
suaminya. "Enggak dikasih uang bensin juga enggak
apa-apa," katanya penuh semangat. Nana dan Amiruddin ikut
mengangguk-angguk. Keduanya yakin suara pemilih PKS di
kampung itu bakal bertambah berlipat-lipat. Pada Pemilu
1999, dari 33 rukun tetangga di sana, hanya 150 orang yang
mencoblos PKS.
Dari Bogor, Samhudi punya pengalam�an serupa. Sekitar dua
tahun lalu, dua aktivis PKS bertandang ke rumahnya di
Panaragan-Penggilingan, Bogor Tengah. Mereka tak
berceloteh soal partai atau politik, tapi justru
menanyakan bakti so�sial apa yang cocok dilakukan di
daerah itu. Dua pekan kemudian, keduanya da�tang kembali
bersama seorang dokter. Mereka menggelar pengobatan
gratis.
Menurut Ketua Dewan Pengurus Dae�rah PKS Kota Bogor, Iwan
Suryawan, aksi sosial memang lebih banyak dike�depankan
untuk menarik simpati masya�rakat. Dengan demikian,
kaderisasi lebih menyebar, tak semata terfokus di
lingkungan kampus-tempat asal-muasal aktivis partai itu.
Hasilnya? Dari 68 ke�lurahan di Kota Bogor, sudah ada 66
kan�tong PKS, menurut Iwan.
Ketua PKS Jawa Tengah, Zuber Sya�fawi, mengatakan bahwa
dalam lima ta�hun terakhir partainya mendekat ke para
nelayan dan petani garam. Sementara itu, untuk kian
mencairkan kedekatan de�ngan warga Nahdlatul Ulama-yang
sa�lah satu basisnya adalah Jawa Tengah� ia sengaja
mengundang Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi
bersila�turahmi dengan kader PKS di Semarang. Dengan
jumlah kader mencapai 40 ribu orang, Zuber optimistis PKS
bisa me�nyumbangkan delapan kursi untuk DPR dan sepuluh
kursi di DPRD Jateng.
Ini memang lompatan besar untuk par�tai yang
cikal-bakalnya dirintis dari kampus itu. Di Institut
Teknologi Ban�dung (ITB), misalnya, PKS berkembang melalui
Masjid Salman. Dari sana, kader senior PKS mencari kader
muda. Menu�rut Eka Suwarna, mahasiswa Jurusan Teknik
Pertambangan ITB angkatan 1997, salah satu cara kaderisasi
yang di�tempuh adalah melalui aktivitas mentor�ing di
kampus.
Untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas kader, menurut
Eka, kader PKS di kampus, setiap minggu ada evaluasi
seperti menghitung jumlah bacaan wirid atau membaca
Al-Quran dan aktivitas ri�tual Islam lainnya. "Kini kader
PKS di lingkungan ITB mencapai 6.000 orang," ujar Eka.
Tapi kader PKS tidak hanya ada di kampus dan di pelosok
kampung miskin. Sejumlah eksekutif berdasi juga diam�-diam
menaruh simpati dan dukungan pada partai yang pengurusnya
banyak te�naga muda itu. Mantan Presiden Direktur
Pricewaterhouse, Kemal A. Stamboel, mengakui bahwa
kalangan profesional merasa cukup nyaman dengan PKS. Ia
bersama mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta Mas
Achmad Daniri serta aktivis LSM Eri Sudewo (Dompet
Dhua�fa) dan Sudirman Said (Masyarakat Transparansi
Indonesia) sejak enam bu�lan lalu bergabung menjadi
anggota de�wan pakar PKS.
Hal pertama yang menarik perhatian mereka adalah sopan
santun dan etika.
Massa PKS yang terdiri atas puluhan ribu orang
berkali-kali melakukan unjuk rasa tanpa huru-hara. Kader
dan simpa�tisan PKS mengubah suasana unjuk rasa brutal dan
menakutkan menjadi sema�cam karnaval mengasyikkan.
Maka orang seperti Irfan Wahid, sutra�dara ratusan film
yang juga kepo�nakan Abdurrahman Wahid, mengaku lebih srek
dengan PKS. Irfan kini mulai aktif berdakwah menyokong
PKS. '' Saya cuma butuh 10 menit untuk meyakinkan orang
pindah ke PKS." katanya.
Baik Irfan maupun Kemal tak merasa risi apalagi cemas
dengan isu syariat Is�lam yang diusung partai itu. Menurut
mereka, titik tolak PKS bukan Piagam Jakarta, melainkan
Piagam Madinah �yang merujuk sebuah masyarakat Islam yang
penuh toleransi dan melindungi semua kelompok yang ada.
Irfan dan Kemal adalah bagian dari 300 ribu orang kader
partai itu yang ter�sebar sampai ke beberapa negara.
Dengan jumlah sebanyak itu, menurut Wa�kil Ketua Umum PKS
Surahman Hida�yat, PKS berani memasang target peroleh�an
suara tujuh sampai delapan persen.
Jika mereka terus konsisten dengan moto "memberi bukti dan
bukan janji" seperti yang ditunjukkan sekarang, bu�kan tak
mungkin target suara itu akan mereka capai.
Sudrajat, Bobby Gunawan (Bandung), Deffan Purnama (Bogor),
Syaiful Amin (Yogyakarta)
http://www.tempo.co.id
===========================================================================================
Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004
===========================================================================================
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________
- [R@ntau-Net] DUA EKOR SAPI DAN IDEOLOGI Muhamad Gunawan Budi Utama
- Re: [R@ntau-Net] DUA EKOR SAPI DAN IDEOLOG... hoesin hanif
- Susi Noviza
