Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dalam pembicaraan mengenai demokrasi sempat disinggung juga mengenai
teokrasi. Ketimbang lari dari mulut buaya untuk masuk mulut harimau,
sepatutnya kita melihat dulu sistem teokrasi tersebut.
Dari definisi yang saya dapatkan menurut Merriam-Webster's Online
Dictionary:
1 : government of a state by immediate divine guidance or by officials who
are regarded as divinely guided
2 : a state governed by a theocracy
http://www.britannica.com/dictionary?book=Dictionary&va=theocracy&x=0&y=0
"Officials who are regarded as divinely guided" di sini seringkali merupakan
pemuka-pemuka agama yang mengatur negara berdasarkan pendapat mereka semata
dan mereka harus dita'ati secara mutlak karena dipandang 'divinely guided'.
Hal ini inilah yang terjadi di Eropa pada abad pertengahan. Sistem seperti
ini dicela oleh Allah dalam firman-Nya yang artinya:
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan
selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam;
padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan." (QS. at-Taubah 9:31)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu
Jarir disebutkan bahwa yang dimaksud dengan 'menjadikan orang-orang alimnya,
dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah' adalah "para rahib dan
ulama itu telah menghalalkan yang haram untuk umatnya dan mengharamkan
perkara yang halal untuk umatnya, lalu umat itu mengikutinya. Itulah
penyembahan umat kepada mereka."
Perilaku ini jelas terlihat pada kaum Nasrani yang ajaran agamanya
ditentukan oleh gereja (mis. pada Katolik oleh Paus dan para bawahannya)
tanpa ilmu (dalil yang shahih) sehingga amalan-amalan mereka dipenuhi bid'ah
yang kemudian menjatuhkan mereka dalam kesyirikan dan kekafiran sehingga
dikatakan sebagai 'orang-orang yang sesat'. Sebagai contoh amalan puasa
mereka yang tadinya wajib dijadikan 'sunnah' karena pihak gereja tidak ingin
membebani umat dengan 'dosa'.
Pembahasan mengenai teokrasi dapat dilihat pada:
http://www.cqpress.com/context/articles/epr_theo.html
"Theocracy, derived from two Greek words meaning "rule by the deity," is the
name given to political regimes that claim to represent the Divine on earth
both directly and immediately. The idea of direct and immediate
representation is important for two reasons."
Di dalamnya si penulis menganggap bahwa pemerintahan Rasulullah dan Abu
Bakar adalah teokrasi.
Jadi apakah yang seharusnya digunakan dalam pemerintahan Islam? Demokrasi
ataukah teokrasi? Ataukah syari'at Islam tanpa perlu mencari nama-nama yang
dicocok-cocokkan dari berbagai -krasi dan -isme yang ada?
Allahu a'lam bish shawab.
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________
