Setahun Derita Sungai TigrisPublikasi: 15/04/2004 09:27 WIBeramuslim - �Ha..ha..ha�..� tawa itu semakin jelas terdengar di telingaku. Aku rasa pernah akrab dengan gaya khas pemilik suara itu. Ya! Tidak salah. Kugeser sedikit kursi yang kududuki kearah kiri, kuintip arah dari mana ketawa tersebut bermuara. Hassan! Ya! Dialah pemiliknya, tidak salah lagi. Tiga bulan ini terakhir saya tidak melihatnya. Hassan, lajang Irak yang saya kenal lima tahun terakhir ini memang selalu ceria. �Kapan anda tiba?� sapaku. Hassan kembali tersenyum, �Kemarin! �jawabnya. �Bagaimana keadaan keluarga di Irak?�. Tanyaku lagi ingin tahu lebih dalam. �Alhamdulillah. Better!� jawabnya mencoba meyakinkanku. Better? Bisa jadi demikian, meski yang terjadi dua hari lalu ratusan orang-orang Irak dibantai pasukan Amerika Serikat (AS) di Faellujah, Irak Utara. Tentara AS sudah membabi buta. Serangannya bukan tidak tepat sasaran. Rumah-rumah sipil, masjid, tempat-tempat umum lainnya, semuanya jadi incaran tembak, �antem kromo�, dan melayanglah jiwa-jiwa mereka yang tidak berdosa! �Kami tinggal di Basra�. Kata Hassan memulai ceriteranya. �Sejak saya perkirakan bahwa situasi dan kondisi di Irak tidak semakin membaik 3 tahun lalu, saya memutuskan untuk ke luar negeri. Dugaan saya benar. Apalagi dalam setahun terakhir dalam pendudukan AS dan sekutunya. Tiga tahun jauh dengan sanak keluarga, betapa berat, khususnya dengan Ibu kami yang sendirian. Baba sudah meninggal. Ibu tinggal bersama kakak saya laki-laki dan satu lagi perempuan disana�. Berangkat ke Irak, kepulangan yang pertama sejak dia tinggal di UAE, Hassan mengaku suka bercampur duka. Suka bertemu dengan keluarga dan teman-teman lama, namun duka karena melihat rakyat Irak yang tidak semakin membaik kondisinya. Menurut Hassan selama kurun waktu 5 bulan pertama sejak perang meletus, rakyat Irak begitu menderita. Di Basra tidak terkecuali. Betapa tidak? Semua fasilitas umum nyaris mati. Listrik dan air, dua kebutuhan utama penduduk ini jadi barang langka. Ratusan ribu orang kehilangan pekerjaan, pengangguran dimana-mana, kriminalitas meningkat, kelaparan jadi pemandangan biasa, dan lain-lain bentuk penyakit sosial yang tidak perlu saya rinci. Ketika itu Hassan memang sudah berada di luar negeri. Tapi bagaimana dia bisa tidur nyenyak jika hanya badan saja yang bersamanya, sementara jiwa dan pikirannya melanglang jauh di bumi Irak sana? Begitu Hassan menginjakkan kakinya dari kapal yang ditumpangi selama 30 jam dari United Arab Emirates (UAE), sejumlah kerabat sudah menunggu dengan setia sambil mengumandangkan senyuman lebar. Tidak lama. Karena sang Ibu, Laila namanya, segera bertutur tentang tetangga sebelah kiri dan kanan rumah mereka telah berpulang ke rahmatullah. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 100 nyawa melayang! Rumah mereka dihantam rudal-rudal dan bom AS. �They said, the bomb was undeliberately dropped on the civilians�houses!� kata Hassan. Mereka bilang, bom dan rudal-rudal AS dijatuhkan tanpa sengaja ke rumah-rumah warga sipil. Tidak sengaja? Astanghfirullah! Televisi sedunia menyiarkan kebiadaban ini seolah sebagai �hiburan� semata. Layaknya film-film AS yang menyajikan action. Pemeran otot dan kekerasan. Orangpun jadi terhibur dibuatnya. Subhanallah. Jadi terhibur? Bagaimana tidak terhibur manakala mereka yang notabene penonton nyatanya tidak mampu berbuat apa-apa. Sementara rakyat Irak? Setiap hari dibantai, harta kekayaan mereka yang paling berharga, kemerdekaan dan sumber kekayaan alam yang mahal, minyak, setiap hari diangkut oleh pasukan-pasukan bayaran Bush. Jutaan barrel sudah, diproses dalam bentuk dollar, kemudian orang Irak hanya kebagian sedikit sekali, sebagai penghibur. Hassan mengemukakan, memang sebelum AS datang, dalam cengkeraman kekuasaan Saddam Hussain, kakaknya yang perempuan misalnya hanya digaji sebesar $ 30. Namun saat ini dia mendapatkan $ 300. Memang jauh lebih besar. Tapi berapa orang Irak yang mampu melihat dollar? Toh duit tersebut juga �berasal�dari minyak mereka? Bagaimana dengan orang Irak lainnya? �Jangan salahkan kami jika yang terlihat di TV-TV yang menyangkan terjadinya penjarahan barang-barang milik kantor pemerintahan. Karena rakyat kami memang butuh makan! Tapi jangan mengira bahwa kami satu-satunya pelaku tindakan kriminalitas ini. Tidak sedikit orang-orang Iran, bahkan Kuwait, berperan sebagai dalangnya!� �How do you know that Iranians and Kuwaitis are involved in the crimes?� Tanya saya ingin tahu lebih lanjut. �From their languages we can understand if they are foreigners!� jawabnya pasti. Ibu Hassan, Laila, begitu bersemangat menceriterakan kepada Hassan kondisi Irak sejak ditinggalkannya 3 tahun lalu. Janda 60 tahun itu pernah ketemu langsung dengan tentara-tentara AS dan juga Inggris. Bahkan mereka mendatangi rumah mereka. Sudah tentu ibu tua ini ketakutan. �Tentara Inggris lebih �sopan� ketimbang AS!� kata Hassan menirukan ceritera ibunya. Puing-puing pesawat, tank, bukan pemandangan aneh saat ini. Masyarakat di Basra masih belum teratur meski kondisinya lebih baik dibanding Irak Utara yang terus menerus dilanda konflik. Kota yang dulunya indah, kini begitu kotor. Gedung-gedung pemerintah yang megah sudah dibumi-hanguskan. Siapa lagi pelakunya? Basra yang merupakan salah satu kota utama di Irak Selatan, jadi seperti kota yang segala sesuatunya amburadul. �Sempat ke Baghdad?� saya lemparkan pertanyaan berikutnya. �Yah! Saya studi disana, di Technology University�. Tandasnya. Hassan memang seorang insyinyur automobile, tamatan tahun 1984. Sesudah itu dia lebih banyak habiskan dengan bisnis sendiri berupa buka bengkel mobil. Hassan lah manager nya. Hassan mengaku bengkelnya laris. Dia bisa hidup cukup dengan hanya usaha bengkel tersebut. Tapi tutup selama masa perang. Ditempuh perjalanan sejauh 550 km dari Basra, Hassan masih ingat betul tentang peta perjalanan yang terakhir dilihatnya 5 tahun lalu. Begitu indah. Tapi sekarang? Semua bangunan hancur, kabel-kabel listrik terputus dan berserakan, pemandangan jadi menyesakkan. Berangkat dari Basra pukul 8 pagi dan sampai di Baghdad jam 4 sore diatas bus berpenumpang 44 orang, Hassan kadang-kadang masih cemas didalamnya. Kuatir sewaktu-waktu rudal AS nyasar ke bis yang ditumpanginya. Alhamdulillah hal tersebut tidak terjadi. Sungai Tigris yang membelah kota Baghdad, menjadi pusat perekonomian pada masa Mesopotamia, 3000 tahun lalu, menjadi saksi bisu atas semua bencana yang melanda kota tua bersejarah ini. Sungai yang berjasa sebagai sumber pertanian terbesar di Baghdad ini tidak lagi hijau dan segar, melainkan kecoklatan dan berbau mesiu! �Bagaimana kesanmu tentang peperangan yang ini dibanding Gulf War yang pertama dulu? �tanya saya mencoba mengorek perbandingan. �The difference is, during the first Gulf War, the enemies destroyed only the strategic places. But this war is worst! They destroy everything!�. Jadi benar kan? Amerika dan sekutunya yang menurut Wassem, orang Irak lainnya yang asal Baghdad, dalam ketakutan mereka, sudah tidak pandang bulu dan tidak lagi melihat siapa yang berada dihadapan mereka. Asal tembak dan gempur. Akibatnya? Bukan lagi puluhan orang Irak yang meninggal dalam 3-4 hari terakhir saat artikel ini ditulis. Tariq Sultan, tetangga saya yang India, bilang dari siaran radio sore ini (10 April 2004), 40 orang Irak tewas lagi di Fallujah. Innalillahi wa inna ilaihi raji�un! Tujuan Hassan ke Baghdad adalah menemui saudaranya yang tinggal di Palestine Road. Kondisinya lebih parah dibanding Basra. Salah satu tempat lagi yang amat dikenal oleh Hassan dan terkenal adalah Iraq Media Building. Bangunan megah yang terletak di Al Salhiyah Location itu, di Al Karkh side, kini rata dengan tanah. Hassan mengaku tidak tahu siapa pelakunya. Apakah AS, Inggris atau tentara Saddam sendiri yang tidak menghendaki building tersebut dibawah kekuasaan asing. Wallahu �alam! Paman Hassan yang tinggal di Baghdad semula berwira-usaha Ice Cream. Namun sejak perang ditutup. Alasannya jelas, tidak aman. Kadang-kadang dibuka, tapi tidak pernah terus menerus dan dalam waktu yang lama. Sedangkan Hassan sendiri, merasa di Basra kondisinya kini lebih baik dibanding Irak Utara, dan bisnis sudah lebih terbuka, sedikit-demi sedikit dia mulai mendapatkan partner bisnis. Jual beli mobil. Prospeknya, subhanallah, bagus sekali katanya! Hanya saja, Hassan tetap tidak yakin kedaan ini akan berlangsung mulus terus. Apalagi akhir-akhir ini. Justru ketika Juni sudah mulai mendekat sebagai due date AS akan mengembalikan kedaulatan Irak kepada rakyatnya, kondisi politik malah semakin panas. Itulah yang menyebabkan Hassan kuatir. Itulah harapannya ketika saya tanyakan apa yang dia inginkan terhadap kondisi yang ada di Irak sekarang ini. Hassan... Dua hari sebelum Hassan datang, saya ke airport, guna memberikan salam �perpisahan � kepada Ridwan, seorang rekan Indonesia yang beristrikan Zubaidah, orang Irak, berangkat ke Jakarta, karena dimutasi kerjanya. Sepasang suami istri Indonesia-Irak ini dikaruniahi seorang puteri cantik, Tara namanya. Berpamitan ke Tanah Air bagi si Ridwan barangkali �menyenangkan�. Namun tidak demikian bagi Zubaidah. Ayah perempuan yang kebetulan ikut serta melihat puterinya di airport itu, memanggil �Tara...tara...!� suaranya lirih sambil mengusap pipinya yang basah oleh airmata, dengan tangan kanannya. Lelaki tua tersebut melambaikan tanganya ke cucu pertama yang sedang digendong anaknya. Tidak tega melihat anak dan sang cucu pergi terlalu jauh, ke Timur sana, Indonesia. �Andai saja negeriku tidak tertimpa musibah, aku tidak bakal dipisahkan oleh istri dan anak-anak serta cucuku seperti ini!� Itulah bahasa yang bisa saya tangkap kala melihat kedua mata lelaki yang tengah berkaca-kaca, ditengah kebisuannya. Tariq, nama lelaki tua ini, masih tetap dalam diam. Diletakkannya kedua tangannya diatas dinding yang bertuliskan �Only Passangers�, dia amati anak dan cucunya yang semakin menjauh masuk airport. Istri dan kedua anaknya juga nun jauh di Irak, sementara dia sendiri di Abu Dhabi. Dan kini anak perempuan serta cucu kesayangannya di Indonesia. Mereka terpisah bukan karena tanpa sebab. Entah berapa ratus ribu lagi rakyat Irak yang akan mengalami nasib yang sama seperti Hassan, Tariq atau Zubaidah, jauh dari negeri yang konon kaya raya dan makmur, selagi perang terus berkecamuk. Barangkali benar tanya para malaikat sebelum manusia diciptakan oleh Allah SWT kemuka bumi ini �Ya Allah. Mengapa Engkau akan menciptakan manusia yang hanya akan membuat kerusahan di muka bumi?� �Aku lebih mengetahui dari kamu tentang apa yang bakal terjadi!� Demikian jawab Allah SWT. Perang memang kejam! Dan kita tidak tahu rahasia Allah dibalik konflik yang sedang menimpa Irak kali ini. Kapan akan berakhir? Wallahu �alam!
|
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
