Padang Ekspres Online : http://www.padangekspres.com/, April-2004
Laporan Nasrian Bahzein-Solok Selatan

* Negeri Kaya yang Terabaikan
======================

Wajah kusam lekat menempel di Kabupaten Solok Selatan. Siapapun tidak
menyangkal, negeri yang kaya raya ini, ternyata jauh dari kesan makmur bila
dilihat dari fisik daerah yang terletak di perbatasan Provinsi Sumatera
Barat dan Kerinci, Provinsi Jambi itu.

Kabupaten Solok Selatan menyimpan kisah miris yang di alami sebagian besar
masyarakatnya. Di negeri nan subur dan kaya itu, siapa sangka, masih ditemui
sejumlah perkampungan terisolir di daerah tersebut. Hampir 59 tahun negeri
ini merdeka, sebagian masyarakatnya praktis belum menikmati fasilitas jalan
yang memadai.

Kecamatan Sangir Batang Hari, adalah daerah yang memiliki sejumlah
perkampungan terisolir terparah di Solok Selatan, di samping Kecamatan
Sangir Jujuan dan Kecamatan Sungai Pagu. Kehidupan masyarakatnya jauh dari
hiruk pikuk kebisingan kendaraan, karena memang sulit dilalui kendaraan roda
dua, apalagi roda empat.

Bukan tidak pernah masyarakat setempat menuntut pembangunan jalan ke
kampungnya itu, sehingga mereka tetap bertahan hidup di tanah kelahirannya
yang terisolir tersebut. Namun, mereka mengaku letih setelah hampir 53 tahun
lamanya, merindukan pembangunan jalan dari kampungnya itu menuju pusat kota.

"Kami sudah kenyang diberi janji-janji oleh pemerintah. Namun, 53 tahun
sudah aspirasi itu kami sampaikan, hingga kini tidak kunjung terealisasi,"
aku Walinagari Dusun Tangah Kecamatan Sangir Batang Hari, Bukhari Kali dalam
perbincangannya dengan Ketua DPRD Sumbar, Arwan Kasri Sabtu (3/4) lalu.

Potret perkampungan terisolir di Kabupaten Solok Selatan itu, terkuak dalam
kunjungan kerja (Kunker) Ketua DPRD Sumbar, Arwan Kasri bersama dinas
terkait di lingkungan Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Sumbar, yakni Wakil
Dinas Perhubungan, Syafrizal J, Kasi Dinas Prasarana Jalan dan Pemeliharaan
Jembatan, Moelyono dan Kasi Penanggulangan Bencana dan Pembangunan Irigasi
Dinas PSDA Sumbar, Thamrin. Kunker ini sengaja dilakukan untuk melihat
kondisi perkampungan "pedalaman" di Solok Selatan.

Kecamatan Sangir Jujuan hingga ke Nagari Bidar Alam, Dusun Tangah dan Bukik
Ulang-Aling di Kecamatan Sangir Batang Hari, merupakan perkampungan yang
selama ini terabaikan pembangunannya oleh Pemerintah Kabupaten Solok.
Untuk tiba di daerah tersebut, kita harus melalui jalan tanah berbukit-bukit
selama tiga jam dari Ibukota Kabupaten di Padang Aro. Kondisi topografinya
yang berbukit-bukit, seolah memutuskan hubungan kecamatan ini dengan negeri
luar.

Untuk memutuskan keterisoliran daerah ini, dibutuhkan sejumlah jembatan
untuk menghubungkan perkampungan itu dengan perkampungan lain. Kecamatan
Sangir Batang Hari, misalnya, memerlukan sebuah jalan alternatif agar bisa
menembus ke Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya. "Keberadaan
jalan itu sangat dibutuhkan masyarakat kami. Sepanjang jalan itu belum
dibangun, selama itu pula kampung kami seperti-seperti ini juga. Miskin dan
terpencil," tutur Bukhari Kali dalam bahasa Minang.

Sulitnya akses transportasi ke kecamatan itu, juga diikuti dengan minimnya
sejumlah fasilitas umum yang bisa dinikmati oleh masyarakat setempat.
Bangunan sekolah, tempat ibadah, puskesmas dan lain sebagainya, kondisinya
sangat memprihantinkan. Tak bisa dipungkiri, Solok Selatan praktis
terabaikan selama ini. Negeri yang kaya, namun dengan daerah yang miskin.

"Memang ironis, Solok Selatan dengan potensi dan penghasilan daerahnya yang
besar, ternyata tidak diikuti dengan kondisi daerahnya. Ini menjadi cacatan
penting bagi semua pihak, terlebih Pj Bupati Solok Selatan, guna menggenjot
ketertinggalan sentra perkebunan teh Sumbar itu pasca dimekarkannya daerah
ini menjadi kabupaten baru," ungkap Arwan Kasri yang didampingi Syafrizal J
di sela-sela kunjungannya. (***)

* Tertinggal Dibanding Daerah Lain
========================

Sejak Solok Selatan ini masih menjadi wilayah Kabupaten Solok, selama itu
pula negeri nan subur ini terpinggirkan. Minimnya sarana dan prasarana di
daerah tersebut, tidak sebanding dengan kekayaan yang dimiliki oleh daerah
yang berbatasan dengan Kerinci, Provinsi Jambi.

Solok Selatan merupakan negeri yang kaya. Daerah ini memiliki potensi besar
dalam bidang perkebunan dan pertanian. Sejumlah perusahaan besar seperti PT
TKA, PT TSS, PT Incasi Raya di sektor perkebunan, ternyata belum
memberikan pengaruh pada taraf kehidupan dan pembangunan bagi daerah
tersebut.

Kondisi alamnya yang yang subur, juga menjanjikan bagi daerah ini sebagai
penghasil produk-produk pertanian. Akan tetapi, karena sulitnya akses
transportasi dan ketiadaan sarana irigasi yang mendukung sektor tersebut,
sehingga muncul keengganan masyarakat untuk menggarap lahan-lahan tersebut
menjadi lahan pertanian.

"Baa lo caronyo kami ka mengolah ladang-ladang tuh, samantaro biaya untuak
manjua hasil-hasil pertanian kami tuh indak tangguang payahnyo. Tapaso lo
kami bajalan sakitar 24 Km, baru bisa naik oto. Sahinggo ladang yang kami
garap tuh sakadar untuk makan se lah cukuik," tutur Silon Dt Bando, tokoh
masyarakat Nagari Alam Pauh Duo dalam kunjungan Ketua DPRD Sumbar, Arwan
Kasri bersama Wakil Dinas Perhubungan Sumbar, Syafrijal J, Kimpraswil dan
Dinas Pengelola Sumber Daya Air Provinsi Sumbar ke Solok Selatan, Jumat
(2/4) hingga Sabtu (3/4).

Masyarakat Solok Selatan memang telah "kenyang" dengan janji-janji yang
diberikan pemerintah. Namun hingga kini, janji tinggal janji, masyarakat pun
harus hidup dengan segala ketertinggalan.

"Setiap ada pejabat yang mengunjungi Solok Selatan, selalu berjanji akan
membangun jalan-jalan untuk menghubungi perkampungan-perkampungan yang
terisolir di daerah ini, tapi nyatanya hingga kini belum ada realisasinya,"
aku Walinagari Dusun Tangah Kecamatan Sangir Batanghari.

Padahal, di daerah inilah pernah sebagai tempat Pemerintahan Darurat
Republik Indonesia (PDRI) selama 3,5 bulan pada Tahun 1949. Situs-situs
sejarah peninggalan PDRI, seperti Markas Ketua PDRI Mr Syafruddin
Prawiranegara sebagai tempat berlangsungnya sidang-sidang kabinet PDRI di
Bidar Alam 1949, Masjid Raya Mr Syafruddin Prawinegara, Tugu PDRI, Stasiun
Radio PDRI dan rumah tempat persembunyian Mr Syafruddin Prawiranegara,
tampak kusam tak terawat.

Ketua DPRD Sumbar, Arwan Kasri sangat menyayangkan kondisi tersebut. Ia
sangat sedih melihat tidak adanya perhatian pemerintah, baik itu Pemkab
Solok maupun Pemprov Sumbar, untuk melestarikan tempat bersejarah tersebut.
"Sejak dua tahun lalu kami dari DPRD Sumbar telah mengajukan kepada
pemerintah pusat agar menjadikan tanggal 19 September sebagai hari nasional
peringatan PDRI 1949 di Bidar Alam. Namun hingga kini belum ada jawabannya.
Jangankan untuk melestarikan benda-benda bersejarah dari PDRI, jalan untuk
menuju ke lokasi itu saja sungguh memprihantinkan," ungkap Arwan Kasri.

Ia menyebutkan, betapa banyak potensi yang bisa dikembangkan bagi Kabupaten
Solok Selatan itu. Tapi nyatanya pemerintah selama ini belum tertarik untuk
mengarahkan pembangunan ke daerah tersebut. Bahkan, dari 15 Sekolah Dasar
(SD) yang ada di Kecamatan Sangir Batanghari, ternyata hanya memiliki 55
orang guru dengan satu guru agama untuk masing-masing sekolah. Belum lagi
kondisi gedungnya yang memprihatinkan.

Syafrijal J, tokoh masyarakat Bidar Alam mengatakan bahwa ini tantangan bagi
segenap komponen masyarakat Solok Selatan untuk bangkit mengejar segala
ketertinggalan daerah ini. Pembangunan jalan, infrastruktur dan irigasi,
merupakan prioritas utama dalam mengatasi segala persoalan di Solok Selatan
itu.

* Harapan Tertumpu di Kabupaten Baru
============================

Sejak Solok Selatan berpisah dari kabupaten induknya, praktis seluruh proyek
pembangunan infrastruktur yang sedang, dan atau akan dilaksanakan di daerah
perbatasan Provinsi Sumbar dan Kerinci, Provinsi Jambi itu, terhenti seiring
dengan adanya perimbangan dana pembangunan antara kabupaten induk dengan
kabupaten pemekaran.
Dengan dimekarkannya Solok Selatan menjadi kabupaten baru, sejuta harapan
kini tertumpu pada elit-elit birokrat di pemerintahan kabupaten yang
memimpin daerah tersebut.

Penjabat (Pj) Bupati Solok Selatan, Alimin Salim beserta jajarannya,
tampaknya harus kerja keras guna memenuhi harapan dan impian masyarakatnya,
setelah 53 tahun lamanya merindukan lahirnya sebuah kabupaten baru di daerah
di bagian selatan Solok tersebut.

Besarnya harapan masyarakat Solok Selatan itu, merupakan tantangan bagi
pejabat-pejabat baru yang telah dipercayakan masyarakat kepadanya.

Proyek-proyek yang terhenti pembangunannya oleh Pemkab Solok itu di
antaranya Pembangunan. Namun demikian, di tengah besarnya kebutuhan
pembangunan di daerah tersebut, ternyata Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Solok Selatan masih tergantung pada pemerintah kabupaten induk. Sehingga,
berbagai pembangunan yang diharapkan pelakanaannya dapat dilakukan pada
tahun ini juga oleh masyarakat, terpaksa mesti bersabar hingga tuntasnya
penyerahan pendanaan, personil, prasarana dan dokumentasi (P3D) oleh
pemerintah kabupaten induk kepada pemerintah kabupaten pemekaran.

"Masalah dana merupakan persoalan pelik dan krusial yang kini dihadapi oleh
kami di Kabupaten Solok Selatan ini. Jangankan untuk biaya pembangunan,
untuk biaya operasional pemerintahan saja kini mengalami kewalahan. Karena
itu, sulit untuk berharap kepada Pemkab Solok Selatan ini bisa melaksanakan
pembangunan-pembangunan infrastruktur pada tahun 2004 ini, demi percepatan
pembangunan di daerah ini," keluh Alimin Salim kepada Ketua DPRD Sumbar,
Arwan Kasri pada saat kunjungan kerjanya ke Solok Selatan, Jumat (2/4)
hingga Sabtu (3/4) lalu.

Alimin Salim menyebutkan, dalam menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten
Solok Selatan itu, kini pihaknya mengandalkan dana DPBD Kabupaten Solok
Tahun 2004 yang dianggarkan sebesar Rp4,8 miliar. Akan tetapi, hingga kini
dana yang rencananya digunakan untuk biaya operasional Pemkab Solok Selatan
itu, belum juga bisa menetes dari pemkab induk. Sesuai dengan RPKK Solok
Selatan, rincian dana Rp4,8 miliar itu masing-masing diperuntukkan Rp1,2
miliar Dana Alokasi Umum Nagari (DAUN), Rp850 juta DAU Kecamatan, Rp450juta
RSU Muara Labuh, Rp200 juta Puskesmas, Rp200 juta cabang-cabang dinas dan
Rp1,7 miliar Dinas Pendidikan.

"Saat ini kami tidak bisa berbuat apa-apa karena belum turunnya dana dari
APDB Kabupaten Solok 2004 itu. Sebab, dari dana itulah baru kami bisa
bergerak melaksanakan program-program kerja yang telah kita gariskan.
Itupun baru sebatas penyelenggaraan administrasi pemerintahan, karena memang
untuk Tahun 2004 ini kita tidak memiliki anggaran sedikitpun untuk
pembangunan fisik, sebagaimana yang diharapkan masyarakat," aku Alimin
Salim.

Kendati begitu, Alimin Salim tetap berjuang agar daerah yang dipimpinnya itu
bisa melakukan pembangunan infrakstruktur di daerahnya tersebut melalui dana
dekosentrasi pemerintah provinsi (Pemprov) Sumbar, yang sedianya cair pada
pertengahan tahun dari pemerintah pusat. "Inilah satu-satunya harapan bagi
kami agar bisa melaksanakan pembangunan fisik di daerah ini," ujarnya.

Selain masalah dana, ternyata Pemkab Solok Selatan juga terkendala dalam hal
rekrutmen personil. Alimin Salim mengaku bahwa dengan kondisi struktur
organisasi tata kerja (SOTK) yang dibentuknya saat ini, pihaknya membutuhkan
personil sebanyak 130 orang. Kenyataannya, hingga kini ia baru memiliki 30
orang personil di lingkungan Pemkab Solok Selatan.

"Masalahnya bukan karena Bupati Solok yang tidak mau menyerahkan pegawainya
ke Pemkab Solok Selatan, tapi pegawai itulah yang tidak mau pindah ke tempat
kami ini. Dalam kondisi seperti ini, tampaknya mereka masih enggan untuk
pindah ke kabupaten baru ini. Jadi, untuk mencari orang yang betul-betul
ingin mengabdi pada kampung halamannya itu, memang sangat sulit dirasakan,"
keluhnya.

Guna mempercepat penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Solok Selatan
itu, Alimin mengatakan bahwa ia senantiasa menjalin koordinasi dan
konsultasi dengan Bupati Solok, Gamawan Fauzi, terutama dalam hal penyerahan
P3D dari Kabupaten Solok ke Kabupaten Solok Selatan. "Insya Allah tanggal 15
April mendatang akan dilakukan penyerahan P3D tersebut," tukasnya.

Kasi Prasaran Jalan dan Pemeliharaan Jembatan Dinas Prasarana Jalan Sumbar,
Moelyono yang diminta tanggapannya tentang kondisi perkampungan terisolir di
Solok Selatan mengatakan, untuk mengatasi keterisoliran sejumlah
nagari-nagari di Kabupaten Solok Selatan itu, setidaknya dibutuhkan 22
jembatan. Sesuai dengan perencanaan Dinas Prasarana Jalan Sumbar,
kebutuhan pembangunan jembatan dan jalan di sejumlah nagari di Solok Selatan
ini, sejalan dengan program pembangunan jalan alternatif yang menghubungkan
antara lintas tengah Sumatera dengan Lintas Barat Sumatera. "Bila ini bisa
terwujud, dengan sendirinya akan membuka keterisoliran Kabupaten Solok
Selatan sehubungan dengan lancarnya akses dari daerah ini ke Pulau Punjung,
Kabupaten Dharmasraya," demikian katanya. ***


____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke